Anda di halaman 1dari 17

GANGGUAN PERNAFASAN

DENGAN ASMATIKUS

B Y. K ELO M P O K 3

LatarB elakang
Angka kejadian penyakit alergi akhir-

akhir ini meningkat sejalan dengan


perubahan pola hidup masyarakat
modern,

polusi

baik

lingkungan

maupun zat-zat yang ada di dalam


makanan. Salah satu penyakit alergi
yang banyak terjadi di masyarakat
adalah penyakit asma.

pengertian
Asma merupakan gangguan radang kronik

saluran

napas.

mengalami

Saluran

radang

hiperresponsif

napas

kronik

sehingga

yang
bersifat
apabila

terangsang oleh factor risiko tertentu, jalan


napas menjadi tersumbat dan aliran udara
terhambat
sumbatan

karena
mukus,

konstriksi

bronkus,

danmeningkatnya

proses radang (Almazini, 2012)

Status asmatikus adalah asma yang

berat

dan

berespons
konvensional.

persisten

yang

terhadap
Serangan

berlangsung lebih dari 24 jam

tidak
terapi
dapat

Etiologi
1. Faktor predisposisi
a) Genetik

Dimana yang diturunkan adalah bakat


alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya yang
jelas. penderita sangat mudah terkena
penyakit asthma bronkhial jika terpapar
dengan faktor pencetus. Selain itu
hipersentifisitas saluran pernafasannya
juga bisa diturunkan.

Faktor Presipitasi

2.
a)

1)

Alergen
Inhalan,

yang

masuk

melalui

saluran

pernapasan, seperti : debu, bulu binatang.


2)

Ingestan, yang masuk melalui mulut, seperti :


makanan dan obat-obatan

3)

Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan


kulit, seperti : perhiasan, logam dan jam tangan

b)

Perubahan cuaca

c)

Stress

d)

Lingkungan kerja

e)

Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat

1. Asma tingkat I

Yaitu penderita asma yang secara klinis


normal tanpa tanda dan gejala asma atau
keluhan khusus baik dalam pemeriksaan fisik
maupun fungsi paru
2. Asma tingkat II

Yaitu penderita asma yang secara klinis


maupun pemeriksaan fisik tidak ada kelainan,
tetapi

dengan

tes

fungsi

paru

adanya obstruksi saluran pernafasan

nampak

3. Asma tingkat III

Yaitu penderita asma yang tidak memiliki


keluhan tetapi pada pemeriksaan fisik dan tes
fungsi paru memiliki tanda-tanda obstruksi

4. Asma tingkat IV

Yaitu penderita asma yang sering kita jumpai


di klinik atau rumah sakit yaitu dengan
keluhan
berbunyi

sesak

nafas,

batuk

atau

nafas

A SU H A N K EP ER A W ATA N
PA D A A SM ATIK U S

PENGKAJIAN
Airway Pada pasien dengan status
asmatikus
ditemukan
adanya
penumpukan sputum pada jalan nafas
Breathing. Adanya sumbatan pada
jalan nafas pasien untuk memperoleh
oksigen yang diperlukan oleh tubuh
Circulation. Adanya usah yang kuat
untuk memperoleh oksigen maka
jantung berkontraksi kuat untuk
memenuhi kebutuhan tersebut

Disability . Pada tahap pengkajian ini

diperoleh

hasil

bahwa

pasien

dengan

status asmatikus mengalami penurunan


kesadaran.
Exposure. Setelah tindakan pemantauan

airway, breathing, circulation, disability,


dan exposure dilakukan, maka tindakan
selanjutnya yakni transportasi ke rumah
sakit

untuk

mendapatkan

yang lebih intesif

pertolongan

D IA G N O SA K EP ER A W ATA N
A.

Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang


berhubungan

dengan

bronkokontriksi,

adnaya

bronkospame,

edema

mukosa dan dinding bronkus, serta sekresi


mucus yang kental.
B. Ketidakefektifan

berhubungan
pernafasan

pola

dengan
dengan

nafas
peningkatan

peningkatan

yang
kerja
kerja

pernafasan, hipoksemia, dan ancaman gagal


nafas, penurunan kemampuan bernafas

c. Perubahan perfusi jaringan perifer

berhubungan dengan kekurangan


oksigen, serangan asma menetap

IN TER V EN SI dan
IM DIAGNOSA
P LEM EN
SINAPAS TIDAK EFEKTIF
1 :TA
POLA
Tujuan : pola napas klien kembali efektif
Kriteria Hasil :
Klien tidak mengeluh sesak
RR 16-20 x/menit
Wajah rileks
Tidak ada penggunaan otot bantu napas

Intervensi :
Kaji frekuensi nafas, kedalaman pernafasan

dan ekspansi dada


Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi
nafas
Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisI
Kolaborasi pemberian oksigen tambahan

DIAGNOSA 2 : BERSIHAN JALAN NAPAS


TIDAK EFEKTIF
Tujuan : bersihan jalan nafas kembali efektif
Kriteria Hasil :
Dapat mendemonstrasikan batuk efektif
Dapat menyatakan strategi untuk menurunkan

kekentalan sekresi
Tidak ada suara nafas tambahan
Pernafasan klien normal (16-20x/mnt) tanpa ada
penggunaan otot bantu nafas

Intervensi:
Kaji warna, kekentalan, dan jumlah sputum
Atur posisi semi flowler.
Ajarkan cara batuk efektif
Bantu klien latihan nafas dalam

DIAGNOSA 3 : KERUSAKAN PERTUKARAN GAS


Tujuan : Klien akan mempertahankan

pertukaran gas dan oksigenasi adekuat.


Kriteria Hasil :
Frekuensi nafas 16 20 kali/menit
Frekuensi nadi 60 120 kali/menit
Warna kulit normal, tidak ada dipnea dan GDA

dalam batas normal

Intervensi:
Pantauan status pernafasan tiap 4 jam, hasil GDA,

pemasukan dan haluaran


Tempatkan klien pada posisi semi fowler
Berikan terapi intravena sesuai anjuran
Berikan oksigen melalui kanula nasal 4 l/mt
selanjutnya sesuaikan dengan hasil PaO2.
Berikan pengobatan yang telah ditentukan serta
amati bila ada tanda tanda toksisitas

EVA LU A SI
Pola Napas Tidak Efektif

Klien tidak mengeluh sesak


RR 16-20 x/menit
Wajah rileks
Tidak ada penggunaan otot bantu napas
Bersihan Jalan Napas Tidak efektif
Dapat mendemonstrasikan batuk efektif
Dapat menyatakan strategi untuk menurunkan
kekentalan sekresi
Tidak ada suara nafas tambahan
Pernafasan klien normal (16-20x/mnt) tanpa ada
penggunaan otot bantu nafas
Kerusakan Pertukaran Gas
Frekuensi nafas 16 20 kali/menit
Frekuensi nadi 60 120 kali/menit
Warna kulit normal, tidak ada dipnea dan GDA dalam
batas normal