Anda di halaman 1dari 20

MANAJEMEN BENCANA

BANJIR

PERATURAN
KEPALA
KEPOLISIAN
NEGARA
INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2009

REPUBLIK

Siklus Penanggulangan Bencana

Tujuan
Mengetahuai
langkah-langkah
penanggulangan
bencana

masyarakat yang aman,


mandiri dan
berdaya tahan
terhadap bencana

mengurangi
ancaman,
mengurangi
dampak,
menyiapkan diri
secara tepat bila
terjadi ancaman,
menyelamatkan diri,
memulihkan diri,
memperbaiki
kerusakan yang
terjadi

Beberapa alasan pentingnya


penanggulangan bencana berbasis
masyarakat

Penanggulangan bencana adalah tanggungjawab semua


pihak, bukan pemerintah saja.
Setiap orang berhak untuk mendapatkan perlindungan atas
martabat, keselamatan dan keamanan dari bencana.
Masyarakat adalah pihak pertama yang langsung
berhadapan dengan ancaman dan bencana.
Karena itu kesiapan masyarakat menentukan besar kecilnya
dampak bencana di masyarakat.
Masyarakat yang terkena bencana adalah pelaku aktif untuk
membangun kembali kehidupannya.
Masyarakat meskipun terkena bencana mempunyai
kemampuan yang bisa dipakai dan dibangun untuk
pemulihan melalui keterlibatan aktif.
Masyarakat adalah pelaku penting untuk mengurangi
kerentanan dengan meningkatkan kemampuan diri dalam
menangani bencana.
Masyarakat yang menghadapi bencana adalah korban yang
harus siap menghadapi kondisi akibat bencana.

Manajemen penanggulangan bencana


berpedoman pada prinsip manajemen
secara umum yang meliputi:
a. perencanaan;
b. pengorganisasian;
c. pelaksanaan; dan
d. pengendalian.

Sebelum Bencana

Pentingnya Kesiapsiagaan

Mengurangi ancaman
Mengurangi kerentanan masyarakat
Mengurangi akibat
Menjalin kerjasama

JANGAN LUPA APD!! Di Perkap juga sudah diatur.


Min. Sepatu Boot, Pelampung, Sarung tangan
Ingat penyakit akibat Banjir!!

infeksi kulit
Leptospirosis
hepatitis A
demam berdarah
ISPA
Penyakit gangguan pencernaan
Waspadai ibu hamil

Pelaksanaan penanggulangan
bencana pada tahap Pra
Bencana meliputi:
a. pelatihan penanggulangan bencana
b. sosialisasi dalam rangka pencegahan dan
pengurangan resiko bencana
c. pemberian peringatan dini kepada masyarakat yang
berpotensi korban bencana
d. pengerahan semua sumber daya yang akan digunakan
e. mengadakan tempat penampungan untuk
evakuasi/pengungsian korban bencana
f. menyediakan tenaga, alat peralatan medis, dan obatobatan

Polri bekerja sama dengan instansi lain melakukan


kegiatan sebagai berikut:
a. melakukan kegiatan penyuluhan melalui strategi
Polmas kepada masyarakat yang berpotensi korban
bencana;
b. penyebarluasan informasi dari Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kepada masyarakat
mengenai kemungkinan terjadinya bencana;
c. melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk
menyiapkan tempat penampungan yang aman untuk
evakuasi/pengungsian korban bencana.

Pembuatan Profil Desa


Luas dan batas wilayah
Jumlah dan nama-nama wilayah
Sarana jalan dan jembatan
Tata guna lahan
Sarana-sarana umum
Jumlah masyarakat berdasarkan
umur dan jenis kelamin

Penilaian Ancaman
Jenis ancaman
Penyebabnya
Tanda awal
Perkiraan kekuatan, kecepatan,
frekuensi dan luas wilayah yang
terkena
Perkiraan waktu kedatangan/
timbulnya ancaman
Dampak yang merugikan

Memperkirakan Resiko Bencana


Penilaian kemampuan dan
kerentanan
Gunakan sumber penghidupan
sebagai alat penilaian
kemampuan dan kerentanan
Alam, manusia, sosial,
ekonomi, fisik

Penilaian risiko
Menghitung kemungkinan risiko
Mengenali unsur-unsur yang berisiko
pada manusia, lingkungan, bangunan,
ekonomi, sosial
Mengenali kerentanan terhadap unsurunsur yang berisiko seperti
masyarakat; bangunan; lingkungan

Penggambaran Peta
Ancaman
Langkah-langkah menggambar peta ancaman
Menggambar peta dasar
Menggambar daerah, jalan dan sungai
Menempatkan sarana penting
Menentukan daerah rawan bencana
Menempatkan perumahan
Menentukan lahan
Keterangan tambahan. Tandai jalan terbaik
ke akses-akses yang diperlukan
Daerah pengungsian

Pembuatan Rencana
Rencana Pencegahan dan Mitigasi
Rencana Kesiapsiagaan

Merencanakan sistem peringatan dini


Membuat peta ancaman
Membuat rencana siaga atau cadangan
Membuat rencana pengungsian atau evakuasi
Simulasi, latihan lapangan atau latihan

Rencana Pengungsian

Saat Bencana

Tanggap Darurat merupakan kegiatan yang dilakukan


pada saat terjadinya bencana dengan pelaksanaan
kegiatan:
a. mengoperasionalkan pos KPL dalam kegiatan
penanggulangan bencana;
b. mengamankan lokasi bencana dan lokasi
pengungsian/penampungan;
c. mengatur arus lalu lintas di lokasi bencana dan
pengungsian/penampungan;
d. mengevakuasi korban bencana melalui transportasi darat,
udara, dan air;
e. mencari, menolong, menyelamatkan, dan mengidentifikasi
korban bencana;

f. memberikan pelayanan pengobatan dan


kesehatan lapangan;
g. menyediakan dapur lapangan untuk korban
bencana;
h. menyalurkan bantuan kepada korban bencana;
i. melakukan pergeseran sumber daya yang
dibutuhkan;
j. melakukan koordinasi dengan unsur instansi
terkait; dan
k. meminta bantuan back-up dari kesatuan tingkat
atas, kesatuan Polri terdekat, dan instansi terkait.

Tindakan langsung
saat bencana
Bunyikan tanda
bahaya
Minta bantuan
Keputusan untuk
mengungsi dari yang
berwenang

Tanggap darurat
saat bencana
Penanganan korban
Mengamankan
keadaan di lokasi
bencana
Membuat laporan
kondisi sarana
Mendirikan pos-pos
bantuan kemanusiaan
Penanganan jenazah

Tindakan
pengungsian
Persiapan dapur
umum
Persiapan obatobatan
Putuskan aliran listrik
Mempersiapkan
lokasi pengungsian
Mempersiapkan
kendaraan

Sesudah Bencana

Pemulihan Bencana
Hak, kewajiban dan tanggung jawab
Kebutuhan pemulihan yang mendesak
Pemenuhan kebutuhan pribadi
Pemenuhan kebutuhan umum

Kebutuhan pemulihan jangka panjang

Membangun perekonomian lokal


Perbaikan unsur-unsur rohani serta adat dan budaya
Perbaikan / membangun bangunan yang lebih permanen
Perbaikan / membangun fasilitas kesehatan yang permanen
Perbaikan aliran listrik dan sistem komunikasi permanen
Perbaikan produksi pangan
Perbaikan dan pelestarian lingkungan
Pemulihan pendidikan
Tata guna tanah dan tata ruang wilayah

ANGGARAN
(1) Penanggulangan bencana yang dilaksanakan oleh Polri dalam kegiatan
pra bencana, tanggap darurat, dan pasca bencana, menggunakan anggaran
kontinjensi Polri baik yang berada pada Mabes Polri dan/atau satuan
kewilayahan disesuaikan dengan skala dan lokasi bencana.
(2) Dalam hal pelaksanaan pelatihan gabungan penanggulangan bencana
pada kegiatan pra bencana, menggunakan anggaran yang ada pada masingmasing instansi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan/atau BNPB/BPBD.
(3) Penanggulangan bencana yang telah dinyatakan oleh pemerintah
sebagai bencana nasional/daerah, menggunakan anggaran yang ada pada
BNPB/BPBD.