Anda di halaman 1dari 25

Conceptual Framework

Kelompok 3
Nisrina Savitri
Wilda Hukmi
Rahmatullaili Ramadhani

1210532027
1210532035
1210532045

Introduction of Conceptual Framework


Akademisi akuntansi dan pembuat standar berusaha
mengembangkan, kerangka kerja konseptual yang memberikan
pernyataan yang memberikan pernyataan yang menentukan sifat dan
tujuan akuntansi keuangan, pelaporan dan pedoman untuk semua
praktik akuntansi.
Menurut Belkouli 1993 kerangka konseptual dipandang sebagai teori
akuntansi yang terstruktur.
Menurut FASB 1978 kerangka konseptual sebagai suatu format yang
saling berkaitan.

Standar dan pengajaran akuntansi sama sama berusaha untuk


mengembangkan kerangka kerja konseptual yg memberikan
pernyataan defenitif dari sifat dan tujuan akuntansi keuangan .
Proyek kerangka konseptual ini dilakukan pada tahun 1980-an. Dan
pada awal 1990 an di Amerika Serikat, kanada, Uk dan Australia.
IASB mengeluarkan kerangka kerja pada tahun 1989.
Pembentukan proyek konfergensi IASB/ FASB pada tahun 2002
menghidupkan kembali kerangka konseptual.
Tahun 2004 FASB dan IASB melakukan proyek bersama
mengembangkan konseptual framework yang tunggal, komplit dan
konsisten

The Role of Conceptual Framework


Kerangka kerja konseptual akuntansi bertujuan memberikan pedoman
dalam penetapan standar pelaporan akuntansi
Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) didefinisikan
oleh FASB sebagai :
suatu sistem koheren yang terdiri dari tujuan dan konsep
fundamental yang saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi
penetapan standar yang konsisten dan penentuan sifat, fungsi, serta
batas- batas dari akuntansi keuangan dan laporan keuangan.

Hierarcy form of conceptual framework

Manfaat dari Conceptual Framework


Sebagaimana yang diringkas oleh pembuat standar di Australia
Persyaratan pelaporan yang lebih konsisten dan logis
Penetapan persyaratan akan lebih ekonomis
Dewan yang menetapkan persyaratan akan lebih bertanggungjawab.
Penyusun laporan keuangan dan auditor akan lebih memahami kode etik dan standar
laporan keuangan
Pengaturan persyaratan akan lebih ekonomis karena masalah tidak perlu lagi diperdebatkan
dari sudut pandang yang berbeda.

Tujuan dari Conceptual Framework


Pada tahun 1978 PSAB mengeluarkan Statement Financial Accounting Concept SFAC no 1
ayat 34 yang menyatakan tujuan dasar pelaporan keuangan eksternal badan usaha:
pelaporan keuangan harus menyediakan informasi yang berguna untuk investor potensial
serta investor sekarang, kreditur dan pengguna lainnya dalam membuat investasi rasional ,
kredit dan keputusan serupa.
Dalam periode 1987 2000 FASB mengeluarkan 7 konsep:
1. Tujuan pelaporan keuangan oleh [perusahan bisnis dan nirlaba
2. Karakteristik kulitatif dan informasi akuntansi yang berguna.
3. Elemen laporan keuangan
4. Kriteria dasr pengakuan dan pengukuran unsur unsur.
5. Penggunaan arus kas dan informasinilai sekarang dalm pengukuran akuntansi

Developing A Conceptual Framework


1. Pengaturan standar dengan pendekatan berbasis prinsip
(Principles-based) dan berbasis aturan (Rule-based)
2. Informasi untuk pembuatan keputusan dan pendekatan teori
keputusan

Pengaturan standar dengan pendekatan berbasis prinsip


(Principles-based) dan berbasis aturan (Rule-based)
Ketika IASB bertujuan untuk menjadi suatu pengatur standar
berbasis prinsip, standar-standar seperti IAS 39 dikritik karena
terlalu berbasis pada aturan.
Nobes mengatakan alasan standar tersebut berbasis aturan adalah
karena tidak konsisten dengan kerangka kerja konseptual para
pembuat standar.Ia berpendapat bahwa penggunaan prinsipprinsip yang tepat dapat mengarahkan pada komunikasi yang
lebih jelas dan teliti tanpa perlu adanya aturan-aturan rinci yang
ada pada standar-standar saat ini.

Nobes juga berpendapat bahwa perlunya aturan-aturan adalah


akibat dari kurangnya prinsip-prinsip atau penggunaan prinsip
yang tidak tepat.
Rules-Based Standard: Kaku, aturan-aturan rinci, mengurangi
kesempatan earning management
Contoh: GAAP
Principle Based Standard: mengerahkan pada komunikasi yang
lebih jelas dan teliti, peluang manajemen >, konsekuensi bagi
auditor harus banyak mengumpulkan bukti
Contoh: IFRS

Information for decision making and the decisio-theory approach


Overall theory of
accounting

Individual
accounting system

Prediction model of
user

Decision model
of user

Entitas dan Perspektif Kepemilikan


Entitas dan perspektif kepemilikan menggambarkan pendekatanpendekatan berbeda untuk pelaporan keuangan. Para dewan
mengusulkan bahwa laporan keuangan seharusnya dipersiapkan
dari perspektif entitas, bukan dari perspektif pemilik.
Kelompok Pengguna Utama
Para dewan mengusulkan bahwa kelompok pengguna utama bagi
pelaporan keuangan bertujuan umum adalah penyedia modal
yang potensial dan yang ada saat ini (investor ekuitas, pemberi
pinjaman, dan kreditur lainnya).

Kegunaan Keputusan dan Pengawasan


Menurut para dewan, tujuan dari pelaporan keuangan harus
cukup luas untuk mencakup seluruh keputusan yang dibuat oleh
ekuitas investor, pemberi pinjaman, dan kreditur lainnya dalam
kapasitasnya sebagai penyedia modal.
Namun, tujuan pengawasan tidak cukup ditekankan, sedangkan
peran laporan keuangan dalam menyediakan informasi untuk
meramalkan arus kas masa depan lebih ditekankan.
Karakteristik Kuialitatif
Kerangka kerja IASB meliputi empat karakteristik kualitatif
penting, yaitu mudah dimengerti, relevan, dapat diandalkan, dan
komparatif.

A Critique Of Conceptual Framework Project


Kritik pengembangan kerangka kerja konseptual ditemukan di US, Australia
dan beberapa tempat lain. Analisis kritik mampu menjelaskan alasan
perkembangan yang lambat dari kerangka kerja dan isu isu yang relevan
untuk mencapai kemajuan dalam proyek IASB/ FASB saat ini.
2 boards areas ; scientific criticsm & descriptive and non-operational

Gerboth
pengetahuan nyata berasal dari investigasi materi
pelajaran, tidak dari kesepakatan sebelumnya tentang
definisi itu sendiri.
Dia mengklaim bahwa untuk dasar kerangka akuntansi sematamata pada pemahaman yang terbatas disampaikan adalah tidak
rasional. [kritik terhadap IASB framework]

Ontological and Epistemogical Assumptions


ConFrame telah memberikan informasi kepada pengguna laporan
keuangan secara objektif.
Kebebasan dari bias, atau netral, telah ditetapkan sebagai kualitas
informasi yang menghindari pengguna laporan keuangan (conflict
of interest)
Hines
penelitian akuntansi utama didasarkan pada taken-for-granted
(diambil-begitu saja), yang bertentangan dengan pertanyaan
tentang bagaimana realitas sosial muncul dan dikelola dan
dilegitimasi.

Conframe VS HIPOTESIS-DEDUKTIF
Mirip dalam hal pendekatannya
1. Basisnya mengarah ke hukum universal (prinsip yang dapat
disimpulkan)
2. Hubungan erat antara penjelasan, prediksi, dan teknik yang
diterapkan. Sebagai contoh, kerangka kerja konseptual IASB dan
FASB memiliki asumsi umum dan tujuan dari mana prinsipprinsip (standar) dan prosedur (metode dan aturan) harus dapat
disimpulkan

Horngren
Setiap orang memiliki karakteristik yang membatasi kegunaan
dari kerangka konseptual. Hampir semua orang mengatakan
dia ingin kerangka konseptual, tetapi kerangka kerja konseptual
nya mungkin tidak bisa orang lain gunakan.

2Circularity of Reasoning
Salah satu tujuan ConFrame:
Membimbing praktik sehari-hari akuntan.
Pandangan yang dangkal dari kerangka kerja konseptual
menunjukkan bahwa akuntan setidaknya mengikuti satu jalur
ilmiah yang menyimpulkan dari prinsip-prinsip dan praktik dari
teori umum. Namun, kerangka kerja konseptual berbagai negara
yang ada ditandai oleh internal circularity

3. An Unscientific Discipline
STAMP (Akuntansi sebagai seni)
Sampai kita yakin dalam pikiran tentang sifat akuntansi itu siasia untuk profesi yang menginvestasikan sumber daya yang
besar dalam mengembangkan kerangka kerja konseptual untuk
mendukung standar akuntansi

4. Positive research
Akuntansi Positif dan ConFrame :
Kadang-kadang mengabaikan bukti bahwa pasar modal tidak
benar-benar efisien. Bahkan jika mereka efisien, fakta bahwa pasar
merespon segera informasi dalam laporan keuangan tidak berarti
bahwa individu memproses informasi secara efisien dan tidak dapat
melakukan investasi yang salah, pinjaman, pasokan, atau keputusan
pembelian.
Jika kerangka konseptual bisa memastikan bahwa orang-orang ini
menerima informasi yang berguna, itu akan melayani tujuan yang
berguna

5.Conceptual framework as policy document


Kirk (The Chairman of FASB) :
Kerangka konseptual terbaik melayani kepentingan publik, karena
merupakan pendekatan konseptual. Standar pengaturan dengan
konsensus kompromi atau konsekuensi tidak melayani
kepentingan publik, karena merupakan pendekatan politik.
Namun, hal ini bermasalah karena kepentingan umum diwakili
oleh pengguna yang memiliki kebutuhan yang saling bertentangan

6. Professional Values and Self- preservation


Penjelasan ConFrame dalam hal pelestarian diri dan nilai-nilai profesional
mungkin pada awalnya tampak menjadi kontradiksi.
Pelestarian diri menyiratkan mengejar kepentingan diri sendiri, sedangkan nilainilai profesional dapat berarti beberapa hal.
Greenwood :
organisasi profesi muncul sebagai ekspresi dari kesadaran pada para
profesional. Mereka mempromosikan kepentingan dan tujuan kelompok. Hasil
dari interaksi sosial ini adalah budaya profesional dengan nilai-nilai sosial.
Nilai-nilai sosial dari kelompok profesional membentuk dasar dasar. Terutama
di antara nilai-nilai ini adalah nilai yang dirasakan dari layanan yang kelompok
profesional memberikan kepada masyarakat, bersama-sama dengan rasa
tanggung jawab kepada masyarakat.

Kerangka konseptual untuk Standar Audit


Mafiz dan Sharaf melihat audit bukan sebagai bagian dari akuntansi tetapi disiplin
berdasrkan logika.
Kneckel berpendapat pada tahun 1990 an timbulnya proses audit yang dikenal
dengan audit resiko bisnis yang menganggap resiko bisnis klien sebagai bagian dari
proses bukti audit.
Salah satu kritik menyiratkan bahwa auditor menyalahgunakan metodologi audit
resiko bisnis untuk membenarkan perilaku opportunistik.regulator telah bertindak
melalui Sarbbanes Oaxley Act 2002 di US dan clerep yang telah direvisi pada
Australian corporation Act
Knechel menunjukkan bahwa masa depan audit risiko bisnis bisa dibatasi, tetapi
fokus pada audit pengendalian internal klien dalam undang-undang AS masih
memberikan fokus yang jelas bagi auditor untuk mempertimbangkan resiko dalam
proses dan lingkungan klien sebagai bagian dari audit laporan keuangan.

Terima Kasih