Anda di halaman 1dari 56

Pemicu 1

kel.5
Senin,14 November 2016

Tutor : dr Kumala

Ketua : clinton sudjono

Anggota kelompok :

405140040 Fransisca Novianti

405140067 Ricky

405140068 Sopaka Udakadharma

405140110 Asna Yusrina

405140163 Carissa Evelyn

405150004 Clinton Sudjono

405150007 Shynta Amelia

405150047 Lidya Octalia

405150072 Indi Chairunnisa

405150057 Ario Lukas

405150103 Novia Anggriani

405150156 Vincent Vandestyo

Permata hatiku
Seorang anak laki-laki berusia 6 bulan di bawa ibunya ke dokter dengan
keluhan ingin memeriksakan mata anaknya yang terkena susu formula 2
jam yang lalu saat sedang mengocok susu tersebut. Anaknya juga
mengalami luka gores di lengannya akibat terkena kuku kakaknya. Pada
anamnesis didapatkan bahwa anaknya selama ini hanya diberikan susu
formula. Padahal saat dilahirkan, bidan sudah menyarankan agar anak
tersebut diberikan ASI. Riwayat imunisasi didapatkan anak sudah beberapa
kali diimunisasi di posyandu lingkungan rumahnya. Ibunya khawatir karena
sejak beberapa minggu terakhir pasien memiliki kebiasaan memasukkan
jari tangan dan benda yang dapat diraih kedalam mulutnya. Selain itu, ibu
pasien bertanya mengapa anaknya perlu diimunisasi berulang-ulang dan
makanan tambahan apa yang perlu diberikan suapaya anaknya tetap
sehat.
Pada saat yang bersamaan kakek pasien, berusia 60 tahun, menanyakan
apakah dia perlu diimunisasi sementara dia rajin berolahraga dan
mengkonsumsi makanan sehat.

Lo 1
Menjelaskan mengenai komponen imun
non-spesifik & spesifik

Fungsi epitel dalam imunitas alami

Gambar 2-6
Imunologi Abbas

Fungsi sel natural killer

Abbas: imunologi

Gambar 1-8
Immunologi

Kelas dan sifat


imunoglobulin

Abbas, imunologi

Mekanisme Kerja Komponen Sistem


Imun
Innate (non spesifik)

Adaptif (Spesifik)

Sudah tersedia

Harus diinduksi

Tidak bertahan lama

Bertahan seumur hidup

Tidak spesifik

Sangat spesifik

Mekanisme Fagositosis

Mekanisme killing

Soluble mediator

Limfosit B & T

Pattern recognition molecule

Seluler dan humoral

Monosit, granulosit, sel NK

Perlindungan lebih baik pada


paparan berikutnya

Tidak perlu adanya kontak


dengan antigen sebelumnya

Sitokin pada
imunitas non
spesifik

Sumber: Histologi
Gartner

Lo 2
Menjelaskan menegenai organ limfatik
dan jaringan limfatik

Jaringan limfatik/limfoid

Adalah jaringan yg memproduksi, menyimpan, atau memproses limfosit.

Jaringan jaringan ini mencakup:

Sumsum tulang

Kelenjar limfe

Limpa

Timus

Adenoid

Apendiks

Dan agregat jaringan limfoid di lapisan saluran cerna yg dinamai Bercak Peyer
atau jaringan limfoit terkait usus(gut-associated lymphoid tissue, GALT)

Fungsi Jaringan Limfoid


Jaringan Limfoid

Fungsi

Sumsum tulang

Asal semua sel darah


Tempat proses pematangan untuk limfosit B

Kelenjar limfe,
tonsil, adenoid,
apendiks, GALT

Perpindahan limfosit dengan limfe (membuang, menyimpan,


memproduksi, dan menambahkan)
Limfosit residen menghasilkan antibodi dan sel T teraktivasi,
yang dikeluarkan kedalam limfe
Makrofag residen mengeluarkan mikroba dan debris lain yang
berbentuk partikel dari limfe

Limpa

Perpindahan limfosit dengan darah(membuang, menyimpan,


memproduksi, dan menambahkan)
Limfosit residen menghasilkan antibodi dan sel T teraktivasi,
yang dikeluarkan kedalam darah
Makrofag residen mengeluarkan mikroba dan debris lain yang
berbentuk partikel, terutama sel darah merah yang sudah usang,
dari darah
Menyimpan sejumlah kecil sel darah merah, yang dapat
ditambahkan ke sel darah oleh kontraksi limpa sesuai kebutuhan

Timus

Tempat proses pematangan untuk limfosit T


Mengeluarkan hormon timosin

Tonsil berkapsul, menjaga pintu orofaring, bereaksi dengan


antigen
Jenis:
1. Palatina sepasang; di lipatan palatoglossal dan
palatofaringeal; terdapat kripta yg dibungkus epitel gepeng
berlapis non keratin; bg parenkim tersusun atas nodulus limfoid
(germinativum)
2. Faringeal hanya 1; langit2 nasofaring; dilapisi epitel bertingkat
torak; tidak ada kripta, ada kel seromukosa di lipit (lipatan landau
dan longitudinal); bg parenkim tersusun atas nodulus limfoid
(germinativum); saat inflamasi Adenoid
3. Lingual permukaan dorsal 1/3 posterior lidah; dilapisi epitel
gepeng berlapis non keratin; memiliki kripta; bg parenkim
tersusun atas nodulus limfoid (germinativum)

JARINGAN LIMFATIK
Nodus Limfatikus
Primer = kumpulan limfosit B yg sedang keluar/masuk linfonodus
Sekunder = terwarnai pucat Sentrum Germinativum =>
pembentukan B memori dan sel Plasma; hanya terbentuk krn
respons antigen yang masuk

Sentrum Germinativum punya 3 zona:


o Zona Gelap = proliferasi sel B yg padat (tidak ada sIg) =
Sentroblas; migrasi ke
o Zona Basal Terang = ekspresi sIg, ganti kelas Imunoglobulin =
Sentrosit ; sentrosit dikenalkan antigen oleh sel dendritic
folikuler, mjd aktif
o Zona Apikal Terang = Sentrosit mjd Sel B memori dan Sel Plasma

Morfologi kelenjar limfe

Abbas , imunologi

Morfologi limpa

Abbas , imunologi

Sistem imun mukosa

Abbas,
imunologi

Lo 3
Menjelaskan komponen yang berperan pada respon imun
(hapten, imunogen, struktur antibodi)

A. Hapten
Molekul kecil yang merangsang tubuh memproduksi molekul antibodi dengan cara
konjugasi dengan molekul yang lebih besar (immunogen), yang disebut molekul
pembawa (carrier)
Kompleks hapten-carrier merangsang produksi antibodi, yang akan menjadi reaksi
imunitas (mampu memicu respon imun)
Hapten kemudian bereaksi secara spesifik dengan antibodi yang dihasilkan
sehingga menghasilkan respon imun atau alergi
B. Imunogen
Substansi yang menginduksi respon imun spesifik, humoral, seluler, atau keduanya.
Setelah diolah olehAntigen Presenting Cell(APC), maka imunogen akan pecah
menjadiantigenyang dapat bereaksi dengan produk respon imun spesifik.
bersifat sebagai molekul pembawa karena membawa molekul kecil (hapten) dari
suatu antigen. Imunogen ini dapat dikenal oleh antibodi dan memacu
pembentukanantibodi(imunogenik)

Struktur antibodi

http://1.bp.blogspot.com/7pOd0vf4u3E/VWLn1XXwaMI/AAAAAAAAAEw/HZ5mSPj8Vgg/s1600/3.jpg

Lo 4
Menjelaskan proses aktivasi sistem imun non spesifik
(pengenalan antigen oleh sistem imun, aktivasi sistem imun
spesifik, regulasi sistem imun)

A.

Pengenalan Antigen

1. Reseptor permukaan sel ---- Pattern Recognition Receptors (PRR)


-> PRR mengenali struktur PAMPs(pathogen associated molecular pattern) =
mikroba yang mempengaruhi imunitas alami mengubah molekul mjd pathogen
Jenis PRR :
a) Toll-Like Receptor (TLR) = mirip protein di lalat Drosophilla; tiap jenis spesifik
utk tiap antigen (yg mengenali as nukleat ada di endosome)
b) NOD-Like Receptor (NLR) = mengenali DAMPs dan PAMPs di sitoplasma
Jenis NLR:
>NOD-1 dan NOD-2 = spesifik utk peptidoglikan (dinding sel) bakteri, activator
NFkB
>NLRP-3 (pyrin) = meningkatkan sitokin inflamasi IL-1 demam

Lokasi seluler dari


reseptor sistem imun
non spesifik

Fungsi sinyal Tolllike receptor

2.

Fagositosis

Fagositosis

3. Aktivasi Komplemen

B. Aktivasi Sistem
Imun Spesifik
1. Presentasi
antigen
Limfosit T
mengenali antigen
yg ditampilkan MHC
pada APC melalui
reseptor sel T (TCR)

2. Maturasi Limfosit
a. Sel B => terjadi di sumsum tulang

b. Sel T => terjadi di timus

3. Resirkulasi Limfosit
Limfosit naif mengalami resirkulasi antara darah dan organ limfoid sekunder
-> diaktivasi antigen menjadi efektor -> ke tempat infeksi (biasanya T efektor)
-> bertahan dan mensekresi antibody->antibody ke darah(sel plasma)
Limfosit T naif HEVs melalui reseptor kemokin CCR7 limfonodus (zona sel T)
dikenalkan antigen oleh sel dendritic sel efektor aktif ekspansi klonal
migrasi ke tempat infeksi
Limfosit B naif limfonodus (folikuler) mll kemokin pengikat reseptor CXCR5
dikenali antigen oleh sel dendritic folikuler diferensiasi menghasilkan
antibody sebgian ttp di limfe, sebagian migrasi ke sumsum tulang
* Jika limfosit naif tidak bertemu antigen di limfonodus = masuk lagi ke sirkulasi

C.

Regulasi Sistem Imun

a. Imunitas seluler
=== limfosit T efektor akan apoptosis setelah mikroba aktif tubuh
kembali homeostasis; krn rangsang (antigen, kostimulator CD28, dan
sitokin IL-2) sudah hilang dan umur efektor pendek
===aktivasi awal limfosit menghasilkan sel memori respons lebih cepat
dan adekuat pada infeksi berulang oleh antigen yang sama; memiliki umur
yg panjang (dijaga oleh IL-7 dan IL-15); ada di organ limfoid perifer dan jar
barrier kulit dan mukosa

b. Imunitas Humoral
=== sel B yang teraktivasi sesudah
menyekresikan antibody akan apoptosis ;
produksi antibody dihentikan oleh proses
umpan balik
===sel B sebagian terdiferensiasi lgsg
menjadi sel memori tidak mensekresi
antibody, berada di darah dan mukosa
jaringan dengan umur yang sangat panjang

Lo 5
Menjelaskan nutrisi pada imun

World Healt Organization. Micronutrient deficiencies. 2006.


Available at: www.who.int/nutrition/topics/ida/en/.

World Healt Organization. Micronutrient deficiencies. 2006.


Available at: www.who.int/nutrition/topics/ida/en/.

Lo 6
Peranan Asi pada sistem imun

ASI

Air susu ibu sering disebut sebagai darah putih karena mengandung selsel yang penting dalam pemusnahan (fagosit) kuman dan merupakan
perlindungan pertama pada saluran cerna bayi.

Para ahli menemukan makrofag dan limfosit di dalam ASI. Sama seperti
sistim imun pada umumnya, ASI juga memiliki sistim pertahanan
(sistem imun) tidak spesifik dan spesifik.

Perbedaan ASI dengan Kolostrum


ASI

Kolostrum
warna yang kekuning-kuningan atau
keemasan beta-karoten

berwarna putih

Lebih cair

pH lebih rendah

Total energy lebih tinggi

Disekresi +/- hari 14 sampai seterusnya (ASI transisi hari 7-14)

Leukosit menurun 1000/mL (2-3bln)

Lebih kentalkomposisi nutrisi dan


konsentrasi yang tinggi
pH lebih tinggi
Total energy lebih rendah
Disekresi dari hari 1 sampai 4-7
Protein tinggi
Mengandung 1-3 juta leukosit/mL
sIgA tertinggi

Mekanisme Kerja ASI:

Antigen dihalangi oleh system imun ibu

Jika antigen menembus barrier mukosa usus ibu IgA aktif

Limfosit migrasi ke sirkulasi dan kelenjar susu

sIgA menjaga imunitas di barrier mukosa

ASI diberikan pada bayi komponen imun siap

Laktoferin mengikat Fe agar tidak dimakan bakteri

Makrofag melakukan fagositosis, mensekresi protein komplemen dan prostaglandin E2

Faktor bifidus dan IgM menekan multiplikasi E.coli

Sel makrofag

Pertahanan
non spesifik

imunoglobuli
n
Sel neutrofil

lisozim

Asi

sitokin
Fungsi
sebagai
protektor

Laktoferin

Limfosit T

Lo 7
Menjelaskan imunisasi terhadap respon
imun

Klasifikasi imunisasi
imunisasi

alamiah

Pasif: antibodi
via plasenta
dan kolostrum

Aktif : infeksi
kuman

buatan

Pasif :
-antitoksin
-antibodi

Aktif :
-toksoid
-vaksinasi

Imunitas aktif dan pasif

Abbas 6th ed

http://www.
depkes.go.i
d/resources
/download/
pusdatin/in
fodatin/Info
DatinImunisasi-

http://www.pppl.depkes.go.id/_asset/_download/brosur_imunisasi.pdf

KIPI

Suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi


yang diduga disebabkan oleh imunisasi.

Klasifikasi :

Induk vaksin karena faktor intrinsik vaksin terhadap individual


resipien, Misal : anak menderita poliomielitis setelah mendapat
vaksin polio oral.

Provokasi vaksin gejala klinis yang timbul dapat terjadi kapan


aja, misal : kejang demam pasc imunisasi yang terjadi pada anak
yang mempunyai predisposisi kejang

Kesalahan (pelaksanaan) program errors. Akibat kesalahan


pada teknik pembuatan & pengadaan vaksin / teknik cara
pemberian

Koinsidensi KIPI terjadi bersamaan dengan gejala penyakit lain


yang sedang diderita

IDAI, Sari Pediatri, Vol. 2, No.1, Juni 2000

Imunisasi Dewasa
Vaksin
dewasa
Influenza

Car
Dosis
a
SK, 0,5mL
IM

KIPI

Pneumok
ok (PPV)
Pneumok
ok
(PCV)

IM

0,5mL

IM

0,5mL

Hepatitis
A
Hepatitis
B

IM

1mL

Lokal (eritema dan nyeri),


sistemik
Lokal (nyeri, bengkak di
tempat injeksi), Sistemik
(menggigil, kantuk, sakit
kepala, insomnia, arthalgia,
myalgia)
Nyeri di tempat injeksi

IM

1mL

Nyeri di tempat injeksi

Lokal, sistemik (malaise,


myalgia)

Kontra Indikasi
Kehamilan
trimester 1, alergi
telur
Kehamilan
Kehamilan

Alergi vaksin, sakit


akut
Alergi vaksin

Vaksin
Dewasa

Car Dosi
a
s

KIPI

Kontra Indikasi

Varicella

SK

2
Lokal (sakit,ruam,bengkak)
dosis

Imunosupresi,
kehamilan &
laktasi, terapi
immunoglobulin

HPV

IM

0,5m Nyeri di tempat injeksi, sinkope,


L
pusing

Hipersensitivitas,
bumil

Herpes
Zoster

SK

0,5m Erupsi papulovesikuler di tempat


L
injeksi (kadang)

Bumil, demam,
hipersensitivitas
pada neomisin

MMR

SK

0,5m Nyeri di tempat injeksi, sakit


L
kepala, demam, suara parau,
enselopati

Kehamilan,demam,
imunokompromais,
hipersensitivitas
pada gelatin dan
neomisin

KIPI pada imunisasi anak


Jenis Vaksin
Toksoid Tetanus
(DPT, DT, TT)

Gejala Klinis KIPI


Syok anafilaksis,
Neuritis brachial,
Komplikasi akut
termasuk kecacatan
dan kematian

Syok anafilaksis,
kejang demam,
Ensefalopati, nangis
Pertusis whole cell
lebih dari 3 jam,
(DPwT)
Komplikasi akut
termasuk kecacatan
dan kematian

Saat timbul KIPI


4 jam
2-18 hari
tidak tercatat

4 jam
72 jam
tidak tercatat

Campak

Polio hidup (OPV)

Hepatitis B

Trombositopenia, Klinis
campak pada resipien
imunokompromais,
Kejang demam,
Komplikasi akut
termasuk kecacatan dan
kematian
Polio paralisis, Polio
paralisis pada resipien
imunokompromais,
Komplikasi akut
termasuk kecacatan dan
kematian
Syok anafilaksis,
Komplikasi akut
termasuk kecacatan dan
kematian

7-30 hari
6 bulan
tidak tercatat

30 hari
6 bulan
Tidak tercatat

4 jam
tidak tercatat

Kondisi Dimana Imunisasi Tidak Dapat Diberikan atau


Imunisasi Boleh Ditunda:

Sakit berat dan akut

Demam tinggi

Reaksi alergi yang berat atau reaksi anafilaktik;

Bila anak menderita gangguan sistem imun berat (sedang


menjalani terapi steroid jangka lama, HIV) tidak boleh diberi
vaksin hidup (Polio Oral, MMR, BCG, Cacar Air)

Alergi terhadap telur hindari imunisasi influenza

Daftar pustaka

Abbas AK, Lichtman AH, Pillai S. Imunologi Dasar Abbas. Kalim H, editor.
5th ed. Singapore: Elsevier ; 2016

Gartner LP, Hian JL. Buku Ajar Berwarna Histologi. Suryono IAS,
Damayanti L, Wonodirekso S, editor. 3rd ed. Singapore: Elsevier ; 2007

Arisman. Gizi dalam Daur Kehidupan. 2nd ed. Jakarta: EGC ; 2008

Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Imunisasi di


Indonesia. 5th ed. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia ; 2014

Depkes

Daftar pustaka

Abbas AK, Lichtman AH, Pillai S. Imunologi Dasar Abbas. Kalim H, editor.
5th ed. Singapore: Elsevier ; 2016

Gartner LP, Hian JL. Buku Ajar Berwarna Histologi. Suryono IAS,
Damayanti L, Wonodirekso S, editor. 3rd ed. Singapore: Elsevier ; 2007

Arisman. Gizi dalam Daur Kehidupan. 2nd ed. Jakarta: EGC ; 2008

Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Imunisasi di


Indonesia. 5th ed. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia ; 2014

Depkes

kesimpulan

Di pemicu kali ini kami telah mempelajar komponen sistem imun non
spesifik dan spesifik dimana didalamnya terdapat komponen,organ
limfatik dan jaringan serta proses aktivasi. Kami juga telah mempelajari
peranan nutrisi terhadap imun, peranan ASI pada sistem imun dan
terakhir kami telah mempelajari imunisasi terhadap respon imun dan
booster.