Anda di halaman 1dari 33

KELUARGA

SAKINAH
KELOMPOK 7
Dara Agastya Winata052001300017
Fitria Kusuma 052001300027
Rintisdayati Anindita. R052001300057
Anindira Dena Vania
052001300079
Hana Silvana - 052001300088

Pembentukan Keluarga

Hamd
ah
Rajih

keluarga
adalah
institusi
yang
mengandung unsur suami, istri, dan
anak dan keluarga merupakan salah
satu unit terpenting yang membentuk
masyarakat,
merupakan
batu
pertama
dalam
bangunan
masyarakat, komponen dasar, pusat
gerak, denyut jantung, serta corong
masyarakat
dan
jembatan
penghubung
antara
individu
ke
masyarakat

Poin-poin spesifik keluarga


Kumpulan individu yang terjalin ikatan perkawinan
(suami isteri) dan hubungan darah (orangtua anak)
Tinggal dalam satu tempat tinggal (rumah)
Ada jalinan interaksi antarindividu menyangkut peranperan sebagai suami istri, ayah, ibu, anak, cucu dan
saudara/i
Hidup bersama di bawah satu keyakinan

Urgensi Keluarga dalam Islam

Hamd
ah
Rajih

1. Perkawinan dalam islam merupakan sarana


yang sesuai dengan kodrat kemanusiaan
2. Suami istri untuk selalu berjalan pada garis
petunjuk ajaran islam dalam kehidupan
keluarga.
3. Keluarga merupakan wahana tempat
hidup,
tempat
saling
memberikan
pendidikan dan tempat interaksi antara
anggota

Pernikahan ?
Pernikahan
dalam
islam
dapat
diartikan
sebagai
sesuatu
akad
perjanjian yang kuat dan suci, yang
diberkahi antara laki-laki dan seorang
wanita, yang dengannya dihalalkan bagi
keduanya yang sebelumnya diharamkan

Perbuatan mulia dan


bernilai ibadah

Penuh kasih sayang,


tanggung jawab,
kebahagiaan,
keharmonisan dan saling
pengertian.

Menjaga diri dari


bujukan setan dan
terhindar dari perbuatan
zina

Hukum Nikah
Mubah/
Jaiz
(diperbolehkan)
ibadah atauboleh bagi orang yang
tidak khawatir akan melakukan zina
jika tidak menikah, atau tidaktakut
berbuat aniaya bila ia menikah

Sunnah. Apabila seseorang sudah


dewasa, sehat, punya nafkah dan
kemauan serta khawatir akan
terjerumus ke dalam perbuatan
maksiat.

Wajib. hukum melakukan pernikahan yang

asalnya mubah dapatberubah menjadi


wajib, manakala seseorang merasa sangat
khawatir akan melakukanperbuatan zina
jika ia tidak melangsungkan pernikahan

Makruh. Orang yang mempunyai cukup


hasrat untuk melakukan pernikahan, telah
memenuhi kedewasaan umur dengan
jasmani yang sehat dan rohani yang
sempurna, tetapi ia tidakmampu memberi
nafkah dan membiayai rumah tangga

Haram. Melakukan suatu pernikahan akan menjadi haram, jika dalam perbuatan itu
seseorang mempunyai iktikad yang tidak terpuji, seperti untuk menyakiti atau menganiaya
istrinya.Begitu juga seseorang yang berniat sekedar untuk mempermainkan pasangannya,
makaharam baginya melakukan pernikahan.

Rukun Nikah
1. Calon mempelai pria dan wanita
2. Wali calon mempelai wanita.
Di antara sekian wali, maka yang paling berhak untuk menjadi wali
si wanita adalah ayahnya, kemudian kakeknya (bapak dari ayahnya)
dan seterusnya ke atas (bapaknya kakek, kakeknya kakek, dst.)
3. Dua orang saksi laki-laki
Pelaksanaan akad nikah akan sah apabila dua orang saksi yang
menyaksiakan akad nikahtersebut, berdasarkan Hadis Nabi SAW:
4. Ijab dan Qabul
Ijab adalah ucapan penyerahan calon mempelai wanita dari
walinya kepada calon mempelai pria untuk dinikahi.
Qabul, yaitu ucapan penerimaan pernikahan dari calon mempelai
pria atas walinya.

c. Tujuan Hidup Berkeluarga


dalam Islam
Lelaki dan perempuan lajang hendaklah menyiapkan diri menuju
pernikahan yang sesuai dengan tuntunan agama dan aturan negara.
Jika belum memiliki cukup kekuatan motivasi untuk menikah,
perhatikanlah berbagai tujuan mulia dari pernikahan yang dituntunkan
agama. Menikah itu bukan semata-mata penyaluran hasrat biologis,
namun menikah merupakan sarana terbentuknya masyarakat, bangsa
dan negara yang kuat serta bermartabat.
Menikah memiliki tujuan-tujuan mulia dan jelas. Bukan semata-mata
urusan pribadi seseorang. Di antara tujuan pernikahan adalah sebagai
berikut:
1. Melaksanakan tuntunan para Rasul
2. Menguatkan Ibadah
3. Menjaga kebersihan dan kebaikan diri
4. Mendapatkan ketenangan jiwa
5. Mendapatkan keturunan
6. Investasi akhirat
7. Menyalurkan fitrah

Melaksanakan Tuntunan Para Rasul


Menikah adalah ajaran para Nabi dan Rasul. Hal ini
menunjukkan, pernikahan bukan semata-mata urusan
kemanusiaan semata, namun ada sisi Ketuhanan yang sangat
kuat. Oleh karena itulah menikah dicontohkan oleh para Rasul
dan menjadi bagian dari ajaran mereka, untuk dicontoh oleh
umat manusia.
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul
sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri
dan keturunan. (QS. Ar Radu: 38).
Ayat di atas menjelaskan bahwa para Rasul itu menikah dan
memiliki keturunan. Rasulullah Saw bersabda, Empat perkara
yang termasuk sunnah para rasul, yaitu sifat malu, memakai

Menguatkan Ibadah
Menikah adalah bagian utuh dari ibadah, bahkan disebut
sebagai separuh agama. Tidak main-main, menikah bukan
sekadar proposal pribadi untuk kepatutan dan kepantasan
hidup bermasyarakat. Bahkan menikah menjadi sarana
menggenapi sisi keagamaan seseorang, agar semakin kuat
ibadahnya.
Nabi Saw bersabda, Apabila seorang hamba menikah maka
telah sempurna separuh agamanya, maka takutlah kepada
Allah SWT untuk separuh sisanya (HR. Al Baihaqi dalam
Syuabul Iman).

Menjaga kebersihan dan kebaikan diri


Semua manusia memiliki insting dan kecenderungan kepada pasangan jenisnya
yang menuntut disalurkan secara benar. Apabila tidak disalurkan secara benar,
yang muncul adalah penyimpangan dan kehinaan. Banyaknya pergaulan bebas,
fenomena aborsi di kalangan mahasiswa dan pelajar, kehamilan di luar
pernikahan, perselingkuhan, dan lain sebagainya, menjadi bukti bahwa
kecenderungan syahwat ini sangat alami sifatnya. Untuk itu harus disalurkan
secara benar dan bermartabat, dengan pernikahan.
Rasulullah Saw bersabda, Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian
berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih
menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan
barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena
shaum itu dapat membentengi dirinya (Hadits Shahih Riwayat Imam Ahmad,
Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasai, Darimi, dan Baihaqi).
Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari dua
keburukan maka ia akan masuk surga: sesuatu di antara dua bibir (lisan) dan
sesuatu di antara dua kaki (kemaluan) (HR. Tirmidzi dan Al Hakim. Albani
mentashihkan dalam As Sahihah).

Mendapatkan ketenangan jiwa


Perasaan tenang, tenteram, nyaman atau disebut sebagai
sakinah, muncul setelah menikah. Tuhan memberikan
perasaan tersebut kepada laki-laki dan perempuan yang
melaksanakan pernikahan dengan proses yang baik dan
benar. Sekadar penyaluran hasrat biologis tanpa menikah,
tidak akan bisa memberikan perasaan ketenangan dalam jiwa
manusia.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya
kamu cenderung dan tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya
di antaramurasakasih dan sayang (QS. Ar Rum: 21).

Mendapatkan keturunan
Tujuan mulia dari pernikahan adalah mendapatkan
keturunan. Semua orang memiliki kecenderungan dan
perasaan senang dengan anak. Bahkan Nabi menuntutkan
agar menikahi perempuan yang penuh kasih sayang serta
bisa melahirkan banyak keturunan. Dengan memiliki anak
keturunan, akan memberikan jalan bagi kelanjutan generasi
kemanusiaan di muka bumi. Jenis kemanusiaan akan
terjaga dan tidak punah, yang akan melaksanakan misi
kemanusiaan dalam kehidupan.
Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri)
dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu
bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki dari yang
baik (QS. An-Nahl: 72).

Investasi akhirat
Anak adalah investasi akhirat, bukan semata-mata kesenangan
dunia. Dengan memiliki anak yang shalih dan shalihah, akan
memberikan kesempatan kepada kedua orang tua untuk
mendapatkan surga di akhirat kelak.
Rasulullah Saw bersabda, Diharikiamat nanti orang-orang
disuruh masuk ke dalam surga, namun mereka berkata: wahai
Tuhan kami, kami akan masuk setelah ayah dan ibu kami masuk
lebih dahulu. Kemudian ayah dan ibu mereka datang. Maka Allah
berfirman: Kenapa mereka masih belum masuk ke dalam surga,
masuklah kamu semua ke dalam surga. Mereka menjawab: wahai
Tuhan kami, bagaimana nasib ayah dan ibu kami? Kemudian Allah
menjawab: masuklah kamu dan orang tuamu ke dalam surga
(HR. Imam Ahmad dalam musnadnya).

Menyalurkan fitrah
Di antara fitrah manusia adalah berpasangan, bahwa lakilaki dan perempuan diciptakan untuk menjadi pasangan
agar saling melengkapi, saling mengisi, dan saling berbagi.
Kesendirian merupakan persoalan yang membuat
ketidakseimbangan dalam kehidupan. Semua orang ingin
berbagi, ingin mendapatkan kasih sayang dan menyalurkan
kasih sayang kepada pasangannya.
Manusia juga memiliki fitrah kebapakan serta keibuan. Lakilaki perlu menyalurkan fitrah kebapakan, perempuan perlu
menyalurkan fitrah keibuan dengan jalan yang benar, yaitu
menikah dan memiliki keturunan. Menikah adalah jalan yang
terhormat dan tepat untuk menyalurkan berbagai fitrah
kemanusiaan tersebut.

Membentuk peradaban
Menikah menyebabkan munculnya keteraturan hidup dalam masyarakat.
Muncullah keluarga sebagai basis pendidikan dan penanaman nilai-nilai
kebaikan. Lahirlah keluarga-keluarga sebagai pondasi kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan menikah, terbentuklah
tatanan kehidupan kemasyarakatan yang ideal. Semua orang akan terikat
dengan keluarga, dan akan kembali kepada keluarga.
Perhatikanlah munculnya anak-anak jalanan yang tidak memiliki keluarga
atau terbuang dari keluarga. Mereka menggantungkan kehidupan di tengah
kerasnya kehidupan jalanan. Padahal harusnya mereka dibina dan dididik di
tengah kelembutan serta kehangatan keluarga. Mereka mungkin saja korban
dari kehancuran keluarga, dan tidak bisa dibayangkan peradaban yang akan
diciptakan dari kehidupan jalanan ini.
Peradaban yang kuat akan lahir dari keluarga yang kuat. Maka menikahlah
untuk membentuk keluarga yang kuat. Dengan demikian kita sudah
berkontribusi menciptakan lahirnya peradaban yang kuat serta bermartabat.

d.

Fungsi Keluarga dalam Islam

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat


perlu diberdayakan fungsinya agar dapat
mensejahterakan umat manusia.
Dalam Islam fungsi keluarga meliputi :
1. Penerus misi umat Islam
2. Perlindungan terhadap akhlak
3. Wahana pembentukan generasi Islam
4. Memelihara status sosial dan ekonomi
5. Menjaga kesehatan
6. Memantapkan spiritual (Ruhiyyah)
7. Menegakan keluarga yang Sakinah

1. Penerus misi umat Islam


Dalam sejarah, dapat kita lihat bagaimana islam sanggup
berdiri tegap dalam menghadapi berbagai ancaman dan
bahaya. Demikianlah berlomba-lomba untuk mendapatkan
keturunan yang bermutu merupakan faktor penting yang telah
memelihara keberadaan umat islam yang sedikit. Pada waktu
itu menjadi pendukung islam dalam mempertahankan
kehidupannya ( Berkeluarga )

2. Perlindungan terhadap akhlak


Islam memandang pembentukan keluarga sebagai sarana
efektif memelihara pemuda dari kerusakan dan melindungi
masyarakat dari kekacauan. Karena itulah Rasulullah
bersabda : Wahai pemuda, siapa diantara kalian yang
berkemampuan maka menikahlah, karena nikah lebih
melindungi mata dan farji, dan barang siapa yang tidak mampu
maka hendaklah shoum, karena shoum itu baginya daalah
penenang. ( HR. AL-Khosah dari Abdullahbin Masud )

3. Wahana pembentukan generasi Islam


Keluarga lah sekolah kepribadian pertama dan utama bagi anak.
Penyair kondang Hafidz Ibrohim mengatakan : Ibu adalah sekolah
bagi anak-anaknya. Bila engkau mendidiknya berarti engkau telah
menyiapkanbangsa yang baik perangainya. Ibu sangat berperan
dalam pendidikan keluarga, sementara ayah mempunyai tugas
yaitu menyediakansarana bagi berlangsungnya pendidkan
tersebut. Keluarga lah yang menerapkan sunnah Rasul dari
bangun tidur sampai sampai akan tidur lagi. Maka tercipta lah
generasi islam yang handal dan berkualitas

4. Memelihara status sosial dan ekonomi


Dalam pembentukan keluarga, islam mewujudkan ikatan dan
persatuan. Dengan adanya ikatann keturunan maka diharapkan
akan mempererat tali persaudaraan anggota masyarakat dan
bangsa.
Islam memperbolehkan pernikahan antar bangsa Arab dan Ajam
( Non Arab ),antara kulit putih dan kulit hitam, anatara orang timur
dengan orang barat. Berdasarkan fakta ini Islam sudah
mendahului semua system Demokrasi dalam mewujudkan
persatuan ummat

5. Menjaga kesehatan
Pernikahan memelihara para pemuda yang sering melakukan
kebiasaan onani yang menguras tenaga dan dapat mencegah
penyakit kelamin.

6. Memantapkan spiritual (Ruhiyyah)


Pernikahan sebagai pelengkap dari keimanan dan pelapang jalan
menuju sabilillah, hati menjadi tenang bersih dari berbagi
kecenderungan dan jiwa terlindung dari berbagai was was

7. Menegakan keluarga yang Sakinah


Keluarga Sakinah adalah keluarga yang terbentuk dari pasangan
yang baik kemudian menerapakan nilai nilai Islam dalam
melakukan hak dan kewajiban rumah tanggasertam mendidik
anak dalam suasana mawadah warohmah. Dan difirmankan
Allah SWT dalam surat Ar-Ruum ayat 21 artinya :

Dan diantara tanda-tanda ia ciptakan untukmu


pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa
tenang kepadanya dan dijadikannyadiantaramu rasa cinta dan

Dalam berkeluarga ada beberapa yang perlu dipahami, antara


lain :
1. Memahami hak suami terhadap istri dan kewajibban istri
terhadap suami
2. Memahami hak istri terhadap suami dan kewajiban suami
terhadap istri
1. Memahami hak suami terhadap istri dan kewajibban istri
terhadap suami
Menjadikannya sebagai Qowwam (yang bertanggung
jawab)
Suami wajib ditaati dan dipatuhi dalam setiap keadaan kecuali
yang bertentangan dengan syariat islam karena suami adalah
pemimpin yang Allah pilihkan untuk wanita.
Menjaga kehormatan diri
Menjaga akhlak dalam pergaulan
Menjaga izzah suami dalam segala hal
Tidak memasukan orang lain ke dalam rumah tanpa seizin
suami

2. Memahami hak istri terhadap suami dan kewajiban suami


terhadap istri
a.
b.
c.
d.

Istri berhak mendapat mahar


Mendapat perhatian penuh dan kebutuhan lahir batin
Mendapatkan nafkah sandang pangan papan
Mendapakan pengajaran Diinul Islam dan pengajaran yang
lain dan suami memberi sarana dan mengawasi
e. Suami mengajak istri menghadiri majlis talim dan lain-lain
tentang ketaqwaan
f. Mendapatkan perlakuan yang lembut dengan penuh kasih
sayang disaat apa pun

PEMBINAAN KELUARGA SAKINAH


Pembinaan keluarga dalam islam mengajarkan bahwa sebuah
keluarga harus sakinah, mawaddah, warrohman yang meliputi :

Memperkokoh rasa cinta dan saling menjaga kehormatan


Menjaga rahasia dan tidak menyebarkan kekurangan
pasangan kita masing-masing
Memfungsikan

keluarga

dengan

menciptakan pribadi yang baik

optimal

guna

Kriteria Pembinaan Keluarga Sakinah


Dari hadits yang ada dapat diambil kesimpulan bahwa kriteria
untuk membina keluarga sakinah ada 5 yaitu :
Mempelajari, menghayati, dan mengutamakan ilmu agama
Mempunyai akhlak mulia, kasih sayang dan sopan santun
Harmonis dalam keluarga, tenang dan aman
Hemat dan hidup sederhana
Menyadari kesalahn sendiri dan segera memperbaikinya
Mampu dan mapan baik dalam ekonomi, ibadah dan fisik yang
sehat
Mampu menjaga serta menolong anggota keluarga

POLIGAMI
Poligami adalah suatu sistem pernikahan dimana satu
orang memiliki lebih dari satu pasangan.Poligami terdiri
dari dua jenis.Salah satunya adalah poligini di mana
seorang pria menikahi lebih dari satu wanita, dan yang
satunya lagi adalah poliandri, dimana seorang wanita
menikahi lebih dari satu pria.Dalam Islam, poligini
diizinkan dengan jumlah maksimal wanita yang boleh
dinikahi adalah empat orang;sedangkan poliandri
benar-benar dilarang.ax

uran membolehkan Poligami, tetapi diba


Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Alqur'an adalah satu-satunya kitab
agama di muka bumi yang mengatakan "nikahilah hanya satu istri.
Sebelum Al-Qur'an diturunkan, tidak ada batasan untuk poligami dan banyak pria
memiliki banyak sekali istri, bahkan ratusan istri.Islam menempatkan batasan
maksimal sebanyak empat istri.Islam memberikan izin pria untuk menikahi dua,
tiga atau empat wanita, dengan syarat bahwa ia bisa berlaku adil kepada
mereka.
Poligami bukanlah kewajiban melainkan dibolehkan dengan syarat.Banyak orang
salah paham bahwa poligini diwajibkan bagi seorang Muslim.Secara umum,
Islam memiliki lima kategori dari hal yang dibolehkan dan hal yang dilarang:
(I) 'Fard' yaitu wajib
(Ii) 'Mustahab' yaitu dianjurkan
(Iii) 'Mubah' yaitu diperbolehkan atau diizinkan
(Iv) 'Makruh' yaitu tidak dianjurkan atau lebih baik dihindari
(V) 'Haram' yaitu dilarang atau tidak boleh dilakukan

Syarat Poligami
1- Seorang yang mampu berbuat adil
Seorang pelaku poligami, harus memiliki sikap adil di antara para istrinya.
Tidak boleh ia condong kepada salah satu istrinya. Hal ini akan
mengakibatkan kezhaliman kepada istri-istrinya yang lain. Nabi shallallahu
alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), Siapa saja orangnya yang
memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari
kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring. (HR.
Abu Dawud, An-Nasa-i, At-Tirmidzi)
2- Aman dari lalai beribadah kepada Allah
Seorang yang melakukan poligami, harusnya ia bertambah ketakwaannya
kepada Allah, dan rajin dalam beribadah. Namun ketika setelah ia
melaksanakan syariat tersebut, tapi malah lalai beribadah, maka poligami
menjadi fitnah baginya. Dan ia bukanlah orang yang pantas dalam melakukan
poligami.

Syarat Poligami
3- Mampu menjaga para istrinya
Sudah menjadi kewajiban bagi suami untuk menjaga istrinya. Sehingga
istrinya terjaga agama dan kehormatannya. Ketika seseorang berpoligami,
otomatis perempuan yang ia jaga tidak hanya satu, namun lebih dari satu.
Ia harus dapat menjaga para istrinya agar tidak terjerumus dalam
keburukan dan kerusakan.
4- Mampu memberi nafkah lahir
Hal ini sangat jelas, karena seorang yang berpoligami, wajib mencukupi
kebutuhan nafkah lahir para istrinya. Bagaimana ia ingin berpoligami,
sementara nafkah untuk satu orang istri saja belum cukup? Orang semacam
ini sangat berhak untuk dilarang berpoligami.

Talak
Menurut
Ulama
mazhab
Hanafi
dan
Hanbali
mengatakan bahwa talak adalah pelepasan ikatan
perkawinan secara langsung untuk masa yang akan
datang dengan lafal yang khusus.
Menurut mazhab Syafi'i, talak adalah pelepasan akad
nikah dengan lafal talak atau yang semakna dengan itu.
Menurut ulama Maliki, talak adalah suatu sifat hukum
yang menyebabkan gugurnya kehalalan hubungan
suami istri.

Dari Segi Suami Menjatuhkan Talak


Dilihat dari segi cara suami menjatuhkan talak pada istrinya, talak
dibagi menjadi 2, yaitu:
Talak Sunni: talak yang dijatuhkan suami pada istrinya dan istri dalam
keadaan suci atau tidak bermasalah secara hukum syara', seperti haidh,
dan selainnya.
Talak Bid'i: talak yang dijatuhkan suami pada istrinya dan istrinya dalam
keadaan haid, atau bermasalah dalam pandangan syar'i.
Dilihat dari segi boleh tidaknya suami rujuk dengan istrinya, maka
talak dibagi menjadi dua, yaitu talak raj'i dan talak ba'in.
Talak Raj'i: Talak yang dijatuhkan suami kepada istrinya (talak 1 dan 2)
yang belum habis masa iddahnya. Dalam hal ini suami boleh rujuk pada
istrinya kapan saja selama masa iddah istri belum habis.
Talak Ba'in: Talak yang dijatuhkan suami pada istrinya yang telah habis
masa iddahnya.

Rukun dan Syarat Talak


1. Suami, jika selain suami tidak
boleh menthalaq
2. Isteri, orang yang dilindungi oleh
suami dan akan dithalaq.
3. Lafazh yang ditujukan untuk
menthalaq, baik itu diucapkan
secara
langsung
maupun
dilakukan
dengan
sindiran
dengan disertai niat.

1. Benar-benar suami yang sah.


2. Telah Baligh.
3. Berakal sehat yaitu tidak gila.
4. Orang yang menjatuhkan thalaq
harus dengan ikhtiar.
5. Orang yang menjatuhkan thalaq
harus
orang
yang
pintar,
mengerti makna dari bahasa
thalaq.
6. Orang yang menjatuhkan thalaq
tidak boleh dipaksa tidak sah
menjatuhkan
thalaq
dengan
dipaksa.

HUKUM SEORANG LAKI-LAKI


MUSLIM MENIKAHI PEREMPUAN
NON MUSLIM (BEDA AGAMA)
Pernikahan seorang lelaki muslim menikahi seorang yang non muslim dapat
diperbolehkan, tapi di sisi lain juga dilarang dalam islam, untuk itu terlebih
dahulu sebaiknya kita memahami terlebih dahulu sudut pandang dari non
muslim
itu
sendiri.
1. laki-laki yang menikah dengan perempuan ahli kitab (Agama Samawi),
yang dimaksud agama samawi atau ahli kitab disini yaitu orang-orang (non
muslim) yang telah diturunkan padanya kitab sebelum al quran. Untuk hal
seperti ini pernikahannya diperbolehkan dalam islam. Adapun dasar
dari penetapan hukum pernikahan ini, yaitu mengacu pada al quran, Surat Al
Maidah(5):5
2. Lelaki muslim menikah dengan perempuan bukan ahli kitab. Yang
dimaksud dengan non muslim yang bukan ahli kitab disini yaitu kebalikan dari
agama samawi (langit), yaitu agama ardhiy (bumi). Agama Ardhiy (bumi),
yaitu agama yang kitabnya bukan diturunkan dari Allah swt, melainkan dibuat
di bumi oleh manusia itu sendiri. Untuk kasus yang seperti ini, maka
dikatakan haram. Adapun dasar hukumnya yaitu al quran al Baqarah(2):221

PEREMPUAN MUSLIM MENIKAH


DENGAN LAKI-LAKI NON MUSLIM.
Dari

al

quran

al

Baqarah(2):221

sudah

jelas

tertulis

bahwa:

"...Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan


wanita-wanita
mukmin)
sebelum
mereka
beriman..."
Pernikahan seorang muslim perempuan sudah menjadi hal mutlak
diharamkan dalam islam, jika seorang perempuan tetap memaksakan diri
untuk menikahi lelaki yang tidak segama dengannya, maka apapun yang
mereka lakukan selama bersama sebagai suami istri dianggap sebagai
perbuatan
zina.

Kesimpulannya:
Seorang laki-laki muslim boleh menikahi perempuan yang bukan non muslim
selama perempuan itu menganut agama samawi, apabila lelaki muslim
menikahi perempuan non muslim yang bukan agama samawi, maka
hukumnya
haram.
Sedangkan bagi perempuan muslim diharamkan baginya untuk menikah
dengan laki-laki yang tidak seiman.