Anda di halaman 1dari 49

STRESS TRAVELLING

dr. Ira Aini Dania, M. Ked KJ,


SpKJ
Bag. Psikiatri FK UISU
2016

Stres menurut Hans Selye dalam buku Hawari


(2001) adalah respon tubuh yang sifatnya
nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban
atasnya.
Stres gejala yang dikeluhkan penderita
didominasi oleh keluhan-keluhan somatik (fisik),
tapi dapat juga disertai keluhan psikis.
Bila seseorang setelah mengalami stres
mengalami gangguan pada satu atau lebih
organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak
lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya
dengan baik, maka ia disebut mengalami
distres.
tidak semua bentuk stres mempunyai konotasi
negatif, cukup banyak yang bersifat positif hal

stres merupakan suatu keadaan yang menekan


diri individu.
Stres merupakan mekanisme yang kompleks dan
menghasilkan respon yang saling terkait baik
fisiologis, psikologis, maupun perilaku pada
individu yang mengalaminya, dimana mekanisme
tersebut bersifat individual yang sifatnya berbeda
antara individu yang satu dengan individu yang
lain.

Stres di sebut sebagai global epidemic of the


21st Century
by the United Nations International Labor
Organization

Traveller Stress

Perjalanan dapat meningkatkan


sejumlah risiko kesehatan termasuk
didalamnya stres fisik, dan psikologis.
Fisik travel across time zone, jet lag,
masalah kesehatan, dan perhatian
terhadap keselamatan. Insomnia,
mood swing, nafas tdk teratur
Perjalanan bagi pekerja memiliki efek
langsung dan tidak langsung terhadap
fungsi pekerjaan.

Travel internasional sering


menimbulkan pengalaman penuh
stres, traveler terpisah jauh dari
keluarga dan dukungan sosial, harus
beradaptasi dengan budaya asing,
kendala bahasa membuat keadaan
yang membingungkan ancaman
terhadap kesehatan dan keamanan.

Stresor

Waktu saat di bandara.


Gangguan irama sirkadian pola tidur.
Kesendirian.
Ketakutan dan kecemasan serta bahaya
selama bertransportasi ke suatu
tempat.
Ketakutan, kekhawatiran terhadap
kesehatan dan kenyamanan yang
berhubungan dengan perjalanan.

Kehilangan bawaan di bagasi.


Buruknya koneksi internet.
Keterlambatan.
Terbang dengan kelas ekonomi untuk
suatu perjalanan yang jauh.
Rasa tidak nyaman saat keberangkatan
atau kedatangan di tempat tujuan.
Kategori hotel rendah.

Lokasi hotel/ penginapan.


Di menit terakhir mendapat instruksi
melakukan perjalanan.
Perjalanan saat liburan.
Sukar mendapati makanan sehat.

Gejala

Insomnia
Sakit kepala
Otot tegang
Konsentrasi terganggu
Tidak mampu melakukan suatu
pekerjaan

Wanita 4x lebih banyak mengalami


stres travelling hilang bagasi, tidak
menjumpai makanan sehat.
Ada peningkatan jumlah stres
dengan semakin seringnya
melakukan perjalanan

Patofisiologi stres
Stres dapat mempengaruhi
kesehatan seseorang dan
menimbulkan berbagai penyakit,
seperti peningkatan kadar kolesterol,
kelelahan otot, peningkatan kadar
gula darah diabetes

Terjadi peningkatan hormonal yang luas dalam reaksi ini


sehingga cenderung pada respons melawan dan
menghindar,curah jantung, ambilan oksigen, dan
frekuensi pernapasan meningkat; pupil mata berdilatasi
untuk menghasilkan bidang visual yang lebih besar; dan
frekuensi jantung meningkat untuk menghasilkan energi
lebih banyak.
Namun, jika stresor terus menetap setelah reaksi alarm
maka individu tersebut akan masuk pada tahap resisten

Tahap resisten
Dalam tahap ini tubuh kembali stabil, kadar hormon,
frekuensi jantung, tekanan darah, dan curah jantung kembali
ketingkat normal. Individu terus berupaya untuk menghadapi
stresor dan memperbaiki kerusakan.
Akan tetapi jika stresor terus menetap seperti pada
kehilangan darah terus menerus, penyakit melumpuhkan,
penyakit
mental
parah
jangka
panjang,
dan
ketidakberhasilan mengadaptasi maka invidu masuk ke
tahap kehabisan energi

Tahap kehabisan tenaga


Tahap kehabisan tenaga terjadi ketika tubuh tidak dapat lagi
melawan stres dan ketika energi yang diperlukan untuk
mempertahankan adaptasi sudah habis (Potter & Perry,2005).
Jika tubuh tidak mampu untuk mempertahankan dirinya
terhadap dampak stresor, regulasi fisiologis menghilang, dan
stres tetap berlanjut maka akan terjadi kematian.
Proses anatomi dan fisiologi yang terjadi dalam tubuh
manusia dapat berespons secara kompleks terhadap stres
sebagai salah satu bentuk adaptasi

General Adaptation Syndrom


Selye (1983) menyatakan munculnya sindrom adaptasi umum (GAS) melalui
beberapa tahap berikut :
Tahap reaksi awal tubuh dalam menghadapi berbagai stresor. Tubuh tidak
dapat bertahan pada tahapan ini dalam jangka waktu lama.
Tahap dimana tubuh mulai beradaptasi dengan adanya stres dan berusaha
mengatasi serta membatasi stresor. Ketidakmampuan tubuh beradaptasi
mengakibatkan tubuh menjadi rentan terhadap penyakit.
Tahap dimana adaptasi tidak dapat dipertahankan karena stres yang berulang
atau berkepanjangan sehingga berdampak pada seluruh tubuh
Stres dikatakan menjadi sebuah faktor penunjang untuk produksi suatu
penyakit tertentu, atau mungkin menjadi penyebab respon perilaku negatif,
seperti merokok, minum alkohol dan penyalahgunaan narkoba yang semuanya
dapat membuat kita rentan terhadap penyakit. Hal buruk dapat mempengaruhi
sistem kekebalan tubuh, sehingga menyebabkan tubuh kita menjadi kurang
tahan terhadap sejumlah masalah kesehatan.

PENATALAKSANAAN
menetapkan harapan yang realistis, penundaan,
dan frustrasi dalam semua rencana yang disusun,
sebab perkiraan dan kontrol adalah variabel utama
yang berpengaruh pada respons terhadap stres.
Cukup istirahat
Hindari bagasi berlebih
Persiapan makanan sehat dan perlengkapan
pribadi

Strategi koping

Koping yang digunakan individu secara sadar dan terarah


dalam mengatasi sakit atau stresor yang dihadapinya. Metode
koping bisa diperoleh dari proses belajar dan beberapa
relaksasi. Jika individu menggunaan strategi koping yang
efektif
dan
cocok
dengan stresor yang
dihadapinya, stresor tersebut tidak akan menimbulkan sakit
(disease), tetapi stresor tersebut akan menjadi suatu stimulan
yang memberikan wellness dan prestasi.

Traveller Stres dan cemas terutama dalam suatu perjalanan

Strategi koping yang berhasil mengatasi stres harus


memiliki empat komponen pokok:
1.Peningkatan
kesadaran
terhadap
masalah:
mengetahui dan memahami masalah serta teori yang
melatarbelakangi situasi yang tengah berlangsung.
2.Pengolahan informasi: suatu pendekatan dengan cara
mengalihkan persepsi sehingga ancaman yang ada akan
diredam. komponen ini meliputi pengumpulan informasi dan
pengkajian sumber daya yang ada untuk memecahkan
masalah.
3.Pengubahan perilaku: suatu tindakan yang dipilih
secara sadar dan bersifat positif, yang dapat meringankan,
meminimalkan, atau menghilangkanstressor.
4. Resolusi damai: suatu perasaan bahwa situasi telah
berhasil di atasi.

Bila seseorang memiliki predisposisi kearah


gangguan jiwa maka harus
diutamakan
penanggulangan dengan mengunakan obat yang
utama untuk masalah kejiwaannya.
Penderita
gangguan neuropsikiatri termasuk
psikosis, depresi, gangguan cemas menyeluruh
diberi obat.
Traveller dengan signifikan riwayat gangguan
jiwa
harus
menerima
terapi
khusus
dan
memerlukan dukungan psikologis. Penggunaan
psikotropik tetap diberikan selama perjalanan.

TERIMAKASIH

GANGGUAN MENTAL DAN


TRAVEL
Sering di jumpai pada traveller
Secara umum kesehatan jiwa menjadi
topik perbincangan dan menjadi penyebab
penyakit, masalah kesehatan bagi traveler.
Beberapa kejadian dapat menimbulkan
stres dan tidak dapat diprediksi akan tetapi
tindakan pencegahan dapat dilakukan
dengan upaya mengurangi stres antara
lain:

1.Traveler harus dapat mengumpulkan


informasi yang diperlukan sebelum
perjalanan membantu mengurangi
risiko mengalami gangguan
penderitaan psikologis, dan pencetus
gangguan mental yang sudah ada
2.Sifat perjalanan, lama perjalanan,
karakteristik daerah tujuan.

3. Hambatan yang dijumpai.


Sehingga diharapkan traveler
mampu memelihara rasa percaya
diri, dan menggunakan mekanisme
koping.

Mental disorders
Anxiety disorders
In a study by Matsumoto and Goebert, about
3.5% of all medical in-flight emergencies in the
United States of America were categorized as
being caused by mental disorder.
In 90% of the in-flight emergencies caused by
mental disorder,
the diagnosis was an anxiety state, and in only
4% was it a psychotic disorder.

Phobia of flying
Extreme fear of fl ying may be a symptom of a specifi c phobia.
A specifi c phobia is an intense, disabling fear of something that
poses little or no actual danger. Specific phobias are characterized
by marked fear of a specific object or situation or marked avoidance
of such objects or situations.
In specific phobias, significant emotional distress is caused by these
symptoms or avoidance of the situation as well as by the recognition
that these feelings or actions are excessive or unreasonable.
People with phobia of flying usually dread or avoid flying, and may
have anxious anticipation when confronted with vivid descriptions of
flights, the need to fly, and the preparations necessary for flying
Phobia of flying may coexist with other specific phobias. Additionally,
anxiolytic medication or alcohol are often used to cope with this fear.

Penatalaksanaan: pendekatan
psikologis, desensitisasi, self control,
relaxasi, mengubah mind set
negatif positif, cognitif behaviour
therapy.

Panic attacks
Anxiety that is intense enough to lead to an
emergency room visit
has been noted frequently among psychiatric emergencies
occurring in travellers.
Panic attacks are characterized by an abrupt onset of intense
anxiety with concomitant signs and symptoms of autonomic
hyperactivity.
Associated feelings of shortness of breath, chest pain,
choking, nausea, derealization, and fear of dying may be
present. The attack peaks within 10 minutes, sometimes
much more
quickly, and may last for 30 minutes.
Panic attacks may also occur in those with a phobia of flying

Mood disorders and suicide attempts


Depression.
The stressors of international travel or
overseas residence, isolation, from family and
familiar social support systems, and reactions to
a foreign culture and language may all contribute
to depression, at least in people who are
susceptible.
Uncommon but serious problems associated with
depression are the risk of
suicide or the occurrence of psychotic symptoms,
or both.

Mania. Although relatively uncommon, mania


may pose an emergency overseas
Treatment delivered overseas is frequently aimed at either
hospitalization, if possible, or stabilization pending medical
evacuation or repatriation.
Committing a person to care under the criterion of posing
imminent danger to self or others is not always possible,
and the persons lack of insight may make voluntary
consent to treatment difficult to achieve. Frequently, some
sort of leverage from family or a sponsoring organization is
necessary to obtain the persons cooperation.
Physicians should carry out a medical evaluation that
includes assessment and tests for substance misuse (for
example, the use of amphetamines or cocaine) since
misuse can cause manic symptoms

Psychotic disorders
Given the known association between stress and
acute and transient psychotic disorder, it is not
surprising that such disorders have been
described in relation to travel stress.

Schizophrenia.
Reports of finding travellers with
schizophrenia at international
airports or at embassies when in need of
assistance are by no means rare. Travellers with
schizophrenia may be arrested by police for very
strange or suspicious behaviour, and police or
family members may contact the embassy.

Disorders due to psychoactive


substance use
Misuse of all substances is encountered among
the population of international travellers

Culture shock and reverse culture


shock.
Travel often leads to encounters with a new culture that
necessitates adjustment to different customs, lifestyle
and languages.
Adapting to the new culture is particularly important when
travelling for a long period (such as during expatriation or
migration). Major cultural change may evoke severe
distress in some individuals and is termed culture shock.
This condition arises when individuals suddenly find
themselves in a new culture in which they feel completely
alien.

Coping with travel stress before you l

Setiap orang memiliki cara masing-masing


yang berbeda dalam mempersiapkan suatu
perjalanan
yang
mungkin
meninggalkan
perasaan stres atau khawatir terhadap keluarga
yang ditinggalkan. Beberapa cara dapat
dilakukan untuk melatih emosi agar tidak
mengalami stres yang berlebihan :
1. Beritahu pada orang terdekat daftar jadwal
perjalanan dan
terutama mengenai tempat
yang belum pernah di kunjungi, atau tempat
tersebut berbahaya yang dapat membuat
khawatir, dan memberitahu alamat kontak
yang
dapat
dihubungi
dan
berusaha
meyakinkan segala sesuatu dengan informasi
yang positif .

2.

Membuat suatu rencana bila terjadi keadaan


gawat darurat, secara tertulis, memberikan
instruksi yang jelas yang berhubungan dengan
kegawatdaruratan medis dan mengenai kematian,
mengidentifikasikan
orang-orang
yang
dapat
dipercaya dan mampu membantu keluarga bila ada
suatu keadaan yang buruk yang menmpa keluarga
yang ditinggalkan saat melakukan perjalanan.
3 Menyelesaikan hal-hal yang berhubungan dengan
masalah pembayaran, karena dikhawatirkan saat
melakukan perjalanan tidak mendapat/ terbatasnya
akses untuk melakukan komunikasi.
4.Mengantisipasi/ mempersiapkan hal-hal yang
penting

5. Menyelesaikan tugas tugas sebelum berangkat pada


sebagian orang mungkin melakukan sesuatu yang
berbeda dan mempersiapkan waktu
istirahat saat
kembali setelah melakukan perjalanan.
6. Persiapan yang terencana
mengurangi ketegangan dan stres.

dapat

membantu

7. Tetap melakukan hubungan dengan keluarga maupun


rekan terdekat terutama saat melakukan suatu
perjalanan dalam jangka waktu lama dan tetap berkirim
kabar dan memberi informasi terbaru baik secara tertulis
maupun secara visual kepada keluarga mengenai
aktivitas yang dilakukan.
8. Jangan menganggap remeh terhadap kebutuhan spt

Bagaimana hal terbaik melakukan mekanisme


koping dengan travel stres tergantung dari
seberapa jauh dan keinginan melakukan
perjalanan tersebut, dan apakah pekerjaan
tersebut menyenangkan atau tidak

Draw a line around the job, even on the road. This can be very
difficult, especially when you are working in crisis situations, disaster
zones, and refugee camps. Try to ensure that you take at least two
hours a day away from work. On deployments longer than 10 days,
take at least one day off each week, and take your rest and relaxation
leave. Taking adequate time off to rest and decompress is necessary to
help ensure that you dont arrive home completely exhausted. In the
long run this will help prevent burnout.
Remind yourself that youre functioning in a new environment and
facing more challenges than usual. Dont be surprised if you find
yourself unusually tired. This is probably the result of doing your
normal work, as well as the work associated with coping effectively
with all sorts of changes that range from eating different food to crosscultural communication challenges. Try not to expect quite the same
level of productivity and efficiency from yourself as you would at home.
Seek out ritual and normality. Travel tends to remove us from
rituals and routines that usually guide how we live and how we interact
with others. People who travel frequently are more likely to be in
environments low on ritual, surrounded by mental and physical chaos.
Look for ways to establish some new rituals in areas that you find
meaningful. For example, develop on the road rituals around

. Carry some sacred objects and good books with you. Sacred objects
are things that remind you of what you value most in life (e.g., photographs
of your family, or objects that have spiritual significance for you). These
serve as reminders that this trip is just part of the bigger story of your life.
Books are always helpful to have on hand for times when you temporarily
need to focus on something other than work. Make sure that at least some
of these books are uplifting, humorous, and/or light. Humanitarian workers
can see a lot of suffering, trauma, and violence during their days work. Its
wise to be careful of how much of these things you ingest via
entertainment. Look for ways to build something enjoyable into your
travel schedule on at least some of your trips. For example, if youre
visiting another city for a conference, build in some time to visit a local
attraction. If you find you never have time while traveling for something
educational or enjoyable, start being more proactive about making time.

Look for ways to capture what youre learning from each


particular trip. Find ways to capture what you are experiencing and
what you are thinking and feeling. Some common ways to do this
are through journaling, writing letters, drawing or collecting art,
writing poetry or fiction, photography, and collecting stories and/or
recipes from the places you visit.
Prepare for times when you find yourself feeling really down on
the road. Dealing with tough times on the road can be made easier
by thinking beforehand about what may help. Its hard to think of
things that will make you feel better when youre already feeling
bad. You might want to carry a list of suggestions that you can refer
to during these times. One thing that might be on that list is calling
family or friends. Another activity is making a list of all the positive
things you can identify about your current situation. Temporarily
ignore the negativeyouve probably been focusing on that
enough for a while anywayand challenge yourself to phrase
things in positive terms. Get creative.
If you have a choice regarding your schedule, be intentional
about the day of the week you return. Many people prefer to return
from trips on Thursday or Friday, to allow them a couple of days to
rest and spend time with friends and family.

Coping with travel stress when you return

Expect that you may experience some re-entry reactions.


Recognize that even good changes and transitions usually require
adjustment, disrupt routines and relationships, and take some
energy. People often criticize themselves for feeling irritable or more
emotional during re-entry. These emotions, and others, are normal in
the face of change.
Create a buffer zone between the field and home. This can be a
geographic buffer zone, like a stopover somewhere neutral and
comfortable on your way home. Or you can take steps to create
personal space during the first two days youre home; for example,
you might delay telling people of your return (and even ignore email
and phone calls) to give yourself time to unpack and restock the
fridge.
Prepare for those conversations with family and friends. Pick one
funny anecdote, a little known fact, or an interesting (and not too
grim) prediction about the future development of the place you have
been working in. Then be prepared to change the topic of
conversation if people dont ask follow-up questions.
Debrief your experience with a counselor or people you trust who
will understand. Ask and answer questions such as: Tell me about

Get involved and back into routine. The feeling of belonging to a


community again will help if youre struggling with re-entry. Get
involved in your regular home routine (e.g., community or church
groups). Continue reaching out to people and working to reconnect.
However, be wary of packing your schedule too full.
Plan a realistic work schedule. Dont add to your stress by crowding
your schedule or having unrealistic expectations regarding how quickly
you will be able to tie up the details related to your trip and how much
work you will accomplish immediately after getting back.
Take enough time (and then some extra) for rest, relaxation,
family reconnection, and your personal priorities. Now is the time to
make some space for yourself to wind down and devote some time
and attention to your personal priorities. Relax and indulge yourself in
moderation.

Avoid making big decisions in the immediate aftermath of


returning home. Just as any other period when youre under
heightened stress, you should try to avoid making decisions
about important issues right after you get back (such as whether
or not to quit your job).
Give yourself a spiritual check-up. Ask yourself questions like
these: Do you feel closer to or more distant from God or your
source of spiritual energy? How have your beliefs been
challenged or changed? Do you need to try something new in the
way that you are nourishing your spirituality?