Anda di halaman 1dari 31

UJI TAK MERUSAK

Memeriksa integritas suatu benda uji


Ditentukan oleh ada/tidaknya cacat-cacat seperti retakan
(crack), keropos (void), inklusi (inclusion) atau bentuk-bentuk
ketidakhomogenan lainnya
Untuk mendeteksinya suatu gelombang ultrasonik
diradiasikan ke dalam benda uji, biasanya berupa pulsapulsa
Bila terdapat cacat di dalam benda uji, maka gelombang
ultrasonik akan dipantulkan dan diterima oleh transduser
yang sama atau transduser yang lain
Dengan mengamati besarnya pulsa gelombang ultrasonik
yang diterima, ukuran cacat dapat diperkirakan
Dengan mengukur waktu tempuhnya, posisi/letak cacat
dapat diketahui

APLIKASI UJI TAK MERUSAK


Pemeriksaan integritas dari konstruksi-konstruksi beton

Bangunan,
Jembatan
Bendungan

Pemeriksaan integritas dari konstruksi-konstruksi baja

Reaktor
Rotor
Turbin
Tangki dan pipa-pipa

Pemeriksaan hasil-hasil pengerjaan

Pengecoran
Pengelasan
Perekatan

PEMERIKSAAN CACAT
Mendeteksi adanya cacat
Paling mudah dilakukan

Menentukan letak cacat


Mengukur waktu tempuh

Menentukan jenis cacat


Cacat bidang (paling berbahaya)
Cacat volume (tidak begitu berbahaya)

Memperkirakan ukuran cacat


Paling sukar dilakukan
Terdapat berbagai metoda

MENDETEKSI ADANYA CACAT


FWE = Front Wall Echo

Transduser

BWE = Back Wall Echo


FE1 = Flaw Echo 1
Front Wall

FE2 = Flaw Echo 2


FWE
BWE

Flaw 1

FE2

Flaw 2

Back Wall

FE1

Layar osiloskop

MENENTUKAN LETAK CACAT


Dilakukan penyapuan (scanning) di sekitar cacat sampai
diperoleh pulsa maksimum

Letak cacat tepat di


sumbu transduser

Letak cacat tidak tepat


di sumbu transduser

MENENTUKAN JENIS CACAT


Bila cacatnya keropos atau inklusi yang merupakan cacat volume, maka
pergeseran posisi transduser tidak banyak mengubah amplituda pulsa
Bila cacatnya retakan yang merupakan cacat bidang, maka pergeseran posisi
transduser akan menyebabkan amplituda pulsa berubah secara drastis

Cacat volume

Cacat bidang

MEMPERKIRAKAN UKURAN CACAT


Pekerjaan yang paling sulit dalam pemeriksaan cacat
Hanya dapat memperkirakan (estimasi) besarnya ukuran cacat
Kadang-kadang hanya menyatakan bahwa ukuran cacat yang
sedang diperiksa lebih besar atau lebih kecil dari suatu harga
tertentu (cacat acuan)
Cacat-cacat acuan biasanya terdapat pada blok acuan (reference
block) yang terbuat dari baja atau alumunium
Secara umum terdapat tiga cara memperkirakan ukuran cacat
Analisis amplituda (amplitude analysis)
Analisis waktu (time analysis)
Analisis frekuensi (frequency analysis)

METODA JATUH (DROP METHOD)


Hanya dapat dilakukan bila ukuran cacat lebih besar dari diameter transduser
Dilakukan penyapuan pada daerah yang akan diperiksa
Bila amplituda pulsa adalah setengah ( - 6 dB) dari amplituda maksimum, maka
diperkirakan sumbu transduser berada tepat pada ujung cacat
Kadang-kadang digunakan 12 dB atau 20 dB

METODA DGS
Dapat memperkirakan ukuran cacat yang lebih kecil dari diameter transduser
Menggunakan BWE sebagai pembanding yang merupakan cacat tak hingga
Menggunakan suatu diagram yang disebut DGS (Distance Gain Scale)
Setiap transduser mempunyai diagram DGS-nya sendiri
D (distance) adalah jarak dari front wall dinyatakan dengan medan dekat (N)
G (gain) adalah perbandingan ukuran cacat terhadap diameter transduser
S (scale) adalah perbedaan antara amplituda FE dan amplituda BWE
Kekurangan metoda DGS :
Bila transduser tidak baru lagi, diagram DGS-nya tidak dapat dipakai
Tidak dapat digunakan bila back wall atau cacatnya miring terhadap kerkas
gelombang karena tidak ada pantulannya

Diagram DGS untuk medan jauh

Diagram DGS untuk medan dekat

MENENTUKAN KEDALAMAN RETAKAN


Menentukan ukuran cacat pada permukaan
Menggunakan metoda Time-Of-Flight Diffraction (TOFD)
Memanfaatkan peristiwa difraksi (pemantulan gelombang ke
segala arah)

Soal No. 1
Pada suatu bahan baja terdapat sebuah retakan permukaan sedalam
h. Untuk mendeteksinya digunakan dua buah transduser, yang satu
bertindak sebagai pemancar (T) sedangkan transduser yang lain (R)
bertindak sebagai penerima. Kedua transduser ini merupakan
transduser transversal dimana kecepatannya di dalam baja adalah
VT. Pada suatu pengukuran, jarak dari ujung atas retakan ke
transduser pemancar T dan ke transduser R masing-masing adalah a
dan b. Waktu tempuh gelombang ultrasonik dari transduser T ke
transduser R setelah didifraksikan oleh ujung bawah retakan adalah
sebesar t.
a) Buat persamaan-persamaan yang dapat digunakan untuk
menentukan h sebagai fungsi dari VT, a, b dan t.
b) Hitung kedalaman retakan h, bila VT = 3,230 km/s, a = 60 mm,
b = 40 mm dan t = 32,374 s.

xy
t1

VT

h 2 a 2 h 2 b2
VT
a

h 2 a 2 h 2 b2
VT

tVT d

h 2 a 2 tVT h 2 b 2

h 2 a 2 d h 2 b2

h 2 a 2 d 2 h 2 b 2 2d h 2 b 2

2d h 2 b 2 d 2 b 2 a 2 e
2
e
2
h2

b
p
2
4d

4d 2 ( h 2 b 2 ) e 2

d tVT

d (32,374)(3,23) 104,568

e d2 b2 a 2
e (104,568) 2 (40) 2 (60) 2 8934,47
2

e
2
p

b
4d 2

(8934,47) 2
2
p

(
40
)
225
2
4(104,568)

225 15 mm

Soal No. 2
Pada suatu bahan baja terdapat sebuah retakan permukaan sedalam
h. Untuk mendeteksinya digunakan dua buah transduser gelombang
transversal dimana kecepatannya di dalam baja adalah VT.
Meskipun keberadaan retakan ini dapat dideteksi, tetapi posisi
ujung atas nya tidak dapat ditentukan. Oleh karena itu diperlukan
dua kali pengukuran. Pada pengukuran pertama dimana jarak antar
transduser (TR1) adalah d1 waktu tempuhnya sebesar t1. Sedangkan
pada pengukuran kedua dimana jarak antar transduser (T-R2) adalah
d2 waktu tempuhnya sebesar t2.
a) Buat persamaan-persamaan yang dapat digunakan untuk
menentukan h sebagai fungsi dari VT, d1, d2, t1 dan t2.
b) Hitung h, bila VT = 3,230 km/s, d1 = 100 mm, d2 = 150 mm, t1
= 31,873 s, dan t2 = 47 187 s.

t1

h 2 a 2 h 2 b2
VT

h 2 a 2 h 2 c2
VT

t2

d2 = a + c
d1 = a + b
a
b

z
c

t1

h 2 a 2 h 2 b2
VT

t2

b d1 a
t1VT f

h 2 a 2 h 2 c2
VT

c d2 a
t 2 VT g

h 2 a 2 h 2 ( d1 a ) 2

h 2 a 2 h 2 (d 2 a ) 2

h 2 a 2 f h 2 ( d1 a ) 2
h 2 a 2 g h 2 (d 2 a ) 2

k ( h , a ) f h 2 ( d1 a ) 2 g h 2 ( d 2 a ) 2 0

PROGRAM MATLAB : NON DESTRUCTIVE TESTING


% Program ndtno2.m : Soal No.2 Uji Tak Merusak
clear all
% Data yang diketahui dan diukur
d1=100; d2=150; t1=31.873; t2=47.187; vt=3.23;
% Menghitung panjang lintasan
f=t1*vt; g=t2*vt;
% Iterasi ganda untuk menentukan kedalaman dan posisi retakan
for i=1:10
a(i)=10+10*(i-1); % Iterasi a : 10 s/d 100 setiap kenaikan 10 mm
for j=1:10
h(j)=2+2*(j-1); % Iterasi h : 2 s/d 20 setiap kenaikan 2 mm
k1=f-sqrt(h(j)^2+(d1-a(i))^2);
k2=g-sqrt(h(j)^2+(d2-a(i))^2);
k(i,j)=abs(k1-k2);
end
end
k % Menampilkan matriks k : baris a dan kolom h

h
2
10
20

10

12

14

16

18

0.5278 0.5041 0.4645

0.4093 0.3386

0.2526 0.1517 0.0359

0.0942

0.5262 0.4974 0.4495

0.3827 0.2973

0.1935 0.0717 0.0676

0.2240

0.5239 0.4882 0.4290

0.3465 0.2410

0.1132 0.0366 0.2075

0.3990

0.5206 0.4753 0.4000

0.2953 0.1618

0.0002 0.1886 0.4034

0.6431

0.5158 0.4560 0.3569

0.2193 0.0443

0.1666 0.4120 0.6899

0.9985

0.5080 0.4251 0.2881

0.0985 0.1414

0.4290 0.7611

1.1344

1.5453

0.4942 0.3702 0.1663

0.1136

0.8802 1.3543 1.8799

2.4499

0.4646 0.2539 0.0882

0.5492 1.1142

1.7669 2.4911

3.2714

4.0942

0.3711

1.7395 2.7787

3.8965 5.0572 6.2355

7.4136

30
40

50
60
70

0.4644

80
90
0.1014 0.8269

h = 12 mm
2
10
20

10

12

14

16

18

0.5278 0.5041 0.4645

0.4093 0.3386

0.2526 0.1517 0.0359

0.0942

0.5262 0.4974 0.4495

0.3827 0.2973

0.1935 0.0717 0.0676

0.2240

0.5239 0.4882 0.4290

0.3465 0.2410

0.1132 0.0366 0.2075

0.3990

0.5206 0.4753 0.4000

0.2953 0.1618

0.0002 0.1886 0.4034

0.6431

0.5158 0.4560 0.3569

0.2193 0.0443

0.1666 0.4120 0.6899

0.9985

0.5080 0.4251 0.2881

0.0985 0.1414

0.4290 0.7611

1.1344

1.5453

0.4942 0.3702 0.1663

0.1136

0.8802 1.3543 1.8799

2.4499

0.4646 0.2539 0.0882

0.5492 1.1142

1.7669 2.4911

3.2714

4.0942

0.3711

1.7395 2.7787

3.8965 5.0572 6.2355

7.4136

30

a = 40 mm

40
50
60
70
0.4644

80
90
0.1014 0.8269

Soal No. 3
Pada bahan baja terdapat suatu retakan permukaan yang miring
dengan sudut dan panjangnya h. Untuk mendeteksinya
digunakan tiga buah transduser yang dihubungkan dengan dua
buah batang (tandem technique) seperti terlihat pada gambar di
bawah ini. Transduser yang satu (T) akan bertindak sebagai
pemancar sedangkan dua transduser yang lain (R1 dan R2) akan
bertindak sebagai penerima. Ketiga transduser ini merupakan
transduser transversal dengan kecepatan gelombang sebesar VT.
Pada suatu pengukuran, dimana jarak ketiga transduser terhadap
ujung retakan masing-masing adalah a,, b dan c diperoleh waktu
tempuh dari T ke R1 sebesar t1 dan waktu tempuh dari T ke R2
sebesar t2.

c
b

R1

R2

y
z
Baja, VT

a) Buat persamaan-persamaan yang dapat digunakan untuk


menentukan h dan sebagai fungsi dari VT, a, b, c, t1 dan t2.
b) Hitung h dan , bila VT = 3,230 km/s, a = 40 mm, b = 60 mm,
c = 110 mm, t1 = 32,275 s damn t2 = 47,554 s.

c
b

R1

R2

x a 2 h 2 2ah cos
y b h 2bh cos
2

z c 2 h 2 2ch cos
x y
xz
t1
t2
f t1V
V
V

g t 2V

a 2 h 2 2ah cos f b 2 h 2 2bh cos k1


a 2 h 2 2ah cos g c 2 h 2 2ch cos k 2
k k1 k 2 0

Baja, VT

MENENTUKAN DIAMETER INKLUSI


Menentukan ukuran dan jenis inklusi (inclusion)
Memanfaatkan perambatan gelombang (refleksi dan refraksi)
T/R
Matrix material
Alumunium
Inclusion
d, V2

V1

Soal No. 4
Di dalam bahan alumunium dengan kecepatan gelombang
longitudinal V1 terdapat suatu inklusi berdiameter d dengan
kecepatan gelombang longitudinal V2. Untuk menentukan
karakteristik inklusi ini digunakan uji tak rusak (UTR) ultrasonik,
yaitu dengan meradiasikan gelombang ultrasonik ke arah inklusi
tersebut seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Ternyata dari
hasil pengamatan diketahui terdapat 4 buah sinyal yang diterima
kembali oleh transduser dengan selang waktu masing-masing
adalah t1, t2 dan t3. Sinyal pertama berasal dari pantulan
permukaan atas inklusi sedangkan pantulan kedua berasal dari
pantulan permukaan bawah inklusi. Sinyal ketiga berasal dari
pembiasan ke dalam inklusi dengan sudut yang kemudian
menjalar pada sebagian permukaan inklusi. Sinyal keempat berasal
dari perambatan melalui setengah dari permukaan inklusi.
Gelombang yang merambat pada permukaan inklusi adalah
gelombang permukaan dengan kecepatan sebesar VR.

Alumunium
V1
t1

Inklusi
d, V2

t2

VR

t3

VR

a) Buat persamaan-persamaan yang dapat dipakai untuk menentukan diameter


dan kecepatan gelombang di dalam inklusi
b) Dengan menggunakan persamaan-persamaan tersebut di atas, hitung d, V 2
dan VR bila diketahui V1 = 6,3 km/s, t1 = 11,321 s, t2 = 12,943 s dan
t3 = 22.016 s

t1
d

V2

2d
t1
V2

t2

d
L2
LR
t 2

V1
V2
VR

V1
90o

L 2 d cos

V2

L2

LR

VR

L R d

d d cos d
t 2

V1
V2
VR
sin
sin 90 o
1

V2
V1
V1

t3

V1

d
d
t 3

V1 2VR
VR