Anda di halaman 1dari 30

Kepatuhan Pajak

dan Makroekonomi
Ahmad Erani Yustika
Malang, 23 September 2014

Pendahuluan
Peningkatan kesejahteraan
masyarakat merupakan salah satu
tujuan akhir dari kebijakan
ekonomi nasional
Untuk menciptakan kesejahteraan
masyarakat pemerintah berupaya
memfasilitasi dan melayani segala
keperluan dan kebutuhan
masyarakat
Sumber dana utama pemerintah
dalam memenuhi kebutuhan
masyarakat adalah pajak
Pajak memiiki effect multiplayer
yang besar dalam perekonomian
suatu negara

Fiskal

Perpajakan
Anggaran

Ekonomi
Makro
Moneter

Inflasi
Nilai Tukar

Penerimaan yang bersumber dari


perpajakan bergantung pada kepatuhan
wajib pajak dalam membayar kewajiban
pajaknya kepada pemerintah

Pajak dalam APBN


Menurut UU no 16 tahun 2009 tentang ketentuan
umum dan tata cara perpajakan definisi dari pajak
adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang
oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan
untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Pajak merupakan salah satu
sumber penerimaan negara
Pada dasarnya pajak merupakan transfer pembayaran
dari masyarakat untuk mendukung pembiayaan dan
pengeluaran negara dengan tujuan akhir akan
pembangunan perekonomian dan kesejahteraan
masyarakat
Semakin besar penerimaan perpajakan negara maka
semakin tinggi kemampuan negara dalam membiayai

Pendapatan Negara dan Hibah (Rp M)


1,800,000

Penerimaan negara selalu


meningkat setiap tahun,
dengan peningkatan ratarata 13,3% pertahun selama
5 tahun terakhir.

1,600,000
1,400,000
1,200,000
1,000,000
800,000
600,000
400,000
200,000
2010

2011

2012

2013P

2014P

Komponen Penerimaan Negara APBN (%)


100.00

0.19
24.91

0.40
24.49

0.06
25.12

0.30
23.25

0.14
23.66

74.90

75.11

74.82

76.46

76.20

80.00
60.00
40.00
20.00
0.00
2010

2011

Penerimaan Perpajakan
Hibah

2012

2013P

2014P

Penerimaan Negara Bukan Pajak

Sumber: Kemenkeu diolah, 2014

Sumber terbesar
penerimaan negara adalah
penerimaan perpajakan
Sayangnya,kontribusi
penerimaan perpajakan
berfluktuatif setiap tahunnya,
padahal seharusnya
penerimaan perpajakan
mengalami penikatan seiring
dengan peningkatan jumlah
penduduk

Ringkasan RAPBN 2015


Uraian
Pendapatan Negara
Pendapatan Dalam Negeri
Penerimaan Perpajakan
Penerimaaan Negara Bukan Pajak
Penerimaan Hibah
Belanja Negara
Belanja Pemerintah Pusat

(Rp M)
1,762,296.0
1,758,864.2
1,370,827.2
388,037.0
3,431.8
2,019,868.3
1,379,875.3

Belanja Kementrian Negara/Lembaga

600,581.7

Belanja Non Kementrian negara/Lembaga

770,293.6

Transfer Ke Daerah dan Dana Desa


Transfer Ke Daerah
Dana Desa
Keseimbangan Primer
Surplus Defisit Anggaran
Pembiayaan

639,993.0
630,926.8
9,066.2
103,532.9
(257,572.3)
257,572.3

Pembiayaan Dalam Negeri

281,387.3

Pembiayaan Luar Negeri

(23,815.0)

Sumber: Nota Keuangan RAPBN 2015 Kemenkeu, 2014

Rincian Penerimaan Pajak (Rp M)


2010
Penerimaan Dalam
Negeri
Penerimaan
Perpajakan
Pajak Dalam
Negeri

2011

2012

2013R

990,502

1,165,253 1,357,380

1,497,521

743,326

878,685 1,016,237

1,148,365

720,764

831,745

968,293

1,134,289

362,219

431,977

513,650

584,890

306,837

366,746

445,733

513,509

55,382

65,231

67,917

71,382

PPN

262,963

298,441

336,057

423,708

PBB

25,319

29,058

29,688

27,344

7,156

59,266

68,075

83,267

92,004

3,842

4,194

5,632

6,343

22,561

46,940

47,944

58,705

17,107

21,501

24,738

27,003

5,455

25,439

23,206

31,702

PPH
Non Migas
Migas

BPHTB
Cukai
Pajak Lainnya
Pajak Perdagangan
Internasional
Bea Masuk
Pajak Ekspor

Sumber: Kementrian Keuangan, Bi 2014

Penerimaan terbesar
dari jenis pajak
penghasilan.
Peran pajak
penghasilan dalam
makroekonomi adalah
untuk meni

Rincian Pendapatan Pajak


Uraian

Pendapatan Negara dan


Hibah
Pendapatan Dalam Negeri

(% thdp
(% thdp RAPBN2015 Pendapat
2014 APBNP Pendapatan (Rp M)
an
(Rp M)
Negara)
Negara)

1.635.37
8,5
1.633.05
3,4

100
99,86

1.762.29
6
100
1.758.86
4,2
99,81

Penerimaan Perpajakan
1.246.107
76,20
1.370.827,2
Pendapatan pajak dalam
negeri
1.189.826,6
72,76
1.319.323,4
Pendpatan Pajak Penghasilan
569.866,7
34,85
636.031,7
Pendapatan PPh migas
83.889,8
5,13
82.912,8
Pendapatan PPh nonmigas
485.976,9
29,72
553.119
Pendapatan PPh Pasal 21
105.675,7
6,46
Pendapatan PPh pasal 22
7.954
0,49
Pendapatan PPh Pasal 22 impor
42.706,3
2,61
Pendapatan PPh pasal 23
26.027
1,59
Pendapatan PPh Pasal 25/29 WP
OP
5.147,3
0,31
Pendapatan PPh Pasal 25/29 WP
Badan Nota RAPBN 2015, dan 181.663,7
Sumber:
UU 12 Tahun 11,11
2014 APBNP 2014

77,79
74,86
36,09
4,70
31,39

Penerimaan pajak yang mengalami peningkatan setiap


tahun belum dimanfaatkan secara optimal oleh pemerintah
untuk menutupi pembengkakan defisit anggaran. Defisit
anggaran meningkat seiring degan peningkatan penerimaan
pajak dalam negeri

sumber: Kemenkeu, 2013

Pajak dan Pertumbuhan


Ekonomi
Menurut Mesca (2013:536) kebijakan pajak yang bekerja
dengan baik akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi
dan efisiensi
Disisi lain, Pertumbuhan ekonomi yang stabil juga akan
berpengatuh terhadap peningkatan penerimaan pajak
Dalam hal ini, pajak merupakan penyeimbang yang dapat
menggerakkan perekonomian secara makro baik melalui sisi
konsumsi maupun sisi belanja pemerintah
Peningkatan dan penurunan pajak yang diimbangi dengan
kebijakan pemerintah yang tepat secaa makro ekonomi akan
berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan
efisiensi APBN
Sayangnya, di Indonesia sektor perpajakan belum mampu
dijadikan instrumen penyeimbang atau stabilisasi pertumbuhan
ekonomi

Pajak

Konsumsi
Penurunan pajak akan
meningkatkan konsumsi

Belanja Pemerintah
Peningkatan pajak akan
meningkatkan Belanja
Pemerintah

Meningkatkan PDB dan


Pertumbuhan Ekonomi

Penurunan pajak akan


meningkatkan
konsumsi. Karena
penurunan pajak akan
meningkatkan
disposible income yang
akan berpengaruh pada
tingkat konsumsi
masyarakat

Disisi lain, peningkatan


pajak akan berdampak
pada peningkatan
pendapatan negara
yang akan
meningkatkan belanja
pemerintah. Dalam
artian meningkatkan
kemampuan pemerintah
dalam membiayai
pembangunan

14
12.5

Tax Ratio (%)


12.3

12.4

13.3

12

11

11.3

11.8

11.9

12.6

12.2

2014a

2014b

10.6

10

8
6
4

Tax rasio merupakan salah satu


ukuran kinerja perpajakan nasional
yang dibandingkan dengan PDB.

2
0
2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

Sumber: LKPP 2005-2012 & Kemenkeu, serta bahan rapat banggar DPR
2014a adalah angka dari nota Keuangan RAPBN 2014
2014b adalah angka revisi yang dibahas pemerintah & DPR

Pertumbuhan Ekonomi nasional


yang cenderung tinggi dan
stabil belum bisa mendorong
peningkatan tax rasio

2013**

Pergerakan tax ratio tidak seiring


dengan pergerakan PDB nasional
yang mengimplikasikan bahwa kondisi
perekonomian secara makro belum
bisa meningkatkan kinerja perpajakan
Sumber: BPS dikutip dari Investor Daily 4/8/2014

Indikator

2014
TW I

2010

2011

2012

2013

56.51

54.63

54.64

55.82

56.39

9.11

9.02

8.91

9.11

6.76

Pembentukan Modal Tetap Domestik


Bruto

32.03

31.95

32.67

31.66

30.80

Perubahan Inventori dan Diskrepansi


Statistik

0.66

2.99

5.34

5.40

7.42

24.58

26.36

24.29

23.74

23.67

22.90

24.95

25.86

25.74

25.03

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga


Belanja Pemerintah

Ekspor Barang dan Jasa


Dikurangi Impor Barang dan Jasa
PRODUK DOMESTIK BRUTO

Kinerja perpajakan yang belum optimal juga ditunjukan oleh


kontribusi belanja pemerinth terhadap PDB yang sangat
kecil.

Pajak mendorong
Kesejahteraan
Salah satu fungsi pajak merupakan instrument transfer
pendapatan atau redistribusi pendapatan masyarakat
Di sebagian besar negara maju, pengenaan pajak progresif
atas pendapatan masyarakat merupakan salah satu upaya
pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Selain itu, pajak digunakan sebagai sumber dana untuk
membangun fasilitas umum, biaya pendidikan dan biaya
kesehatan masyarakat
Peningkatan pajak, terutama pajak penghasilan dapat menjadi
instrument penanggulangan kemiskinan, peningkatan kualitas
sumber daya manusia, dan juga penyedia fasilitas umum bagi
masyarakat

Pajak dan Kontribusi terhadap APBN 2009-2014


Tahun Fiskal

Total Belanja
Negara (Rp
Triliun)

Penerimaan
Pajak (Rp Triliun)

% thdp Belanja
Negara

2009 (LKPP)

937,4

619,9

66,1

2010 (LKPP)

1.042,1

723,3

69,4

2011 (LKPP)

1.295,0

873,9

67,5

2012 (APBNP)

1.548,3

1.016,2

65,6

2013 (APBNP)

1.683,0

1.148,4

68,2

2014 (APBNP)

1.876,9

1.246,1

66,4

Sumber: Kemenkeu dikutip dari investor daily 6/8/2014

Pajak merupakan sumber utama belanja pemerintah. dalam 6 tahun terakhir


rata-rata sektor pajak menyumbang 67% belanja pemerintah.
Peningkatan belanja pemerintah setiap tahun selalu diiringi oleh peningkatan
penerimaan pajak.

Rasio Gini

Indeks Gini
0.45
0.4
0.35
0.32

0.36

0.33

0.36 0.35 0.37

0.38

0.41 0.41 0.41

0.3
0.25
0.2
0.15
0.1

Rasio gini yang


cenderung mengalami
peningkatan yang
berarti ketimpangan
semakin melebar

0.05
0
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

Peningkatan penerimaan pajak juga belum diimbangi oleh


pemerataan pendapatan. Distribusi pendapatan yang
belum merata menandakan baha sistem perpajakan
nasional belum efisien dan efektif dalam memerankan
fungsinya

Distribusi Pendapatan Penduduk (%)


40% penduduk lowest income
20% penduduk high income

40% penduduk middle income

60
50

42.07

44.78

42.15

44.79 44.77

40

41.24

45.47

48.42 48.61 49.04

30
20.8
19.75 19.1 19.56 21.22 18.05
18.18
16.85 16.98 16.87
20 37.13 36.4 38.1 36.11
35.67 37.54 36.48 34.73 34.41 34.09
10
0

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

Sumber: BPS diolah 2014

Ketidak setaraan
distribusi
pendapatan
berdampak pada
melambatnya
upaya pemerintah
dalam
meningkatkan
kesejahteraan
masyarakat.
Angka
pengangguran dan
kemiskinan
bergerak turun
secara lambat
dalam beberapa
tahun terkahir

Rata-rata turun sebesar 0,24% pertahun


dalam 7 thn terakhir

Kemiskinan di Indonesia
Jumlah (Juta)

Tingkat (%)

50
40
30
20
10
0

20
17.75
16.6615.97
16.58
15.42
15
14.1513.33
12.3611.6611.47
10
Dalam 10 thn terakhir tingkat kemiskinan
turun hanya sekitar 0,625% pertahunnya
5
36.1 35.1 39.337.1734.9632.5331.0229.8928.5928.55
1

10

Indeks Kualitas Infrastruktur


(skor 1-7)
Negara
Peringkat Skor
Jepang
China
India
Korea Selatan
Thailand
Vietnam
Filipina
Singapore
Malaysia
Indonesia

9
48
85
11
47
82
96
2
29
61

6.03
4.51
3.65
5.85
4.53
3.69
3.4
6.41
5.19
4.17

Pendapatan pajak
juga belum
maksimal
digunakan untuk
pembangunan
infrastruktur,
indeks kualitas
infrastruktur
nasional masih
rendah

Sumber: The Global Competitiveness Report 2013-2014, diolah

Sumber: BKPM dikutip dari Investor Daily 15/4/2014

Investasi selalu
mengalami
peningkatan seiring
dengan peningkatan
pajak

Pentingnya Kepatuhan
Pajak
Kepatuhan pajak merupakan kunci dalam
meningkatkan penerimaan perpajakan yang
akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi,
serta peningkatan kesejahteraan masyarakat

Peningkatan
penerimaan
perpajakan
Peningkatan
kepatuhan
pajak

Peningkatan
pertumbuha
n ekonomi

Kemakmura
n dan
kesejahteraa
n
masyarakat

Kepatuhan wajib pajak dapat ditelusuri dari jumlah wajib


pajak yang terdaftar. Dengan adanya peningkatan yang
signifikan pada jumlah wajib pajak terdaftar maka
seharusnya akan meningkatkan tingkat kepatuhan bayar
wajib pajak

Sumber: Direktorat Jendral Pajak Kementrian Keuangan dikutip dari Kompas 11/2/2013

Perbandingan Rasio Kepatuhan WP 20132014


Uraian

Badan
2013

Org. Pribadi

Total WP

2014

2013

2014

WP Wajib SPT 2,21


(Juta)

2,21

23,08

23,08

25,85

25,85

SPT
Tahunan 0,545
PPh (juta)

0,306

9,39

7.97

9,93

8,28

Rasio
Kepatuhan

14

41

35

38

32

25

Sumber: Ditjen Pajak, 5 Mei 2014, dikutip dari Bisnis Indonesi a 6/5/2014

2013

2014

Permasalahan utama yang terjadi di Indonesia adalah


tingkat kepatuhan pajak yang rendah.
Jumlah wajib pajak yang terdaftar semakin meningkat
tetapi tidak berdampak pada peningkatan kepatuhan
pajak, bahkan rasio kepatuhan mengalami penurunan
pada tahun 2014 dibandingkan dengan tahun
sebelumnya.

Target, realisasi & shortfall Penerimaan Ditjen Pajak


(Rp Triliun)
Tahun

APBN

APBNP

+/-

Hasil

+/-

2005

243

255

12

264

2006

325

333

315

-18

2007

411

395

-16

381

-14

2008

484

481

-3

494

13

2009

591

528

-63

494

-34

2010

611

597

-14

567

-30

2011

709

698

-11

667

-31

2012

853

817

-36

770

-65

2013

971

921

-50

827,6

-93

Sumber: LKPP 2005-2012 & Kemenkeu dikutip dari Bisnis Indonesia 4/6/2014

Persentase realisasi pendapatan pajak yang selalu


mengalami penurunan beberapa tahun terakhir menandakan
adanya peningkatan tax gap. hal ini mengindikasikan
adanya penurunan kepatuhan pajak

Investasi selalu mengalami


peningkatan seiring dengan
peningkatan pajak, namun
belum bisa di optimalisasikan
dalam peningkatan kepatuhan
pajak

Sumber: BKPM dikutip dari Investor Daily 15/4/2014

Lanjutan
Tingkat kepatuhan pajak yang rendah
dipengaruhi oleh sisi pribadi wajib pajak dan
juga sisi kebijakan pemerintah

Wajib
Pajak
Pemerinta
h

Adanya penghindaran pajak secara


ilegal dan legal sangat berpengaruh
terhadap kepatuhan wajib pajak
Asymetric information yang terjadi
antara lembaga perpajakan dan wajib
pajak juga sangat berpengaruh pada
tingkat kepatuhan
Pungutan pajak yang rendah
Kurangnya monitoring dari pegawai
pajak
Tingkat pengecualian pajak dan
semakin beragam

Kebijakan tarif
pajak sangat
berpengaruh
pada
kepatuhan
membayar
wajib pajak

Sumber: Bapemas diolah, dikutip dari Investor Daily 16/1/2013

Jumlah Pegawai Pajak RI VS Negara Lain


Negara

Jumlah Pegawai

Jumlah Penduduk

Rasio

Indonesia

31 ribu

240 juta

1: 7,700

Jepang

66 ribu

120 juta

1:1,818

Australia

25 ribu

25 juta

1:1000

Jerman

110 ribu

80 juta

1: 727

Sumber: DJP dikutip dari investor daily 6/8/2014

Rasio pegawai pajak


dengan jumlah penduduk
yang tidak seimbang
semakin mempersulit
monitoring pajak di
indonesia

Penutup
Pajak merupakan sumber utama pemerintah dalam
melakukan pembangunan perekonomian nasional
Multiplayer effect yang diakibatkan oleh pajak sangat
besar bagi kestabilan perekonomian serta kesejahteraan
dan kemakmuran masyarakat
Peningkatan penerimaan perpajakan sangat dipengaruhi
oleh kepatuhan pembayaran pajak
Peningkatan tingkat kepatuhan pajak berbanding lurus
dengan peningkatan penerimaan pajak
Peningkatan penerimaan pajak akan berpengaruh pada
perekonomian makro serta peningkatan kesejahteraan
masyarakat
Oleh karena itu, perbaikan perpajakan harus dimulai
dari peningkatah kepatuhan wajib pajak

Terima Kasih