Anda di halaman 1dari 5

NILAI-NILAI SOSIAL

DALAM IBADAH

Islam adalah agama yang tidak dapat dipisahkan dari sosial, sehingga banyak
kita temukan baik dalam Al-Quran maupun hadits yang terkandung didalamnya
nilai-nilai sosial-kemanusiaan, seperti berbuat baik kepada tetangga, menolong
orang lain, berbakti kepada kedua orang tua, menyantuni anak yatim,
menjenguk orang sakit, memberi makan fakir miskin, dan sebagainya.
Mendorong terciptanya keadilan dan solidaritas antara sesama manusia. Islam
juga disebut sebagai agama kemasyarakatan. Hal ini selaras dengan watak
dasar manusia sebagai makhluk yang tidak dapat hidup sendiri (makhluk
madani).
Syahadat selain kesaksian kepada keesaan Tuhan dan kerasulan Muhammad
SAW, juga menjadi tuntutan loyalitas (wala) dan persaudaraan (ukhuwah)
sesama muslim. Shalat dan zakat merupakan kristalisasi dari kolektifitas dan
solidaritas sosial. Haji menjadi penanda leburnya perbedaan-perbedaan.

SHALAT
Dimensi sosial shalat adalah bagaimana shalat membawa dampak positif bagi
lingkungan sosial masyarakat dimana individu yang melakukan shalat itu berada.
Bahwa sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, merupakan
manifestasi nilai-nilai sosial yang berada dalam sholat.
Iqamah sebagai salah satu nilai untuk saling mengingatkan dalam kebaikan
Barisan dalam sholat (shof), Shof atau barisan diharuskan rapat dan lurus adalah
untuk memberikan ruang kepada yang lain. Bagaimana seandainya shof dibuat atas
kemauannya sendiri.Kepedulian dan saling berbagi kepada orang lain juga dapat
dilihat dari pengaturan shof dalam sholat ini.
Tentang siapa yang berhak menempati shof pertama, shof kedua, shof ketiga dan
seterusnya diatur berdasarkan siapa yang datang lebih awal. Usia, pangkat,
jabatan, kekayaan, kiyai, ustad, atau apa saja bukan ukuran untuk menempati shof
tertentu. Barangsiapa yang datang paling awal dia berhak menempati shof pertama
(dekat dengan imam). Demikian besar dimensi sosialnya dari sholat, bahkan dari
persiapan sholat.

NILAI SOSIAL DALAM IBADAH PUASA


Melahirkan rasa persamaan di antara sesama kaum
Muslimin, bahwa mereka adalah umat yang sama, makan
di waktu yang sama dan berpuasa di waktu yang sama
pula. Yang kaya merasakan nikmat Allah sehingga
menyayangi yang fakir.
Rasa lapar dan haus memberikan pelajaran empati kepada
sesama manusia. Menghindari perangkap-perangkap setan
yang ditujukan kepada manusia.
Puasa bisa melahirkan ketakwaan kepada Allah yang mana
ketakwaan tersebut dapat memperkuat hubungan antar
individu masyarakat.

ZAKAT
Menunjukkan rasa senasib sepenanggungan kepada
masyarakat yang kurang mampu, maka dalam masyarakat
akan tercipta dan terwujud rasa persatuan dan kesatuan
yang kokoh.Pada pernyataan di atas menunjukkan bahwa
manusia adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan.
Kebersamaan antara beberapa individu dalam satu
wilayah membentuk masyarakat yang walaupun berbeda
sifatnya dengan individu-individu tersebut, namun ia
tidak dapat dipisahkan darinya.
Menumbuhkan rasa solidaritas
Prinsip keadilan dalam pembagian