Anda di halaman 1dari 23

TEORI AWAL IKATAN DALAM

SENYAWA KOMPLEKS
KOORDINASI
Dosen Pembimbing : Eka Putra Ramdhani, S.T., M.Si.
KELOMPOK 4 :
DEWIANTI( 140384204003 )
EDDO NUGROHO ( 140384204036 )
LUCIA PENI ( 140384204048 )
NURYANTI (140384204009 )
SILVIA NOVIANTI ( 140384204034)

PENDIDIKAN KIMIA (K.02)

TUJUAN :
Teori ammonium graham dalam
senyawa kompleks
Teori senyawa molekuler kekule
dalam senyawa kompleks
Teori rantai blomstrand-jorgansen
dalam senyawa kompleks
Teori koordinasi werner dalam
senyawa kompleks

SENYAWA KOMPLEKS KOORDINASI


Senyawa koordinasi/senyawa kompleks
adalah senyawa yang terbentuk melalui
ikatan koordinasi, yakni ikatan kovalen
koordinasi antara ion/atom pusat dengan
ligan (gugus pelindung). Senyawa
kompleks pertama kali ditemukan oleh
Tassert (1798), yaitu CoCl3.6NH3.

TEORI AWAL IKATAN SENYAWA


KOMPLEKS KOORDINASI
Teori Ammonium
Graham (1805-1869)

Teori
Koordinas
i Werner
(18911893)

TEORI AWAL
IKATAN SENYAWA
KOMPLEKS
KOORDINASI

Teori Rantai
Blomstrand-jorgansen
(1869)

Teori
Senyawa
Molekuler
Kekule
(1958)

TEORI AMMONIUM GRAHAM


(1805-1869)

Thomas Graham

Teori ini dikemukakan oleh


Thomas Graham (18051869). Berdasarkan teori ini,
amina-amina ligam dianggap
sebagai senyawa-senyawa
ammonium yang
tersubstitusi. Contohnya
dapat digambarkan dalam
senyawa kompleks pada
diaminatembaga(II) klorida.

TEORI AMMONIUM
GRAHAM (1805-1869)

Kelemahan
Teori
ammonium
dari
Graham
hanya
dapat
diterapkan bila jumlah NH3
yang terikat pada atom
logam jumlahnya sama
dengan valensi ligan atau
elektrovalensi dari logam.
Diperolehnya fakta banyak
senyawa kompleks yang
mengandung NH3 yang
jumlahnya
berbeda
dengan
valensi
atom
logam,
menyebabkan
ditinggalkannya
teori
tersebut.

Kelebih
an
amina-amina ligan dianggap
sebagai
senyawa-senyawa
ammonium
yang
tersubstitusi.
Contohnya
dapat digambarkan dalam
senyawa
kompleks
pada
diaminatembaga (II) klorida.
Menurut Graham, dua atom
hydrogen,
masing-masing
satu
dari
setiap
ion
ammonium, disubstitusi oleh
sebuah atom tembaga. Dua
atom
hidrogen
dapat
disubstitusi oleh satu atom
tembaga karena tembaga

TEORI SENYAWA
MOLEKULER KEKULE (1958)

Friedrich August
Kekule von
Stradonitz

Pada tahun 1958 Friedrich


August Kekule von
Stradonitz yang dikenal
dengan nama Kekule
menerbitkan sebuah makalah
yang sangat masyhur. Dalam
makalah itu, Kekule
mengemukakan bahwa:
1. Atom karbon memiliki
valensi empat
(quadrivalent).
2. Rumus metana adalah CH4.
3. Atom-atom karbon dapat

TEORI SENYAWA
MOLEKULER KEKULE (1958)

Berdasarkan pendapatnya tentang


valensi konstan, Kekule membagi
senyawa menjadi dua golongan,
yaitu:
1. senyawa atomik (atomic
compound) misalnya H2O, NH3,HCl,
PCl3, NaCl, dan CoCl3 dan
2. senyawa molekuler (molecular
compound). Misalnya NH4Cl

TEORI SENYAWA
MOLEKULER KEKULE (1958)

Kelebihan:
1. Kekule dapat membagi senyawa menjadi dua
golongan, yaitu senyawa atomic dan senyawa
molecular. Senyawa atomik merupakan senyawa
merupakan
senyawa yang jumlah atom-atomnya
yang bersesuaian dengan valensi
tetapnya.
Senyawa molekular dianggap tersusun dari beberapa
senyawa atomik.
2. Kekule dapat mengemukakan bahwa: (1) atom
karbon memiliki valensi empat (quadrivalent); (2)
rumus metana adalah CH4; (3) atom-atom karbon
dapat membentuk rantai.
3. Kekule juga berhasil mengemukakan struktur dari
benzene dengan tepat.Strukur benzena dituliskan
sebagai cincin dengan enam atom karbon yang
mengandung tiga buah ikatan tunggal dan tiga buah
ikatan rangkap yang berselang seling. Kerangka atom

TEORI SENYAWA
MOLEKULER KEKULE (1958)

Kelemahan:
1. Teori senyawa molekuler Kukele pada teori ini hanya
menjelaskan bahwa gaya yang bekerja antara senyawa atomic
dalam senyawa molekuler adalah lebih lemah dibandingkan
gaya antara atom-atom dalam senyawa atomic. Maka
seharusnya senyawa molekuler tidak stabil dan mudah terurai
menjadi senyawa atomic penyusunnya. Namun fakta ekperimen
menunjukkan bahwa banyak senyawa kompleks yang bersifat
stabil seperti CoCl3.6NH3 dan Co(NH3)3.
2. Tidak dapat menjelaskan gaya yang terlibat dalam
pembentukan senyawa molekuler dari senyawa-senyawa
atomik.
3. Ikatan rangkap pada benzena seharusnya mempunyai
kecenderungan bereaksi secara adisi. Kenyataannya, banyak
benzena terlibat pada reaksi substitusi.
4. Jika benzena memiliki struktur Kekule, maka benzena akan
mempunyai 2 panjang ikatan yang berbeda, yaitu ikatan tunggal
dan ikatan rangkap. Namun kenyataannya menurut eksperimen,
benzena hanya memiliki satu panjang ikatan sebesar 0,139 nm.

TEORI RANTAI
BLOMSTRAND-JORGANSEN
(1869)

Christian Wilhelm
Blomstrand

Teori rantai (chain theory) dirintis


oleh
Christian
Wilhelm
Blomstrand (1826-1897) yang
kemudian disempurnakan oleh
muridnya
Sophus
Mads
Jorgensen (1837-1924), untuk
struktur
logam.
Menurut kompleks
Blomstrand
dan
.Jorgensen
didalam
senyawa
kompleks, jumlah NH3 yang
terikat
pada
atom
logam
tergantung
pada kompleks
valensi logam.
Untuk
senyawa
yang
mengandung
halogen,
atom
halogen dibagi dua macam, yaitu
atom halogen lebih dekat (nearer
halogen) dan atom halogen lebih
jauh (farther halogen).

TEORI RANTAI
BLOMSTRAND-JORGANSEN
(1869)
Karena tiap-tiap unsur mempunyai valensi yang tetap, maka
Blomstrand dan Jorgensen mengatakan bahwa dalam
kompleks kobal (III) hanya ada tiga ikatan. struktur dari
kompleks-kompleks :
(1). CoCl3.6NH3, (2).CoCl3.5NH3, (3).CoCl3.4NH3, dan
NH
3 . Cl
(4).CoCl
.3NH
3
3
1.

Co NH3 NH3 NH3 NH3 Cl


NH3 Cl

2.

Cl

Co NH3 NH3 NH3 NH3 Cl

TEORI RANTAI
BLOMSTRAND-JORGANSEN
(1869)
3.

Cl

Co NH3 NH3 NH3 NH3 Cl


Cl
4.

Cl

Co-NH3NH3-NH3-Cl
Cl

Atom Cl yang :
-Terikat langsung
pada Co sukar
dilepaskan
-Tidak terikat
langsung pada
atom Co mudah
dilepaskan,
sehingga dengan
mudah dapat
diendapkan dengan
penambahan
AgNO3

TEORI RANTAI
BLOMSTRAND-JORGANSEN
(1869)

Kelemahan:
Teori
ini
tidak
dapat
menjelaskan
sifat
nonelektrolit
dari
CoCl3.3NH3.
namun
demikian
dia
dapat
membuat
senyawa
IrCl3.3NH3 yang diharapkan
akan mempunyai sifat yang
sma dengan CoCl3.3NH3
yaitu memberikan reaksi
pengendapan dengan ion
Ag+
dengan
rasio
stoikiometri 1:1. Namun
kenyataannya, senyawa ini
tidak dapat menghasilkan
endapan dengan ion Ag+

Kelebihan:
Blomstrand mengajukan
teori
rantai
yang
kemudian disempurnakan
oleh
Jorgensen.
Berdasarkan teori rantai,
molekul-molekul
NH3
dapat membentuk rantai
NH3,
analog
dengan
rantai
CH2
pada
senyawa organik. Didalam
senyawa
kompleks,
jumlah NH3 yang terikat
pada
atom
logam
tergantung pada valensi
logam. Atom halogen di
dalam senyawa kompleks

TEORI KOORDINASI WERNER


(1891-1893)

Pada tahun 1893, ilmuwan


berkebangsaan Swiss,
Alfred Werner mengajukan
suatu teori mengenai ikatan
yang terbentuk dalam suatu
kompleks yang dikenal
dengan Teori koordinasi
Werner pada dasarnya
sangat sederhana.
Alfred Werner

TEORI KOORDINASI WERNER


(1891-1893)

3 POSTULAT WERNER

1.
Kebanyak
an unsur
mempun
yai 2
jenis
valensi

Valensi
primer

2. Tiap
unsur
menjenu
hkan
kedua
jenis
valensiny
a

Valensi
sekunder

3. Valensi
sekunder
digambar
kan dalam
ruang

TEORI KOORDINASI WERNER


(1891-1893)

Menurut Werner, Jika valensi primer


terpenuhi dengan ion negatif, maka
valensi sekunder dapat dipenuhi baik
oleh ion negatif maupun oleh molekul
netral atau kadang kadang ion positif.
Biasanya ion negatif dapat memenuhi
baik valensi sekunder maupun valensi
primer.

TEORI KOORDINASI WERNER


(1891-1893)

Kompleks CoCl3.6NH3 mempunyai struktur V dan


rumusnya dituliskan sebagai : [Co(NH3)6]Cl3.

[Co(NH3)6]Cl3 [Co(NH3)6]3+ + 3Cl-

Dalam senyawa CoCl3.5NH3, jumlah amoniak hanya


ada 5 sehingga satu atom Cl mempunyai dua fungsi,
yaitu menjenuhkan valensi sekunder dan valensi
primer. Atom Cl berada dalam daerah koordinasi,
sehingga rumus kompleks dituliskan sebagai
[Co(NH3)5Cl]Cl2.

[Co(NH3)5Cl]Cl2 [Co(NH3)5Cl]2+ + 2Cl-

Senyawa kompleks struktur III & IV mempunyai rumus :


CoCl3.4NH3 [Co(NH3)4Cl2]Cl
CoCl3.3NH3 [Co(NH3)3Cl3]
Struktur [Co(NH3)4Cl2]Cl dapat terion, tetapi
[Co(NH3)3Cl3] tidak terion.

TEORI KOORDINASI WERNER


(1891-1893)
[Co(NH3)6]Cl3

[Co(NH3)5Cl]Cl2.

[Co(NH3)4Cl2]Cl

[Co(NH3)3Cl3]

TEORI KOORDINASI WERNER


(1891-1893)

Kelebihan:
Dalam teori koordinasi Werner
dapat mempostulasikan adanya
dua macam valensi, yaitu valensi
primer dan sekunder. Dua macam
valensi ini hanya dimiliki oleh
atom logam dalam senyawa
kompleks. Valensi primer dari
suatu atom logam hanya dapat
dipenuhi oleh anion. Valensi
sekunder disebut juga dengan
bilangan koordinasi yang dapat
dipenuhi oleh anion atau molekul
netral. Atom pusat dengan anion
atau molekul netral yang terikat
pada atom pusat membentuk
suatu kompleks. Kompleks yang
atom pusatnya memiliki bilangan
koordinasi 6 struktur khasnya
adalah oktahedral, sedangkan

Kelemahan:
Valensi primer ditafsirkan
sebagai elektron valensi
yang
berasal
dari
pengalihan elektron secara
penuh,
dan
valensi
sekunder
dipandang
berasal dari kovalensi atau
patungan
pasangan
elektron
bebas
secara
besama-sama.
Valensi
primer
Werner
dapat
bersifat ionik dan dapat
juga tidak. Jika ion negatif,
terdapat
dalam
bola
koordinasi
pertama,
seperti untuk klorin dalam
kloropentaaminkromium
(III) Nitrat, [Cr(NH3)5Cl]
(NO3)2, maka ion negatif

KESIMPULAN
Senyawa koordinasi/senyawa kompleks adalah
senyawa yang terbentuk melalui ikatan
koordinasi, yakni ikatan kovalen koordinasi
antara ion/atom pusat dengan ligan (gugus
pelindung). Senyawa kompleks pertama kali
ditemukan oleh Tassert (1798), yang kemudian
berkembang dengan teori-teori selanjutnya
seperti Teori ammonium graham, Teori senyawa
molekuler kekule, Teori rantai blomstrandjorgansen Teori koordinasi werner. Dimana
teori-teori tersebut mempunyai kelemahan
sehingga perkembangan teori tersebut adalah
untuk menjelaskan akan apa yang tidak dapat
dijelaskan oleh teori sebelumnya.

Daftar Pustaka
Chang,R. 2003. Kimia Dasar Edisi ketiga Jilid I.
Jakarta: Erlangga
Chang,R. 2003. Kimia Dasar Edisi ketiga Jilid I.
Jakarta: Erlangga
Cotton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik
Dasar. Jakarta : UI Press
Kristian H. Sugiyarto.2009. Kimia Anorganik
Transisi. Yogyakarta: Graha Ilmu
Kristian H dan Retno S. 2010. Kimia Anorganik
Logam. Yogyakarta: Graha Ilmu
Nugroho, A. 2013. Konsep Dasar Kimia Koordinasi.
Yogyakarta: Deepublish
Oxtoby, dkk. 2003. Kimia Modern Edisi keempat
Jilid II . Jakarta : Erlangga

u
Yo

U
k
n
o
n
p
U
a
e
h
B
T ace
Pe