Anda di halaman 1dari 48

Infeksi Paada Kehamilan

TORCH, Hepatitis B dan


Malaria
Oleh :
Dwiyana Roselin
Preseptor :
dr. Yulia Margareta Sari, Sp.OG

Toksoplasmosis
Toksoplasmosis

adalah penyakit yang


disebabkan parasit Toxoplasmagondii.
Parasit ini merupakan suatu protozoa
intraseluler yang temasuk kedalam phylum
Apicomplexa dan subklas Coccidian

Toxoplasma gondii dapat menular ke manusia melalui

beberapa rute, yaitu:


1. Pada toksoplasmosis kongenital, transmisi melalui plasenta

bila ibu mengalami infeksi primer saat hamil.


2. Pada infeksi akuisita infeksi dapat terjadi bila makan

daging mentah atau kurang matang yang mengandung


ookista
3. Infeksi dapat terjadi dengan transplantasi organ dari donor

yang menderita toksoplasmosis primer.

Patogenesis
Bila kista jaringan yang mengandung bradizoit

atau
ookista yang mengandung sporozoit
terlelan oleh hospes, parasit akan bebas dari
kista didalam eritrosit, parasit transformasi,
peningkatan invasif takizoit
parasit
menyebar ke jar. Limfatik, otot lurik,
miokardium, retina, plasenta, dan SSP terjadi
infeksi replikasi invasi sel sekitar
kematian sel dan nekrosis fokal + inflamasi akut

Manifestasi Klinis Toksoplasmosis


fatigue, nyeri

otot
dan
kadang-kadang
limfadenopati, tetapi seringkali infeksi terjadi
subklinis
wanita hamil terinfeksi toxoplasma maka akibat
yang dapat terjadi adalah abortus spontan atau
keguguran (4%), lahir mati (3%) atau bayi
menderita toxoplasmosis bawaan
toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah
dewasa, misalnya kelinan mata dan telinga,
retardasi mental, kejang-kejang dan ensefalitis

Diagnosis Prenatal Toksoplasmosis


Kordosentesis ataupun amniosentesis
Pembiakan darah janin ataupun cairan

ketuban dalam kultur sel fibroblast


Pemeriksaan dengan PCR
Pemeriksaan dengan teknik ELISA untuk
mendeteksi antibody IgM janin spesifik

Tatalaksana
1)Pyrimethamine 50 mg/hari + Sul-fadiazine 3 g/hari

selama 3minggu. (setelah usia kehamilan >12


minggu)
2)Atau diganti dengan Spiramycin 3 g/hari selama

3minggu.
3)Terapi dilanjutkan sampai persalinan
4)Folinic acid 5 mg perminggu

2.2. RUBELA
Rubella

atau campak Jerman adalah


penyakit yang disebabkan suatu virus RNA
dari golongan Togavirus

Patogenesis
Penularan

virus rubella melalui udara


dengan tempat masuk awal melalui
nasofaring dan orofaring
Penyebaran virus rubella pada hasil
konsepsi terutama secara hematogen

Infeksi kongenital biasanya terdiri dari 2

bagian : viremia maternal dan viremia fetal


Viremia maternal terjadi saat replikasi virus
dalam sel trofoblas
viremia fetal, replikasi virus terjadi dalam
sel endotel janin. Viremia fetal dapat
menyebabkan kelainan organ secara luas

Manifestasi Klinis
infeksi primer pembesaran
kelenjar getah bening di daerah belakang
kepala, belakang telinga, dan leher bagian
belakang
munculnya ruam yang dimulai pada daerah
muka dan menyebar dengan cepat ke
seluruh tubuh dalam waktu 1 hari
Gejala

Pada

janin, infeksi rubella dapat


menyebabkan abortus bila terjadi pada
trimester I.
Infeksi ibu pada trimester kedua dapat
menyebabkan anemia hemolitika dengan
hematopoiesis ekstra meduler, hepatitis,
nefritis interstitial, ensefalitis, pankreatitis
interstitial dan osteomielitis

Sindroma rubella kongenital


Sindroma rubella kongenital yang meliputi 4 defek utama yaitu :
a. Gangguan pendengaran tipe neurosensorik.
b.

Gangguan jantung meliputi PDA, VSD dan stenosis katup


pulmonal.

c. Gangguan mata : katarak dan glaukoma.


d. Retardasi mental
e. Purpura trombositopeni ( Blueberry muffin rash )
f. Hepatosplenomegali, meningoensefalitis, pneumonitis, dan lain-lain

Diagnosis
Gejala klinis primer
IgM spesifik rubella dengan menggunakan

sistem ELISA
Prenatal memeriksa adanya IgM dari
darah janin melalui CVS

Tatalaksana
Jika

tidak terjadi komplikasi bakteri,


pengobatan adalah simtomatis.
Adamantanamin hidrokhlorida (amantadin)
telah dilaporkan efektif in vitro bukan
untuk ibu hamil

Pencegahan
vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella).

Cytomegalovirus (CMV)
penyakit yang disebabkan oleh

Cytomegalovirus

Patogenesis
secara horisontal, vertikal dan hubungan

seksual
horisontal
terjadi
melalui
droplet
infection yaitu kontak dengan air ludah dan
air seni.
transmisi vertikal adalah penularan proses
infeksi maternal ke janin (transplasenta,
sekresi serviks, air susu ibu)

Transmisi CMV dari ibu ke janin


infeksi

maternal

eksogenus

ataupun

endogenus
Infeksi eksogenus dapat bersifat primer
yaitu terjadi pada ibu hamil dengan pola
imunologis seronegatif dan non primer bila
ibu hamil dalam keadaan seropositif
infeksi endogenus adalah hasil suatu
reaktivasi virus

Manifestasi Klinis
infeksi

kongenital dengan manifestasi klinis


susunan saraf pusat dan berbagai organ lainnya
(multiple organ).
kematian perinatal 20 30% serta timbulnya cacat
neurologik berat lebih dari 90% pada kelahiran.
hepatosplenomegali,
mikrosefali,
retardasi
mental, gangguan psikomotor, ikterus, petechiae,
korioretinitis dan kalsifikasi serebral. 10

Diagnosis
Serologis adanya IgM dan IgG anti CMV
Virologis
menggunakan
uji

immunofluoresen
Diagnosis prenatal amniosentesis

Klinisi harus memikirkan adanya kemungkinan


infeksi CMV intrauterin bila:
oligohidramnion, polihidramnion, hidrops non
imun, asites janin, gangguan pertumbuhan
janin, mikrosefali, ventrikulomegali serebral
(hidrosefalus),
kalsifikasi
intrakranial,
hepatosplenomegali dan kalsifikasi intrahepatik

Tatalaksana
Tidak ada terapi yang memuaskan dapat

diterapkan khususnya pada pengobatan


infeksi kongenital
Obat yang digunakan untuk anti CMV
untuk saat ini adalah Ganciclovir,
Foscarnet, Cidofivir dan Valaciclovir

Herpes Simplex Virus


Infeksi ini disebabkan Virus Herpes

Simpleks : HSV-1 dan HSV-2

Patogenesis
HSV-1

dan HSV-2. HSV-1 biasanya


dikaitkan dengan herpes oral;
HSV dari ibu ke bayi adalah melalui saluran
kelahiran yang terinfeksi selama melahirkan

Manifestasi klinis
Infeksi

HSV dapat melibatkan genital


eksterna, vagina, serviks
Bayi yang dilahirkan dari ibu yang
terinfeksi HSV II biasanya memperlihatkan
lepuh pada kulit

Efek pada kehamilan


Pada 20 minggu pertama, dapat mengakibatkan :

a. Abortus
b.

Lahir mati

c.

Cacat congenital (pada usia kehamilan lebih lanjut)

Infeksi pada trimester 3, hanya beresiko 10 % terhadap

janin.
a.

Mono-nuclear chorionitis

b.

Severe necrotizing amnionitis

Diagnosis
Klinis
Laboratorium > tzank tes

Penatalaksanaan
Saat ini tidak ada pengobatan untuk HSV

dan terapi antivirus bukan pengubatan yang


disarankan bagi wanita yang tidak memiliki
manifestasi klinis infeksi

Wanita yang tertular herpes genital saat


pertengahan pertama kehamilan:
hindari prosedur trans-servikal invasive
sampai lesi tersebut sembuh;
atasi dengan asiklovir,
dapat melahirkan pervaginam apabila tidak
terdapat lesi ataupun gejala prodromal.

Wanita yang tertular herpes genital pada


kehamilan akhir: Bayi yang dikandung
beresiko tinggi terhadap penularan herpes;
hindari prosedur invasive trans-servikal;
dapat diatasi dengan asiklovir;
persalinan dengan operasi seksio sesar

Malaria
Malaria merupakan infeksi parasit yang

disebabkan oleh empat spesies plasmodium


yang mengenai manusia, vivax, ovale,
malariae dan falciparum

Patofisiologi
Malaria ditularkan ketika nyamuk yang

mengandung plasmodium menghisap darah


manusia sehingga terjadi perpindahan
sporozoit plasmodium dari air ludah nyamuk
ke jaringan kapiler darah manusia.
Gejala malaria terutama disebabkan oleh
terserangnya eritrosit serta respon inflamasi
oleh tubuh. Infeksi malaria menyebabkan
terjadinya sintesis immunoglobulin

Respon Imun Terhadap Infeksi Malaria


Selama Kehamilan
Wanita hamil memiliki resiko terserang

malaria falciparum lebih sering dan lebih


berat dibandingkan wanita tidak hamil
Konsentrasi hormon progresteron yang
meningkat selama kehamilan berefek
menghambat aktifasi limfosit T terhadap
stimulasi
antigen.
Selain
itu
efek
imunosupresi kortisol juga berperan dalam
menghambat respon imun

Manifestasi Klinis
serangan yang berulang dari menggigil,

demam tinggi dan berkeringat pada saat


turunnya demam, perasaan tidak nyaman
dan malaise
sakit kepala, mual, muntah dan diare

Komplikasi Terhadap Ibu dan Janin


Anemia
Bayi lahir mati
BBLR
Malaria kongenital
Malaria serebral

Diagnosis
Diagnosis

pasti

dengan

pemeriksaan

mikroskopik
Namun selama kehamilan densitas parasit
rendah dan parasit berkumpul di plasenta,
yang berbahaya baik terhadap ibu dan janin
Rapid diagnostik test

Penatalaksanaan
Terapi

pada spesies non-falciparum


Cloroquin (25 mg/kg BB) aman diberikan
pada semua trisemester
Terapi Infeksi Falciparum
artemisin based combination therapy (ACT)
efektif pada trisemester kedua dan tiga dan
digunakan sebagai terapi lini pertama sesuai
dengan guideline dari WHO

Kemoprofilaksis
berguna menurunkan anemia maternal dan

berat lahir rendah


Klorokuin,
hidroksiklorokuin
meflokuin

dan

Hepatitis B
Infeksi hepatitis B disebabkan oleh virus

hepatitis B virus (HBV), sebuah virus DNA


berkapsul yang dapat menginfeksi hepar dan
menyebabkan nekrosis hepatoselular dan
inflamasi

Patogenesis
ditularkan melalui perkutaneus atau mukosa

yang terpapar dengan darah yang terinfeksi


dan berbagai cairan tubuh lainnya, termasuk
saliva, darah menstruasi, cairan vagina, dan
cairan mani.

Tiga ruteyang mungkin untuk transmisi


HBVdariibu yang terinfeksi kepada
bayinya:
Transmisi trans plasental dalam rahim
Transmisisaat melahirkan
Transmisi postnatal selama perawatan atau
melalui ASI.

Gejala Klinik
Fase Akut
biasanya pasien merasa tidak enak badan,
anorexia, mual, muntah, nyeri perut pada
kuadran kanan atas, demam, sakit kepala,
myalgia, rash pada kulit, arthralgia dan
arthritis, dan urin berwarna gelap, gejalagejala ini dapat terjadi 1 sampai 2 hari
sebelum fase ikterik

Fase ikterik
ditandai dengan sklera menjadi kuning
dengan waktu rata-rata 90 hari sejak
terinfeksi sampai menjadi kuning

Penatalaksanaan
Pada saat kehamilan
Ketika kontak seksual dengan penderita

hepatitis B terjadi dalam 14 hari


Berikan vaksin VHB

Wanita hamil dengan carrier VHB dianjurkan memperhatikan hal-hal


sebagai berikut:
Tidak mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan hepatotoksik seperti

asetaminophen
Jangan mendonorkan darah, organ tubuh, jaringan tubuh lain atau semen
Tidak memakai bersama alat-alat yang dapat terkontaminasi darah seperti

sikat gigi, alat cukur dan sebagainya.


Memberikan informasi pada ahli anak, kebidanan dan laboratorium

bahwa dirinya penderita hepatitis B carrier.


Pastikan bayinya mendapatkan HBIg saat lahir, vaksin hepatitis B dalam
1 minggu setelah lahir, 1 bulan dan 6 bulan kemudian

Pada Saat Persalinan


Pada ibu hamil dengan Viral Load tinggi dapat

dipertimbangkan pemberian HBIG atau lamivudin


pada 1 2 bulan sebelum persalinan.
Persalinan sebaiknya jangan dibiarkan berlangsung
lama
Persalinan pada ibu hamil dengan titer VHB tinggi
(3,5 pg/ml) atau HbsAg positif, lebih baik seksio
sesarea.
Demikian juga jika persalinan yang lebih dari 16
jam pada pasien pengidap HbsAg positif

Terimak
asih