Anda di halaman 1dari 13

ANALISIS MUTU PATOLOGI

BENIH PADA TANAMAN PANGAN

DEVI SETIAWATI
2011311015

Latar Belakang

Penggunaan benih bermutu tinggi merupakan prasyarat


penting untuk menghasilkan produksi tanaman yang
menguntungkan secara ekonomis.
Kriteria mutu benih

Mutu
Genetis

Mutu
Fisik

Mutu
Fisiologi
s

Mutu
Patologi
s

Tujuan : Mengetahui metode dan cara menganalisis


mutu patologi benih tanaman.

Menurut Harahap (2010), berbagai macam cara


pengujian kesehatan benih untuk mendeteksi
mikroorganisme atau patogen terbawa benih
dapat dikelompokkan menjadi :

Pengamatan secara visual terhadap benih


kering
Metode pencucian benih
Metode inkubasi
Uji gejala pada bibit/kecambah
Uji serologi
Uji tanaman indikator
Uji dengan teknologi biomolekuler

Metode pemeriksaan benih


kering

Metode ini hanya mendeteksi cendawan


yang ada di permukaan benih atau
tercampur bersama benih serta kondisi
fisik benih saja.
Metode ini dapat digunakan untuk
mendeteksi patogen yang menyebabkan
gejala khas pada benih misalnya
disklorisasi atau perubahan warna pada
kulit benih, perubahan ukuran, dan
bentuk benih.

Metode Pencucian Benih

Metode

pencucian

benih

terutama

dilakukan untuk mendeteksi cendawancendawan yang membentuk struktur di


permukaan

benih.

Hasil

pengujian

tersebut tidak dapat menggambarkan


tingkat infeksi dan infestasi patogen
pada benih.

Metode Inkubasi

Metode
Inkubasi
dengan
Media Kertas (Blotter-Test)

Benih ditumbuhkan pada kertas


saring basah, diinkubasikan
selama
7
hari
dengan
penyinaran lampu ultra violet
selama 12 jam terang dan
selama 12 jam kondisi gelap
secara bergantian. Benih yang
diinkubasi tersebut diamati di
bawah
mikroskop
dengan
perbesaran 50 60 kali untuk
melihat
pertumbuhan
cendawan.

Metode Inkubasi pada Media


Agar

Secara umum prinsipnya sama


dengan prinsip dari pengujian
dengan
media
kertas.
Ketersediaan
nutrisi
pada
media agar memungkinkan
cendawan
atau
bakteri
tumbuh
dan
berkembang
secara lebih baik dan lebih
cepat sehingga memudahkan
dalam
pengamatan
(membentuk koloni).

Uji Gejala pada


Bibit/Kecambah
Kelebihan pengujian kesehatan benih dengan gejala bibit/kecambah :

Pengujian dengan cara ini dapat mengamati penularan (transmisi)


patogen dari benih ke tanaman dari satu fase ke fase pertumbuhan
tanaman.

Beberapa patogen tidak mudah dideteksi dengan metode lain


karena serangan patogen tersebut yang bersifat laten. Sehingga
diperlukan fase tertentu pertumbuhan tanaman agar gejala dan
perkembangan patogen dapat dideteksi.

Metode ini sangat bermanfaat untuk pengujian contoh benih yang


jumlahnya terbatas seperti benih hasil pemuliaan pada tahap
tertentu dan juga bermanfaat untuk tujuan karantina.

Pengujian gejala bibit / kecambah dapat digunakan untuk evaluasi


efektivitas perlakuan benih, baik dengan kimia maupun secara fisik.

Uji Serologi

Pengujian serologi terutama digunakan


untuk mendeteksi bakteri dan virus
terbawa benih.
Uji
ELISA
(Enzyme-Linked
Immunosorbent Assays) sebagai salah
satu metode serologi untuk mendeteksi
virus sering digunakan karena metode
tersebut sederhana, mudah dilakukan,
cepat, sensitif, akurat, dan dapat
digunakan untuk menguji sampel dalam
jumlah besar.

Uji Tanaman Indikator

Pengujian dengan tanaman indikator


digunakan terutama untuk mendeteksi
virus dan bakteri terbawa benih. Prinsip
pengujiannya
adalah
reaksi
dari
tanaman indikator terhadap ekstrak/sap
dari biji yang diinokulasikan pada
tanaman indikator tersebut. Reaksi yang
terjadi adalah berupa gejala lokal pada
daun tanaman indikator.

Uji dengan Teknologi


Biomolekuler

Teknik biomelekuler yang diaplikasikan


dalam pengujian kesehatan benih adalah
Polymerase chain reaction (PCR). Teknik
PCR mempunyai tingkat ketelitian yang
sangat tinggi dan dapat dilakukan dalam
waktu yang relatif singkat. Tetapi
penggunaan teknik PCR untuk pengujian
rutin kesehatan benih masih terlalu
mahal dalam hal bahan, peralatan dan
tenaga pelaksana.

Beberapa hasil uji mutu patologi


benih yang dilakukan pada tanaman
pangan yaitu :

Penelitian

Mulyani

et

al.

(2009)

Penelitian

Rangkuti

(2014)

menggunakan metode perendaman

menggunakan metode growing on test

benih dan metode inkubasi media

dengan hasil pengamatan blotter test

agar untuk mengetahui kesehatan

atau inkubasi benih pada suhu ruang

benih

diperoleh data bahwa benih mentimun,

padi

Kemudian
benih
Siam,

padi

lokal

diperoleh
lokal

Amuntai

Kalimantan.
hasil

Dahan
Putih,

bahwa
Bajang,
Amuntai

Himbang dan Pekat dikategorikan


tidak sehat dan terinfeksi berat oleh
jamur patogen benih.

benih kedelai, benih jagung dan benih


kacang
terdapat

hijau

berkecambah

gejala

infeksi

namun

cendawan

Aspergillus flavus (kedelai dan jagung)


dan

Aspergillus

niger,

A.

flavus,

Penicillium spp. (kacang tanah) serta


Rhizopus spp (kacang hijau).

KESIMPULAN
Cara pengujian kesehatan benih untuk mendeteksi
mikroorganisme atau patogen terbawa benih dapat
dikelompokkan menjadi :

Pengamatan secara visual terhadap benih kering

Metode pencucian benih

Metode inkubasi

Uji gejala pada bibit/kecambah

Uji serologi

Uji tanaman indikator

Uji dengan teknologi biomolekuler

TERIMA KASIH