Anda di halaman 1dari 55

CONCEPTUAL

FRAMEWORK

KELOMPOK 4
FIQHO FALDERIKO
1210532065
CINDY ANGELA
1210532004
CHICO CITRA TIARA
1210532018
INDAH PERMATA SARI
1210533014

LEARNING OBJECTIVES

CHICO CITRA TIARA


Role & Objectives
of
Conceptual framework
INDAH PERMATA SARI
Developing a
conceptual
framework
FIQHO FALDERIKO Critique of
conceptual
framework
CINDY ANGELA
Conceptual
framework for
auditing
standard

ROLE OF CONCEPTUAL FRAMEWORK

Kerangka kerja konseptual akuntansi


bertujuan memberikan pedoman dalam
penetapan standar pelaporan akuntansi

DEFINITION OF CONCEPTUAL
FRAMEWORK
Kerangka kerja konseptual (conceptual
framework) didefinisikan oleh FASB sebagai :
suatu sistem koheren yang terdiri dari tujuan
dan konsep fundamental yang saling
berhubungan, yang menjadi landasan bagi
penetapan standar yang konsisten dan
penentuan sifat, fungsi, serta batas- batas
dari akuntansi keuangan dan laporan
keuangan.

HIERARCY FORM OF CONCEPTUAL FRAMEWORK

WHY DO WE NEED A CONCEPTUAL FRAMEWORK?

Persyaratan pelaporan yang lebih konsisten


dan masuk akal
Penetapan persyaratan akan lebih ekonomis
Dewan yang menetapkan persyaratan akan
lebih bertanggung jawab terhadap tindakan
mereka
Para penyusun dan auditor akan dapat lebih
memahami persyaratan pelaporan keuangan
yang mereka hadapi
Masalah-masalah yang baru akan dapat
dipecahkan secara cepat

OBJECTIVES OF A CONCEPTUAL FRAMEWORK

Pada 1978, FASB Statement of Financial


Accounting Concepts (SFAC) Nomor 1
paragraf 34 menyatakan tujuan dasar dari
pelaporan keuangan eksternal untuk
entitas bisnis adalah: untuk memberikan
informasi yang berguna bagi para calon
investor dan kreditor maupun yang sudah
ada dan para pengguna lainnya dalam
membuat investasi, kredit dan keputusankeputusan lain yang serupa secara rasional.

Tujuan ini terlihat ingin dicapai dengan


melaporkan informasi yang:
Berguna dalam pembuatan keputusan
ekonomi
Berguna dalam menilai prospek arus
kas
Tentang sumber daya perusahaan,
klaim terhadap sumber-sumber daya
dan perubahan di dalamnya

FASB
Di periode 1987 2000 FASB mengeluarkan
pernyataan tujuh konsep (SFAC) yang meliputi
topic-topik berikut:
Tujuan pelaporan keuangan oleh perusahaan
bisnis dan perusahaan non profit
Karakteristik kualitatif dari kegunaan
informasi akuntansi
Unsur laporan keuangan
Kriteria untuk mengakui dan mengukur unsur
Kegunaan informasi aliran kas dan nilai
sekarang dalam penguluran akuntansi

SFAC

Objectives of Financial Reporting by Business


Enterprises
Qualitative Characteristics of Accounting
Information
Elements of Financial Statements of Business
Enterprises
Objectives of Financial Reporting by
Nonbusiness Organizations
Recognition and Measurement in Financial
Statements of Business Enterprises

Elements of Financial Statementsa replacement


of FASB Concepts Statement No. 3 (incorporating
an amendment of FASB Concepts Statement No. 2)
Using Cash Flow Information and Present Value in
Accounting Measurements
Conceptual Framework for Financial Reporting
Chapter 1,The Objective of General Purpose
Financial Reporting,and Chapter 3,Qualitative
Characteristics of Useful Financial Information(a
replacement of FASB Concepts Statements No. 1
and No. 2) fasb.org 9/10/10

IASB
IASB hanya memiliki satu pernyataan konsep,
Framework for the Preparation and Presentation
of Financial Statement. IASB menyatakan bahwa
kerangka kerja:
Mendefinisikan tujuan laporan keuangan
Mengidentifikasi karakteristik kualitatif yang
membuat informasi dalam laporan keuangan
berguna
Mendefinisikan unsure dasar laporan
keuangan dan konsep untuk mengakui dan
mengukur unsur-unsur tersebut dalam laporan
keuangan.

IAS
IAS 1 Presentation of Financial Statement dan IAS 8
Accounting Policies, Change in Accounting Estimates
and Errors berisi tentang penyajian laporan
keuangan dan mengacu pada kerangka kerja. IAS 8
paragraf 10 mensyaratkan manajemen
menghasilkan informasi yang:
Relevan terhadap kebutuhan pembuatan
keputusan ekonomi oleh pengguna
Andal, dalam laoran keuangan:

Mewakili posisi keuangan, kinerja keuangan dan aliran


kas entitas dengan tepat
Mencerminkan substansi ekonomi transaksi
Netral, bebas dari bias
Lengkap dalam segala aspek material

IAS 8 paragraf 11 memberikan hierarki


pernyataan akuntansi. Disini disyaratkan
bahwa dalam membuat penilaian yang
diperlukan dalam paragraph 10
manajemen harus melihat dan
mempertimbangkan sumber-sumber
berikut:
Persyaratan dan petunjuk dalam
Standard dan Interpretasi yang
berhubungan dengan masalah terkait
Definisi, criteria pengakuan dan konsep
pengukuran untuk asset, liabilitas, laba
rugi dan beban dalam kerangka kerja

FAILURE OF CONCEPTUAL
FRAMEWORK

Sejak kerangka kerja dikeluarkan pada tahun


1989, banyak standar baru telah dikeluarkan,
termasuk standar yang bertentangan dengan
kerangka kerja. Hal itu muncul karena,
kompleksitas akuntansi untuk instrument
keuangan, ketidaklengkapan kerangka kerja,
dan kurangnya penerimaan atas solusi berbasis
kerangka kerja oleh para penyusun laporan
keuangan serta ada area dimana kerangka kerja
memberikan petunjuk tidak memadai termasuk
akuntansi untuk penghentian pengakuan aset
keuangan dan instrumen keuangan hybrid.

DEVELOPING A CONCEPTUAL FRAMEWORK

1. Pengaturan standar dengan


pendekatan berbasis prinsip
(Principles-based) dan berbasis
aturan (Rule-based)
2. Informasi untuk pembuatan
keputusan dan pendekatan teori
keputusan

PENGATURAN STANDAR DENGAN PENDEKATAN


BERBASIS PRINSIP (PRINCIPLES-BASED) DAN
BERBASIS ATURAN (RULE-BASED)

Ketika IASB bertujuan untuk menjadi suatu pengatur


standar berbasis prinsip, standar-standar seperti IAS
39 dikritik karena terlalu berbasis pada aturan.
Nobes mengatakan alasan standar tersebut
berbasis aturan adalah karena tidak konsisten
dengan kerangka kerja konseptual para pembuat
standar.
Ia berpendapat bahwa penggunaan prinsip-prinsip
yang tepat dapat mengarahkan pada komunikasi
yang lebih jelas dan teliti tanpa perlu adanya
aturan-aturan rinci yang ada pada standar-standar
saat ini.

Nobes juga berpendapat bahwa perlunya


aturan-aturan adalah akibat dari kurangnya
prinsip-prinsip atau penggunaan prinsip yang
tidak tepat.
Ketika FASB dan SEC telah mendukung
penekanan pada pembuatan standar berbasis
prinsip dan tujuan, mereka beroperasi pada
lingkungan dimana aturan-aturan berlaku
sehingga para auditor dan staf SEC terbiasa
untuk mengikuti aturan-aturan yang ada.
Kompleksitas dari GAAP menyebabkan IASB
membuat suatu standar untuk perusahaan
kecil dan menengah (IFRS for SME).

INFORMASI UNTUK PEMBUATAN KEPUTUSAN DAN


PENDEKATAN TEORI KEPUTUSAN

Jika memungkinkan, para pengguna akan


lebih memilih untuk memiliki informasi
aktual mengenai peristiwa-peristiwa masa
depan yang akan mempengaruhi
perusahaan.
Karena belum terjadi, maka peristiwaperistiwa masa depan tidak objektif dan
tidak dapat dijadikan sebagai dasar dalam
pembuatan keputusan.

Pendekatan teori keputusan dalam


akuntansi berguna dalam menguji
akuntansi apakah telah mencapai
targetnya.
Teori tersebut harus menjadi suatu standar
dimana praktik akuntansi akan dinilai.

PERKEMBANGAN INTERNASIONAL: KERANGKA


KERJA KONSEPTUAL IASB DAN FASB

Pada Oktober 2004, FASB dan IASB


mengadakan suatu proyek bersama
untuk mengembangkan kerangka
kerja konseptual umum yang lebih
baik.

ENTITAS DAN PERSPEKTIF KEPEMILIKAN

Entitas dan perspektif kepemilikan


menggambarkan pendekatan-pendekatan
berbeda untuk pelaporan keuangan. Para
dewan mengusulkan bahwa laporan
keuangan seharusnya dipersiapkan dari
perspektif entitas, bukan dari perspektif
pemilik.

KELOMPOK PENGGUNA UTAMA

Para dewan mengusulkan bahwa kelompok


pengguna utama bagi pelaporan keuangan
bertujuan umum adalah penyedia modal
yang potensial dan yang ada saat ini
(investor ekuitas, pemberi pinjaman, dan
kreditur lainnya).

KEGUNAAN KEPUTUSAN DAN PENGAWASAN

Menurut para dewan, tujuan dari pelaporan


keuangan harus cukup luas untuk mencakup
seluruh keputusan yang dibuat oleh ekuitas
investor, pemberi pinjaman, dan kreditur lainnya
dalam kapasitasnya sebagai penyedia modal.
Namun, tujuan pengawasan tidak cukup
ditekankan, sedangkan peran laporan keuangan
dalam menyediakan informasi untuk
meramalkan arus kas masa depan lebih
ditekankan.

KARAKTERISTIK KUALITATIF

Kerangka kerja IASB meliputi empat


karakteristik kualitatif penting, yaitu
mudah dimengerti, relevan, dapat
diandalkan, dan komparatif.

A CRITIQUE OF CONCEPTUAL
FRAMEWORK PROJECTS

Perkembangan kerangka konseptual


dikritik di AS, Australia, dan negara lain
Analysis of the criticsm

Assume ConFrame should be a scientific


approach based on method used in other
areas of scientific inquiry
Professional approach, which concentrates
on prescribing the best course of action by
resource to professional value

2 boards areas ; scientific criticsm &


descriptive and non-operational

GERBOTH
pengetahuan nyata berasal dari
investigasi materi pelajaran, tidak dari
kesepakatan sebelumnya tentang
definisi itu sendiri.
Dia mengklaim bahwa untuk dasar
kerangka akuntansi semata-mata pada
pemahaman yang terbatas disampaikan
adalah tidak rasional.
[kritik terhadap IASB framework]

1. ONTOLOGICAL AND EPISTEMOGICAL


ASSUMPTIONS

ConFrame telah memberikan informasi


kepada pengguna laporan keuangan
secara objektif.
Kebebasan dari bias, atau netral, telah
ditetapkan sebagai kualitas informasi
yang menghindari pengguna laporan
keuangan (conflict of interest)

Apakah suatu teori membentuk dasar


dari framework pernah bisa netral dan
bebas dari bias?

HINES
penelitian akuntansi utama
didasarkan pada taken-for-granted
(diambil-begitu saja), yang
bertentangan dengan pertanyaan
tentang bagaimana realitas sosial
muncul dan dikelola dan dilegitimasi.

Contoh:
kerangka kerja konseptual menghindari
mengandalkan bukti deduktif dan
empiris untuk menegaskan kebenaran
mereka. Jika mereka mengambil
pendekatan tersebut, yang berlaku
umum akan disimpulkan dari tingkat
yang lebih tinggi keyakinan, tujuan dan
asumsi kerangka kerja konseptual
tersebut

CONFRAME VS HIPOTESIS-DEDUKTIF
Mirip dalam hal pendekatannya
1. Basisnya mengarah ke hukum universal
(prinsip yang dapat disimpulkan)
2. Hubungan erat antara penjelasan, prediksi,
dan teknik yang diterapkan. Sebagai contoh,
kerangka kerja konseptual IASB dan FASB
memiliki asumsi umum dan tujuan dari
mana prinsip-prinsip (standar) dan prosedur
(metode dan aturan) harus dapat
disimpulkan

HORNGREN
Setiap orang memiliki karakteristik
yang membatasi kegunaan dari
kerangka konseptual. Hampir semua
orang mengatakan dia ingin kerangka
konseptual, tetapi kerangka kerja
konseptual nya mungkin tidak bisa
orang lain gunakan.

2. CIRCULARITY OF REASONING

Salah satu tujuan ConFrame:


Membimbing praktik sehari-hari akuntan.
Pandangan yang dangkal dari kerangka
kerja konseptual menunjukkan bahwa
akuntan setidaknya mengikuti satu jalur
ilmiah yang menyimpulkan dari prinsipprinsip dan praktik dari teori umum. Namun,
kerangka kerja konseptual berbagai negara
yang ada ditandai oleh internal circularity

Contoh: FASB Statement No. 2, kualitas informasi


seperti keandalan dinyatakan bergantung pada
pencapaian kualitas lain, seperti kepercayaan
representasional, netralitas dan pemastian.
Namun, kualitas ini, pada gilirannya, tergantung
pada kualitas informasi non-operasional lainnya.
Misalnya, pembahasan netralitas bergantung
pada relevansi, keandalan dan kepercayaan
representasional, namun kondisi yang
diperlukan dan cukup untuk memperoleh
beberapa kualitas ini tidak dinyatakan.

FASB Frameworks mencoba untuk


keluar dari hal tersebut, atau
membenarkan perputaran penalaran
ini dengan mengacu pada gagasan
orang akuntansi dengan informasi yang
akan memiliki pengetahuan yang
cukup dan tepat untuk menentukan
dan menginterpretasikan laporan
keuangan. Namun, tidak memberikan
panduan khusus tentang bagaimana ini

3. AN UNSCIENTIFIC DISCIPLINE

STAMP (Akuntansi sebagai seni)


Sampai kita yakin dalam pikiran
tentang sifat akuntansi itu sia-sia untuk
profesi yang menginvestasikan sumber
daya yang besar dalam
mengembangkan kerangka kerja
konseptual untuk mendukung standar
akuntansi

Memang, Stamp menganggap bahwa


akuntansi lebih erat selaras dengan hukum
daripada ilmu fisika, karena keduanya
akuntansi dan profesi hukum menangani konflik
antara kelompok pengguna yang berbeda
dengan berbagai kepentingan dan tujuan
Stamp: Teori akuntansi positif masih belum
sempurna, tahapannya mungkin pra-ilmiah. Ini
menunjukkan kurangnya pendekatan ilmiah
Epistemologis dan metodologis

4. POSITIVE RESEARCH

Akuntansi Positif dan ConFrame : KONFLIK!


Kadang-kadang mengabaikan bukti bahwa pasar
modal tidak benar-benar efisien. Bahkan jika
mereka efisien, fakta bahwa pasar merespon
segera informasi dalam laporan keuangan tidak
berarti bahwa individu memproses informasi
secara efisien dan tidak dapat melakukan investasi
yang salah, pinjaman, pasokan, atau keputusan
pembelian.
Jika kerangka konseptual bisa memastikan bahwa
orang-orang ini menerima informasi yang berguna,
itu akan melayani tujuan yang berguna.

5.CONCEPTUAL FRAMEWORK AS POLICY DOCUMENT

Kirk (The Chairman of FASB) :


Kerangka konseptual terbaik melayani
kepentingan publik, karena merupakan
pendekatan konseptual. Standar pengaturan
dengan konsensus kompromi atau konsekuensi
tidak melayani kepentingan publik, karena
merupakan pendekatan politik. Namun, hal ini
bermasalah karena kepentingan umum diwakili
oleh pengguna yang memiliki kebutuhan yang
saling bertentangan (cont..)

(cont..) Hasil survei menunjukkan bahwa


mayoritas responden dari universitas,
pemerintah, media keuangan dan
akuntansi perusahaan besar menginginkan
kerangka kerja yang akan menghasilkan
perubahan signifikan dalam pelaporan
keuangan. Sebaliknya, sebagian besar
manajer perusahaan dan pejabat industri
keamanan disukai kerangka kerja yang
menegaskan status quo

6. PROFESSIONAL VALUES AND SELF- PRESERVATION

Penjelasan ConFrame dalam hal


pelestarian diri dan nilai-nilai
profesional mungkin pada awalnya
tampak menjadi kontradiksi.
Pelestarian diri menyiratkan mengejar
kepentingan diri sendiri, sedangkan
nilai-nilai profesional dapat berarti
beberapa hal.

GREENWOOD :
organisasi profesi muncul sebagai ekspresi dari
kesadaran pada para profesional. Mereka
mempromosikan kepentingan dan tujuan
kelompok. Hasil dari interaksi sosial ini adalah
budaya profesional dengan nilai-nilai sosial. Nilainilai sosial dari kelompok profesional
membentuk dasar dasar. Terutama di antara
nilai-nilai ini adalah nilai yang dirasakan dari
layanan yang kelompok profesional memberikan
kepada masyarakat, bersama-sama dengan rasa
tanggung jawab kepada masyarakat.

CONCEPTUAL FRAMEWORK FOR


AUDITING STANDARD

Seperti yang dibahas sebelumnya,


penemu pertama untuk menyatakan
sebuah teori komprehensif umum
audit adalah Mautz dan Sharaf pada
tahun 1961. Dalam tinjauan
kontemporer, Miller menekankan
bahwa Mautz dan Sharaf berusaha
untuk memberikan landasan teoretis
disiplin yang pada saat itu dianggap
sebagai latihan praktis.

Latar belakang timbulnya Kerangka


Kerja Konseptual untuk Standar Audit
adalah ketika para ahli (Mautz dan
Sharaf) melihat audit bukan sebagai
bagian dari akuntansi, tetapi sebagai
suatu disiplin yang berbasis pada
logika dan auditor tidak terbatas pada
verifikasi informasi akuntansi.

Pekerjaan Mautz dan Sharaf dikembangkan lebih


lanjut pada awal tahun 1970 oleh A Statement Of
Basic Auditing Concepts (ASOBAC), yang dikeluarkan
oleh Ikatan Akuntan Amerika. ASOBAC memiliki
fokus yang kuat pada proses pengumpulan dan
evaluasi bukti, berbeda dari konsep dasar yang
diidentifikasi oleh Mautz dan Sharaf. Fokus
perdebatan teoritis dalam audit selama tahun 1980
adalah peran struktur dan kuantifikasi dalam proses
pengumpulan bukti dan evaluasi. Sedangkan
Knechel menggambarkan ini sebagai periode
pertumbuhan yang cepat dalam praktik audit,
perluasan dalam tenaga profesional, perbaikan
dalam teknologi, dan kebutuhan yang dirasakan
untuk mengurangi biaya dalam proses audit.

Audit resiko bisnis adalah bentuk audit yang


menganggap risiko klien sebagai bagian dari
proses bukti audit. Formalisasi resiko audit
terjadi pada 1970-an. Model resiko audit
membutuhkan auditor untuk
mempertimbangkan pendapat resiko audit
yang tidak pantas sebagai fungsi dari resiko
yang melekat pada kesalahan yang terjadi,
resiko bahwa sistem kontrol klien tidak akan
mencegah atau mendeteksi kesalahankesalahan, dan bahwa resiko prosedur
auditor tidak akan mendeteksi kesalahan.

Fokus pada risiko audit bukanlah hal yang baru,


bahkan di tahun 1940-an auditor diminta untuk
memulai audit dengan penyelidikan menyeluruh dari
sistem klien dan mempertimbangkan perlindungan
terhadap penipuan dan kesalahan.
Namun knechel berpendapat bahwa persepsi resiko
profesi mulai berubah secara dramatis dengan
merilis 'Control internal - Integrated Framework
tahun 1992 oleh Committee of Sponsoring
Organizations (COSO). Auditor menjadi lebih sadar
akan reaksi antara pengendalian internal dan
pelaksanaan audit. Klien dengan kontrol internal
yang lebih efektif terlihat berada pada resiko yang
lebih rendah dari penipuan dan kesalahan, dan ini
memberikan kesempatan untuk mendapatkan
pengurangan sumber daya, dan biaya audit untuk

Kunci perubahan konseptual resiko bisnis


audit yang dibawa ke auditor adalah
kebutuhan untuk memikirkan hubungan
kausal dari model bisnis klien dan operasi ke
rekening keuangan, daripada berpikir dalam
hal kesalahan akuntansi pertama. Sebagai
contoh, penurunan 2007-08 pasar keuangan
global akan menyebabkan auditor untuk
mempertimbangkan resiko terhadap
ketentuan kerugian pinjaman bank dan akan
memperhatikan penilaian, selain fokus pada
aset dan kewajiban penilaian tertentu.

Pengembangan model resiko bisnis


terutama dilakukan pada perusahaanperusahaan akuntansi yang besar. misalnya,
metodologi audit KPMG selama periode
1997 - 2006 telah diresmikan sebagai
'Sistem Strategis Audit'. Namun, meskipun
pendekatan baru seharusnya menekankan
perencanaan dan pemahaman proses bisnis,
ada beberapa bukti bahwa auditor enggan
untuk melakukannya, dan manfaat efisiensi
diklaim lambat terwujud.

Kritikus berpendapat bahwa tidak hanya resiko bisnis audit


yang digunakan untuk membenarkan dorongan untuk
menjual jasa konsultasi, akhirnya menyebabkan skandal
akuntansi di Enron dan di tempat lain.
Kritik ini berarti auditor menyalahgunakan resiko metodologi
audit bisnis untuk membenarkan perilaku oportunistik.
Regulator telah bertindak melalui Sarbanes-Oxley Act (2002)
di Amerika Serikat dan CLERP 9 revisi UU Australia
Corporations untuk membatasi kesempatan bagi auditor
untuk memberikan jasa konsultasi kepada klien mereka dan
ada bukti peningkatan penekanan pada deteksi penipuan di
tahun 2000-an.
Knechel menunjukkan bahwa masa depan audit risiko bisnis
bisa dibatasi, tetapi fokus pada audit pengendalian internal
klien dalam undang-undang AS masih memberikan fokus
yang jelas bagi auditor untuk mempertimbangkan resiko
dalam proses dan lingkungan klien sebagai bagian dari audit
laporan keuangan.

THANK
YOU