Anda di halaman 1dari 33

Presentasi Lapsus BPPV (Benign

Paroxysmal Potitional Vertigo)


Oleh :
dr. Yenny Ardiani
Dokter Internsip RSU Caruban

Pendahuluan

Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)


merupakan vertigo yang dicetuskan oleh
perubahan posisi kepala atau badan terhadap
gaya gravitasi. Diagnosis BPPV ditegakkan
berdasarkan anamnesis dan manuver
provokasi.
Benign Paroxysmal Positional Vertigo
merupakan gangguan vestibular dimana 17%20 % pasien mengeluh vertigo. Pada populasi
umum prevalensi BPPV yaitu antara 11
sampai 64 per 100.000 (prevalensi 2,4%).

Tujuan

Agar dapat Mendiagnosis dan memberikan


penatalaksaan yang tepat sesuai dengan
kopetensi dokter umum serta melakukan
konsultasi atau rujukan dengan tepat.

Data Pasien

Nama : Tn S
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur: 74 tahun
No register : 15015410
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pekerjaan : Sudah tidak bekerja
Alamat : Gemarang
Tanggal masuk : 31 Oktober 2016 ; pukul :
06.33 WIB
Pembayaran : BPJS

Subyektif (Anamnesis)

Keluhan Utama : Pusing berputar


RPS : Pusing berputar (+) dirasakan sejak tadi
malam. Merasa lingkungan sekitar berputar (+)
lalu merasa mual (+) dan muntah (+) 3 kali.
Muntah berbentuk makanan yang dimakan.
Saat merasa berputar, pasien menutup
matanya dan dirasakan saat berpindah posisi
seperti miring. Perut terasa perih (+) dan sebah
(+). Badannya juga merasa keringat dingin.
Pasien masih mau makan tapi sedikit. Keluhan
lain seperti demam (-), telinga berdenging (-),
nyeri dada (-).

RPD : Hipertensi (+) sejak 2 tahun , Diabetes


Melitus disangkal
Riw pengobatan : minum candasartan 16 mg
Riw alergi : disangkal
RPK : HT dan DM disangkal
RPSos : Dulu saat muda merokok (+) berhenti
sekitar 15 tahun yang lalu. Pasien hanya tinggal
bersama istrinya. Lingkunag sekitar bersih, tidak
teralalu padat dan ada jarak tiap rumah. Kamar
madi dan jamban jadi satu.

Obyektif

Keadaan Umum : Lemah


Kesadaran
: composmentis
GCS
: E4 V5 M6
Tanda vital
Tekanan darah : 180/100
Nadi
: 88 x/menit, regular, isi cukup
Respirasi
: 24 x/menit
Suhu
: 36,2 C

Pemeriksaan fisik

Kepala : A/I/C/D (-/-/-/-), pupil isokor 3mm/3mm, refleks


cahaya langsung +/+, edema -/Leher
KGB
: tidak teraba
Trakea : deviasi (-)
Thoraks
Paru
Inspeksi : Tampak simetris dalam keadaan statis dan
dinamis
Palpasi : stem fremitus simetris kanan dan kiri
Perkusi: Sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-

Pemeriksaan fisik

Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis teraba di ICS V linea midklavikularis sinistra
Perkusi :

Batas kiri di linea midklavikularis sinistra


Batas atas di ICS II
Batas kanan di linea sternalis dekstra

Auskultasi : SI SII regular, gallop (-), murmur (-)


Abdomen
Inspeksi : Datar
Auskultasi : BU (+) normal
Palpasi : Supel (+), Nyeri tekan epigastrium (+), defans muskular
(-), Hepar dan Lien tidak teraba, turgor normal
Perkusi : Timpani, shifting dullness (-)
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2, edema (-),

Planing

Planing diagnosis
Ekg
Gds

Hasil Pemeriksaan Penunjang 31-102016


GDS 26-06-2016 : 135 mg/dl

Ekg Tanggal 31-10-2016

Assessment

Vertigo (BPPV) dengan Hipertensi gr II


DD :

Meniere syndrom

Planing terapi

Inf NS 15 tpm
Inj Ondancentron 3x1
Po : Betahistin 3x1
Candasartan 16 mg

Follow up di ruangan 31 Oktober 2016


S

Pusing berputar (+), mual (+), muntah (+).

KU : lemah
GCS
: 456
Tanda vital
TD : 170/80
N :76
RR :20
KM : 5/5
5/5

BPPV dgn Hipertensi gr II

Infus NS 20 tpm
Inj. Ondansetron 3x1
Flunarizin tab 3x 5 mg
Valsartan 1 x 80 mg

1 November 2016
S

Pusing berputar (+), mual (+), muntah (-).

KU : lemah
GCS
: 456
Tanda vital
TD : 150/90
N :78
RR :20
KM : 5/5
5/5

BPPV dgn Hipertensi gr II

Infus NS 20 tpm
Inj. Ondansetron 3x1
Flunarizin tab 3x 5 mg
Valsartan 1 x 80 mg

2 November 2016
S

Pusing berputar (+) tapi sudah berkurang, mual (-),


muntah (-).

KU : Cukup
GCS
: 456
Tanda vital
TD : 150/80
N :80
RR :20
KM : 5/5
5/5

BPPV dgn Hipertensi gr II

Rencana pulang karena pasien APS


Flunarizin tab 2x 5 mg prn
Valsartan 1 x 80 mg
Ranitidin 2x1
Kontrol poli syaraf

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian
BPPV
Benign Paroxysmal Positional Vertigo adalah
gangguan vestibuler yang paling sering
ditemui, dengan gejala rasa pusing berputar
diikuti mual muntah dan keringat dingin, yang
dipicu oleh perubahan posisi kepala terhadap
gaya gravitasi tanpa adanya keterlibatan lesi
di susunan saraf pusat.

Epidemiologi

Dari kunjungan 5,6 miliar orang ke rumah sak

Etiologi dan faktor resiko

BPPV diduga disebabkan oleh perpindahan otokonia kristal


(kristal karbonat Ca yang biasanya tertanam di sakulus dan
utrikulus). Kristal tersebut merangsang sel-sel rambut di
saluran setengah lingkaran posterior, menciptakan ilusi gerak.
Batu-batu kecil yang terlepas (kupulolitiasis) didalam telinga
bagian dalam menyebabkan BPPV. Batu-batu tersebut
merupakan kristal-kristal kalsium karbonat yang normalnya
terikat pada kupula. Kupula menutupi makula, yang adalah
struktur padat dalam dinding dari dua kantong-kantong
(utrikulus dan sakulus) yang membentuk vestibulum. Ketika
batu-batu terlepas, mereka akan mengapung dalam kanal
semisirkular dari telinga dalam.
Faktor resiko yag mempengaruhi keberhasilan terapi : stroke,
hipertensi, diabetes, trauma kepala, migraine, dan riwayat
gangguan keseimbangan sebulumnya maupun riwayat
gangguan saraf pusat

Klasifikasi

Vertigo ketinggian

Blackout speels :

b. Infark
1.
Saraf Vestibular:
brainstem

Vertigo

Perifer

Central

Bangkitan vertigo

Mendadak

Lambat

Derajat vertigo

Berat

Ringan

Pengaruh gerakan
kepala

(+)

(-)

Gejala otonom

(++)

(-)

Gejala pendengaran

(+)

(-)

Nistagmus

Perifer

Sentral

Nistagmus

Perifer

Sentral

Periode laten (2-20


detik)

(+)

(-)

Lama

< 2 menit

> 2 menit

Vertigo

(+)

(+) / (-)

Lelah

(+)

(-)

Arah

Horizontal

Vertikal

Diagnosis

Non farmakologi

Farmakologi

Simptomatis
Pengobatan suppresant vestibularyang
digunakan adalah golongan benzodiazepine
(diazepam, clonazepam) dan antihistamine
(meclizine, dipenhidramin).
Obat antivertigo

Operasi

Operasi dapat dilakukan pada pasien BPPV


yang telah menjadi kronik dan sangat sering
mendapat serangan BPPV yang hebat, bahkan
setelah melakukan manuver-manuver yang
telah disebutkan di atas
Terdapat dua pilihan intervensi dengan teknik
operasi yang dapat dipilih, yaitu singular
neurectomy(transeksi saraf ampula posterior)
dan oklusi kanal posterior semisirkular.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan untuk BPPV didasari dengan


kemampuan membuat gerakan sendiri
ataupun prosedur-prosedur dalam
mereposisikan kanalis, dengan tujuan
mengembalikan partikel-partikel yang
bergerak kembali ke posisi semula yaitu pada
makula utrikulus.
Penatalaksanaan :

Non farmakologi
Farmakologi
Operasi

Prognosis

Pasien perlu untuk diedukasi tentang BPPV. Satu


dari tiga pasien sembuh dalam jangka waktu 3
minggu, tetapi kebanyakan sembuh setelah 6
bulan dari serangan.
Pasien harus diberitahu bahwa BPPV dapat
dengan mudah ditangani, tetapi harus diingatkan
bahwakekambuhan sering terjadi bahkan jika
terapi manuvernya berhasil, jadi terapi lainnya
mungkin dibutuhkan.
Beberapa studi menunjukkan bahwa 15% terjadi
kekambuhan pada tahun pertama, kemudian 50%
kekambuhan terjadi pada 40 bulan setelah terapi.

Keberhasilan terapi BPPV dibagi 3 yaitu: