Anda di halaman 1dari 52

Tonsillitis kronik

hipertrofi eksaserbasi
akut
PEMBIMBING:
D R. E M A N S U L A I M A N , S P. T H T- K L
OLEH:
R I S A M A U L I DA W I D JAYA ( 2 0 1 1 7 3 0 0 9 4 )
KEPANITERAAN KLINIK STASE THT
RSUD CIANJUR
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2016

A. Identitas pasien
Nama

: An. MRA

Jenis kelamin
Umur

: Laki-laki

: 13 tahun

Alamat
: Galudara, Rt. 03/02 ds. Cigenang
Kec. Cigeunang Kab. Cianjur
No. RM

: 770078

Tanggal berobat : Senin, 14 Oktober 2016

B. Anamnesis
1. Keluhan utama

Nyeri tenggorokan sejak 1 minggu


SMRS

2. Riwayat penyakit
sekarang

Nyeri
tenggorok
an

1 minggu
yang lalu

Saat
anamnesi
Nyeri saat menelan
s
Demam
Batuk
Pilek
Suara serak
Sering mengorok jika tidur
Nafsu makan turun

3. Riwayat penyakit dahulu


Keluhan yang sama 1 tahun sebelumnya
Keluhan dirasakan 2x dalam sebulan
Riwayat penyakit Asma disangkal

4. Riwayat penyakit keluarga


Disangkal

5. Riwayat alergi
Makanan, debu, cuaca, obat-obatan
disangkal
5

6. Riwayat pengobatan
Sudah berobat ke Puskesmas:keluhan belum
membaik

7. Riwayat psikososial
Gemar konsumsi es, mie instan (makanan yang
mengandung pengawet dan penyedap
Riwayat merokok (-)

C. Pemeriksaan
Fisik
Keadaan umum
Kesadaran

: Baik

: Compos Mentis

Berat badan : 38 Kg
Tanda Vital
Penafasan

: Tekanan darah : - mmHg


: 20 kali/menit

Nadi : 88 kali/menit
Suhu : 37.5C

Status generalis
1. Kepala : normocephal (+)
2. Mata

: konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (+/+), refleks

pupil (+/+) isokor


3. Telinga : lihat status lokalis
4. Hidung : lihat status lokalis
5. Mulut

: mukosa bibir lembab, sianosis (-), stomatitis (-)

6. Tenggorok : lihat status lokalis


7. Leher

: lihat status lokalis


8

8. Thorax
Inspeksi : kedua hemithoraks tampak
simetris, retraksi sela iga (-)
Palpasi : kedua hemithoraks
terangkat simetris
Perkusi : sonor pada semua lapang
paru
Auskultasi : suara napas vesikuler
(+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

9. Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak
terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS
5 linea midclavicularis sinistra
Perkusi : batas jantung relatif
dalam batas normal
Auskultasi : bunyi jantung I dan II
regular

10. Abdomen
Inspeksi : datar (+)

11. Ekstremitas

Palpasi : supel, nyeri tekan

Superior : akral hangat, udem

epigastrium (+)

(-/-), RCT < 2 detik (+)

Perkusi : timpani pada seluruh

Inferior : akral hangat, udem

kuadran abdomen

(-/-), RCT < 2 detik (+)

Auskultasi : bising usus (+)


normal

1
0

D. Status Lokalis THT


1. Telinga
AD

TELINGA

Normotia, hematoma (-),


perikondritis (-), helix sign (-),

AS
Normotia, hematoma (-),

Aurikula

perikondritis (-), helix sign (-)

edema (-)

edema (-)

Peradangan (-), pus (-), nyeri

Peradangan (-), pus (-), nyeri

tekan (-), pembesaran KGB (-)


Peradangan (-), pus (-), nyeri
tekan (-), pembesaran KGB (-)

Preaurikula

Retroaurikula

1
5
1

tekan (-), pembesaran KGB (-)


Peradangan (-), pus (-), nyeri
tekan (-), pembesaran KGB (-)

AD
Hiperemis (-), udem(-),
serumen(-), sekret (-),
massa(-)

TELINGA

MAE

Hiperemis (-), udem(-),


serumen(+) kering, sekret (-),

5, hiperemis (+), retraksi (-)

Hiperemis (-), udem(-),


serumen(-), sekret (-),
massa(-)
Hiperemis (-), udem(-),

KAE

massa(-)
Intak, refleks cahaya (+) di jam

AS

serumen(+) kering, sekret (-),


massa(-)

Membran timpani

Intak, refleks cahaya (+) di jam


7, hiperemis (-), retraksi (-)

Uji Rinne

Lateralisasi (-)

Uji Weber

Lateralisasi (-)

Sama dengan pemeriksa

Uji Schwabach

Sama dengan pemeriksa

1
2

2. Hidung
a. Rinoskopi anterior
Dextra

Rinoskopi anterior

Sinistra

Hiperemis (-)

Mukosa

Hiperemis (-)

Sekret

Hipertrofi (-)

Konka inferior

Hipertrofi (-)

Deviasi (-)

Septum

Deviasi (-)

(-)

Massa

(-)

Normal

Passase udara

Normal

1
5
3

b. Sinus paranasal

Inspeksi : Pembengkakan kedua pipi (-), kemerahan


kelopak mata bawah (-), pembengkakan kelopak mata
atas (-)
Palpasi : Nyeri tekan pipi (-), nyeri ketuk pipi (-), nyeri
tekan medial atap orbita (-), nyeri tekan kantus medius (-)

c. Tes penciuman

d. Transiluminasi

Kanan : Normal dengan kopi dan


Sinus maksilaris:
Tidak
tembakau
dilakukan
Kiri : Normal dengan kopi dan tembakau
Sinus frontalis: Tidak di lakukan
Kesan : NDS normosmia
Kesan : -

1
4

3. Tenggorok
a. Nasofaring
Nasofaring (Rinoskopi posterior)
Konka superior

tidak dilakukan

Torus tubarius

tidak dilakukan

Fossa Rossenmuller

tidak dilakukan

Plika salfingofaringeal

tidak dilakukan

1
5

b. Orofaring
Dextra

Pemeriksaan
Orofaring

Sinistra

Mulut
Hiperemis
Simetris (normal)
bersih
Simetris (normal)
bersih
Lubang (+)
Simetris (normal)
bersih

Mukosa mulut
Lidah
Palatum molle
Gigi geligi
Uvula

1
6

Hiperemis
Simetris (normal)
bersih
Simetris (normal)
bersih
Lubang (+)
Simetris (normal)
bersih

Dextra

Pemeriksaan
Orofaring

Sinistra

Tonsil
Hiperemis
TIII

Mukosa

Besar

Hiperemis
TIII

Melebar

Kripta

Melebar

Detritus

Perlengketan

Tenang

Mukosa

Tenang

Granula

Post nasal drip


1
7

Faring

TES PENGECAPAN
Manis

Normal

Asam

Normal

Asin

Normal

Pahit

Normal

1
8

c. Laringofaring
Laringofaring (laringoskopi indirect)
Epiglotis
Plika
ariepiglotika
Plika
ventrikularis

tidak dilakukan

tidak dilakukan

tidak dilakukan

Plika vokalis

tidak dilakukan

Rima glotis

tidak dilakukan
1
9

4. Maksilofasial

Dextra

Nervus

I. Olfaktorius
Normosmia

. Penciuman

Sinistra

Normosmia

II. Optikus

(+)

Daya penglihatan

(+)

(+)

Refleks pupil

(+)

2
0

III. Okulomotorius

(+)

Membuka kelopak mata

(+)

(+)

Gerakan bola mata ke superior

(+)

(+)

Gerakan bola mata ke inferior

(+)

(+)

Gerakan bola mata ke medial

(+)

(+)

Gerakan bola mata ke

(+)

(+)

laterosuperior
IV. Troklearis
Gerakan bola mata ke
lateroinferior

2
1

(+)

V. Trigeminal

Tes sensoris

(+)

Cabang oftalmikus (V1)

(+)

(+)

Cabang maksila (V2)

(+)

(+)

(+)

Cabang mandibula (V3)


VI. Abdusen
Gerakan bola mata ke lateral

2
2

(+)

(+)

VII. Fasialis

(+)

Mengangkat alis

(+)

(+)

Kerutan dahi

(+)

(+)

Menunjukkan gigi

(+)

(+)

Daya kecap lidah 2/3 anterior

(+)

VIII. Akustikus

Normal

Tes garpu tala

Normal

IX. Glossofaringeal

(+)

Refleks muntah

(+)

(+)

Daya kecap lidah 1/3 posterior

(+)

2
3

X. Vagus

(+)

Refleks muntah dan menelan

(+)

(-)

Deviasi uvula

(-)

Simetris

Pergerakan palatum

Simetris

XI. Assesorius

(+)

Memalingkan kepala

(+)

(+)

Kekuatan bahu

(+)

XII. Hipoglossus

(-)

Tremor lidah

(-)

(-)

Deviasi lidah

(-)
2
4

5. Leher
Dextra
Pembesaran
(-)
Pembesaran
(-)
Pembesaran
(+)
Pembesaran
(-)
Pembesaran
(-)
Pembesaran
(-)
Pembesaran
(-)
Pembesaran
(-)

Pemeriksaan

Sinistra

Tiroid

Pembesaran (-)

Kelenjar submental

Pembesaran (-)

Kelenjar submandibula

Pembesaran (-)

Kelenjar jugularis superior

Pembesaran (-)

Kelenjar jugularis media

Pembesaran (-)

Kelenjar jugularis inferior

Pembesaran (-)

Kelenjar suprasternal

Pembesaran (-)

Kelenjar supraklavikularis
2
5

Pembesaran (-)

, 37 tahun

E. Resume

Nyeri tenggorokan

ANAMNESIS

PEMERIKSAAN THT

Nyeri saat menelan


Demam

Tenggorok: tonsil hiperemis, TIII/TIII,

Batuk

kripta melebar

Pilek
Sering mengorok jika tidur

Sekter pada nasal dextra

Suara menjadi serak

Leher: pembesaran kelenjar

Riwayat konsumsi es dan makan


makanan yang mengandung pengawet
dan penyedap (mie instan, chiki)

submandibula kanan

Keluhan yang sama 2 tahun sebelumnya


Keluhan dirasakan 2 kali dalam 1 bulan

2
6

27

F. Pemeriksaan Penunjang
Hematologi rutin Hemoglobin, leukosit,
hematokrit, trombosit, masa perdarahan dan
masa pembekuan

2
7

G. Diagnosis
banding

H. Diagnosis
kerja

1. Tonsillitis kronik
hipertrofi
eksaserbasi akut
2. Abses
peritonsillitis

Tonsillitis kronik
hipertrofi
eksaserbasi akut

2
8

I. Penatalaksanaan
2. MEDIKAMENTOSA

1. NON-MEDIKAMENTOSA
Menghindari minum es,
makan makanan pedas, dan
gorengan

Coamoxiclave 625 mg 2 dd 1 tab


Ibuprofen tab 400 mg 3 dd 1

Makan makanan 4 sehat 5


sempurna

Triamcinolone 4 mg 2 dd 1
Ambroxol 30 mg 3 dd 1

Menjaga kebersihan mulut


3. Rencana Tindakan

Tonsillektomi diseksi

2
9

30

Tinjauan
pustaka
TONSILLITIS KRONIK HIPERTROFI
EKSASERBASI AKUT

3
0

A. Anatomi Faring
Perdarahan
Cabang a. Karotis eksterna
cabang faring asendens dan
fasial
Cabang a. Maksila interna
cabang palatina superior

Persarafan

Pleksus faring yang ekstensif


n. Vagus, n. Glososfaring dan
serabut simpatis

3
1

3
2

Anatomi tonsil
Massa jaringan limfoid
Dilapisi epitel skuamosa
Ditunjang jaringan ikat + kripta

3
4

Perdarahan
tonsil
a. Palatina asenden

Posteroinferior

a. Tonsilaris

Anteroinferior

a. Fasialis

a. Maksilaris
interna

a. Lingualis
dorsalis

Anteromedia

a. Karotis
eksterna

a. Faringeal
asenden

Posterosuperior

a. Palatina mayor

Anterosuperior

a. Palatina minor

Anterosuperior

a. Palatina
desenden

3
5

D. Tonsillitis
Inflamasi tonsila palatina
Disebabkan virus atau bakteri

3
6

Klasifikasi tonsillitis
Tonsillitis
akut
Tonsillitis
membranos
a

Tonsillitis

Tonsillitis
kronik
3
7

Tonsillitis akut

a. Definisi
Radang akut pada tonsil
Infeksi bakteri atau virus

b. Etiologi

Steptococcus -haemolyticus Grup A


Haemophylus influenzae
Streptococcus pneumoniae
Staphylococcus
3
8

c. Patofisiologi
Droplet
infection

Rokok, makanan,
pengobatan yang
tidak adekuat,
hygiene mulut

Menginfiltrasi
lapisan epitel

Lapisan epitel
terkikis

Gejala sistemik

Pembendungan
radang dengan
infiltrasi leukosit
polimorfonuklear
(PMN)

Reaksi jaringan
limfoid
superfisialis

3
9

d. Manifestasi klinik
Nyeri tenggorok dan nyeri
menelan

Tonsil hipertrofi dan


hiperemis

Demam

Detritus

Lesu

Kelenjar submandibula
membengkak & nyeri tekan

Tidak nafsu makan


Nafas berbau
Nyeri telinga (referred pain)

4
0

Tonsillitis membranosa
A. TONSILLITIS DIFTERI

CORYNEBACTERIUM
DIPHTERIAE
ANAK < 10 TAHUN

Gejala dan tanda

Gejala umum: nyeri menelan, demam,


nyeri kepala, nafsu makan turun, lemas
Gejala lokal: tonsil membengkak + bercak
putih membran semu, bull neck
Gejala eksotoksin: miokarditis
decompensatio cordis, lumpuh otot palatum
& pernapasan, albuminuria

4
1

B. TONSILLITIS SEPTIK

Streptococcus hemolitikus
Ditemukan di susu sapi

Gejala dan tanda


Demam tinggi, sakit sendi, malaise, nyeri kepala, mual dan
muntah
Tanda klinis: mukosa faring dan tonsil hiperemis, bercak putih,
edema sampai uvula, mulut bau

4
2

C. ANGINA PLAUT VINCENT

SPIROCHAETA ATAU TRIPONEMA

PENDERITA DENGAN HYGIENE


MULUT YANG KURANG DAN
DEFISIENSI VITAMIN C
Gejala dan tanda
Demam tinggi, nyeri kepala, badan lemah, gangguan pencernaan,
nyeri dimulut, hipersalivasi, gigi dan gusi mudah berdarah

4
3

D. PENYAKIT KELAINAN
DARAH

Leukimia
akut
Epistaksis
Perdarahan di
mukosa mulut,
gusi dan di
bawah kulit
Tonsil bengkak
ditutupi
membrane
semu,
hiperemis
Nyeri tenggorok

Angina
agranulosito
sis

Infeksi
mononukleo
sis

Keracunan obat
dari golongan
amidopirin, sulfa
dan asren
Tampak ulkus di
mukosa mulut
dan faring, di
sekitar ulkus
peradangan

Pembesaran
kelenjar limfa
leher, ketiak dan
regioinguinal
Jumlah leukosit
mononukleus
besar
Reaksi Paul
Bunnel

4
4

Tonsillitis kronik

A. DEFINISI

B. ETIOLOGI
Streptococcus hemolyticus Grup A
Haemophylus influenzae

Peradangan akut berulang

4
5

Rokok

Cuaca

Makanan

c. Faktor
predisposisi

Hygiene
mulut
buruk

Kelelahan
fisik
4
6

d. Patofisiologi

Infeksi epitel
berulang &
lama

Epitel mukosa
& jaringan
limfoid
terkikis

Penyembuhan
jaringan
limfoid
jaringan parut

Detritus

Keluarnya sel
limfosit &
basofil

Kripta
melebar

4
7

Odinofag
ia

Infeksi
saluran
nafas
atas/teling
a/ sinus
berulang

Nyeri
menelan

e. Manifestasi
klinis

Rasa
mengganjal
pada
kerongkonga
n

Pernafas
an
berbau

4
8

Kompli
kasi
Rinitis kronik
Sinusitis
Otitis media perkontinuitatum
Endokarditis
Artritis
Miostitis
Nefritis
Uveitis, iridosiklitis
Dermatitis, pruritus, urtikaria
4
9

Tatalaksana

Operatif

Medikamentosa
Antibiotik: penisilin,
eritomisin
Antipiretik
Obat kumur:
disinfektan

Tonsillektomi: infeksi
berulang / kronik,
gejala sumbatan,
serta curiga
neoplasama

5
0

Indikasi tonsillektomi
Indikasi absolut
Obstruksi saluran napas, disfagia berat
Abses peritonsil respon pengobatan (-)
Kejang demam

Indikasi relatif
3x/tahun terapi antibiotik adekuat
Halitosis
Tonsillitis kronik/berulang Streptococcus dengan -laktamase
resisten

5
1

Electrosurg
ery

Radiofrekue
nsi

Diseksi

Guillotine

Skalpel
harmonic

Coblation

Teknik
tonsillekto
mi
5
2

Intracapsul
ar partial
tonsillecto
my

5
3