Anda di halaman 1dari 20

SANITASI INSTITUSI

Noradilla Dwi Oktavia


102110101105

DEFINISI SANTASI LINGKUNGAN

WHO Upaya pengendalian semua faktor


lingkungan fisik manusia yang mungkin
menimbulkan atau dapat menimbulkan hal-hal yang
merugikan bagi perkem- bangan fisik, kesehatan
dan daya tahan hidup manusia.
(Notoadmojo, 2003) Status kesehatan suatu
lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan
kotoran, penyediaan air bersih dan sebaginya.

kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan


dan mempertahankan standar kondisi
lingkungan yang mendasar yang
mempengaruhi kesejahteraan manusia. Konisi
tersebut mencakup: pasokan air bersih,
pembuangan limbah dari hewan, manusia dan
industri yg efisien, perlindungan, perlindungan
makanan dari kontaminasi biologis dan kimia,
udara yg bersih dan aman, rumah yg bersih
dan aman.

INSTITUSI
Gedung/lembaga tempat diselenggarakannya
kegiatan perkumpulan atau organisasi.
Contoh :

Perkantoran

Institusi pendidikan (Sekolah,PT, dll)

Institusi pelayanan kesehatan (rumah sakit,


puskesmas, dll)

SANITASI INSTITUSI

Secara umum sanitasi institusi harus memenuhi


persyaratan berikut:

1.

Umum: lokasi, lingkungan, bangunan

2.

Penggunaan ruang (sesuai fungsinya)

3.

Kostruksi : lantai, dinding, atap, langit-langit,


pintu, pencahayaan, ventilasi, kamar mandi, WC,
air bersih, SPAL, pengelolaan sampah, halaman.

SANITASI SEKOLAH

sebagian waktu manusia dihabiskan di sekolah. Karena


itu, kondisi sekolah dapat mempengaruhi perkembangan
fisik dan mental sivitas pendidikan.

Maka diperlukan Sekolah modern berbasis limbah dan


alam yang memandang bahwa limbah dan alam
adalah sumber daya yang diperlukan dalam
pengelolaan pendidikan.
melalui pengelolaan limbah dan alam sekolah akan
mampu mendukung kegiatan pembelajaran dengan
anggaran biaya yang rendah, melindungi dan
melestarikan keanekaragaman hayati, mendorong
terciptanya budaya hidup sehat, dan menjadikan
sekolah sebagai sumber peningkatan ekonomi
(economic generic) bagi peserta didik dan sekolah

Sekolah berbasis Lingkungan


Sekolah berbasis lingkungan, memenuhi kriteria
dibawah ini:
Aspek fisik sekolah:
1. Diupayakan jauh dari lokasi yang dapat
mengganggu ketenangan belajar dan
kesehatan siswa seperti tempat
pembuangan smpah, pabrik, terminal, kereta
api, lapangan terbang, kuburan dll
2. Jika lokasi dekat dengan obyek tersebut
maka dilakukan untuk meminimalisasinya

Ruang kelas
1.

2.

3.

Ruang kelas tidak terlalu padat dan


memungkinkan siswa bergerak. Satu ruangan
kelas dgn ukuran standar (9x6 m) maksimal 40
orang
Setiap ruang sebaiknya dilengkapi dgn 2 buah
pintu, dgn daun pintu mnghadap keluar sehingga
dalam keadaan darurat seperti kebakaran/gempa,
siswa dapat keluar dengan cepat
Luas jendela dan ventilai udara minimal 20% dari
luas lantai, sehingga memungkinkan pertukaran
udara terus-menerus. Untuk ruang ber Ac harus
tersedia jendela yang dapat dinuka/ditutup min 1
jam sebelum ruangan digunakan.

4. Jarak papan tulis dgn bangku paling depan


min 2,5 m dan dgn bangku paling belakang
maks 9 m
5. Penerangan dalam ruangan diupayakan
memanfaatkan sumber dya alam yaitu sinar
matahari dgn intensitas yg cukup. Sinar
sebaiknya datang dari 2 jurusan(kiri-kanan)
serta merata. Pada sekolah yg sampai sore
hari, perlu penerangan tambahan berupa litrik
yg cukup terang.
6. Terlihat bersih dan rapi tata letak seluruh
ruangan
7. Bebas sampah dan kotoran lainnya serta
binatang-binatang pengganggu.

Halaman sekolah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Harus selalu kering dan rata, artinya mempunyai


pengaliran air (drainase) yg baik
Halaman sekolah yg terdiri dari tanah akan berdebu di
waktu musim kemarau dan becek di musim hujan
Halaman sekolah yg hanya terdiri dari aspal akan
berbahaya jika anak jatuh
Halaman ditanami rumput yg selalu dipotong pendek dan
sebagian ditanami pohon rindang
Adanya pagar sekolah dari tembok(jgn kawat berduri)
untuk mencegah terjadinya kecelakaan
Halaman sekolah bersih dari segala macam jenis sampah
Adanya saluran drainase dan resapan air hujan untuk
menunjang keberihan, kesehatan, dan konversi air tanah.

Kamar mandi/wc
1.
2.

3.
4.
5.

Ada ventilasi yang memungkinkan terjadinya


pertukaran udara
Ada penerangan listrik untuk penggunaan
pada malam hari dan kaca untuk penerangan
siang hari dari sinar matahari
Kamar mandi wanita dan pria dipisah
Jumlah kamar mandi cukup bagi warga sekolah
Kedap air, tidak terdapat sudut-sudut tajam,
dinding tidak berlumut, selalu tersedia air
pada bak, tidak terdapat genangan air pada
lantai, dan lantai tidak retak.

6. Jika tempat untuk membuang kotoran adlah


septic tank, maka dirancang kedap air,
sehingga tidak mencemari sumur sekitar
7. WC tidak bau, tak sedap dan terlihat bersih
dari segala kotoran dan binatng
pengganggu(lalat, kecoa,nyamuk)
8. Melakukan penghematan air dan kran tidak
bocor
9. Tersedia pembersih di setiap WC dan tempat
sampah tertutup

Air bersih
1.
2.

3.

Selalu tersedia air bersih untuk kebutuhan


siswa dan guru
Tersedia kran air di sejumlah tempat yang
terjangkau siswa untuk keperluan cuci
tangan yang dilengkapi dengan sabun dan
lap
Selain itu, sekolah juga perlu memiliki air
untuk keperluan lain, menyiram tanaman,
membersihkan lantai, kebersihan WC.
Sekolah dapat ,memanfaatkan air hujan
yang ditampung atau air bekas pemakaian
lainnya.

Pengelolaan sampah
1.

2.

3.
4.
5.

Tersedia tempat/bak sampah yg tertutup dan terpilah


(organik dan anorganik) di setiap ruangan dan di
halaman.
Jumlah tempat sampah harus cukup banyak dan tidak
hanya ditempatkan di setiap kelas tetapi juga luar
ruangan dengan ukuran agak besar dengan jarak tiap 20
meter.
Tersedia TPS yang tertutup untuk menampung samapah
dari tempat lain
Pengelolaan sampah organik menjadi kompos yang
dilakukan sendiri oleh pihak sekolah
Daur ulang (recycle) dan pemanfaatan kembali sampah
anorganik(reuse) serta mengurangi penggunaan barangbarang yang dapat menghasilkan sampah(reduction).

Limbah sekolah dan produk yg dpt


dihasilkan(5R)
No.

Jenis limbah

Produk yg dibuat

1.

kertas

Alat peraga, penggaris, kertas daur


ulang

2.

Plastik

Alat peraga, pigura, papan tulis (white


board)

3.

Kaca

Pigura, box pemeliharaan cacing, pot


tanaman

4.

Kaleng

Alat peraga dan pot tanaman

5.

Botol kaca

Alat musik

Ruang Terbuka Hijau


1.

2.
3.

4.

Ada keseimbangan antara luas terbangun dan


terbuka. Jika tidak memungkinkan, sekolah dapat
mengganti fungsi ruang terbuka hijau dengan
membuat sumur resapan dan tanaman-tanamn
pada pot
Mempunyai kerindangan, keteduhan dan
kehijauan di sekitar sekolah
Ditanami berbagai jenis tanaman sebagai sumber
belajar bagi siswa, terutama tanaman lokal dan
obat
Mempunyai sumur resapan air untuk mengelola air
hujan yang tertutup sehingga tidak
membahayakan keselamatan bagi siswa.

Laboratorium Sekolah

Laboratorium kimia sekolah merupakan salah


satu penghasil limbah cair,padat maupun gas.
Kuantitas dan frekuensi limbah laboratorium
sekolah termasuk kecil, sedangkan kandungan
bahan pencemar termasuk bervariasi dan
bahkan ada yang mengandung bahan
buangan berbahaya. Limbah padat di
laboratorium kimia relatif kecil, biasanya
berupa endapan atau kertas saring terpakai,
sehingga masih dapat diatasi.

Demikian pula limbah yang berupa gas


umumnya dalam jumlah kecil, sehingga relatif
masih aman untuk dibuang langsung di udara.
Tetapi berbeda dengan limbah cair, umumnya
laboratorium sekolah berlokasi di sekitar
kawasan hunian, sehingga akumulasi limbah
cair yang meresap ke dalam air tanah dapat
membahayakan lingkungan sekitar.

Pengelolaan limbah cair untuk


laboratorium sekolah
Mekanisme kerja alat pengolah limbah adalah sebagai berikut:
Limbah cair ditampung pada bak penampung (manual atau
bantuan pompa)
Jika kran pada bak penampung limbah dibuka maka limbah
akan mengalir ke kontainer I yang berisi kerikil. Kerikil
berfungsi sebagai penyaring kasar untuk memisahkan
padatan tersuspensi dari limbah.
Limbah yang telah melewati kontainer I akan mengalir
berupa tetesan limbah ke kontainer II yang berisi zeolit.
Zeolit berfungsi menyerap zat warna, anion, kation, dan zat
organik yang tidak diikat oleh resin penukar anion maupun
kation.
Setelah limbah melewati kontainer II limbah akan mengalir ke
kontainer III yang berisi resin penukar kation dan resin
penukar kation. Resin ini berfungsi untuk menukar ion yang
ada pada resin dengan ion-ion yang ada pada limbah cair.

Efisiensi energi dan sumber daya untuk


mencapai kesehatan lingkungan
1.

2.
3.
4.

5.

Menghemat konsumsi kertas dan bahan baku


lainnya, menggunakan kembali kertas untuk
keperluan lain
Monitoring penggunaan listrik dgn mematikan alat
elektronik jika tidak dipakai
Memanfaatkan semaksimal mungkin sumber
penerangan dari energi matahari
Kontrol penggunaan air bersih. Jgn membiarkan air
berih meluap dan terbuang ke luar. Perbaiki segera
bila ada kebocoran saluran air bersih
Membeli keperluan sekolah dgn bahan yg dapat
didaur ulang, non polutan, hemat energi dan
berwawasan lingkungan.