Anda di halaman 1dari 12

STUDI ANALITIK DARI DUA GOLONGAN

BATU BARA YANG BERBEDA DENGAN


SPEKTROSKOPI UV-VIS-NIR

WILDHAN ALVIAN HAKIM/


3311141136
NURDIAWAN/ 3311141137
KELAS D - 2014

DIADAPTASI DARI JURNAL :


ANALYTICAL STUDY OF TWO
DIFFERENTLY RANKED COALS
USING UV-VIS-NIR
SPECTROSCOPY
B.MANOJ 1,2
1Department of Physics, Christ
AND A.G. KUNJOMANA 1
University, India
2Research and Development Cell,
Bharatiar University, India

TINJAUAN UMUM
Kebutuhan dunia akan energi akan terus meningkat di masa
mendatang terutama dalam hal industrialisasi dari negara
berkembang. Bahan bakar fossil terutama batu bara termasuk ke
dalam bahan bakar yang sangat dibutuhkan. Akan tetapi perhatian
terhadap lingkungan juga turut meningkat diakibatkan dari efekefek negative dari bahan bakar fosil tersebut, seperti efek rumah
kaca, hujan asam, dan sebagainya.
Kemudian mineral dan bahan bakar fossil dapat menimbulkan erosi
dan mengotori turbin gas dan cerobong pembakaran. Oleh karena
itu kemurnian dan karakterisasi batu bara menjadi prioritas utama.

Spektroskopi vibrasional telah digunakan secara luas untuk studi struktur tanah
mineral dalam waktu yang cukup lama. Dalam 15 tahun terakhir, spektroskopi
difusi reflektansi telah memiliki spectrum yang dapat dipercaya. Osamu Ito et
al melaporkan bahwa absorpsi yang luas dari spectrum yang diobservasi
berada pada region 4000-6000/cm yang disebabkan oleh transisi elektronik.
Untuk spektroskopi UV-Vis dan NIR dengan region di atas 6000/cm,
karakterisasi sampel batu bara nya terpakai lebih rendah pada spektroskopi
difusi reflektansi, Walaupun metode ini telah digunakan pada karakterisasi zatzat oranik dan anorganik.
Dalam laporan terbaru, absorpsi spectrum di area UV-Vis dan NIR, seperti yang
telah diukur di spektroskopi difusi reflektansi berubah sesuai dengan golongan
batu bara yang digunakan dan perlakuan kimiawi.

METODE EKSPERIMEN
Dua sampel golongan batu bara yang berbeda diambil secara acak dari
dua daerah di India. Sampel pertama menggunakan batu bara semi
aspal (Sub-bituminous coal) dari teluk Godavari. Dan sampel kedua
menggunakan batu bara dengan kandungan zat mudah menguap yang
tinggi (High-volatile bituminous coal) dari tambang batu bara Kobra.
Sampel diserbukkan dan dikeringan di dalam desiccator untuk
menghilangkan kadar air. Sampel dicuci dengan asam flourida (HF)
selama 24 jam dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 30%. Kemudian
sampel dicuci dengan aquadest dan dikeringkan dalam oven bersuhu
70 derajat celcius. Sampel kemudian diserbukkan lagi dan siap
digunakan dalam analisis.

1. Analisis Proximate
Analisis Proximate ditujukan untuk mengukur kadar karbon,
kadar zat volatile, kadar air, dan kadar abu. Analisis ini dilakukan
pada sampel dengan prosedur standar menggunakan tanur (Muffle
Furnace). Kemudian ditentukan titik panas tertinggi dan kandungan
abu pada batu bara murni dan yang telah dicuci dengan HF.

2. Penentuan Absorpsi Spektroskopi UV-Vis-NIR


a) Dipasangkan Diffuse Reflection Accessory (DRA) seri Praying Mantis ke
spektrofometer seri Cary 500.
b) Rentang panjang gelombang di-set untuk memindai dari 800-200 nm.
Spectral band width di-set ke 5, beam mode di-set ke double, average
time di-set ke 0.3 sekon, slit height di-set ke reduce respectively,
baseline correction di-set ke zero/baseline,dengan menggunakan KBr
sebagai referensi.
c) Spektrum difusi reflektansi dari sampel batu bara didapatkan dari
pengukuran spektroskopi dengan menggunakan DRA seri Praying Mantis.
Spektrum dari sampel yang telah dicuci dengan HF juga dicatat dengan
prosedur yang sama seperti yang telah disebutkan di atas.

HASIL
1. Analisis Proximate

2. Penentuan Absorpsi Spektroskopi UV-Vis-NIR

Absorpsi spektrum elktronik dari batu bara sub-bituminous dan


bitumimous diukur pada spektrofotometer UV-Vis dan area NIR.
Panjang gelombang serapan yang terukur adalah ikatan (260-270
nm). Absorpsi ini meningkat seriring dengan peningkatan
konsentrasi HF yang dipakai untuk mencuci sampel. Bentuk umum
dari spectrum yang terbaca merupakan karakteristik hidrokarbon
dengan 1 cincin benzene.

Pada spectra serapan, puncak-puncak kecil pada kurva terbaca


pada panjang gelombang 350-400 nm dan 450 nm, disebabkan
karena kandungan belerang dioksida pada sampel. Absorpsi pada
serapan ini meningkat seiring dengan konsentrasi HF yang
digunakan dan menunjukkan pergeseran ke arah panjang
gelombang yang lebih tinggi pada batu bara sub-bituminous jika
dibandingkan dengan jenis bituminous. Serapan maksimum
ditunjukkan pada sampel yang dicuci dengan HF 10% pada batu
bara golongan sub-bituminous, dan pada golongan bituminous
yang dicuci dengan HF 40% menunjukkan peningkatan serapan
paling tinggi

KESIMPULAN
Pada spectra yang terukur, ikatan (260-270 nm) yang dapat
terdefinisikan. Ini merupakan spectrum yang menunjukkan
karakteristik dari hidrokarbon dengan 1 cincin benzene. Garis kurva
yang berada pada area 680 nm dikaitkan dengan transisi elektronik
-* dari hidrokarbon polinuklear aromatik. Intensitas garis
meningkat dengan pencucian kimiawi dengan HF. Garis-garis kurva
yang lemah terbaca didaerah cahaya tampak dissebabkan karena
adanya belerang dioksida dalam sampel. Kelompok yang
melepaskan elektron meningkat pada panjang gelombang dan
intensitas dari absorpsi sekunder. Kandungan abu pada sampel
berkurang menjadi 87.5% pada golongan bituminous dan 76.2%
pada golongan sub-bituminous yang masing-masing dicuci dengan
HF 30%.