Anda di halaman 1dari 20

PENGELOLAAN SUMBERDAYA

HUTAN DI PERUM PERHUTANI


KPH BOGOR
Bandung,

Maret 2014

DIVISI REGIONAL JAWA BARAT DAN BANTEN

WILAYAH KERJA KPH BOGOR


Luas wilayah kerja KPH Bogor 47.991,04 Ha
terdiri dari :
- Hutan Produksi
: 25.227,38 Ha
- Hutan Produksi Terbatas :
5.311,15 Ha
- Hutan lindung
: 17.452,51 Ha
Yang tersebar di 5 BKPH, dan 16 RPH
Secara administratif pemerintahan kawasan
hutan KPH Bogor di 2 kabupaten,
22
kecamatan dan 82 desa

VISI DAN MISI PERUM PERHUTANI


Visi
- Menjadi Perusahaan Unggul Dalam Pengelolaan
Hutan Lestari
Misi
- Mengelola sumber daya hutan secara lestari
(Planet)
- Meningkatkan manfaat Pengelolaan Sumber Daya
Hutan bagi seluruh pemangku kepentingan (Poeple)
-Menyelenggarakan bisnis kehutanan dengan prinsip
Good Corporate Governance (Profit)

Proses menuju PHBM:


1972 > Perubahan pengelolaan dari pendekatan
keamanan
menjadi
pendekatan
kesejahteraan
(Program Malu, Subsidi saprotan)
1982> Pembangunan MDH (sarana, prasarana bio fisik
yang bersifat bantuan)
1984>
Pembinaan
MDH
(Pembentukan
KTH,
Agroforestry, Usprod)--- P.S.
1994> PMDHT (P.S. Merupakan salah satu komponen
pembangunan wilayah dibawah koordinasi Pemda)
1998> Pemberdayaan MDH (Lembaga M3, Koperasi
Pontren)
2001> PHBM (Pengelolaan SDH bersama Masyarakat)
2007> PHBM Plus
2009> PHBM

LATAR BELAKANG PHBM


Kepadatan dan pertumbuhan penduduk di Pulau
Jawa sangat tinggi
Keberadaan hutan di Pulau Jawa dikelilingi lk 6000
desa sekitar hutan
Masyarakat desa hutan umumnya tergolong miskin,
keterbatasan modal, keterbatasan infrastruktur dan
akses pelayanan masih langka
Masih tingginya tingkat kerusakan hutan akibat
pencurian/perambahan
Masih belum dilibatkannya peran dan partisipasi
masyarakat secara optimal

PENGELOLAAN SUMBERDAYA
HUTAN
BERSAMA MASYARAKAT
Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama
Masyarakat (PHBM) adalah sistem pengelolaan
sumberdaya hutan yang dilakukan bersama
oleh Perum Perhutani dan masyarakat desa
hutan dan atau Perum Perhutani dan
masyarakat desa hutan dengan pihak yang
berkepentingan (stakeholder) dengan jiwa
berbagi, sehingga kepentingan bersama untuk
mencapai keberlanjutan fungsi dan manfaat
sumberdaya hutan dapat diwujudkan secara
optimal dan proporsional

DASAR HUKUM

Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan


Undang-undang Nomor 25 Tahun 2001 tentang Kewenangan
Pemerintah Provinsi sebagai Daerah Otonomi
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.01/Menhut-II/2005
tentang Pemberdayaan masyarakat setempat di dalam dan
atau Sekitar Hutan Dalam Rangka Social Forestry
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.50/Menhut-II/2006
tentang Pedoman Kegiatan Kerjasama Usaha Perum
Perhutani Dalam Kawasan Hutan
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2010 tentang Perum
Perhutani
Keputusan
Direksi
Perum
Perhutani
Nomor
849/KPTS/DIR/1999 tentang Pedoman Pengkajian Desa
secara Partisipatif
Keputusan
Direksi
Perum
Perhutani
Nomor

TUJUAN PHBM
Meningkatkan tanggung jawab Perusahaan,
MDH dan pihak yang berkepentingan terhadap
keberlanjutan fungsi dan manfaat SDH
Meningkatkan peran Perusahaan , MDH dan
pihak yang berkentingan terhadap pengelolaan
SDH
Menyelaraskan kegiatan pengelolaan SDH
sesuai dengan kegiatan pembangunan wilayah
sesuai kondisi dan dinamika sosial MDH

lanjutan
Meningkatkan sinergitas dengan Pemda
dan stakeholder
Meningkatkan
usaha-usaha
produktif
menuju MDH mandiri yang mendukung
terciptanya hutan lestari
Mendukung keberhasilan pembangunan
daerah yang diukur dengan IPM melalui 3
indikator utama : tingkat daya beli,
tingkat pendidikan dan tingkat kesehatan.

JIWA PHBM
Keseimbangan : ekologi, sosial, ekonomi
Kesesuaian : kultur setempat
Keselarasan : pembangunan wilayah
Keberlanjutan : fungsi dan manfaat
SDH
Kesetaraan
: peran dan resiko

PRINSIP PHBM

Keadilan dan demokratis


Keterbukaan dan kebersamaan
Pembelajaran bersama dan saling memahami
Kejelasan hak dan kewajiban
Pemberdayaan ekonomi kerakyatan
Kerjasama Kelembagaan
Perencanaan partisipatif
Kesederhanaan sistem dan prosedur
Perusahaan sebagai fasilitator
Kesesuaian pengelolaan dan karakteristik wilayah

RUANG LINGKUP
Di dalam dan di luar kawasan hutan baik
berbasis lahan maupun bukan lahan
dengan mempertimbangkan skala prioritas
berdasarkan perencanaan partisipatif
Tidak mengubah status kawasan hutan,
fungsi hutan dan status tanah perusahaan.

STRATEGI PHBM
Menselaraskan
pengelolaan
SDH
dengan
pembangunan wilayah
Penguatan kelembagaan difokuskan pada MDH yang
melakukan aktifitas pengelolaan hutan secara
langsung
Penguatan ekonomi MDH melalui pendirian lembaga
ekonomi (Koperasi)
Kegiatan pengelolaan hutan dikerjasamakan dengan
LMDH, koperasi MDH dan atau pihak ain yang
berkepentingan
Meningkatkan
peran
LMDH
dalam
kegiatan
perlindungan SDH

TAHAPAN PROSES
IMPLEMENTASI PHBM

Sosialisasi
Dialog
Kelembagaan
Negosiasi
Jaminan Hukum (PKS, Akta Notaris)
Pelaksanaan

PELAKSANAAN PHBM
Dilaksanakan dengan jiwa bersama
dan
berbagi
yang
meliputi
pemanfaatan lahan dan atau ruang,
pemanfaatan waktu dan pemanfaatan
hasil dalam pengelolaan SDH dengan
prinsip saling menguntungkan.

KETENTUAN BERBAGI
Nilai dan proporsi berbagi ditetapkan
sesuai kontribusi para pihak
Penetapan nilai dan proporsi berbagi
dituangkan dalam Perjanjian
Pengengeloaan Sumberdaya Hutan
Bersama Masyarakat
Ketentuan berbagi secara rinci diatur
dalam aturan tersendiri

SUPERVISI, MONEV DAN


PELAPORAN (SMEP)
Monitoring dalam rangka pendampingan, pengawalan
dan pengamatan atas pelaksanaan PHBM
minimal
dilakukan setiap 3 bulan sekali tanpa memberi skor
Evaluasi dalam rangka mengetahui pencapaian kegiatan
PHBM dilaksanakan setiap 1 tahun sekali dengan
pemberian skor
Pelaporan : mendokumentasikan dan merekomendasikan
perkembangan dari hasil Monev
Obyek SMEP meliputi biofisik lingkungan, perkembangan
LMDH, kesungguhan petugas (mandor s/d Adm) dalam
melaksanakan PHBM
Out put dari SMEP digunakan dasar untuk melakukan
proses pembinaan

PERSYARATAN PHBM
PHBM dapat dilaksanakan dengan baik jika ada :

Pemahaman yang utuh terhadap konsep


PHBM
Desa dengan Kawasan Hutan Pangkuan
Desanya (KHPD)
Pengkajian Desa secara partisipatif
Pertemuan dan pendampingan secara intensif
Kelembagaan Masyarakat Desa Hutan (MDH)
Aturan-aturan yang bersifat mengikat
Usaha produktif dan atau sharing (bagi hasil)
Peran dan kerjasama antar pihak

UKURAN KEBERHASILAN PHBM


Perbaikan biofisik lingkungan berupa
keberhasilan reboisasi, perbaikan fungsi
lingkungan dan penurunan GUKAMHUT
Aspek
sosial
berupa
peningkatan
pendidikan,
kesehatan,
jejaring
kelembagaan dan tingkat keharmonisan
antara petugas Perum perhutani dengan
masyarakat
Aspek ekonomi berupa peningkatan usaha
produktif dan daya beli masyarakat.

TERIMA KASIH
HATUR NUHUN