Anda di halaman 1dari 14

MANIFESTASI KLINIS

GEJALA
KLINIS

Gejala
Prodromal

Manifestasi
Umum

1.
Manifestasi
Pernafasan

2.
Manifestasi
Pencernaan

3.
Manifestasi
Lain

GEJALA PRODROMAL
Gejala prodormal yang sering timbul pada penderita SARS dimulai
dengan gejala-gejala sistemik non spesifik seperti:
Demam >
38oC

Myalgia
(sakit otot)

Menggigil

Nyeri kepala
dan pusing

Rasa kaku
ditubuh

Batuk non
produktif
(batuk kering)

Malaise

Jika sudah terjadi gejala-gejala diatas dan pernah berkontak dekat


dengan pasien dg penyakit ini, orang bisa disebutSuspect SARS.
Jika setelah di rontgen terlihat ada pneumonia (radang paru-paru)
atau terjadi gagal pernapasan, orang tsb bisa disebutProbable
SARSatau diduga terkena SARS.
Pada beberapa kasus, demam muncul dan menghilang dengan
sendirinya pada hari ke 4 hingga ke 7, namun terkadang demam
muncul kembali pada minggu ke-2
Masa inkubasi SARS secara tipikal adalah 2-7 hari (beberapa
laporan menunjukkan bahwa masa inkubasi ini bisa lebih panjang

MANIFESTA
SI KLINIS
(1).

Meskipun SARS merupakan virus yang menyerang


sistem pernafasan namun beberapa kasus
ditemukan penderita dengan gejala multiorgan.

Manifestasi Pernafasan

Penyakit paru adalah gejala klinis utama dari penderita SARS,


gejala-gejala utama yang timbul antara lain : Batuk kering
dan Sesak nafas
Gejala lain yang mungkin timbul : pneumotoraks dan
penumomedistinum udara terjebak dalam rongga dada
(12 % terjadi secara spontan dan 20 % karena pengunaan
ventilator di ICU )
Pada tahap awal infeksi, gejalanya seperti pada infeksi
saluran pernafasan pada umumnya. Namun gejala sesak
makin lama akan semakin berat dan mulai membatasi
aktifitas fisik pasien.
Sebanyak 20-25% pasien mengalami progresi buruk ke arah
Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) akibat
kerusakan pada pneumosit tipe 2 yang memproduksi
surfaktan.

Manifestasi Pencernaan
o Gejala yang timbul pada sistem pencernaan penularan
SARS-CoV melalui oral.
o Gejala utamanya adalah diare. Diare yang ditimbulkan
biasanya cair dengan volume yang banyak tanpa disertai
darah maupun lendir. Pada kasus berat biasanya
dijumpai ketidakseimbangan elektrolit dan
dehidrasi karena penurunan cairan tubuh akibat diare
o Pada beberapa kasus yang tidak disertai pneumonia,
gejala diare ini adalah satu-satunya gejala yang tampak,
namun pada beberapa kasus lain dengan pneumonia,
diare mulai tampak pada minggu ke dua bersamaan
dengan timbulnya demam dan perburukan pada paru

MANIFESTASI LAIN
Sebanyak 25% pasien SARS mengalami peningkatan SGPT pada kedatangan
pertama respon tubuh terhadap infeksi SARS-CoV (bukan karena infeksi
spesisfik CoV pada hepar)

Dari seri kasus di Hongkong didapati sekitar 40% pasien mengalami


takikardi.

Dari seri kasus di Hongkong, sekitar 50% pasien mengalami hipotensi


selama masa perawatan di rumah sakit rasa pusing

Beberapa kasus dilaporkan adanya gejala epilepsy dan disorientasi pada


pasien SARS, namun deficit neurologi fokal tidak pernah ditemukan harus
waspada karena ada pengaruh pada CSS dengan jumlah yang cukup signifikan
pada pasien dengan status epileptikus & SARS-CoV.

DIAGNOSA

DIAGNOSA
Pada saat ini, ada 3 tes yang umumnya
digunakan di laboratorium untuk mendeteksi
SARS, yaitu:
Uji Serologi
yaitu dengan;
Enzyme Liked
Immunosorbent
Assay (ELISA)
dan
Immunofluoresc
ence Assay
(IFA)

Uji Molekuler
yaitu dengan
teknik RT-PCR

Biakan
jaringan

(1). Uji Serologi


Enzyme Liked Immunosorbent Assay (ELISA)
dan Immunofluorescence Assay (IFA)
Tes ELISA

Tes IFA

Tes yang menguji adanya antibodi


terhadap SARS.
Tes ini dilaporkan memberi hasil positif
pada hari ke-20 setelah timbulnya
gejala klinis,karena pada beberapa
penderita SARS, antibodi baru dapat
ditemukan setelah hari ke-14 sampai
ke-20, Oleh karena itu tes ini tidak
dapat digunakan untuk mendeteksi
kasus-kasus pada stadium dini.

Tes IFA juga merupakan tes yang


mendeteksi adanya antibodi
pada serum, 10 hari setelah
timbulnya gejala, sehingga tes
ini juga relatif lambat.
Secara teknis IFA lebih sulit
karena memerlukan biakan
jaringan dan mikroskop
Flourescence

Tes ELISA atau IFA dikatakan positif apabila terjadi : serokonversi dari
negatif pada serum darah akut menjadi positif pada serum darah
konvalesens atau peningkatan titer antibodi sebanyak 4 kali antara
serum darah akut dan konvalesens yang diperiksa secara paralel.
Peningkatan titer antibodi antara serum darah akut dan konvalesens yang
diperiksa secara paralel sangat spesifik. Oleh karena SARS adalah penyakit
yang baru saja ditemukan maka antibodi terhadap coronavirus dari SARS
(SARS Co V) tidak akan ditemukan pada populasi yang belum terpajan
dengan virus tersebut.

(2). Uji Molekuler dengan Teknik


RT-PCR
Teknik RT-PCR merupakan uji molekuler untuk mendeteksi
materi genetik dari virus SARS Mendeteksi infeksi stadium dini
Metode RT-PCR telah berhasil mendeteksi materi genetika virus
dari berbagai spesimen, yaitu; sekreta pernafasan, sputum,
darah, feses, dan jaringan biopsi.

Tes PCR yang dilakukan dengan benar dan tepat


mempunyai nilai spesifisitas yang sangat tinggi
terhadap SARS. Pada situasi dimana ada masalah
teknis seperti adanya kontaminasi di laboratorium
dapat menyebabkan hasil pemeriksaan menjadi positif
palsu (false positive), dalam hal ini hasil pemeriksaan
PCR ini harus diverifikasi. Amplifikasi pada segmen
kedua
genome
akan
meningkatkan
spesifisitas
pemeriksaan.

Contd.
Untuk menyatakan suatu tes PCR positif untuk SARS
diperlukan paling sedikit 2 spesimen, dengan kriteria :
- 2 spesimen yang berbeda (misalnya spesimen yang
diambil dari nasofaring dan feses).
- 2 spesimen dari lokasi yang sama yang diambil pada hari
yang berbeda (misalnya 2 sampel yang diambil dari
aspirat nasofaring pada hari yang berbeda).
- Bisa juga satu spesimen dites dengan dua metode yang
berbeda, dilakukan pemeriksaan PCR berulang terhadap
ekstrak baru pada setiap kali pemeriksaan terhadap
spesimen dari lokasi pengambilan yang sama.
Pada setiap pemeriksaan dengan metode PCR harus
menggunakan kontrol negatif dan kontrol positif standar.

Contd.
Jika ditemukan hasil pemeriksaan PCR positif
maka harus diulang lagi dengan menggunakan
spesimen yang sama atau spesimen yang sama
diperiksa di laboratorium lain.
Sensitivitas pemeriksaan PCR untuk SARS sangat
tergantung pada jenis spesimen dan saat
pengambilannya.
Sensitivitas dari tes PCR meningkat apabila
dilakukan pemeriksaan terhadap spesimen yang
diambil dari berbagai lokasi berbeda (multiple
specimens).

(3). Biakan Jaringan


Uji dengan biakan jaringan yaitu isolasi virus dengan
pembiakan pada sel Vero.
Isolasi virus dilakukan dengan menggunakan kultur jaringan
SARS CoV dari spesimen apapun.
Isolasi virus harus disertai dengan pemeriksaan PCR
menggunakan metode yang valid. Pasca KLB apabila
ditemukan kasus sporadis atau penderita yang
mengelompok dalam suatu klaster, maka spesimen harus
diperiksa secara terpisah pada laboratorium SARS berbeda
dengan metode sebelumnya.
Uji ini merupakan metode yang paling sensitive dan
pasti untuk mendeteksi virus SARS, namun uji ini
hanya dapat dilakukan di laboratorium dengan keamanan
laboratorium tingkat 3.

DAFTAR PUSTAKA
Chen K, Rumende CM. 2006. SARS : Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. FK UII: Jakarta
Ibrahim F dan TM Sudiro. 2003. Ulas Balik
Coronavirus dan Sindroma Pernafasan Akut
Berat. J Mikrobiol Indonesia 8(2): 35-38.
Surjawidjaja JE. 2003. Sindrom Pernapasan
Akut Parah (Severe Acute Respiratory
Syndrome/Sars): Suatu Epidemi Baru yang
Sangat Virulen. J Kedokteran Trisakti
22(2):76-82.