Anda di halaman 1dari 23

Penatalaksanaan

Meningitis TB
Annisa Utami
141211018

Terapi suportif
Penanganan peningkatan TIK
Pengobatan Tb dengan OAT

Terapi Suportif
Pantau ABC (Airway, breathing, circulation)
Lakukan px tanda vital, kesadaran, refleks pupil, gerak bola mata,
saraf kranial, kekuatan motorik dan neurologis
Tirah baring, pemberian O2, antipiretik, antikonvulsan, nutrisi, cairan
Intravena
Pemberian cairan IV tidak dibatasi kecuali terdapat SIADH dan tidak
ada dehidrasi

Terapi Suportif
Acetaminophen 15 mg/kgBB IV
Hambat COX 3 di sentral otak

Benzodiazepin : Lorazepam 0.1 mg/kgBB IV


Meningkatkan kerja GABA sebagai neurotransmitter inhibitor yang
mengakibatkan peningkatan penghambatan presinaptik pada sistem
limbik, serta pada thalamus dan hipotalamus, untuk induksi efek
menenangkan

Penanganan peningkatan TIK


Pemberian cairan dimonitor dengan central venous access di ICU
agar tercapai perfusi yang baik dan tidak memperburuk TIK
Elevasi kepala 30 untuk menurunkan TIK
Manitol 20% dosis 50-100 gr dengan kecepatan infus 30-50mL/jam
Manitol paling sering digunakan karena tidak mengalami
metabolisme dan hanya sedikit direabsorbsi di tubulus
Manitol diberikan untuk menurunkan tekanan atau vol CSF dengan
meningkatkan tekanan osmotik plasma sehingga cairan akan
berdifusi ke plasma atau ruang ekstrasel

Pengobatan Meningtitis Tb dengan OAT


Meningits TB diterapi selama 12 bulan, mengikuti konsep
pengob tb scr umum, yaitu :
1. FASE INTENSIF : 2 bulan berikan 4/5 OAT Rifampicin (R),
Isoniazid (H), Pirazinamid (Z). Etambutol (E)
S diberikan jika terdapat resistensi OAT.

2. FASE LANJUTAN : 10 bulan berikutnya menggunakan 2


OAT : RH
TB Ekstra paru berat:
Meningitis, milier, perikarditis, peritonitis, TB tulang
belakang, TB usus, TB saluran kemih dan genital

TB di luar paru
Paduan obat 2 RHZE/ 7-10 RH
Prinsip pengobatan sama dengan TB paru menurut ATS, misalnya
pengobatan untuk TB tulang, TB sendi, TB kelenjar, meningitis
dengan lama pengobatan 12 bulan. Pada TB diluar paru lebih
sering dilakukan tindakan bedah. Tindakan bedah dilakukan untuk :
Mendapatkan bahan/spesimen untuk pemeriksaan (diagnosis)
Pengobatan : * perikarditis konstriktiva

* kompresi medula spinalis pada penyakit Pott's


Pemberian kortikosteroid ada meningits TB untuk menurunkan gejala
sisa neurologik

Antimikroba
Lini pertama (OAT)

Isoniazid (INH/H)
Rifampicin (R)
Pirazinamid (Z)
Streptomisin (S)
Etambutol (E)

Dapat dengan mudah


masuk ke CSF

Lini kedua

Ethionamide
Cycloserine
Ofloxacin
Para -aminosalicylic acid
(PAS)
Aminoglycosides
Capreomycin

Obat Anti Tuberkulosis (OAT)


Isoniazid 5 mg/kgBB/hari, max 300mg/hari. Pemberian 1x/hari
Hambat biosintesis dinding sel dengan mengganggu lipid dan sintesis
DNA (bakterisida)
Sediaan tablet 100 mg dan 300 mg, dan dalam bentuk sirup 100 mg/5 ml
Untuk mencegah timbulnya neuritis perifer, dapat diberikan piridoksin
dengan dosis 25-50 mg satu kali sehari, atau 10 mg piridoksin per 100
mg isoniazid

Pirazinamid 25 mg/kgBB /hari, max 2 gr/hari


Bakterisid hanya pada intrasel dan suasana asam
Pirazinamid diberikan pada fase intensif karena sangat
baik diberikan pada saat suasana asam yang timbul
akibat jumlah kuman yang masih sangat banyak
Sediaan tablet 500mg

Obat Anti Tuberkulosis (OAT)


Rifampisin 10 mg/kgBB/hari, maksimal 600 mg. pemberian 1x/hari
Hambat DNA-dependent RNA polimerase dengan mengikat beta subunit
blok transkripsi RNA
Dapat memasuki semua jaringan dan dapat membunuh kuman semi
dorman yang tidak dapat dibunuh oleh isoniazid
Distribusi rifampisin ke dalam cairan serebrospinal lebih baik pada
keadaan selaput otak yang sedang mengalami peradangan daripada
keadaan normal

Etambutol 15 mg/kgBB/ hari


Bakteriostatik
Sediaan tablet 250 mg dan 500 mg

Streptomisin 15 mg/kgBB /hari IM, maksimal 1 gram /


hari,
Hambat sintesis protein bakteri

Efek Samping Obat

Antimikroba lini kedua

Ethionamide 15-20 mg/kgBB/hari PO

Bakteriostatik bakterisid

Cycloserine

Dosis awal 250 mg PO 2X/hari


Dosis lanjut 500 mg-1 g/hari dibagi 2 dosis selama 18-24 bulan
Hambat sintesis dinding sel

Para -aminosalicylic acid (PAS) 4g 3x/hari

Hambat sintesis asam folat

Meskipun terapi OAT sudah dimulai namun tetap dilakukan


kultur dan uji sensitivitas agar terapi dapat diatur sesuai
kerentanan bakteri
Selama pemberian OAT, pemantauan harus dilakukan
setiap bulan untuk menilai kepatuhan minum obat,
progresivitas penyakit dan gejala, serta ESO
Fungsi hati diperiksa saat terapi OAT dimulai, lalu periksa
lagi pada minggu ke 2,4,6,8 dan setiap bulan

Kortikosteroid

Pada terapi antibiotik dapat terjadi peningkatan jumlah PMN dan reaksi
hipersensitivias besar-besaran akibat pelepasan protein dinding sel bakteri
ketika bakteri hancur. Sehingga diberikan kortikosteroid untuk menekan
proses inflamasi dan edema
Indikasi : peningkatan TIK, perubahan kesadaran, temuan neurologis fokal,
blok spinal, dan ensefalopati TB
Dapat mengontrol atau cegah peradangan dengan mengendalikan laju
sintesis protein, menekan migrasi PMN dan fibroblast, mengurangi
permeabilitas kapiler, dan menstabilkan lisosom pada tingkat sel; dosis
yang lebih besar dapat menurunkan inflamasi
Prednison 40-60 mg/hari PO, tappering mulai 4-8 minggu
Deksametason 10 mg bolus IV, kemudian 4x5 mg IV selama 2 minggu
selanjutnya tappering 1 bulan

Drain or shunt replacement


Pada pasien dengan hidrosefalus obstruktif dan perburukan
neurologis, tindakan bedah berupa ventriculoperitoneal (VP)
atau ventriculoatrial (VA) shunt mungkin diperlukan. Studi
menunjukkan ventriculoperitoneal shunt dapat meningkatkan
hasil, terutama pada pasien dengan defisit neurologis
minimal.

Pencegahan
Mengurangi kontak langsung dengan penderita
Mengurangi tingkat kepadatan di lingkungan perumahan dan di
lingkungan sekitar
Meningkatkan personal hygiene (cuci tangan dengan sabun
sebelum makan dan setelah dari toilet)
Memenuhi kebutuhan gizi dan pemberian imunisasi Bacillus
Calmet-Guerin (BCG)
Fisioterapi dan rehabilitasi untuk mencegah dan mengurangi cacat

Prognosis
Secara umumnya, penderita meningitis dapat sembuh, baik
sembuh dengan cacat motorik atau mental atau meninggal
tergantung :
- Umur penderita.
- Jenis kuman penyebab
- Berat ringan infeksi
- Lama sakit sebelum mendapat pengobatan
- Kepekaan MO terhadap antibiotik yang diberikan
- Adanya dan penanganan penyakit.
Prognosis yang buruk terjadi pada bayi, lanjut usia, malnutrisi, dan
pasien dengan penyakit yang menular atau dengan peningkatan
TIK

Referensi
Medscape.com
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/56150/4/
Chapter%20II.pdf
http://repository.wima.ac.id/3056/2/Bab%201.pdf
Kapita Selekta Kedokteran Edisi IV
Konsensus PDPI

Anda mungkin juga menyukai