Anda di halaman 1dari 42

Mekanisme Pengelolaan Air Limbah

dan Perijinan IPLC

say no to Evironment damage, say yes to save our earth

BIDANG TATA LINGKUNGAN


BADAN LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAWA TIMUR

Dasar Hukum
1. UU NO. 7/2004 TTG SUMBER DAYA AIR,
2. UU NO. 32/2004 TTG PEMERINTAHAN DAERAH
3. UU NO. 32/2009 TTG PERLINDUNGAN & PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP,
4. PP NO. 82/2001 TTG PENGELOLAAN KUALITAS AIR dan
PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR,
5. PP NO. 38/2007 TTG PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAH ANTARA
PEMERINTAH, PEMERINTAH PROVINSI DAN PEMERINTAH DAERAH
KAB/KOTA
6. PERMENLH NO 01/2010 TTG TATA LAKSANA PENGENDALIAN
PENCEMARAN AIR,
7. PERDA NO 2 TAHUN 2008 TTG PENGELOLAAN KUALITAS AIR dan
PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR DI PROVINSI JAWA TIMUR.
8. PERDA NO 5 TAHUN 2011 TTG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR
9. DLL.

GAMBARAN UMUM
PROVINSI JAWA TIMUR

Luas Wilayah : 47.157,72


Km2
Jumlah Penduduk :
36.947.559 jiwa
Wilayah Adm.
Pemerintahan :
29
Kab ; 9 Kota; 654
Kecamatan;
784 Kelurahan ; 7.684
Desa
Luas Kawasan Hutan :
1.363.719,3 Ha
Kawasan DAS (Daerah
Aliran Sungai) :
Brantas = 505,7 juta
m3;
Bengawan Solo Hilir =
142,45 juta m3;
Pekalaen Sampean
Baru = 21, 85 juta m3;
Madura /Blega Saroka
= 10 juta m3

Sumber Air Limbah:


1. Domestik/Hotel/Restoran
2. Rumah Sakit
3. Pertanian
4. Industri dan kegiatan
usaha lainnya

POTENSI PENCEMARAN AIR


DARI SUMBER LIMBAH DOMESTIK

11/30/16

PENCEMARAN AIR DARI LIMBAH PERTANIAN

11/30/16

PENCEMARAN AIR DARI LIMBAH INDUSTRI DAN KEGIATAN USAHA LAINNYA

11/30/16

Penanganan Limbah Cair


IPAL atau sering disebut Instalasi Pengolahan air
Limbah merupakan sebutan bagi fasilitas
pengolahan air limbah sebelum dibuang ke
lingkungan. Pada IPAL air limbah diolah melalui
berbagai proses untuk menghilangkan atau
mengurangi bahan-bahan pencemar yang
terkandung dalam limbah sehingga tidak melebihi
baku mutu. Setelah melalui proses pengolahan,
air limbah diharapkan dapat ke lingkungan
dengan aman.
8

1. Pengolahan Primer
Tahap pengolahan primer air limbah adalah
berupa proses pengolahan secara fisika:
o limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan
disaring menggunakan penyaring (bar screen). Metode
ini disebut penyaringan (screening).
o limbah yang telah disaring kemudian disalurkan ke
suatu bak (grit chamber) yang berfungsi untuk
memisahkan pasir dan partikel padat yang berukuran
besar. Cara kerjanya adalah dengan memperlambat
aliran limbah sehingga partikel-partikel padat jatuh ke
dasar bak, sementara air limbah terus dialirkan.
9

Setelah melalui pengolahan tahap awal, air limbah


dialirkan ke bak pengendapan setelah sebelumnya
melalui proses flokulasi dan koagulasi. Metode
pengendapan adalah metode pengolahan utama dan
yang paling banyak digunakan pada proses
pengolahan primer air limbah. Di dalam bak
pengendap, air limbah didiamkan agar partikel
padat yang tersuspensi dalam air limbah dapat
mengendap ke dasar bak. Endapan partikel tersebut
akan membentuk lumpur yang kemudian akan
dipisahkan dari air limbah.

10

Selain metode pengendapan, dikenal juga metode


pengapungan (flotation). Metode ini efektif
digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa
minyak dan lemak. Proses pengapungan dilakukan
dengan
menggunakan
alat
yang
dapat
menghasilkan gelembung udara berukuran kecil.
Gelembung udara tersebut akan membawa
partikel-partikel minyak dan lemak ke permukaan
limbah sehingga kemudian disingkirkan.
Jika limbah cair sudah bisa diolah dengan
pengolahan primer, maka limbah cair bisa di
buang ke lingkungan. Namun bila masih tercemar,
limbah cair perlu dilakukan pengolahan kembali.
11

2. Pengolahan Sekunder
Tahap pengolahan sekunder merupakan proses
pengolahan secara biologi, yaitu dengan
melibatkan mikroorganisme yang dapat mengurai/
mendegradasi bahan organik.
Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis
yang umumnya digunakan, yaitu metode
penyaringan dengan tetesan (trickling filter),
metode lumpur aktif (aktivited sludge) dan metode
kolam perlakuan (treatment ponds/lagoons)

12

a. Metode trickling filter


Metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk
mendegradasi bahan organik melekat dan tumbuh
pada suatu lapisan media kasar, biasanya berupa
serpihan batu atau plastik dengan ketebalan 1-3
m. Limbah cair kemudian disemprotkan ke
permukaan media dan dibiarkan merembes
melewati media tersebut. Selama proses
perembesan, bahan organik yang terkandung
dalam limbah akan didegradasi oleh bakteri aerob.
Setelah merembes sampai dasar lapisan media,
limbah akan menetes ke suatu wadah dan
disalurkan ke tangki pengendapan.
13

b. Metode activated sludge


Pada metode ini, limbah cair disalurkan ke sebuah
tangki dan didalamnya limbah dicampur dengan
lumpur yang kaya akan bakteri aerob, proses
degradasi berlangsung di dalam bak tersebut
selama beberapa jam, dibantu dengan pemberian
gelembung udara untuk aerasi (pemberian
oksigen). Aerasi dapat mempercepat kerja bakteri
dalam mendegradasi limbah. Selanjutnya, limbah
disalurkan ke tangki pengendapan untuk
pengendapan,
sementara
lumpur
yang
mengandung bakteri disalurkan kembali ke tangki
aerasi untuk mengalami proses degradasi kembali.
14

c. Metode treatment ponds/lagoons


Metode ini merupakan metode yang murah
namum prosesnya berlangsung relatif lamban.
Pada metode ini, limbah cair ditempatkan dalam
kolam-kolam tebuka. Algae yang tumbuh
dipermukaan
kolam
akan
berfotosintesis
menghasilkan
oksigen.
Oksigen
tersebut
kemudian digunakan oleh bakteri aerob untuk
proses penguraian/ degradasi bahan organik dalam
limbah. Pada metode ini, terkadang kolam juga
diaerasi. Selama proses degradasi di kolam,
limbah juga mengelami proses pengendapan.
15

3. Pengolahan Tersier
Pengolahan tersier dilakukan jika setelah
pengolahan primer dan sekunder masih terdapat
zat tertentu dalam limbah cair yang dapat
berbahaya bagi lingkungan atau masyarakat.
Pengolahan tersier bersifat khusus, artinya
pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat
yang tersisa dalam limbah cair. Umumnya zat
yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya melalui
proses pengolahan primer maupun sekunder
adalah zat-zat anorganik terlarut, seperti nitrat,
fosfat dan garam-garaman.
16

Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan


lanjutan (advanced treatment). Pengolahan ini
meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan
fisika. Contoh metode yang pengolahan tersier
yang sering digunakan adalah metode saringan
pasir (sand filter), saringan multimedia, precoal
filter, microstaining, vakum filter, penyerapan
(adsorption) dengan karbon aktif.
Metode tersier jarang diaplikasikan pada fasilitas
pengolahan limbah. Hal ini desebabkan biaya
yang diperlukan untuk melakukan proses
cenderung tinggi sehingga tidak ekonomis.
17

4. Desinfeksi
Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan
untuk membunuh atau mengurangi mikroorganisme
patogen yang ada dalam limbah cair. Mekanisme
desinfeksi dapat secara kimia, yaitu dengan
menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan
perlakuan fisik. Dalam menentukan senyawa/zat
untuk membunuh mikroorganisme, terdapat
beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
Daya racun zat, waktu kontak yang diperlukan,
efektifitas zat, dosis yang digunakan, tahan terhapat
air, biayanya murah.
18

5. Pengolahan Lumpur
Setiap tahap pengolahan cair, baik primer,
sekunder maupun tersier, kana menghasilkan
endapan polutan berupa lumpur. Lumpur tersebut
tidak dapat dibuang secara langsung melainkan
perlu diolah lebih lanjut. Endapan lumpur hasil
pengolahan limbah biasanya akan diolah dengan
cara diurai/ dicerna secara anaerob (anaerob
digestion), kemudian disalurkan ke beberapa
alternatif, yaitu dibuang ke laut atau lahan
pembuangan (landfill), dijadikan pupuk kompos,
atau dibakar (incinerated).
19

Setelah melalui proses pengolahan, dan air


limbah telah memenuhi baku mutu air
limbah sesuai dengan Pergub No. 72 tahun
2013 sebagaimana telah dirubah dalam
Pergub No. 52 tahun 2014 tentang Baku
Mutu Air Limbah bagi Industri dan Kegiatan
usaha lainnya maka air limbah dapat
dibuang
ke
lingkungan
setelah
mendapatkan Ijin Pembuangan Limbah Cair
(IPLC) yang diterbitkan oleh Bupati/Walikota
atau untuk aplikasi ke tanah

Permohonan IPLC wajib memenuhi


Persyaratan:
1) Persyaratan administrasi meliputi:
a. Isian formulir permohonan izin;
b. izin yang berkaitan dengan usaha
dan/atau kegiatan;
c. dokumen Amdal, UKL-UPL, atau
dokumen lain yang dipersamakan
dengan dokumen dimaksud.

2)Persyaratan teknis terdiri atas:


a.upaya pencegahan pencemaran,
minimisasi air limbah, efisiensi
energi dan sumber daya yang harus
dilakukan oleh penanggung jawab
usaha dan/atau kegiatan yang
berkaitan dengan pengelolaan air
limbah
b.kajian dampak pembuangan air
limbah terhadap pembudidayaan
ikan, hewan, dan tanaman, kualitas
tanah
dan
air
tanah,
serta
kesehatan

3) Formulir permohonan izin paling


sedikit memuat informasi:
a. identitas pemohon izin;
b. ruang lingkup air limbah;
c. sumber dan karakteristik air
limbah;
d. sistem pengelolaan air limbah;
e. debit, volume, dan kualitas air
limbah;
f. lokasi titik penaatan dan
pembuangan air limbah;
g. jenis dan kapasitas produksi;

h. jenis dan jumlah bahan baku yang


digunakan;
i. hasil pemantauan kualitas sumber air
j. penanganan sarana dan prosedur
penanggulangan keadaan
darurat.

Permohonan Aplikasi air limbah ke


tanah melalui tahapan:
a. pengajuan permohonan izin;
b. analisis dan evaluasi permohonan
izin; dan
c. penetapan izin.

Permohonan Aplikasi air limbah ke


tanah wajib memenuhi Persyaratan:
1) Persyaratan administrasi meliputi:
a. Isian formulir permohonan izin;
b. izin yang berkaitan dengan usaha
dan/atau kegiatan;
c. dokumen Amdal, UKL-UPL, atau
dokumen lain yang dipersamakan
dengan dokumen dimaksud.

2)Persyaratan teknis terdiri atas:


a. kajian pemanfaatan air limbah ke
tanah untuk aplikasi pada tanah
terhadap pembudidayaan ikan,
hewan, dan tanaman, kualitas tanah
dan air tanah, dan kesehatan
masyarakat;
b. kajian potensi dampak dari kegiatan
pemanfaatan air limbah ke tanah
untuk aplikasi pada tanah terhadap
pembudidayaan ikan, hewan, dan
tanaman, kualitas tanah dan air
tanah, dan kesehatan masyarakat;

c. upaya pencegahan pencemaran,


minimisasi air limbah, efisiensi energi
dan sumberdaya yang dilakukan
usaha dan/atau kegiatan yang
berkaitan dengan pengelolaan air
limbah termasuk rencana pemulihan
bila terjadi pencemaran.

3) Formulir permohonan izin paling


sedikit memuat informasi:
a. identitas pemohon izin;
b. jenis dan kapasitas produksi
bulanan senyatanya;
c. jenis dan jumlah bahan baku yang
digunakan;
d. hasil pemantauan kualitas sumber
air;
e. ruang lingkup air limbah yang akan
dimintakan izin;

f. sumber dan karakteristik air limbah


yang dihasilkan;
g. jenis dan karakteristik air limbah
yang dimanfaatkan;
h. sistem pengelolaan air limbah untuk
memenuhi kualitas air limbah yang
akan dimanfaatkan;
i. debit, volume dan kualitas air limbah
yang dihasilkan;
j. debit, volume dan kualitas air limbah
yang dimanfaatkan;

k. lokasi, luas lahan dan jenis tanah


pada lahan yang digunakan untuk
pengkajian pemanfaatan air limbah;
l. lokasi, luas lahan dan jenis tanah
pada lahan yang digunakan untuk
pemanfaatan air limbah;
m. metode dan frekuensi pemanfaatan
pada lokasi pemanfaatan;
n. jenis, lokasi, titik, waktu dan
parameter pemantauan;
o. penanganan sarana dan prosedur
penanggulangan keadaan darurat.

1) Bupati/walikota menetapkan
persyaratan dan tata cara perizinan
lingkungan yang berkaitan dengan
pemanfaatan air limbah ke tanah
untuk aplikasi pada tanah.
2) Persyaratan dan tata cara perizinan
lingkungan yang berkaitan dengan
pemanfaatan air limbah ke tanah
untuk aplikasi pada tanah diatur
dengan peraturan bupati/walikota.

1) Bupati/walikota menetapkan
persyaratan dan tata cara perizinan
lingkungan yang berkaitan dengan
pemanfaatan air limbah ke tanah
untuk aplikasi pada tanah.
2) Persyaratan dan tata cara perizinan
lingkungan yang berkaitan dengan
pemanfaatan air limbah ke tanah
untuk aplikasi pada tanah diatur
dengan peraturan bupati/walikota.

3) Dalam peraturan bupati/walikota


dimaksud, paling sedikit memuat:
a. penunjukan instansi yang
bertanggungjawab dalam proses
perizinan;
b. persyaratan perizinan;
c. prosedur perizinan;
d. kewajiban penanggungjawab
usaha dan/atau kegiatan dalam
pelaksanaan pemanfaatan air
limbah ke tanah untuk aplikasi
pada tanah;

Kewajiban penanggungjawab usaha


dan/atau kegiatan dalam pelaksanaan
pemanfaatan air limbah ke tanah
untuk aplikasi pada tanah antara lain:
1. pemenuhan persyaratan teknis yang
ditetapkan di dalam izin
pemanfaatan air limbah ke tanah
untuk aplikasi pada tanah termasuk
persyaratan mutu air limbah yang
dimanfaatkan;
2. pembuatan sumur pantau;

3. penyampaian hasil pemantauan


terhadap air limbah, air tanah,
tanah, tanaman, ikan, hewan dan
kesehatan masyarakat;
4. penyampaian informasi yang
memuat:
a) metode dan frekuensi
pemantauan;
b) lokasi dan/atau titik pemantauan;
c) metode dan frekuensi
pemanfaatan; dan
d) lokasi dan jenis tanah

5. penyampaian laporan hasil


pemantauan kepada bupati/walikota
paling sedikit 6 (enam) bulan sekali
dengan tembusan disampaikan
kepada gubernur dan Menteri.
Larangan bagi penanggungjawab
usaha an/atau kegiatan dalam
pelaksanaan pemanfaatan air limbah
ke tanah untuk aplikasi pada tanah
terdiri atas:
6. memanfaatkan air limbah ke tanah
untuk aplikasi pada lahan gambut;

2. memanfaatkan air limbah ke tanah


untuk aplikasi pada lahan dengan
permeabilitas lebih besar 15
cm/jam;
3. memanfaatkan air limbah ke tanah
untuk aplikasi pada lahan dengan
permeabilitas kurang dari 1,5
cm/jam;
4. memanfaatkan air limbah ke tanah
untuk aplikasi pada lahan dengan
kedalaman air tanah kurang dari 2
meter;
5. membiarkan air larian (run off)

6. mengencerkan air limbah yang


dimanfaatkan;
7. membuang air limbah pada tanah di
luar lokasi yang ditetapkan untuk
pemanfaatan;
8. membuang air limbah ke sungai
yang air limbahnya melebihi baku
mutu air limbah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundangundangan; dan.
9. larangan lain sesuai dengan
kebutuhan masing-masing daerah
yang bersangkutan.

Oleh :

Badan Lingkungan Hidup Propinsi Jawa Timur

SEKIAN & TERIMA KASIH