Anda di halaman 1dari 10

Epididimitis

Diagnosis
Penyakit akut yang umumnya sebagian
besar adalah penyakti hubungan seksual
sekunder dari uretritis.
Biasanya unilateral dengan :
Pembengkakkan skrotum yang jelas, nyeri,
panas, pada palpasi terasa nyeri dan eritema.
Testis dapat juga membesar dan nyeri.
Harus dibedakan dengan torsio dimana
nyeri sering mulai denan lebih mendadak
dibandingkan dengan epididimitis.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dapat digunakan
untuk mengetahui adanya suatu infeksi adalah:4,16,17
Pemeriksaan darah dimana ditemukan leukosit
meningkat dengan shift to the left (10.000-30.000/l)
Kultur urin dan pengecatan gram untuk kuman
penyebab infeksi
Analisa urin untuk melihat apakah disertai pyuria atau
tidak
Tes penyaringan untuk klamidia dan gonorhoeae.
Kultur darah bila dicurigai telah terjadi infeksi sistemik
pada penderita

Penatalaksanaan
Jika terdapat sekret harus dievaluasi.
Kultur urin bisa dilakukan terutama jika tidak ada
sekret
Terapi Supportif yaitu penopang skrotum, es, tirah
baring, antibiotik dan bisa di beri antiinflamasi
seperti indometasin 25 mg 3x sehari
Terapi antibiotik mirip dengan uretritis namun
lebih lama, yaitu:
a. Seftriakson 250 mg IM
b. Lalu doksisiklin 100 mg 2x sehari atau tetrasiklin
500 mg 4x sehari untuk 10 hari.

Penatalaksanaan Medis
Antibiotik digunakan bila diduga adanya suatu proses
infeksi. Antibiotik yang sering digunakan adalah :
Fluorokuinolon, namun penggunaannya telah dibatasi
karena terbukti resisten terhadap kuman gonorhoeae
Sefalosforin (Ceftriaxon)
Levofloxacin atau ofloxacin untuk mengatasi infeksi
klamidia dan digunakan pada pasien yang alergi
penisilin
Doksisiklin, azithromycin, dan tetrasiklin digunakan
untuk mengatasi infeksi bakteri non gonokokal
lainnya.
(Eliastam,2005)

Penanganan epididimitis lainnya berupa


penanganan suportif, seperti :
Pengurangan aktivitas
Skrotum lebih ditinggikan dengan melakukan
tirah baring total selama dua sampai tiga hari
untuk mencegah regangan berlebihan pada
skrotum.
Kompres es
Pemberian analgesik dan NSAID
Mencegah penggunaan instrumentasi pada
urethra

Penatalaksanaan Bedah
Scrotal exploration
Tindakan ini digunakan bila telah terjadi komplikasi dari
epididimitis dan orchitis seperti abses, pyocele, maupun
terjadinya infark pada testis. Diagnosis tentang gangguan
intrascrotal baru dapat ditegakkan saat dilakukan
orchiectomy.
Epididymectomy
Tindakan ini dilaporkan telah berhasi mengurangi nyeri
yang disebabkan oleh kronik epididimitis pada 50% kasus.
Epididymotomy
Tindakan ini dilakukan pada pasien dengan epididimitis
akut supurativa.

Komplikasi

Abses dan pyocele pada skrotum


Infark pada testis
Epididimitis kronis dan orchalgia
Infertilitas sekunder sebagai akibat dari
inflamasi maupun obstruksi dari duktus
epididimis
Atrofi testis yang diikuti
hipogonadotropik hipogonadism
Fistula kutaneus

Prognosis
Epididimitis akan sembuh total bila
menggunakan antibiotik yang tepat
dan
adekuat
serta
melakukan
hubungan seksual yang aman dan
mengobati
partner
seksualnya.
Kekambuhan
epididimitis
pada
seorang pasien adalah hal yang
biasa terjadi.

Daftar Pustaka
Eliastam, Michael et al. 2005. Buku
Saku Kedaruratan Medis Edisi 5.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Suzanne, C. Smeltzer. 2001.
Keperawatan medikal bedah, edisi 8.
Jakarta : EGC