Anda di halaman 1dari 12

Indonesia Dalam

Bayang-Bayang Krisis
Pangan

Fakta Hari ini....

Banyak orang yang memiliki lahan sangat luas, tapi tidak dikelola dengan
benar, hanya dijadikan sebagai objek investasi spekulatif.

Sementara bila ada orang yang mengolah lahan pertanian, dia hanya sebagai
buruh tani, bukan pemilik lahan

Banyak orang yang mengelola lahan pertanian, tapi mereka tidak memiliki
lahan itu. Mereka hanya membayar sewa kepada pemiliknya.

Negeri Subur Namun tidak selamanya


Makmur

Kelangkaan pangan

Kemiskinan

Kelaparan

Seperti yamg terjadi di 39 desa di NTT yang terancam kelaparan dan kelangkaan
air bersih.(Tempo.co).
Kebijakan pertanian dan perdagangan amburadul terbukti telah membuat
Indonesia sebagai negara agraris ini terus dihantui krisis kelangkaan pangan.

Angka kelaparan menurun namun tidak


merata

FAO (Food and Agriculture Organization) menilai Indonesia telah cukup


berhasil dalam menurunkan angka kelaparan dari tahun-tahun sebelumnya.
Indonesia telah berhasil menurunkan angka kelaparan hingga setengahnya, ini
sangat bagus, tapi masih banyak yang harus dilakukan khususnya diwilayah
bagian timur Indonesia seperti papua barat, NTT, Maluku dan sebagian
Kalimantan, yang mana masih terdapat penduduk yang tidak memiliki
makanan yang cukup.

Prosentase penduduk Indonesia yang kelaparan, turun dari 19,7 persen di


tahun 1990-1992, menjadi hanya 7,9 persen di tahun 2014-2016.

Pertumbuhan ekonomi yang pesat membantu Indonesia menurunkan angka


kelaparan.

Namun, meskipun telah berhasil menurunkan angka kelaparan hingga 50


persen, Indonesia masih dinilai lambat dalam mengurangi jumlah penduduk
yang kekurangan gizi, khususnya anak-anak dibawah usia 5 tahun.

Dari data terakhir, hampir 37 persen balita di Indonesia menderita stunting


atau terhambat pertumbuhannya karena kekurangan gizi.

Fenomena Bayi Stunting


Penyebab

Kekurangan gizi kronis

Ekonomi

Pendidikan yang rendah

Kalau kita lihat data terakhir tahun 2013 yang kita punya itu tidak berubah..
sekitar hampir 37 persen, katakanlah tidak berubah.. jadi memang stunting itu
merupakan masalah yang comprehensive sehingga penurunannya selama hampir
10 tahun tidak banyak," kata Minarto, Direktur Proyek Kesehatan & Gizi Berbasis
Masyarakat- MCA Indonesia.

Harga Fantastis
Nasi Pecel = 70.000
Bensin 1 liter = 250.000
Beras 18 kg (1 karung) = 800.000
Rumah tipe 36 > 1 miliar

Pesawat Harapan
Kenaikkan harga terjadi apabila persediaan barang sedikit dan permintaan
barang meningkat. Dan kenaikkan juga dapat dipicu distribusi barang terhambat.
Keterhambatan ini bisa karena infrastruktur transportasi yang buruk ataupun
mekanisme yang rumit

Beberapa waktu yang lalu Presiden Jokowi menyampaikan bahwa saat ini ada
10 provinsi, kota, dan kabupaten yang dananya paling banyak mengendap di
bank. Jokowi tak ingin dana tersebut hanya 'menganggur' di bank.

"Bahwa pada Mei uang di APBD kabupaten, kota, provinsi masih Rp 246 triliun.
Besar sekali. Kalau uang ini keluar semua, ekonomi kita kan terdongkrak naik.
Juni turun jadi Rp 214 triliun tapi masih di atas Rp 200 triliun, hati-hati
bapak-ibu," kata Jokowi.

Jokowi mengatakan hal ini dalam pidatonya di Rakornas TPID (Tim Pengendali
Inflasi Daerah) yang digelar di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (4/8/2016).

Namun masalahnya, pemerataan pembangunan masih terasa timpang antara


wilayah barat Indonesia dengan wilayah tengah dan timur Indonesia. Lihat saja
dana yang masih mengendap di bank dari data dimiliar DKI Jakarta masih berada
pada urutan teratas. Kalau pemerintah tidak ingin rakyatnya kelaparan dan
miskin maka seharusnya pembangunan difokuskan diwilayah-wilayah yang sulit
transportasinya, bukan malah sibuk dengan proyek-proyek yang tidak penting
untuk rakyat kecil seperti proyek reklamasi teluk Jakarta dan kereta cepat. Jadi
yang harus menjadi fokus perhatian pemerintah adalah rakyat bukan pada apa
yang menjadi keinginan investor. Sehingga peribahasa "tikus mati di lumbung
padi" itu tidak terjadi bagi rakyat Indonesia.

Swasembada pangan

Indonesia pada tahun 1984 diera Presiden Suharto pernah mengalami swasembada beras, artinya pada saat itu
tidak ada penduduk Indonesia yang kelaparan. Seharusnya swasembada pangan sekarang ini juga bisa diwujudkan
asal pemerintah punya keberanian dan sedikit saja bekerja keras.

Bagaimana caranya??

Pertama,intensifikasi pertanian ditempuh dengan penggunaan sarana produksi pertanian yang lebih baik.
Pemerintah memberikan dukungan dan fasilitas seperti; modal, peralatan, benih, tekno!ogi, research, pemasaran,
informasi dll.

Kedua,ekstensifikasi pertanian dilakukan untuk meningkatkan luasan lahan pertanian yang diolah karena selama
ini cenderung lahan pertanian yang produktif tergerus oleh pembangunan perumahan ataupun pertokoan.

Ketiga,negara juga akan membangun infrastruktur pertanian, jalan, komunikasi, dsb, sehingga distribusi bahan
makanan baik jalur darat maupun laut lancar.

Keempat,mengontrol distribusi hasil panen dan ketersediaan bahan pangan. Dengan memberlakukan subsidi
silang antar daerah. Sehingga penumpukan barang dan lonjakan harga tidak terjadi.

Kelima,pemerintah menindak tegas oknum yang melakukan penimbunan barang ataupun hal-hal kotor lainnya,
yang berkaitan dengan ketersediaan bahan pangan.

Semua program memang butuh dana, asal bukan dana


pinjaman saja, maka permasalahan bisa diselesaikan dengan
tuntas. Namun masalahnya APBN saja defisit sehingga untuk
menutupi lagi-lagi rakyat yang digenjot dengan pajak.
Naudzubillah. Sehingga sudah saatnya Indonesia menjadi
tuan di negeri sendiri.