Anda di halaman 1dari 55

ASKEP PADA BAYI BARU

LAHIR BERMASALAH

BY
TETTI SOLEHATI,
SKP

1.BBLR
A. PENDAHULUAN
Bayi Baru Lahir
rendah (BBLR)
didefinisikan
sebagai bayi yang
memiliki berat
badan kurang dari
2500 gram (Tahir
at all, 1991).

Bayi Baru Lahir rendah


(BBLR) merupakan salah
satu tantangan didalam
praktek obstetric yang
bertanggung jawab pada
kematian dan angka
kesakitan bayi. BBLR
memiliki proporsi yang
besar di negara
berkembang. (Tahir at all,
1991).

Tahir melakukan Penelitian tentang BBLR


kerena ia percaya bahwa tidak dapat dimengerti
kematian perinatal tanpa suatu apresiasi dari
penyebab terbesar dan epidemiological yang
dihubungkan dengan terjadinya BBLR.
Factor - factor penyebab terjadinya BBLR akan
bervariasi dari satu negara dengan negara
lainnya (Tahir at all, 1991).
BBLR dihasilkan dari jarak perilaku, bilogi, dan
social ekonomi yang luas(Claire C, 2001

Berat badan lahir


rendah mungkin
merupakan faktor
utama yang terbesar
sebagai penyebab
kematian pada
perinatal di Inggris,
dan begitu juga
mungkin diseluruh
dunia.

Frekwensi BBLR bervariasi diseluruh dunia


bahkan dalam satu kelompok juga. Pada hampir
Negara maju antara 6-9% berat bayi dibawah
dari 500 gram pada saat lahir dan rasio
pertumbuhan retardasi dengan premature
adalah 2 berbanding 7, dengan pengertian 10%
bayi mengalami pertumbuhan retardasi dari
seluruh usia kehamilan. Frekwensi dari retardasi
secara signifikan akan berpariasi sesuai dengan
prevalensi dari faktor penyebab (Tahir at all,
1991).

Sebagian kecil dari kelahiran bayi adalah


melahirkan BBLR yang bertanggung jawab
tidak hanya pada kematian perinatal tapi
juga kesakitan dan cacat permanen.
Untuk menjaga bayi tetap hidup dan
keberedaannya merupakan hal yang
mahal, dimana uang merupakan hal yang
sulit ditemukan pada area dimana budget
untuk kesehatan secara total terbatas.

Di Maternity Hospital, Kuala Lumpur, 13,5 %


kelahiran bayi adalah BBLR, tetapi 74,8%
diantaranya mengalami kematian. Sebagian
besar kemungkinan seperti yang terjadi pada
bayi di Indian dan Cina. Penyebab terjadinya
BBLR pada ke tiga negara tersebut adalah
primigravida, jumla anak yang lebih dari 3
(Negara Indian), ibu yang masih remaja
(Malaysia), hipertensi, perdarahan antepartum,
multiple pregnancy, kehamilan kurang bulan
(Tahir at all, 1991).

Meskipun rumah sakit


telah memiliki fasilitas
yang canggih, tetapi
kebanyakan ibu ibu
yang datang adalah dari
masyarakat dengan
sosioekonomi rendah
yang kesulitan pada
akses untuk merujuk ke
rumah sakit tersebut
(Tahir at all, 1991).

Di Indonesia, program kesehatan bayi bayi baru lahir


tercakup dalam program kesehatan ibu. Dalam rencana
strategi nasional making pregnancy safer, target dari
dampak kesehatan untuk bayi baru lahir adalah
menurunkan angka kematian neonatal dari 25 per 1000
kelahiran hidup (tahun 1997) menjadi 15 per 1000
kelahiran hidup.
Sehubungan dengan tersedianya data studi mortalitas
SKRT 2001, beberapa informasi mengenai kematian
bayi baru lahir (neonatal) dapat dipertimbangkan
sebagai informasi untuk kegiatan-kegiatan program
dalam menurunkan kesakitan dan kematian bayi baru
lahir di Indonesia.

Dari hasil SKRT 2001, kematian neonatal adalah 180


kasus. Kasus lahir mati berjumlah 115 kasus. Jumlah
seluruh kematian bayi adalah 466 kasus. Distribusi
kematian neonatal sebagian besar di wilayah Jawa - Bali
(66,7%) dan didaerah pedesaan (58,6%). Menurut umur
kematian 74,9% dari kematian neonatal terjadi sampai
dengan usia 7 hari dan 20,6% terjadi pada usia 8-28
hari.
Tiga penyebab kematian bayi baru lahir di Indonesia,
adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sekitar 29%,
pernapasan tersumbat atau afixia 27% dan tetanus
sekitar 10%, selebihnya adalah infeksi sebanyak
5%,gangguan hematologis 6%, masalah pemberian
makanan 10% serta lain-lain sekitar 13%.

Pola penyakit penyebab kematian


menunjukan bahwa proporsi penyebab
kematian neonatal kelompok umur 0-7
hari tertinggi adalah premature dan Berat
Badan Lahir Rendah (BBLR).
BBLR (kurang dari 2500 gram merupakan
salah satu faktor utama yang berkontribusi
terhadap kematian perinatal dan neonatal.
(Claire C, 2001).

A. Pengertian
Bayi Baru Lahir rendah (BBLR) didefinisikan
sebagai bayi yang memiliki berat badan kurang
dari 2500 gram (Tahir at all, 1991).
Definisi lain dari WHO (1961, dikutip dari
Wiknjosatro, 1994) mengatakan bahwa semua
bayi yang lahir dengan berat lahir kurang dari
2500 gram disebut Low Birth Weight Infant
(BBLR).

Sedangkan Claire C, (2001) mengatakan


bahwalow birth weight (LBW), which is
defined as a birth weight that is less than
2500 g regardless of gestational age.

B. Klasifikasi BBLR (Wiknjosastro, 1994)


1. Prematuritas Murni, adalah bayi yang
dilahirkan dengan umur kehamilan kurang
dari 36 minggu dan mempunyai berat
badan sesuai dengan berat badan untuk
masa kehamilan atau Disebut Neonatus
Kurang Bulan Sesuai Masa Kehamilan
(NKBSMK).

2.Dismaturitas, adalah bayi lahir dengan


barat badan kurang dari berat badan yang
seharusnya untuk masa kehamilan,
dismatur dapat terjadi dalam preterm,
term, post term. Dismaturitas ini dapat juga
disebut Neonatus Kurang Bulan Kecil
Masa Kehamilan (NKBKMK), Neonatus
Cukup Bulan Kecil Masa Kehamilan
(NCBKMK), Neonatus lebih Bulan Kecil
Masa Kehamilan

C. Etiologi
1. Faktor Ibu

a) Kekerasan dalam kehamilan.


Claire C, (2001) mengatakan bahwa Abuse during
pregnancy is considered to be a potentially modifiable
risk factor for low birth weight (LBW). Pada
penelitiannya dengan menggunakan meta analysis
Claire C, (2001) menemukan bahwa wanita yang
mengalami kekerasan fisik, sex, dan emosi selama
kehamilan memiliki resiko untuk melahirkan anak
dengan BBLR(odds ratio 1.4, 95% confidence interval
1.11.8).

Hubungan antara kekerasan dengan kehamilan dapat


terjadi melalui mekanisme langsung ( meliputi trauma
abdomen yang akan menyebabkan kelahiran premature,
rupture membrane, kerusakan plasenta, atau rupture
uterus) atau tidak langsung ( berasal dari lingkungan
yang keras, misalnya penggunaan nikotin, alcohol, dan
obat-obatan terlarang). Kekerasan dalamkehamilan
biasanya berkaitan dengan social ekonomi yang rendah,
berat badan ibu yang jelek, anemia, diet yang tidak
sehat, penyakit menular seksual, dan kesakitan secara
psikologis karena kurangnya social support (Claire C,
2001).

b)

Penyakit yang berhubungan


langsung dengan kehamilan,
misalnya : perdarahan antepartum,
trauma fisik dan psikologis, DM,
toxemia gravidarum, dan nefritis
akut (Tahir at all, 1991).

c) Keadaan social ekonomi.


Keadaan ini sangat berperan terhadap
timbulnya prematuritas,. Kejadian tertinggi
tedapat pada golongan sosial ekonomi rendah,
karena keadaan gizi yang kurang baik dan
pengawasan antenatal yang kurang. Pada
penelitian Tahir (1991), menemukan bahwa
kebanyakan ibu yang berasal dari golongan
sosial ekonomi rendah secara otomatis lebih
besar peluangnya untuk melahirkan BBLR.

d). Sebab lain

Ibu perokok,
peminum alcohol, dan
pengguna
narkotika (Tahir at all,
1991).

2. Faktor Janin
Hidramnion, kehamilan ganda, cacat
bawaan, ketuban pecah dini, dan
kelainan kromosom (Wiknjosatro, 1994)
3. Faktor lingkungan

D. Faktor yang berkontribusi terhadap


terjadinya BBLR (Tahir at all, 1991) :
1) Etnik
2) Usia
3) Parity
4) Masalah maternal (kehamilan kembar,
hipertensi, perdarahan antepartum,
PROM, penyakit maternal, partus yang tidak
direncanakan, lethal abnormality).

E. Patofisiologi

sosek rendah.
kurangnya pelayanan kesehatan prenatal yang
komprehensif,
preeklamsia, kehamilan kembar, dan adanya masalah
pada plasenta.
intoleransi glukosa selama kehamilan, maternal DM,
gaya hidup ibu (merokok), hipertensi, nutrisi yang
buruk, anemia, kehamilan multijanin, dan anomali
kongenital ( Bobak, 1995).


menyebabkan kurangnya suplai nutrisi dari ibu
kepada janin yang dikandungnya

janin mengalami malnutrisi, IUGR, distres fetal


yang kronis, yang pada akhirnya lahir dengan
berat badan yang rendah dengan segala macam
komplikasinya.

F.Pemeriksaan Diagnostik
Jumlah sel darah putih : 18.000/mm3,
netrofil meningkat sampai 23.00024.000/mm3 hari pertama setelah lahir
(menurun bila ada sepsis)
Hematokrit 43-61% (peningkatan sampai
65% atau lebih menandakan polisitemia,
penurunan menunjukan keadaan anemia
atau hemoraghic prenatal/perinatal)

Hemoglobin 15-20 gr/dl (kadar lebih


rendah berhubungan dengan
anemia atau hemolisis berlebihan)
Bilirubin total 6 mg/dl pada hari
pertama kehidupan, 8 mg/dl pada
1-2 hari, 12 mg/dl pada 3-5 hari

Destrosix : tetes glukosa pertama


selam 4-6 jam pertama setelah
kelahiran rata-rata 40-50mg/dl
meningkat 60-70 mg/dl pada hari ketiga.
Pemantauan elektrolit (Na, K, Cl) :
biasanya berada pada batas normal
pada awalnya
Pemeriksaan Analisa gas darah

G. Gambaran klinis
Pada pada BBLR cukup bulan pada umumnya
maturitas fisiologik bayi ini sesuai dengan
masa gestasinya dan sedikit dipengaruhi oleh
gangguan pertumbuhan didalam uterus. Jadi
pada BBLR cukup bulan, alat-alat dalam
tubuhnya sudah berkembang baik
dibandingkan bayi prematur dengan berat
yang sama, sehingga dengan demikian bayi
tersebut lebih mudah hidup diluar kandungan.

sedangkan bayi prematur secara umum


menunjukan keadaan belum
sempurnanya fungsi organ tubuh dengan
keadaan yang lemah.

Gambaran klinis bayi premature adalah sebagi


berikut :
Fisik
Bayi kecil, pergerakan kurang dan masih
lemah, kepala lebih besar daripada badan, berat
badan kurang dari 2500 gram.
Kulit dan kelamin
Kulit tipis dan transparan, lanugo banyak,
rambut halus dan tipis, genitalia belum
sempurna.

Sistem syaraf
Reflek moro positif, reflek menghisap,
menelan, dan batuk belum sempurna.
Sistem muskuloskeletal
Ubun-ubun dan sutura lebar, axifikasi
tengkorak sedikit, otot-otot masih
hipotonik, tungkai abduksi, sendi lutut kaki
fleksi, kepala menghadap satu jurusan,
tulang rawan elastis kurang.

Sistem pernafasan
Sitem pernafasan belum teratur,sering
apnoe, frekwensi nafas bervariasi

H. Prognosis BBLR
Prognosis BBLR tergantung dari berat
ringannya masalah perinatal, misalnya masa
gestasi, asfiksia/iskemia otak, sindroma
gangguan pernafasan, perdarahan
intraventikuler, displasia bronkopulmonal,
infeksi, dan gangguan metabolik.
Prognosis ini tergantung juga dari keadaan
sosial ekonomi, pendidikan orang tua, dan
perawatan pada saat kehamilan-persalinanpostnatal (Wiknjosastro, 1994).

I. Komplikasi / Dampak
Kerusakan bernafas : fungsi organ belum
sempurna
Pnemonia, aspirasi : reflek menelan dan
batuk belum sempurna
Perdarahan intraventrikular : perdarahan
spontan di ventrikel otak lateral disebabkan
anoxia yang menyebabkan hipoxia otak
yang dapat menimbulkan terjadinya
kegagalan peredaran darah sistemik.

- Late-onset sepsis, merupakan suatu masalah

dan factor resiko penting penyebab kematian


bayi dengan BBLR dan memerlukan waktu yang
lama dalam perawatan di rumah sakit.
Dari hasil penelitian Stall, et all (2002),bayi
sebanyak 6215 yang hidup selama 3 hari,
1313 (21%)mengalami 1 atau lebih
mengalami kejadian sepsis yang lambat
didalam darahnya. Kebanyakan penyebab
infeksi (70%) disebabkan oleh organisme
gram positif, dan 48 % nya oleh
stapilococcus.

Kejadian infeksi berbanding terbalik antara


berat bayi dengan usia kehamilan.
Bayi yang memang mempunyai sepsis ini
biasanya tinggal di rumah sakit dengan waktu
yang lama (79 hari) dibanding bayi yang tidak
mengalami sepsis (rata-rata 60 hari).
Bayi yang mengalami sepsis ini lebih sering
mengalami kematian (18%) dibandingkan
dengan bayi yang tidak mengalami infeksi
(7%).

- Pada bayi cukup bulan dengan BBLR


sering terjadi aspirasi mekonium yang
diikuti pneumothoraks, hemoglobin yang
tinggi yang disebabkan oleh hipoksia
kronis dalam uterus, asfiksia, perdarahan
paru yang masif, hipothermia, cacat
bawaan dan hipoglikemia

J.Pengkajian Dasar Neonatus (Dongoes,


1994; Whaley & Wong, 1999)
1) Aktifitas/istirahat

Tidur sehari rata-rata 20 jam.

2) Pernafasan
Takipnoe sementara dapat dilihat, pola nafas
diafragmatik dan abdominal dengan gerakan sinkron dari
dada dan abdomen, perhatikan adanya secret yang
mengganggu pernafasan,mengorok, retraksi
suprasternal atau substernal atau berbagai derajat
sianosis mungkin ada, dan pernafasan cuping hidung.
Skor Apgar mungkin rendah pernafasan mungkin
dangkal, tidak teratur; 40-60 X/menit. Adanya bunyi
ampelas pada auskultasi menandakan adanya sindroma
distres pernafasan.

3) Makanan/cairan

Perhatikan adanya dehidrasi, jika ditemukan


maka lakukan infuse pada bayi. Berikan minum
dengan tetes ASI atau personde karena reflek
menelan BBLR belum sempurna.makanan
diberikan 5 lb 8 oz
4) Berat Badan

Kurang dari 2500 gram

5) Keamanan

Suhu
Suhu berfluktuasi dengan mudah. BBLR mudah mengalami
hipothermi, oleh karena itu suhu tubuhnya harus
dipertahankan

Menangis mungkin lemah


Wajah mungkin memar, mungkin ada caput
sucsedanum
Lanugo terdistribusi secara luas diseluruh
tubuh
Ekstremitas mungkin nampak edema.

6) Integumen
Pada BBLR menunjkan adanya tanda-tanda
kulit tampak mengkilat dan kering
7) Neurosensori
Tubuh panjang, kurus, lemas, dengan perut
agak gendut. Ukuran kepala besar dalam
hubungannya dengan tubuh, sutura mungkin
mudah digerakan, fontanel mungkin besar
atau terbuka lebar

Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata


berputar. Edema kelopak mata umum terjadi, mata
mungkin merapat ( tergantung pada usia gestasi).
Reflek tergantung pada usia gestasi ; rooting terjadi
dengan baik pada gestasi minggu ke 32, koordinasi
reflek menghisap, menelan, dan bernafas biasanya
terbentuk pada gestasi minggu ke 32; komponen
pertama dari reflek moro ( ekstensi lateral dari
ekstremitas atas dengan membuka tangan) tampak
pada gestasi minggu ke 28; komponen kedua ( pleksi
anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak
pada gestasi minggu ke 32.

K. Masalah

Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan


maturitas pusat pernafasan, keterbatasan
perkembangan otot, penurunan energi /kelelahan,
ketidakseimbangan metabolic.
Resiko tinggi tidak efektifnya thermoregulasi
berhubungan dengan perkembangan SSP
immature (pusat regulasi suhu), penurunan rasio
masa tubuh terhadap area permukan, penurunan
lemak subkutan.

Resiko terhadap perubahan nutrisi kurang


dari kebutuhan berhubungan dengan
immaturitas organ tubuh.
Resiko tinggi terhadap kerusakan itegritas
kulit berhubungan dengan kapiler rapuh dekat
dengan permukaan kulit.
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan
respon imun immatur.

L. Managemen medis dan Keperawatan


1) Penanganan awal pada BBLR. (McCormick et
all,2006)

Intervensi meliputi kunjungan rumah tiap minggu


selama tahun pertama bayi dan tiap 2 minggu sekali
selama tahun kedua dan tahun ketiga.
Sebagai tambahan dari 12 bulan bayi dalam
kehidupannya harus didukung oleh orang tua dan
kelompok yang memiliki social support dalam
dukungan dan pendidikan.

karena faktor biologi dan pendidikan


mempengaruhi kelangsungan dampak
dari pendidikan awal. (Tahir, 1991)
bedrest, pemberian obat tocollytic, cervical
cerclage tetapi dilaporkan tidak
mempunyai keberhasilan yang kuat.

2) Penatalaksanaan (Wiknjosastro,
1994 ; Dongoes, 1994)
a. Penatalaksanaan prematuritas
murni
1) Pengaturan suhu badan
2) Pengaturan makanan
3) Pencegahan infeksi
4) Pengaturan pernafasan
5)Pengaturan cairan

b. Penatalaksanaan Dismaturitas ( BBLR cukup


bulan)
Menurut Wiknjosastro (1994),
penatalaksanaan pada bayu dismaturitas
hampir sama dengan bayi perawatan neonatus
umumnya, seperti pengaturan suhu
lingkungan, makanan, mencegah infeksi, dan
lain-lain. Akan tetapi oleh karena bayi ini
mempunyai problematik yang agak berbeda
dengan bayi lainnya maka harus diperhatikan
hal-hal berikut ini :

Pemeriksaan pertumbuhan dan


perkembangan serta gangguan
petumbuhan janin intra uterine, dan bila
bayi telah dilahirkan maka lakukan
pemeriksaan yang lebih lengkap sesuai
dengan kelainan yang didapat.
Memeriksa kadar gula darah (true glucose)
dengan destroksix atau di labolatorium. Bila
terbukti adanya hipoglikemi harus segera
diatasi.

Pemeriksaan hematokrit
dan mengobati
hyperviskositasnya
Bayi membutuhkan lebih
banyak kalori dibandingkan
dengan bayi prematur
Melakukan tracheal
washing pada bayi yang
diduga akan menderita
aspirasi mekonium.

3) Pengamatan lanjut (Follow-up)


Bila BBLR ini dapat mengatasi
problematik yang dideritanya,
maka perlu diamati
selanjutnya oleh karena
kemungkinan bayi ini akan
mengalami gangguan
pendengaran, penglihatan,
kognitif, fungsi motor SSP,
dan penyakit-penyakit seperti
hidrosefalus, hipoglikemia,
dan lain-lain

4) Adanya monitoring
dari keluarga dan
petugas kesehatan
terhadap bayi secara
hati-hati sesuai
dengan tingkat
perkembangan. (Bock
& Miller, 2004)

TERIMA
KASIH