Anda di halaman 1dari 28

Ragam Gejala Sosial

dalam Masyarakat
Dani Ramdani, S.Sos
Musik. Mayang Sari - Tiada lagi

Tokoh
Keseragaman semua anggota masyarakat
tentang kesadaran moral tidak dimungkinkan.
Tiap individu berbeda satu sama lain karena
dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti
keturunan, lingkungan fisik, dan lingkungan
sosial [Emile Durkheim]

Pemandu
Hal yang dipelajari dalam sosiologi adalah
pola-pola hubungan dalam masyarakat. Polapola hubungan tersebut dapat menciptakan
kestabilan atau keadaan normal, namun dapat
pula menimbulkan keadaan yang tidak
normal, seperti penyimpangan dan masalah
sosial lainnya. Gejala-gejala tersebut dikenal
sebagai realitas sosial masyarakat.

Realitas Sosial

Realitas adalah kualitas yang berkaitan dengan fenomena


yang kita anggap berada di luar kemauan kita (sebab ia tidak
dapat dienyahkan). Berger dan Luckman melihat bahwa
realitas sosial memiliki dimensi objektif dan subjektif.
Manusia memiliki peluang untuk melakukan interpretasi
berbeda atas realitas yang diperolehnya melalui sosialisasi
(sosialisasi tidak sempurna) yang dilihatnya sebagai cermin
dunia objektifnya. Interpretasi yan berbeda ini secara kolektif
akan membentuk sebuah realitas baru. Berger menyebut
proses ini sebagai eksternalisasi.
Eksternalisasi berjalan lambat namun pasti. Proses ini
mengakibatkan terjadinya perubahan aturan atau norma
dalam masyarakat. Menurut Berger, masyarakat sebetulnya
adalah produk dari manusia. Manusia tidak hanya dibentuk
oleh masyarakat, tetapi juga mencoba mengubah masyarakat,
termasuk perubahan yang berakibat munculnya masalahmasalah sosial.

Masalah Sosial
Masalah sosial sesungguhnya merupakan
akibat dari interaksi sosial. Dalam keadaan
normal, interaksi sosial dapat menghasilkan
integrasi. Namun, interaksi sosial juga dapat
menghasilkan konflik.

Soerjono Soekanto
mengatakan bahwa
masalah sosial adalah
ketidaksesuaian antara
unsur-unsur kebudayaan
atau masyarakat yang
membahayakan kehidupan
kelompok sosial. Masalah
sosial dibedakan menjadi
empat yaitu sebagai
berikut.

Masalah sosial dari faktor ekonomis


Masalah sosial dari faktor biologis
Masalah sosial dari faktor psikologis
Masalah sosial dari faktor kebudayaan

Kriteria Masalah Sosial


Kriteria umum, masalah sosial terjadi karena ada perbedaan antara nilai-nilai dalam
suatu masyarakat dengan kondisi nyata kehidupan.
Sumber masalah sosial, selain bersumber dari interaksi sosial yang efektif, masalah
sosial juga dapat bersumber dari gejala-gejala alam.
Pihak yang menetapkan masalah sosial, dalam masyarakat, umumnya terdapat
sekelompok kecil individu yang mempunyai kekuasaan dan wewenang untuk
menentukan apakah sesuatu dianggap sebagai masalah sosial atau bukan.
Masalah sosial nyata dan laten, masalah sosial nyata adalah masalah sosial yang timbul
akibat terjadinya kepincangan yang disebabkan ketidaksesuaian tindakan dengan norma
dan nilai masyarakat. Masalah sosial laten adalah masalah sosial yang ada dalam
masyarakat, tetapi tidak diakui sebagai masalah.
Perhatian masyarakat dan masalah sosial, suatu kejadian atau peristiwa berubah menjadi
masalah sosial ketika hal tersebut menarik perhatian masyarakat. Masyarakat secara
intens membahas dan menggugat peristiwa tersebut.

Beberapa Masalah Sosial


Masa Kini

Kemiskinan
Kejahatan
Disorganisasi Keluarga
Masalah Generasi Muda Masyarakat Modern
Peperangan
Pelanggaran Terhadap Norma-Norma Masyarakat
Pelacuran
Kenakalan Remaja
Alkoholisme
Korupsi

Nilai dan Norma Sosial


Nilai Sosial
Nilai didefinisikan sebagai konsepsi
(pemikiran) abstrak dalam diri
manusia mengenai apa yang dianggap
baik dan buruk.

Konstruksi masyarakat
Disebarkan antara sesama warga
masyarakat

Ciri-ciri Nilai

Terbentuk melalui sosialisasi


Bagian dari usaha pemenuhan
kebutuhan dan kepuasan sosial
manusia.
Dapat mempengaruhi perkembangan
diri seseorang
Memiliki pengaruh yang berbeda
antarwarga masyarakat
Cenderung berkaitan satu sama lain dan
membentuk sistem nilai

Dapat menyumbang seperangkat alat


untuk menetapkan harga sosial dari
suatu kelompok

Fungsi nilai sosial

Mengarahkan masyarakat dalam


berpikir dan bertingkahlaku
Penentu terakhir manusia dalam
memenuhi peranan-peranan sosial
Alat solidaritas dikalangan anggota
kelompok (masyarakat)
Alat pengawas/Kontrol perilaku
manusia dengan daya tekan dan daya
mengikat tertentu agar orang mau
berperilaku sesuai dengan sistem nilai

Pembagian Nilai Menurut Prof.


Dr. Notonegoro
Nilai material

Nilai Berdasarkan Cirinya

Nilai vital

Nilai dominan

Nilai kerohanian

Nilai yang mendarah daging

Nilai kebenaran
Nilai keindahan
Nilai kebaikan atau nilai moral
Nilai religious

Norma Sosial
Norma adalah aturan atau ketentuan yang
mengikat warga kelompok dalam
masyarakat. Norma dipakai sebagai
panduan, tatanan, dan pengendali
tingkahlaku yang sesuai dengan harapan
masyarakat. Norma berfungsi mengatur
dan mengendalikan perilaku masyarakat
demi terciptanya keteraturan sosial. Norma
juga menjadi kriteria bagi masyarakat
untuk mendukung atau menolak perilaku
seseorang.

Tingkatan Norma
o Cara (usage)
Norma sosial yang mengatur
masyarakat bersifat formal dan
non formal
o Norma formal bersumber dari
lembaga masyarakat (institusi)
formal. Norma ini biasanya
tertulis
o Norma nonformal biasanya
tidak tertulis dan jumlahnya
lebih banyak dari norma
formal.

o Kebiasaan (folksways)

Jenis Norma

o Tata kelakuan (mores)

o Norma agama

o Adat istiadat (custom)

o Norma kesusilaan
o Norma kesopanan
o Norma kebiasaan (habit)
o Norma hukum

Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian


Dalam sosiologi, penanaman atau proses belajar kebiasaankebiasaan di dalam suatu kelompok atau masyarakat disebut
sosialisasi
Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer
kebiasaan atau nilai dan aturan atau norma dari satu generasi
ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat.
Menurut sejumlah sosiolog, hal yang dipelajari dalam proses
sosialisasi adalah peran, yaitu bagaimana seseorang berperan
sesuai dengan nilai, kebiasaan, dan norma yang berlaku dalam
masyarakat atau kelompoknya. Sementara itu, beberapa tokoh
lain mengemukakan bahwa yang dipelajari dalam proses
sosialisasi adalah nilai dan norma sosial. Oleh sebab itu, teori
sosialisasi dari sejumlah tokoh sosiologi merupakan teori
peran (role theory)

Proses sosialisasi dan


pembentukan kepribadian
Kepribadian merupakan kumpulan kebiasaan, sifat, sikap, dan
ide-ide dari seorang individu yang berpola dan berkaitan
secara eksternal dengan peran dan status, dan secara internal
dengan motivasi dan tujuan pribadi serta dan berbagai aspek
kedirian lainnya. Kepribadian adalah produk dari interaksi
sosial dalam kehidupan kelompok.
Dalam sosiologi, istilah kepribadian dikenal dengan sebutan
diri (self). Sosialisasi bertujuan membentuk diri seseorang agar
dapat bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai dan norma
yang dianut oleh masyarakat dilingkungan tempat tinggalnya.

Menurut George Herbert Mead dalam bukunya Mind,


self, and Society, ketika lahir, manusia belum memiliki
diri (self). Diri manusia berkembang tahap demi tahap
melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain, hal
tersebut dikenal dengan proses pengambilan peran (role
taking), yaitu:
o Tahap Preparation Stage (tahap persiapan)
mengenali lingkungan sekitarnya
o Tahap Play Stage (tahap bermain peran) memainkan
peran-peran orang dewasa disekelilingnya.
o Tahap Game Stage (tahap siap bertindak)
menempatkan pada posisi orang lain dan
kemampuannya dalam bermain bersama-sama atau
berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang
terorganisir.
o Tahap Generalized Other (penerimaan norma

Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian


Setiap orang mempunyai kepribadian.
Hanya saja, tiap kepribadian berbeda satu
sama lain. Hal tersebut dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu warisan biologis,
lingkungan fisik, kebudayaan, pengalaman
kelompok, dan pengalaman unik seseorang.

Agen, Bentuk, Tipe, dan Pola Sosialisasi

Penyimpangan Sosial
Konformitas
Menurut John M. Shepard, konformitas
merupakan bentuk interaksi ketika
seseorang berperilaku terhadap orang
lain sesuai dengan harapan kelompok
atau masyarakat tempat tinggalnya.

Perilaku Menyimpang
Suatu perilaku dikatakan menyimpang
apabila tidak sesuai dengan nilai dan
norma yang berlaku dalam masyarakat

Teori-Teori Perilaku Menyimpang


Edwin H. Sutherland
Mengemukakan sebuah teori yang
dinamakannya differential association
theory. Menurutnya, penyimpangan
bersumber pada pergaulan dengan orang
yang berperilaku menyimpang.

Robert K. Merton
Struktur sosial menghasilkan
pelanggaran terhadap aturan sosial dan
menekan orang tertentu kearah
perilaku nonkonformis.

Edwin M. Lemert
Lemert menamakan teorinya
labelling theory. Menurut Lemert,
seseorang menjadi penyimpang
(deviant) karena proses labelisasi
(pemberian julukan atau cap) oleh
masyarakat terhadap orang
tersebut.Selanjutnya Lemert
mengembangkan gagasan tentang
penyimpangan primer dan
sekunder untuk menjelaskan proses
pelabelan.

Hubungan Antara Perilaku


Menyimpang dan Sosialisasi
yang
Tidak
Sempurna
Pada
bagian
sebelumnya
kita telah
mempelajari tetang pelaku-pelaku
sosialisasi, seperti keluarga, sekolah,
teman sepermainan, dan media massa
(cetak elektronik). Setiap pelaku sosialisasi
mempunyai fungsi masing-masing yang
seharusnya saling melengkapi. Namun
pada kenyataannya, sering terjadi
ketidaksepadanan antara pesan yang
disampaikan pelaku sosialisasi yang satu
dengan pelaku sosialisasi yang lain.

Pengendalian Sosial
Pengendalian sosial adalah mekanisme
untuk mencegah penyimpangan dan
mengarahkan anggota masyarakat
untuk bertindak menurut norma dan
nilai yang telah melembaga. Para
sosiolog menggunakan istilah
pengendalian sosial untuk
menggambarkan segenap cara dan
proses yang ditempuh oleh
sekelompok orang oleh sekelompok
orang atau masyarakat yang
bersangkutan untuk memaksa individu
agar taat pada sejumlah pelaturan.

Terdapat dua sifat pengendalian sosial,


yaitu preventif dan represif. Preventif
adalah pengendalian sosial yang
dilakukan sebelum terjadinya
pelanggaran. Represif adalah
pengendalian sosial yang ditujukan
untuk memulihkan keadaan seperti
sebelum terjadi pelanggaran.
Pengendalian yang terakhir ini
dilakukan setelah orang melakukan
suatu tindakan penyimpangan.

Cara Pengendalian Sosial


Cara Pengendalian Melalui
Institusi dan Noninstitusi
Cara pengendalian melalui institusi
adalah cara pengendalian sosial
melalui lembaga-lembaga sosial yang
ada di dalam masyarakat. Cara
pengendalian melalui noninstitusi
adalah cara pengendalian di luar
institusi sosial yang ada, seperti oleh
individu atau kelompok massa yang
tidak saling mengenal.

Cara Pengendalian secara Lisan,


Simbolik, dan Kekerasan
Cara pengendalian melalui lisan dan
simbolik disebut juga cara pengendalian
sosial persuasif. Cara pengendalian
sosial melalui kekerasan sering juga
disebut cara pengendalian koersif.

Cara Pengendalian Sosial


Formal dan Informal
Formal oleh lembaga-lembaga resmi.
Informal oleh kelompok yang kecil,
akrab,

Cara Pengendalian Sosial


Melalui Imbalan dan Hukuman
(Reward and Punishment)
Cara pengendalian sosial melalui
imbalan cenderung bersifat preventif.
Cara pengendalian sosial melalui
hukuman cenderung bersifat represif.

Cara Pengendalian Sosial


melalui Sosialisasi
Cara Pengendalian Sosial
Melalui Tekanan Sosial

Lembaga Pengendali
Sosial
Polisi
Pengadilan
Adat
Tokoh Masyarakat
Media Massa

Sumber Pustaka
Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2014. Sosiologi 1:Kelompok Peminatan IlmuIlmu Sosial. Jakarta. Esis Erlangga
Copyright. Sosiologi SMAN 1 Cibeber

Anda mungkin juga menyukai