Anda di halaman 1dari 10

Pengantar ilmu farmasi

Penggolongan obat

Definisi
Menurut definisi yang lengkap, obat adalah bahan kimia
atau paduan/campuran bahan yang digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa
(fungsi diagnostik), pencegahan (fungsi profilaktik), dan
penyembuhan penyakit (fungsi terapeutik), termasuk di
dalamnya peredaan gejala, pemulihan, perbaikan dan
peningkatan kesehatan serta pengubahan fungsi
organik, baik pada manusia ataupun hewan. Termasuk
di dalamnya kontrasepsi dan sediaan biologis lainnya
(Penjelasan atas PP RI No.72 tahun 1998 tentang
Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan).

Penggolongan obat
Obat bebas
Obat bebas terbatas
Obat keras
Narkotik
psikotropik
Obat wajib apotik

Sesuai dengan SK MenKes RI No.6355/Dirjen/SK/1969, pada kemasan OBT harus


tertera peringatan yang berupa kotak kecil berukuran 52 cm berdasar warna hitam
atau kotak putih bergaris tepi hitam, dengan tulisan sebagai berikut:

Yang termasuk ke dalam golongan Obat keras adalah:


Daftar G, seperti: antibiotika, obat-obatan yang mengandung hormon, antidiabetes,
antihipertensi, antihipotensi, obat jantung, obat ulkus lambung.

Daftar O atau obat bius/anestesi, yaitu golongan obat-obat narkotika

Obat Keras Tertentu (OKT) atau psikotropika, seperti: obat penenang, obat sakit jiwa, obat
tidur
Obat Generik dan Obat Wajib Apotek (OWA), yaitu obat yang dapat dibeli dengan resep
dokter, namun dapat pula diserahkan oleh apoteker kepada pasien di apotek tanpa resep dokter
dengan jumlah tertentu

Lanjutan
Obat yang dibungkus sedemikian rupa, digunakan secara enteral maupun parenteral,
baik dengan cara suntikan maupun dengan cara lain yang sigatnya invasif
Obat baru yang belum tercantum di dalam kompedial/farmakope terbaru yang berlaku di
Indonesia
Obat-obatan lain yang ditetapkan sebagai obat keras melalui SK MenKes RI

Antidepresan : meredakan kegiatan syaraf, menurunkan


aktivitas otak dan fungsi tubuh atau sebagai penenang.

Stimulan : merangsang stimulasi kegiatan syaraf dan fungsi tubuh


sehingga mengurangi rasa mengantuk, lapar, serta menimbulkan
rasa gembira dan semangat yang berlebihan (efek euforia).

Halusinogen : menimbulkan halusinasi dan ilusi


(mengkhayal), gangguan cara berpikir, perubahan alam
perasaan (mood), kesadaran diri, dan tingkat emosional
terhadap orang lain sehingga tidak mampu membedakan
yang realitas dan fantasi.

Berdasarkan UU RI No.5 Tahun 1997 tentang psikotropika, obat ini dapat dibagi dibagi
menjadi 4 (empat) golongan yaitu:

Psikotropika gol.I

Psikotropika gol.II

Psikotropika gol.III
Psikotropika gol.IV

Narkotika dapat dibedakan lagi menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu:

Narkotika gol.I: berpotensi sangat tinggi menyebabkan ketergantungan


sehingga dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan
pengobatan
Contoh: heroin, kokain, ganja
Narkotika gol.II: berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan. Dapat
digunakan untuk terapi pengobatan, namun sebagai pilihan terakhir.
Contoh: morfin, petidin, metadon
Narkotika gol.III: berpotensi ringan menyebabkan ketergantungan.
Banyak digunakan dalam terapi pengobatan, namun tetap dalam
pengawasan yang sangat ketat.
Contoh: kodein.