Anda di halaman 1dari 20

BAYI DENGAN IBU HIV

ANGGA PRATAMA PUTRA


N 111 16 057

PEMBIMBING KLINIK
dr. SULDIAH, Sp.A

BAB
IPENDAHULUA

N
Di Indonesia, infeksi HIV merupakan salah satu masalah kesehatan
utama dan salah satu penyakit menular yang dapat mempengaruhi
kematian ibu dan anak. Human Immunodeficiency Virus (HIV)
telah ada di Indonesia sejak kasus pertama ditemukan yaitu pada
tahun 1987. Lebih dari 90% kasus anak terinfeksi HIV, ditularkan
melalui proses penularan dari ibu ke anak atau Mother To Child
Hiv Transmission (MTCT). Virus HIV dapat ditularkan dari ibu
yang terinfeksi HIV kepada anaknya selama kehamilan, saat
persalinan dan saat menyusui

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah
virus RNA dari subfamili retrovirus. Infeksi HIV
dapat menimbulkan defisiensi kekebalan
tubuh sehingga menimbulkan gejala berat
yang disebut dengan AIDS (acquired
immunodeficiency syndrome

EPIDEMIOLOGI

AIDS pada anak pertama kali dilaporkan oleh Oleske, Rubinstein dan
Amman pada tahun 1983 di Amerika Serikat. Sejak itu laporan jumlah AIDS
pada anak di Amerika makin lama makin meningkat. Pada bulan Desember
1989 di Amerika telah dilaporkan 1995 anak yang berumur kurang dari 13
tahun yang menderita AIDS dan pada bulan Maret 1993 terdapat 4.480
kasus.
Kasus AIDS pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1987 pada
seorang WNA di Bali. Sejak itu HIV/AIDS di Indonesia telah dilaporkan
hampir di semua provinsi kecuali Sulawesi Tenggara. Setelah selama 13
tahun sejak dilaporkannya kasus pertama

ETIOLOGI
Virus HIV termasuk kedalam famili Retrovirus sub famili
Lentivirinae. Virus famili ini mempunyai enzim yang disebut
reverse transcriptase. Enzim ini menyebabkan retrovirus mampu
mengubah informasi genetiknya kedalam bentuk yang terintegrasi
di dalam informasi genetik dari sel yang diserangnya. Jadi setiap
kali sel yang dimasuki retrovirus membelah diri, informasi genetik
virus juga ikut diturunkan

PATOFISIOLOGI

Mekanisme utama infeksi HIV adalah melalui perlekatan selubung


glikoprotein virus gp 120 pada molekul CD4. Molekul ini merupakan
reseptor dengan afinitas paling tinggi terhadap protein selubung virus.
Partikel HIV yang berikatan dengan molekul CD4 kemudian masuk ke dalam
sel hospes melalui fusi antara membran virus dengan membran sel hospes
dengan bantuan gp 41 yang terdapat pada permukaan membran virus
HIV menggunakan CD4 untuk masuk ke dalam host sel T dengan cara
mengikat gp120 pada CD4. Keterikatan menciptakan pergeseran dalam
konformasi gp120 HIV yang memungkinkan untuk mengikat ke co-reseptor
untuk diekspresikan pada sel inang. HIV menyisipkan peptida fusi ke dalam
sel host yang memungkinkan membran luar virus untuk berfusi dengan
membran sel

DIAGNOSIS HIV/AIDS PADA BAYI DAN


ANAK
Infeksi berulang: tiga atau lebih episode infeksi bakteri yang lebih
berat (seperti pneumonia, meningitis, sepsis, selulitis) pada 12 bulan
terakhir.
Parotitis kronik: pembengkakan parotid uni atau bilateral selama 14
hari, dengan atau tanpa diikuti rasa nyeri atau demam.
Limfadenopati generalisata: terdapat pembesaran kelenjar getah
bening pada dua atau lebih daerah ekstra inguinal tanpa penyebab
jelas yang mendasarinya.
Hepatomegali tanpa penyebab yang jelas: tanpa adanya infeksi virus
yang bersamaan seperti sitomegalovirus.

DIAGNOSIS HIV/AIDS PADA BAYI DAN


ANAK
Demam yang menetap dan/atau berulang: demam (> 38 C) berlangsung 7
hari, atau terjadi lebih dari sekali dalam waktu 7 hari.
Disfungsi neurologis: kerusakan neurologis yang progresif, mikrosefal,
perkembangan terlambat, hipertonia atau bingung (confusion).
Gejala atau kondisi yang sangat spesifik untuk anak dengan infeksi HIV
positif : pneumocystis pneumonia (PCP), kandidiasis esofagus, lymphoid
interstitial pneumonia (LIP) atau sarkoma kaposi. Keadaan ini sangat spesifik
untuk anak dengaan infeksi HIV. Fistula rekto-vaginal yang didapat pada
anak perempuan juga sangat spesifik tetapi jarang.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tes antibodi (Ab) HIV (ELISA atau rapid tests)


Uji antibodi HIV mendeteksi adanya antibodi HIV yang diproduksi sebagai bagian
respons imun terhadap infeksi HIV. Pada anak usia >18 bulan, uji antibodi HIV dilakukan
dengan cara yang sama seperti dewasa Uji antibodi HIV dilakukan usia >18 bulan karena
antibodi maternal yang ditransfer secara pasif selama kehamilan, dapat terdeteksi sampai
umur anak 18 bulan

Tes virologis
Tes virologis untuk RNA atau DNA yang spesifik HIV merupakan metode yang
paling dipercaya untuk memastikan diagnosis HIV pada anak dengan usia < 18 bulan,
dibutuhkan uji virologi HIV yang dapat memeriksa virus atau komponennya. Jika bayi
muda masih mendapat ASI dan tes virologis RNA negatif, perlu diulang 6 minggu setelah
anak benar-benar disapih untuk memastikan bahwa anak tidak terinfeksi HIV

PEMERIKSAAN PENUNJANG

CD4+
Adalah parameter terbaik untuk mengukur imunodefisiensi yang digunakan
bersamaan dengan penilaian klinis. CD4+ dapat menjadi petunjuk dini progresivitas
penyakit karena, nilai CD4+ menurun lebih dahulu dibandingkan kondisi klinis
Pemantauan CD4+ dapat digunakan untuk memulai pemberian ARV atau penggantian
obat. Makin muda umur, makin tinggi nilai CD4+. Untuk anak <5 tahun digunakan
persentase CD4+. Bila >5 tahun, persentase CD4+ dan nilai CD4+ absolut dapat
digunakan. Ambang batas kadar CD4+ untuk imunodefisiensi berat pada anak > 1 tahun
sesuai dengan risiko mortalitas dalam 12 bulan (5%)

Menentukan Status HIV Bayi

Kelainan atau gejala yang muncul biasanya tampak pada umur 1 tahun (23 %)
sampai dengan 4 tahun (40 %). Beberapa gejala klinik yang muncul seperti BBLR,
infeksi saluran nafas berulang
Jika pada tes konfirmasi antibodi HIV positif, maka pemeriksaan HIV PCR DNA
pada bayi harus dilakukan. Jika HIV PCR DNA pada bayi positif, profilaksis ARV
harus dihentikan dan bayi segera dirujuk ke spesialis HIV pediatrik untuk
konfirmasi diagnosis dan pengobatan infeksi HIV dengan terapi kombinasi standar
antiretroviral.

Tes Diagnostik Untuk Infeksi HIV Pada Bayi

HIV Antibodi pada anak umur > 18 bulan dilakukan dengan metode ELISA
IgG anti HIV Ab, dapat ditransfer melalui plasenta pada Trimester III. Bila
hasil positif sebelum umur 18 bulan, mungkin antibodi dari ibunya
VIRUS : HIV PCR DNA dari darah perifer pada waktu lahir, dan umur 3-4
bulan. Bila umur 4 bulan hasil negatif bayi bebas HIV, bila HIV PCV RNA
positif BIHA positif terkena HIV
CD4 count rendah (normal 2500-3500/ml pada anak, Dewasa 700-1000/ml).

Manajemen Bayi dengan Ibu HIV


Manajemen Umum

Bayi yang dilahirkan ibu dengan HIV positif maka :


Hormati kerahasiaan ibu dan keluarganya, dan lakukan konseling
pada keluarga;
Rawat bayi seperti bayi yang lain, dan perhatian khususnya pada
pencegahan infeksi;
Bayi tetap diberi imunisasi rutin, ada senter yang tidak langsung
memberi BCG;
Bila terdapat tanda klinis defisiensi imun yang berat, jangan diberi
vaksin hidup (BCG, OPV, Campak, MMR). Pada waktu pulang,
periksa DL, hitung Lymphosit T, serologi anti HIV, PCR DNA/RNA HIV.
Beri dukungan mental pada orang tuanya
Anjurkan suaminya memakai kondom, untuk pencegahan penularan
infeksi3

Manajemen Bayi dengan Ibu HIV


MANEJEMEN KHUSUS

Pencegahan Transmisi Vertikal


Pencegahan Primer

Pendekatan yang paling efektif untuk mencegah transmisi vertikal adalah pencegahan pada
wanita usia subur. Konseling sukarela, rahasia dan pemeriksaan darah adalah cara pencegahan
wanita HIV secara dini.

PENCEGAHAN SEKUNDER
Pemberian antiretrovirus secara profilaksis
Akhir-akhir ini telah terbukti bahwa pemberian profilaksis zidovudin dalam jangka waktu lebih
singkat cukup efektif asalkan bayi tidak diberikan ASI, oleh karena obat tersebut tidak dapat
mencegah transmisi melalui ASI
Pertolongan persalinan oleh petugas terampil
Pertolongan persalinan sebaiknya oleh tenaga kesehatan yang terampil dengan meminimalkan
prosedur yang invansif dan menetapkan universal precaution untuk mencegah transmisi HIV.
Pembersihan jalan lahir
Pembersihan jalan lahir dengan menggunakan chlorhexidine dengan konsentrasi cukup pada saat
intrapartum diusulkan sebagai salah satu cara yang dpat menurunkan insiden transmisi HIV
intrapartum antara ibu ke anak

Pencegahan Transmisi Vertikal


PENCEGAHAN SEKUNDER
Persalinan dengan SC
Suatu metaanalisis pada limabelas buah penelitian yang melibatkan 7800 pasangan
ibu-anak membuktikan bahwa bati yang dilahirkan secara SC yang dilakukan sebelum
ketuban pecah mempunyai kejadian transmisi vertikal jauh lebih rendah bila
dibandingkan dengan kelahiran pervagina.
Menjaga kesehatan ibu
Makanan ibu penting. Gangguan gizi ibu dapat merusak intergritas mukosa usu dan
memudahkan transmisi. Selain vit.A, riboflavin dan mikronutrien lain dapat
mempertahankan integritas mukosa usus5.

Prognosis
Tujuh puluh puluh delapan persen (78%) bayi yang terinfeksi HIV sudah akan
menunjukkan gejala klinis menjelang umur 2 tahun dan biasanya 3-4 tahun kemudian
meninggal7

BAB IIIPENUTUP
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang menyerang
sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS (Acquired
Immunodeficiency Syndrome). Artinya bahwa HIV berbeda dengan AIDS tetapi
HIV memungkinkan untuk menjadi pencetus terjadinya AIDS.
Pada ibu HIV atau daerah dimana Prevalensi HIV tinggi, maka proses
kelahiran disarankan dengan operasi sesar, dengan tujuan membiarkan
lapisan amnion tetap intak selama mungkin agar penularan HIV perinatal
terhindar.
Tidak ada tanda-tanda spesifik HIV yang dapat ditemukan pada saat lahir.
Bila terinfeksi pada saat peripartum,tanda klinis dapat ditemukan pada umur 26 minggu setelah lahir. Tetapi tes antibodi baru dapat dideteksi pada umur 18
bulan atau HIV PCR DNA sejak umur 1 hari sampai 6 bulan untuk menentukan
status HIV bayi.

BAB IIIPENUTUP
Manajemennya meliputi perawatan bayi seperti bayi yang lain, dengan
perhatian pada pencegahan infeksi dan cara pemberian minum; bayi tetap
diberi imunisasi rutin, kecuali terdapat tanda klinis defisiensi imun yang berat,
jangan diberi vaksin hidup.
Pada waktu pulang diberikan Antiretrovirus profilaksis (tergantung status
pemberian antiretrovirus ibu), dan dilakukan pemeriksaan darah PCR
DNA/RNA pada umur 1, 2, 4, 6 dan 18 bulan. Bila pemeriksaan PCR
DNA/RNA HIV positif dua kali berturut selang satu bulan mulai diberikan
pengobatan Anti Retrovirus

Terima
Kasih