Anda di halaman 1dari 60

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI

DALAM SPINAL MUSCULAR


ATROPHY (SMA)
Oleh

Dinityas Sulistya R ( P27226013170)


Norma Novita Sari (P27226013187)

PROGRAM STUDI DIV FISIOTERAPI


JURUSAN FISIOTERAPI
POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA
2016

LATAR BELAKANG
Prevalensi Spinal Muscular Atrophy (SMA)
Insiden SMA adalah sekitar 1 dari 10.000
kelahiran hidup di dunia dengan frekuensi
pembawa gen (carrier) 1 dari 50 (AHM Lai, 2005)

RUMUSAN MASALAH
Apakah penatalaksanaan fisioterapi pada anak
dengan kasus Spinal Muscular Atrophy (SMA)
mengunakan modalitas terapi latihan dapat terjadi
peningkatan kekuatan otot?

TUJUAN
Untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi pada
anak dengan kasus Spinal Muscular Atrophy (SMA)
mengunakan modalitas terapi latihan dapat terjadi
peningkatan kekuatan otot.

MANFAAT
(1) Untuk penulis supaya menambah wawasan
pengetahuan penulis,
(2) Untuk teman sejawat supaya menjadi
bacaan atau acuan untuk pembuatan makalah
selanjutnya,
(3) Untuk pembaca supaya menjadi ilmu
pengetahuan,
(4) Untuk instansi terkait supaya menjadi
acuan untuk pembuatan makalah selanjutnya.

PENGERTIAN SPINAL MUSCULAR


ATROPHY (SMA)
Penyakit genetik otot-saraf (neumuscular genetic
disorder) yang ditandai dengan kelumpuhan otot.
Walaupun tampilan klinik yang nyata dari pasienpasien SMA adalah kelumpuhan otot, terutama pada
kedua kaki.
Sumber utama kelumpuhan bukan disebabkan oleh
rusaknya sel-sel otot itu sendiri. Kelumpuhan yang
terjadi murni disebabkan oleh rusaknya sel-sel saraf
pada sumsum tulang belakang (spinal cord). Ini
berbeda dengan distrofi otot dimana kerusakannya
memang terjadi di otot itu sendiri.

ETIOLOGI SPINAL MUSCULAR


ATROPHY (SMA)
SMA secara anatomis ditandai dengan hilangnya lower
(alpha) motor neuron sepanjang medula spinalis dan
nukleus saraf motorik tertentu di batang otak (yaitu
nukleus sarafkranialis V, VI, IX dan XII).
Penelitian menunjukkan pada penderita SMA terjadi
mutasi kromosom
yang mengkode pembentukan
pembentukan proteinsurvival motor neuron (SMN).
Mutasi pada gen tersebut menyebabkan SMN yang
terbentuk tidak dapatberfungsi membentuk spliceosoma
small nuclear ribonucleoproteins (snRPNs),padahal
snRPNs berperan pada fase awal pembentukan
mRNA.Tetapi mengapa kerusakan yang terjadi hanya
mengenai LMN dan bersifat progresifmasih belum jelas.

Jenis Spinal Muscular Atrophy (SMA)

Berdasarkan tingkat keparahannya, SMA dibagi


kedalam empat tipe:
SMA Tipe I, atau disebut juga Werdnig-Hoffmann
Disease, adalah tipe yang paling parah.
SMA Tipe II memiliki tingkat keparahan yang
kurang, jika dibandingkan dengan tipe I.
SMA tipe III atau yang juga disebut KugelbergWelander Disease, adalah tipe dengan tingkat
keparahan paling rendah.
SMA tipe IV onset dewasa

SMA TIPE I INFANTIL AKUT ATAU PENYAKIT WERDNIGHOFFMAN

Pasien datang pada usia 6 bulan, dengan 95%


dari pasien mengalami tanda dan gejala selama
3 bulan.Mereka memiliki kelemahan otot berat,
progresif dan tonus otot yang lemah (hypotonia).
Disfungsi
bulbar
mencakup
kemampuan
menyedot yang lemah, reduksi penelanan, dan
gagal
pernafasan.Pasien
tidak
memiliki
keterlibatan otot luar mata, dan kelemahan
wajah seringkali minimal atau tidak ada.Pada
pasientidak ditemukan bukti keterlibatan otak,
dan bayi tampak waspada.

CONT. .

Laporan gangguan pada gerakan janin diamati


dalam 30% kasus, dan 60% bayi dengan SMA
tipe I tampak terkulai saat lahir. Sianosis
berkepanjangan dapat terlihat pada saat
kelahiran.Dalam beberapa kasus, penyakit ini
dapat menyebabkan kelemahan fulminan pada
beberapa hari pertama kehidupan.Kelemahan
yang parah dan disfungsi bulbar dini
berhubungan dengan harapan hidup yang
pendek, dengan kelangsungan hidup rata-rata
5,9 bulan.Dalam 95% kasus, bayi meninggal
akibat komplikasi penyakit pada usia18 bulan.

SMA TIPE II BENTUK KRONIS INFANTIL

Merupakan bentuk paling umum dari atrofi otot


spinalis (SMA), dan beberapa ahli percaya bahwa
SMA tipe II mungkin tumpang tindih dengan
tipe I dan III.
Sebagian besar muncul pada anak berusia
antara 6 dan 18 bulan.
Manifestasi paling umum bahwa orang tua dan
dokter diperhatikan adalah keterlambatan
perkembangan motorik.Bayi yang menderita
SMA tipe II sering memiliki kesulitan untuk
duduk mandiri atau tidak mampu untuk berdiri
pada usia 1 tahun.

CONT..

Fitur yang tidak biasa dari penyakit ini adalah


adanya tremor postural yang mempengaruhi
jari.Hal ini diduga terkait dengan fasikulasi
pada otot rangka.
Pseudohypertrophy dari otot gastrocnemius,
deformitas muskuloskeletal, dan kegagalan
pernafasan dapat terjadi.
Jangka hidup pasien dengan SMA tipe II
bervariasi dari 2 tahun hingga dekade ketiga
kehidupan.infeksi pernapasan bertanggung
jawab untuk kebanyakan kematian.

SMA TIPE III REMAJA KRONIS ATAU


SINDROM-WELANDER KUGELBERG

Ini adalah bentuk ringan atrofi autosom resesif


otot spinalis yang muncul setelah umur 18
bulan.
SMA tipe III ini ditandai dengan kelemahan
proksimal progresif lambat.Kebanyakan anak
dengan SMA tipe III dapat berdiri dan berjalan
tapi mengalami masalah dengan keterampilan
motorik, seperti naik dan turun tangga.

CONT..

Pasien mungkin menunjukkan tampilan


pseudohypertrophy, seperti pada pasien dengan
SMA tipe II.
Penyakit ini berkembang lambat, dan jalur
penyakit secara keseluruhan ringan.Banyak
pasien memiliki harapan hidup normal.

SMA TIPE IV ONSET DEWASA

Onset biasanya pada usia pertengahan 30-an.


Dalam banyak hal, penyakit ini meniru gejala
tipe III.
Secara keseluruhan, perjalanan penyakit ini
jinak, dan pasien memiliki harapan hidup
normal.

INTERVENSI FT PADA SMA

Gerak
aktif

mencegah terjadinya kelumpuhan


pada otot-otot, memperlancar
peredaran darah, mecegah
terjadinya atrofi, dan untuk
mendorong dan membantu agar
pasien dapat menggunakan lagi
anggota gerak yang lumpuh.

Gerak
pasif

Efek pada latihan ini adalah


memperlancar sirkulasi darah, rileksasi
otot, memeliharadan meningktkan luas
gerak sendi,memperbaikipemendekan
otot, mengurangi perlengketan jaringan.
Tiap gerakan dilakukan sampai batas
nyeri pasien.

CONT..

Strengthenin
g

menambah kekuatan dan daya tahan


otot, memperbaiki ketidakseimbangan
otot, mengembangkan koordinasi
gerakan, memperbaiki kemampuan
fungsional dan , memperbaiki kondisi
umum pasien.

Breathing
exercise

meningkatkan ventilasi,
meningkatkan efektifitas mekanisme
batuk, mencegah atelektasis,
meningkatkan kekuatan, daya tahan
dan koordinasi otot-otot respirasi,
mempertahankan atau meningkatkan
mobilitas chest dan thoracal spine,
koreksi pola-pola nafas yang tidak
efisien dan abnormal, meningkatkan
relaksasi, dan mengajarkan pasien
bagaimana melakukan tindakan bila
terjadi gangguan nafas

PELAKSANAAN FISIOTERAPI
Identitas Pasien

Nama Anak : Alin Afifah


Umur
: 7 Tahun
JenisKelamin : Perempuan
Agama
: Islam
PekerjaanOrtu : Swasta
Alamat
: Trenggalek
No. CM
: 9862

CONT..

Diagnosis medis : Spinal Muscular Atrophy


Keluhan Utama : Ibu pasien mengeluh anaknya masih
belum bisa berdiri dan kelemahan pada kedua
kedua kakinya sehingga sulit untuk berdiri.
Riwayat Penyakit Sekarang :
-Pre Natal : Normal tidak ada keluhan dan gangguan.
-Natal : Anak lahir normal, ;ahir spontan, anak lahir
cukup bulan.
-Post Natal : Demam tinggi pada usia 4-8 bulan.

CONT..

Ibu pasien yang anaknya berusia 7 tahun mengeluh


masih belum bisa berdiri dan kelemahan pada kedua
kakinya sehingga sulit untuk berdiri.
Keluhan terjadi saat anak memasuki usia 1 tahun. Anak
belum bisa berjalan hingga saat ini.
Sebelumnya anak berkembang dengan normal. Pada
usia 3 bulan anak mampu tengkurap, usia 6 bulan
mampu berguling, 9 merangkak, dan pada umur 14
bulan anak masih belum bisa berjalan.
Riwayat saat pre natal dan natal tidak ditemukan
adanya gangguan pada anak maupun ibu. Tetapi pada
post natal anak mengalami demam tinggi pada usia 4-8
bulan.

CONT..

Vital Sign :
DN
: 90x/menit
RR
: 22x/menit
Temp : normal
TB
: 105 cm
BB
: 20 kg
Pemeriksaan Penunjang :
Hasil Lab
: profil jantung normal
Status GPA
: G1 P1 A0

CONT..
Pemeriksaan Fisik
Observasi
Statis:
Neck : cenderung fleksi
Shoulder : cenderung protraksi
Elbow &wrist
: tampak normal
Trunk
: lordosis ringan dan dada agak membusung
ke depan
Pelvic : torsi anterior
Hip, knee, dan ankle : kelemahan pada ankle, sehingga
pasien hanya berdiri dengan menumpu kedua lututnya.

CONT..
Dinamis :
Pasien belum bisa berjalan secara mandiri.
Pasien tidak mampu berdiri dari posisi duduk
sehingga membutuhkan bantuan orang lain

CONT..
Pemeriksaan Khusus :
Tes Sensorik:
- Fisioterapi memberikan rangsangan dengan mendubit
pasien, kemudian lihat reaksi dari mimik wajahnya.
- Hasil : normal

CONT..

Sensomotor :
Penglihatan : 2
Pendengaran : 2
Penciuman : 2
Pengecapan : 2
Otot Sendi : 1
Keseimbangan : 1

Keterangan :
0 : Tidak berfungsi sama sekali
1 : Kurang fungsinya
2 : Normal

CONT..

Tes Keseimbangan:
Pasien dalam posisi berdiri dengan menumpu lutut,
kemudian fisioterapi mendorong tubuh anak tersebut
ke kiri, ke kanan, kebelakang.
Hasil : anak bisa bertahan, walau kadang-kadang
hampir terjatuh.
Tes kognitif : Pasien diminta untuk bercerita/ ditanya
tentang dirinya.
Hasil : anak masih malu-malu.

CONT..
GMFM
Dimensi A : 92,1 %
Dimensi B : 83,3 %
Dimensi C : 86 %
Dimensi D : 0%
Dimensi E : 0%
TOTAL : 261,4 : 5 = 52,28 (DIMENSI C)

CONT..

N
O

Kekuatan otot dengan MMT

Nama Otot

Nilai Otot
Dekstra

Sinistra

Upper Trapezius

Lower Trapezius

Rhomboideus

Deltoideus

Pectoralis

CONT..
N

Nama Otot

Nilai Otot
Dekstra

Sinistra

Serratus Anterior

Latisimus Dorsi

Iliopsoas

10

Quadriceps

11

Gluteus Maximus

12

Gluteus Medius

CONT..

Kesimpulan : Ditemukan adanya kelemahan pada otot


ekstremitas atas dan bawah terutama pada otot
deltoid, rhomboid, pectoralis, serratus anterior,
latisimus dorsi, trapezius, triceps, ilipsoas, dan
gluteus dan abdominalis dengan nilai otot 3,
sedangkan tibialis anterior dengan nilai 1. Pada otot
quadriceps memiliki nilai 4. Pemeriksaan progresifitas
belum bisa dilakukan karena pemeriksaan baru
dilakukan satu kali dan onset belum terjadi lebih dari
setahun.

CONT..
Pemeriksaan antropometri lingkar segmen dan
ekspansi thoraks dengan midline
-Pengukuran Ekspansi Thoraks

No

Patokan

Hasil

Manubrium sterni

0,5 cm

Papilla mamae

1 cm

Proc. Xhypoideus

1 cm

CONT..

Pengukuran Lingkar Segmen (Tungkai)


Patokan

Kanan (cm)

Kiri (cm)

15 cm diatas condylus lateral

28

27

10 cm diatas condylus lateral

26

25,5

5 cm diatas condylus lateral

23

23

tepat pada condylus lateral

23

21

21

20

21

20

20

20

5 cm dibawah condylus lateral


10 cm dibawah condylus lateral
15 cm dibawah condylus lateral

CONT..

Pengukuran Lingkar Segmen (Lengan)


Patokan

Kanan (cm)

Kiri (cm)

15 cm diatas epicondylus lateral

17,5

17,5

10 cm diatas epicondylus lateral

16

16

5 cm diatas epicondylus lateral

17

16,5

tepat pada epicondylus lateral

15

16

16

15

13

12,5

13

12

5 cm dibawah epicondylus lateral


10 cm dibawah epicondylus lateral
15 cm dibawah epicondylus lateral

CONT..

Kesimpulan : Pada pemeriksaan ekspansi thoraks


anak saat inspirasi dan inspirasi ditemukan hasil 0,51 cm saat diukur dengan midline. Hal ini
menunjukkan kurangnya mobilitas dan fleksibilitas
pada thoraks saat digunakan untuk bernafas.
Pada pemeriksaan lingkar segmen, ditemukan bahwa
lengan dan tungkai kiri lebih besar dibandingkan
dengan lengan dan tungkai kanan. Namun selisihnya
tidak terlalu jauh, hanya berkisar 0,5-1 cm saja.

CONT..

Test gerak fungsi dasar


Pasien diminta untuk melakukan beberapa gerak aktif
misal menekuk kaki dan tangannya.
Hasil : Pada grup AGA pasien melakukan dengan full
ROM, pada grup AGB tidak bisa full ROM.

Fisioterapi melakukan beberapa gerakan pasif seperti


fleksi ekstensi kaki dan tangan.
Hasil: Normal (AGA : Full ROM, dan AGB : Full
ROM).

CONT.. (PEMERIKSAAN FUNGSIONAL DENGAN INDEKS BARTHEL)


No
1
2
3

Aktivitas
Makan
Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur dan
sebalinya/ termasuk duduk di tempat tidur
Kebersihan diri (mencuci muka, menyisir,
mencukur dan menggosok gigi)

Bantuan

Mandiri

Nilai

10

10

5-10

15

Aktivitas di toilet (menyemprot, mengelap)

10

10

Mandi

10

15

10

Berjalan di jalan yang datar ( jika tidak


6

mampu jalan melakukannya dengan kursi


roda)

Naik turun tangga

10

Berpakaian (termasuk memakai sepatu)

10

Mengontrol BAB

10

10

10

Mengontrol BAK

10

10
70

CONT..
Kesimpulan : Pada pemeriksaan fungsional dengan
indeks
barthel,
ditemukan
bahwa
tingkat
ketergantungan anak adalah moderat yaitu dengan
skor nilai 70. Anak masih membutuhkan bantuan
dalam melakukan aktivitas sehari-hari yaitu pada
saat mandi, naik turun tangga, dan berpakaian.

Pre Natal :

Natal:

Post Natal :

-Kondisi ibu saat hamil tidak


mengeluhkan apa-apa

-anak lahir normal, Lahir


spontan, anak lahir cukup bulan

-demam tinggi pada


usia 4-8 bulan.

-Tidak terdapat infeksi virus

Rusaknya sel-sel saraf pada spinal


cord
SMA

Impairmen
t

Participation
Restriction

Functional
Limitation

Sensoris

Dasa
r

Motoris
-Kelemahan
otot

Vestibular
propioceptif

-LGS menurun

berdiri
dari
jongkok

Aktivita
s

Kognitif
-Naik turun
tangga,,toileti
ng

- Pemalu,
sedikit bicara

-Potensi kontraktur
-Gangguan respirasi
-Breathing
exercise
-Strengthening
-Gerak aktif
-Gerak pasif

-Strengthening

-Strengthening

-Gerak aktif

-Gerak aktif
-Play
Therapy
-Komunikasi

DIAGNOSIS FISIOTERAPI

IMPAIRMENT:

Kondisi umum : adanya gangguan respirasi karena


anak mudah lelah dan nafas pendek
Adanya gangguan sensoris pada vesitibular
Postur trunk mulai lordosis
Tonus postural hipotonus karena sulit melawan
gravitasi saat hendak berdiri dari posisi duduk
Adanya kelemahan otot trapezius, deltoid, gluteus,
quadriceps, dan gastroc.
Adanya potensial kontraktur pada otot trapezius,
deltoid, gluteus, quadriceps, dan gastroc.

CONT..

Functional Limitation

Pasien sudah bisa :


Berdiri dengan menumpu lutut
Pasien belum bisa :
Berdiri

Disability
Pasien bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitar
meskipun dengan sedikit bantuan.

PROGRAM FISIOTERAPI
Tujuan Jangka Panjang
- Anak mampu berdiri dari posisi duduk meskipun dengan sedikit
bantuan
- Anak mampu mengangkat lengan ke atas sehingga dapat
melakukan aktivitas fungsional tangan dengan baik
- Menjaga postur agar tidak timbul problem sekunder seperti
skoliosis, lordosis, maupun kifosis
Tujuan Jangka Pendek
- Meningkatkan kondisi umum pasien terutama pada problem
respirasi
- Meningkatkan kekuatan otot dan mencegah kontraktur pada
otot AGA dan AGB
- Meningkatkan tonus otot postural agar bisa melawan gravitasi
- Memperbaiki gangguan sensoris vestibular

TEKNOLOGI INTERVENSI
FISIOTERAPI

Breathing excercise
Strengthtening
Latihan gerak pasif dan aktif

RENCANA EVALUASI
Evaluasi kekuatan otot dengan MMT
Evaluasi antropometri lingkar segmen dan
ekspansi thoraks dengan midline
Evaluasi gerak aktif dan pasif
Evaluasi sensoris
Evaluasi postur dengan GMFM
Evaluasi fungsional dengan indeks barthel

PROGNOSIS

Quo ad vitam
: baik
Quo ad sanam
: baik
Quo ad functionam : baik
Quo ad cosmeticam: baik

EVALUASI KEKUATAN OTOT DENGAN MMT

Nilai Otot

No

Nama Otot

Dekstra

Sinistra

T awal

T akhir

T awal

T akhir

Upper Trapezius

Lower Trapezius

Rhomboideus

Deltoideus

Pectoralis

Triceps Brachii

Serratus Anterior

CONT...
8

Latisimus Dorsi

Iliopsoas

10

Quadriceps

11

Gluteus Maximus

12

Gluteus Medius

13

Tibialis Anterior

14

Abdominalis

CONT..

Kesimpulan
:
belum
tercapai
adanya
peningkatan kekuatan pada otot ekstremitas
atas dan bawah secara signifikan.Pada otot
deltoid, rhomboid, pectoralis, serratus anterior,
latisimus dorsi, trapezius, triceps, ilipsoas, dan
gluteus dan abdominalis dengan nilai otot 3,
sedangkan tibialis anterior dengan nilai 1. Pada
otot quadriceps memiliki nilai 4. Walaupun
begitu, latihan penguatan akan tetap menjaga
fungsi fisiologis otot sehingga keadaan anak
tidak menjadi lebih buruk.

EVALUASI PENGUKURAN EKSPANSI THORAKS

No

Patokan

Hasil

Manubrium sterni

Papilla mamae

1 cm

Proc. Xhypoideus

1 cm

0,5 cm

EVALUASI PENGUKURAN LINGKAR


SEGMEN (TUNGKAI)
Patokan

Kanan (cm)

Kiri (cm)

15 cm diatas condylus lateral

28

27

10 cm diatas condylus lateral

26

25,5

5 cm diatas condylus lateral

23

23

tepat pada condylus lateral

23

21

21

20

21

20

20

20

5 cm dibawah condylus lateral


10 cm dibawah condylus lateral
15 cm dibawah condylus lateral

EVALUASI PENGUKURAN LINGKAR SEGMEN (LENGAN)


Patokan

Kanan (cm)

15 cm diatas epicondylus lateral

17,5

Kiri (cm)

10 cm diatas epicondylus lateral

16

16

5 cm diatas epicondylus lateral

17

16,5

tepat pada epicondylus lateral

15

16

16

15

13

12,5

13

12

cm

dibawah

epicondylus

lateral
10

cm

dibawah

epicondylus

lateral
15

cm

lateral

dibawah

17,5

epicondylus

CONT...

Kesimpulan : setelah dilakukan breathing


excercise dan strenghtening otot, belum
ditemukan
adanya
peningkatan
ekspansi
thoraks. Pada evaluasi ekspansi thoraks anak
saat inspirasi dan inspirasi ditemukan hasil 0,51 cm saat diukur dengan midline. Hal ini
menunjukkan masih kurangnya mobilitas dan
fleksibilitas pada thoraks saat digunakan untuk
bernafas. Kemudian pada pemeriksaan lingkar
segmen, ditemukan bahwa lengan dan tungkai
kiri lebih besar dibandingkan dengan lengan dan
tungkai kanan. Namun selisihnya tidak terlalu
jauh, hanya berkisar 0,5-1 cm.

CONT...

Test gerak fungsi dasar


Pasien diminta untuk melakukan beberapa
gerak aktif misal menekuk kaki dan tangannya.
Hasil : Pada grup AGA pasien melakukan
dengan full ROM, pada grup AGB tidak bisa full
ROM.
Fisioterapi melakukan beberapa gerakan pasif
seperti fleksi ekstensi kaki dan tangan.
Hasil: Normal (AGA : Full ROM, dan AGB : Full
ROM).

CONT..

Kesimpulan : belum ada peningkatan LGS aktif


yang signifikan, namun anak sudah mau
berusaha untuk meningkatkan gerakannya.

EVALUASI SENSORIS
Sensoris

T Awal

T Akhir

Visual

Auditori

Touch (hand & foot)

Smell

Taste

Tactile

Proprioceptive

Vestibullar

CONT...

Kesimpulan : setelah diberikan perlakuan, belum


ditemukan adanya perbaikan yang signifikan
pada pemeriksaan sensorik, yaitu masih
ditemukan adanya gangguan pada sensoris
vestibular dan propioseptif dengn nilai 1. Hal ini
ditunjukkan dengan ketergantungan anak untuk
bangkit berdiri. Anak masih membutuhkan
bantuan penuh dari orang lain untuk bangkit
berdiri dari posisi duduk. Namun anak sudah
jarang jatuh tanpa sebab setelah terapi.

EVALUASI POSTUR DENGAN GMFM


Dimensi A : 92,1 %
Dimensi B : 83,3 %
Dimensi C : 90,4 %
Dimensi D : 15,38%
Dimensi E : 0%

TOTAL : 281,18 : 5 = 56,23 %


Kesimpulan : terdapat sedikit peningkatan
(3,95%) kemampuan gross motor yang dicapai
anak tetapi GMFM tetap pada dimensi C.

EVALUASI FUNGSIONAL DENGAN INDEKS


BARTHEL
No
1
2
3

Aktivitas
Makan
Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur dan
sebalinya/ termasuk duduk di tempat tidur
Kebersihan diri (mencuci muka, menyisir, mencukur
dan menggosok gigi)

T Awal

T Akhir

10

10

10

Aktivitas di toilet (menyemprot, mengelap)

10

10

Mandi

10

15

Berjalan di jalan yang datar ( jika tidak mampu jalan


melakukannya dengan kursi roda)

Naik turun tangga

Berpakaian (termasuk memakai sepatu)

Mengontrol BAB

10

10

10

Mengontrol BAK

10

10

CONT..
Skor ketergantungan : 70 (ketergantungan
moderat)
Kesimpulan : pada pemeriksaan fungsional
dengan indeks barthel, belum ditemukan adanya
peningkatan kemandirian dari anak. Tingkat
ketergantungan anak masih pada level moderat
yaitu dengan skor nilai 70. Anak masih
membutuhkan bantuan dalam melakukan
aktivitas sehari-hari yaitu pada saat mandi, naik
turun tangga, dan berpakaian.

KESIMPULAN

Setelah dilakukan fisioterapi pada pasien An.


Alin Afifa dengan diagnosa Spinal Muscular
Atrophy dengan strengthening dan terapi latihan
didapati adanya sedikit peningkatan pada
GMFM.