Anda di halaman 1dari 43

PPI PADA PENGELOLAAN

LINEN DAN LAUNDRY

Disampaikan pada acara :


Pelatihan Dasar Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi
RSI SULTAN AGUNG
Semarang, 26 28 Agustus 2016

Oleh:
Linawati Neny Y

CABANG SEMARANG

LATAR BELAKANG

Linen rumah sakit adalah semua produk tenun yang digunakan dalam
kegiatan rumah sakit (seragam kamar bedah, rawat inap, rawat jalan,
selimut, sprei, sarung bantal, gorden, penyekat ruang, dan lain-lain)

Linen dan Laundry dapat menghasilkan microorganisme phatogen dalam


jumlah besar dan dapat meningkat 50 kali lipat selama periode sebelum
cucian mulai diproses. (Depkes RI tahun 2000 tentang bakteri pada Instalasi Laundry).

Mengakibatkan bahaya potensial terjadi transmisi microorganisme melalui


kontak langsung.

Risiko perpindahan penyakit akan dapat diminimalisasi jika ditangani


dengan tepat oleh petugas yang terlatih dan handal serta peduli terhadap
lingkungan

DASAR HUKUM

Kemenkes RI nomor : 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan


Lingkungan Rumah Sakit :
Laundry rumah sakit adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan sarana
penunjangnya berupa mesin cuci, alat dan desinfektant, mesin uap (steam boiler),
pengering, meja dan mesin setrika.

Standar Akreditasi Rumah Sakit tahun 2011


Standar PPI 7.1
Rumah sakit menurunkan risiko infeksi dengan menjamin pembersihan peralatan dan
sterilisasi yang memadai serta manajemen laundry dan linen yang benar.

TUJUAN
Pada

akhir sesi diharapkan para peserta


dapat memahami pengelolaan linen dan
laundry dalam upaya pencegahan dan
pengendalian infeksi di rumah sakit

PENGERTIAN LAUNDRY

Ruang laundry adalah fasilitas untuk pengelolaan linen yang terdiri dari
penerimaan, pemilahan, penimbangan, pencucian, pengeringan, perapihan,
pelicinan, perbaikan, pengemasan, penyimpanan, dan pendistribusian linen.

Linen merupakan bahan/alat yang terbuat dari kain, tenun.

Linen kotor merupakan sumber kontaminasi penting di rumah sakit dan


fasilitas pelayanan kesehatan lain. Penanganan rutin waktu membersihkan
tempat tidur, pengangkutan linen sepanjang koridor dan ruang-ruang di
rumah sakit dapat menebarkan mikroba ke seluruh bagian rumah sakit.

ALUR SIRKULASI LINEN


(Depkes, 2004)
Standart Pre Caution

Gunakan APD

R. Rawat Inap
R. Rawat Jalan
IGD
Perkantoran(ADM)
Linen dari RS Lain

Linen
Infeksius

DIPISAH,
DITIMBANG
DICUCI (PROSES
PENCUCIAN)

Linen Kotor
bekas pakai

DIKERINGKAN
DISETERIKA
DIPISAHKAN

Gunakan APD

Linen
Non Infeksius

Linen non
steril
Linen
steril

DIKIRIM KE
LAUNDRY

Gudang
penyimpnan

CSSD
9

A. PENANGANAN LINEN DI RUANGAN

1. Tidak meletakkan linen di lantai

PENANGANAN LINEN DI RUANGAN


2. Tidak menyeret linen kotor di lantai
3. Tidak meletakkan linen kotor diatas kursi dan meja pasien
4. Pisahkan ruangan untuk tempat linen bersih dengan linen kotor
5. Pisahkan linen kotor infeksius dan non infeksius
6.Tidak mengibaskan linen kontaminasi untuk menghindari kontak
udara, permukaan dan personal
6. Semua linen infeksius dimasukkan kedalam kantong plastik kuning,
diikat dan beri label infeksius (bila diperlukan)
7. Tidak menghitung linen kotor di area perawatan
8. Tidak melakukan dekontaminasi di ruangan

PENANGANAN LINEN DI RUANGAN


9.Hilangkan bahan padat (misalnya, feses) dari linen yang sangat
kotor (menggunakan APD yang sesuai) dan buang limbah padat
tersebut ke dalam toilet sebelum linen dimasukkan ke kantong
cucian.

PENANGANAN LINEN DI RUANGAN


10. Menggunakan alat pelindung diri sesuai indikasi

SUDAHKAH ANDA MEMAKAI


APD LENGKAP ?
PETUGAS WAJIB

Apa
APDnya?

PENANGANAN LINEN DI RUANGAN

10. BIASAKANLAH
SEBELUM DAN SESUDAH
SEMUA KEGIATAN
SELALU MENCUCI
TANGAN

Waspada!
Kewaspadaan

terhadap adanya benda tajam


Kewaspadaan terhadap berbagai macam
penyakit menular, misal Hepatitis B.
Sehingga

sebaiknya petugas dilakukan


pemeriksaan kesehatan berkala, serta
dianjurkan mendapatkan Vaksinasi

B. TRANSPORTASI LINEN
1. Pisahkan antara troli linen kotor dengan linen bersih, bila perlu diberi warna yang
berbeda
2. Pisahkan wadah linen infeksius dan non infeksius
3. Pastikan kantong tidak bocor dan tidak lepas ikatan selama transportasi. Kantong
tidak perlu double
4. Petugas linen harus menggunakan APD yang memadai saat mengangkut linen
kotor
5. Waktu pengangkutan linen bersih dan kotor tidak boleh dilakukan bersamaan
6. Sebaiknya lift pengangkut linen kotor berbeda dengan lift pasien

TRANSPORTASI LINEN

7. Bersihkan troli linen setiap kali


selesai digunakan/catat waktu
pembersihan
8. Bila troli pakai pengalas /
sarung, segera dicuci setelah
linen kotor diturunkan

B. TRANSPORTASI LINEN
9. Rumah sakit yang tidak
mempunyai laundry tersendiri,
pengangkutannya dari dan ke
tempat laundry harus
menggunakan mobil khusus.
MOBIL KHUSUS
LAUNDRY

DISTRIBUSI LINEN

KERETA LINEN BERSIH

KERETA LINEN KOTOR

DISTRIBUSI LINEN

KERETA LINEN BERSIH

C. PENANGANAN LINEN DI LAUNDRY


1. Bedakan pintu masuk linen kotor ke Laundry dan pintu
keluar linen bersih dari Laundry ke Ruangan

Linen kotor

Linen bersih
23

PENANGANAN LINEN DI LAUNDRY

2. Petugas diwajibkan
menggunakan Alat
Pelindung Diri (APD)

PENGGUNAAN APD

PERDALIN/2010

25

PENANGANAN LINEN DI LAUNDRY


3. Bagian penerimaaan di laundry melakukan pencatatan
jumlah linen, kedua belah pihak pengiriman dan penerima
harus memaraf pada buku ekspidisi
4. Linen kotor di laundry harus dibedakan antara linen
infeksius dan non infeksius

PENANGANAN LINEN DI LAUNDRY


5. Lakukan penimbangan untuk menghitung kebutuhan bahan-bahan
kimia (detergent, softener, clorin dan kapasitas mesin).

PENANGANAN LINEN DI LAUNDRY

6. Proses pencucian
Pencucian disesuaikan degan
SPO (waktu, suhu dan bahan
kimia).

PENANGANAN LINEN DI LAUNDRY

7. Pengeringan, penyeterikaan dan


pelipatan
Pengeringan suhu 700 C dan
penyeterikaan suhu 700 1200 C.

Ruangan laundry harus bersih, tidak licin

PENANGANAN LINEN DI LAUNDRY


8. PENYIMPANAN LINEN
a. Linen disimpan di dalam lemari
tertutup sesuai dengan jenis
linen, suhu 22 270 C dan
kelembaban 45 75 %.

PENANGANAN LINEN DI LAUNDRY

b. Linen harus dipisahkan sesuai jenisnya


c. Linen baru yang diterima ditempatkan di lemari bagian
bawah
(sistem FIFO)

PENANGANAN LINEN
DI LAUNDRY
9. DISTRIBUSI LINEN

Linen bersih dibawa dengan


menggunakan troli (tertutup),
untuk mencegah kontaminasi
permukaan lingkungan atau
orang-orang di sekitarnya.

PENGELOLAAN LINEN DI
LAUNDRY AREA KOTOR

PENERIMAAN

PENCUCIAN

PENIMBANGAN

PENCUCIAN

PEMILAHAN

PECUCIAN TROLI
KOTOR

PENGELOLAAN LINEN DI
LAUNDRY AREA BERSIH

PENGERINGAN

DISTRIBUSI

PENYETRIKAAN

PENYIMPANAN

PELIPATAN

PELIPATAN

KESALAHAN UMUM PADA


PENGELOLAAN LINEN
Penggunaan

APD tidak sesuai indikasi


Melakukan penghitungan linen kotor diarea
perawatan
Tidak memisahkan linen infeksius dengan non
infeksius
Meletakkan linen kotor dilantai
Melakukan dekontaminasi diruangan

1.

Suhu air panas untuk pencucian 70C dalam


waktu 25 menit atau 95C dalam waktu 10
menit

2.

Penggunaan jenis deterjen dan disinfektan


untuk proses pencucian yang ramah
lingkungan agar limbah cair yang dihasilkan
mudah terurai oleh lingkungan

3.

Standar kuman bagi linen bersih setelah


keluar dari proses tidak mengandung 6 x 10
spora spesies Bacillus per inci persegi.
(Sumber : Kemenkes 1204/MENKES/SK/X/2004)

1.

Di tempat laundry tersedia keran air bersih dengan


kualitas dan tekanan aliran yang memadai, air panas
untuk disinfeksi dan tersedia disinfektan

2.

Peralatan cuci dipasang permanen dan diletakkan dekat


dengan saluran pembuangan air limbah serta tersedia
mesin cuci yang dapat mencuci jenis-jenis linen yang
berbeda

3.

Tersedia ruangan dan mesin cuci yang terpisah untuk


linen infeksius dan non infeksius

4.

Laundry harus dilengkapi saluran air limbah tertutup yang


dilengkapi dengan pengolahan awal (pre-treatment)
sebelum dialirkan ke instalasi pengolahan air limbah

5.

Laundry harus disediakan ruang-ruang terpisah sesuai


kegunaannya yaitu ruang linen kotor, ruang linen bersih,
ruang untuk perlengkapan kebersihan, ruang perlengkapan
cuci, ruang kereta linen, kamar mandi dan ruang peniris atau
pengering untuk alat-alat termasuk linen

6.

Untuk rumah sakit yang tidak mempunyai laundry tersendiri,


pencuciannya dapat bekerjasama dengan pihak lain dan
pihak lain tersebut harus mengikuti persyaratan dan tata
laksana yang telah ditetapkan
(Sumber : Kemenkes 1204/MENKES/SK/X/2004)

KESIMPULAN

Anda mungkin juga menyukai