Anda di halaman 1dari 23

Sri Rahayu

092110101109

Definisi sanitasi lingkungan


Sanitasi lingkungan adalah Status kesehatan

suatu lingkungan yang mencakup perumahan,


pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan
sebagainya (Notoadmojo, 2003).
Sanitasi juga dapat diartikan sebagai kegiatan
yang ditujukan untuk meningkatkan dan
mempertahankan standar kondisi lingkungan
yang mendasar yang mempengaruhi
kesejahteraan manusia. Konisi tersebut
mencakup: pasokan air bersih, pembuangan
limbah dari hewan, manusia dan industri yg
efisien, perlindungan, perlindungan makanan dari
kontaminasi biologis dan kimia, udara yg bersih
dan aman, rumah yg bersih dan aman.

Sanitasi institusi
Institusi adalah gedung/lembaga tempat
diselenggarakannya kegiatan perkumpulan
atau organisasi.
Contoh Intitusi :
Perkantoran
Institusi pendidikan (Sekolah dll)
Institusi pelayanan kesehatan (rumah sakit
dll)

Kaitan sanitasi dengan


kesehatan
-

Lingkungan yang sanitasinya buruk akan


berdampak buruk bagi kesehtan. Berbagai
jenis penyakit dapat muncul dan menjadi
sumber penyakit.
- Karena sebagian waktu manusia dihabiskan di
sekolah. Karena itu, kondisi sekolah dapat
mempengaruhi perkembangan fisik dan
mental sivitas pendidikan.

Secara umum sanitasi institusi harus

memenuhi persyaratan berikut:


1.Umum: lokasi, lingkungan, bangunan
2.Penggunaan ruang (sesuai fungsinya)
3.Kostruksi : lantai, dinding, atap, langit-langit,
pintu, pencahayaan, ventilasi, kamar mandi,
WC, air bersih, SPAL, pengelolaan sampah,
halaman.

Sanitasi Sekolah
Pendahuluan
- Limbah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
kegiatan di lingkungan sekolah baik limbah padat, cair maupun
gas.
- Maka diperlukan Sekolah modern berbasis limbah dan alam yang
memandang bahwa limbah dan alam adalah sumber daya yang
diperlukan dalam pengelolaan pendidikan.
- Implikasi paradigma di atas mendorong perbaikan sanitasi
sekolah, pemanfaatan alam dan limbah sebagai media, sarana
dan sumber pembelajaran.
- Dengan sanitasi lingkungan yang baik maka derajat kesehatan
dapat tercapai.
- Pada satu sisi, melalui pengelolaan limbah dan alam sekolah
akan mampu mendukung kegiatan pembelajaran dengan
anggaran biaya yang rendah, melindungi dan melestarikan
keanekaragaman hayati, mendorong terciptanya budaya hidup
sehat, dan menjadikan sekolah sebagai sumber peningkatan
ekonomi (economic generic) bagi peserta didik dan sekolah

Sekolah berbasis lingkungan, memenuhi kriteria


dibawah ini:
Aspek fisik sekolah:
1. Diupayakan jauh dari lokasi yang dapat
mengganggu ketenangan belajar dan
kesehatan siswa seperti tempat
pembuangan smpah, pabrik, terminal, kereta
api, lapangan terbang, kuburan dll
2. Jika lokasi dekat dengan obyek tersebut
maka dilakukan untuk meminimalisasinya

Ruang kelas
1. Ruang kelas tidak terlalu padat dan memungkinkan

siswa bergerak. Satu ruangan kelas dgn ukuran


standar (9x6 m) maksimal 40 orang
2. Setiap ruang sebaiknya dilengkapi dgn 2 buah
pintu, dgn daun pintu mnghadap keluar sehingga
dalam keadaan darurat seperti kebakaran/gempa,
siswa dapat keluar dengan cepat
3. Luas jendela dan ventilai udara minimal 20% dari
luas lantai, sehingga memungkinkan pertukaran
udara terus-menerus. Untuk ruang ber Ac harus
tersedia jendela yang dapat dinuka/ditutup min 1
jam sebelum ruangan digunakan.

4. Jarak papan tulis dgn bangku paling depan min


2,5 m dan dgn bangku paling belakang maks 9 m
5. Penerangan dalam ruangan diupayakan
memanfaatkan sumber dya alam yaitu sinar
matahari dgn intensitas yg cukup. Sinar sebaiknya
datang dari 2 jurusan(kiri-kanan) serta merata.
Pada sekolah yg sampai sore hari, perlu
penerangan tambahan berupa litrik yg cukup
terang.
6. Terlihat bersih dan rapi tata letak seluruh ruangan
7. Bebas sampah dan kotoran lainnya serta
binatang-binatang pengganggu.
8. Tersedia alat pembersih ruangan (sapu, dll) dan
tempat sampah sementara di setiap ruangan.

Halaman sekolah
1. Harus selalu kering dan rata, artinya

mempunyai pengaliran air (drainase) yg baik


2. Halaman sekolah yg terdiri dari tanah akan
berdebu di waktu musim kemarau dan becek
di musim hujan
3. Halaman sekolah yg hanya terdiri dari aspal
akan berbahaya jika anak jatuh
4. Halaman ditanami rumput yg selalu dipotong
pendek dan sebagian ditanami pohon
rindang

5. Adanya pagar sekolah dari tembok(jgn kawat


berduri) untuk mencegah terjadinya
kecelakaan
6. Halaman sekolah bersih dari segala macam
jenis sampah
7. Adanya saluran drainase dan resapan air
hujan untuk menunjang keberihan, kesehatan,
dan konversi air tanah.

Kamar mandi/wc
1. Ada ventilasi yang memungkinkan terjadinya
2.

3.
4.
5.

pertukaran udara
Ada penerangan listrik untuk penggunaan
pada malam hari dan kaca untuk penerangan
siang hari dari sinar matahari
Kamar mandi wanita dan pria dipisah
Jumlah kamar mandi cukup bagi warga sekolah
Kedap air, tidak terdapat sudut-sudut tajam,
dinding tidak berlumut, selalu tersedia air
pada bak, tidak terdapat genangan air pada
lantai, dan lantai tidak retak.

6. Jika tempat untuk membuang kotoran adlah


septic tank, maka dirancang kedap air,
sehingga tidak mencemari sumur sekitar
7. WC tidak bau, tak sedap dan terlihat bersih
dari segala kotoran dan binatng
pengganggu(lalat, kecoa,nyamuk)
8. Melakukan penghematan air dan kran tidak
bocor
9. Tersedia pembersih di setiap WC dan tempat
sampah tertutup

Air bersih
1. Selalu tersedia air bersih untuk kebutuhan

siswa dan guru


2. Tersedia kran air di sejumlah tempat yang
terjangkau siswa untuk keperluan cuci tangan
yang dilengkapi dengan sabun dan lap
3. Selain itu, sekolah juga perlu memiliki air
untuk keperluan lain, menyiram tanaman,
membersihkan lantai, kebersihan WC.
Sekolah dapat ,memanfaatkan air hujan yang
ditampung atau air bekas pemakaian lainnya.

Pengelolaan sampah

1. Tersedia tempat/bak sampah yg tertutup dan


2.

3.
4.
5.

terpilah (organik dan anorganik) di setiap ruangan


dan di halaman.
Jumlah tempat sampah harus cukup banyak dan
tidak hanya ditempatkan di setiap kelas tetapi
juga luar ruangan dengan ukuran agak besar
dengan jarak tiap 20 meter.
Tersedia TPS yang tertutup untuk menampung
samapah dari tempat lain
Pengelolaan sampah organik menjadi kompos
yang dilakukan sendiri oleh pihak sekolah
Daur ulang (recycle) dan pemanfaatan kembali
sampah anorganik(reuse) serta mengurangi
penggunaan barang-barang yang dapat
menghasilkan sampah(reduction).

Limbah sekolah dan produk yg


dpt dihasilkan(5R)
No.

Jenis limbah

Produk yg dibuat

1.

kertas

Alat peraga, penggaris, kertas daur


ulang

2.

Plastik

Alat peraga, pigura, papan tulis (white


board)

3.

Kaca

Pigura, box pemeliharaan cacing, pot


tanaman

4.

Kaleng

Alat peraga dan pot tanaman

5.

Botol kaca

Alat musik

Pengelolaan limbah cair


1. Limbah cair domestik dan limbah dari
laboratorium yang mengandung bahan
berbahaya dan beracun dipisahkan
2. Dilakukan pengelolaan limbah cair baik yang
domestik maupun dari laboratorium sebelum
dibuang ke lingkungan.

Ruang Terbuka Hijau


1. Ada keseimbangan antara luas terbangun dan

terbuka. Jika tidak memungkinkan, sekolah dapat


mengganti fungsi ruang terbuka hijau dengan
membuat sumur resapan dan tanaman-tanamn pada
pot
2. Mempunyai kerindangan, keteduhan dan kehijauan
di sekitar sekolah
3. Ditanami berbagai jenis tanaman sebagai sumber
belajar bagi siswa, terutama tanaman lokal dan obat
4. Mempunyai sumur resapan air untuk mengelola air
hujan yang tertutup sehingga tidak membahayakan
keselamatan bagi siswa.

Laboratorium Sekolah
Laboratorium kimia sekolah merupakan salah

satu penghasil limbah cair,padat maupun gas.


Kuantitas dan frekuensi limbah laboratorium
sekolah termasuk kecil, sedangkan kandungan
bahan pencemar termasuk bervariasi dan
bahkan ada yang mengandung bahan
buangan berbahaya. Limbah padat di
laboratorium kimia relatif kecil, biasanya
berupa endapan atau kertas saring terpakai,
sehingga masih dapat diatasi.

Demikian pula limbah yang berupa gas

umumnya dalam jumlah kecil, sehingga relatif


masih aman untuk dibuang langsung di udara.
Tetapi berbeda dengan limbah cair, umumnya
laboratorium sekolah berlokasi di sekitar
kawasan hunian, sehingga akumulasi limbah
cair yang meresap ke dalam air tanah dapat
membahayakan lingkungan sekitar.

Pengelolaan limbah cair untuk


laboratorium sekolah
Mekanisme kerja alat pengolah limbah adalah sebagai berikut:
- Limbah cair ditampung pada bak penampung. Penampungan dapat
dilakukan secara manual atau dapat dilakukan dengan bantuan pompa
yang telah dimiliki oleh pihak mitra.
- Jika kran pada bak penampung limbah dibuka maka limbah akan
mengalir ke kontainer I yang berisi kerikil. Kerikil berfungsi sebagai
penyaring kasaruntuk memisahkan padatan tersuspensi dari limbah.
- Limbah yang telah melewati kontainer I akan mengalir berupa tetesan
limbah ke kontainer II yang berisi zeolit. Zeolit berfungsi menyerap zat
warna, anion, kation, dan zat organik yang tidak diikat oleh resin
penukar anion maupun kation.
- Setelah limbah melewati kontainer II limbah akan mengalir ke kontainer
III yang berisi resin penukar kation dan resin penukar kation. Resin ini
berfungsi untuk menukar ion yang ada pada resin dengan ion-ion yang
ada pada limbah cair. Dengan demikian ion-ion dalam limbah akan
tterjerap ke dalam zeolit, resin penukar kation dan resin penukar anion.

Efisiensi energi dan sumber daya


untuk mencapai kesehatan
1. Menghemat konsumsi kertas dan bahan baku
lingkungan
2.
3.
4.

5.

lainnya, menggunakan kembali kertas untuk


keperluan lain
Monitoring penggunaan listrik dgn mematikan alat
elektronik jika tidak dipakai
Memanfaatkan semaksimal mungkin sumber
penerangan dari energi matahari
Kontrol penggunaan air bersih. Jgn membiarkan air
berih meluap dan terbuang ke luar. Perbaiki segera
bila ada kebocoran saluran air bersih
Membeli keperluan sekolah dgn bahan yg dapat
didaur ulang, non polutan, hemat energi dan
berwawasan lingkungan.