Anda di halaman 1dari 32

Journal Reading

FRAMBUSIA

PEMBIMBING :
LETKOL CKM DR.SUSILOWATI, SP.KK
DISUSUN OLEH :
OKTARI DWI YANTI

Frambusia
Frambusia atau patek atau yaws adalah penyakit

infeksi endemik non-veneral yang disebabkan oleh


Treponema pallidum sub-spesies pertenue ,
yaitu bakteri spirochaeta yang erat kaitannya dengan
Treponema pallidum ssp.Pallidum.
Frambusia kebanyakan menyerang anak-anak yang
tinggal didaerah tropik di dunia
menyebabkan lesi di kulit, mukosa membrane, dan
tulang kronik dan destruktif.

Epidemiologi
Frambusia saat ini dianggap endemic setidaknya di

12 negara (tabel1). Frambusia terutama terjadi pada


anak-anak yang hidup di kawasan miskin, daerah
pedesaan yang padat penduduk. Konsentrasi
frambusia di iklim lembab diduga akibat sensitivitas
T p pertenue pada udara dingin dan kering dan
mungkin dapat menjelaskan mengapa lesi di
kulitnya terlihat lebih sering di musim hujan.

Negara dimana frambusia masih endemik


Negara

Nama local

Benin

Tidak diketahui

Kamerun

Tidak diketahui

Republik Afrika Tengah

Tidak diketahui

Republik Demokratis
Kongo
Kongo

Tidak diketahui

Cte d'Ivoire *

Goundou

Ghana

Gyator

Togo

Gbodo, Gbodokui

Indonesia

Frambusia

Timor-Leste

Tidak diketahui

Papua Nugini

Tidak diketahui

Pulau Solomon

Patek

Vanuatu

50 soa vatu

Tidak diketahui

bigfella soa

Di tahun 1950an 50 juta orang terinfeksi frambusia.


WHO melakukan kampanye pengobatan massal

menggunakan benzylpenicillin infeksi diseluruh dunia


menurun secara signifikan,
30 tahun berikutnya 2,5 juta individu telah terinfeksi.
kegagalan untuk mengidentifikasi kontak dari orang yang
terinfeksi, tidak adekuatnya pengobatan dari frambusia
laten serta kegagalan untuk mengintegrasikan upaya
control ke pelayanan kesehatan primer diperkirakan telah
menyebabkan kegagalan dari strategi eliminasi WHO.

TRANSMISI
Bakteri dari lesi yang menular masuk melalui luka

robek di kulit.
Lesi frambusia dini(early frambusia) yang paling
menular karena mereka membawa jumlah bakteri
yang lebih tinggi, sementara lesi frambusia akhir
(late frambusia) tidak menular.

TRANSMISI
Infektivitas berlangsung selama 12-18 bulan setelah

infeksi primer, namun penyakit berulang (relaps)


dapat memperpanjang periode ini.
infeksi dapat menyebar melalui lalat, namun belum
ada bukti untuk mendukung pernyataan penularan
ini pada manusia.
Penyebaran T p Pertenue melalui transplacental
dikatakan tidak dapat terjadi, namun masih menjadi
kontroversi

Bakteriologi.
T p Pertenue adalah spirochaete Gram-negatif yang

tidak dapat dikultur in vitro


Organisme ini erat kaitannya dengan T p pallidum
dengan gen yang berbeda sekitar 0,2%. Perbedaan
ini hanya sebatas sejumlah kecil gens termasuk tpr
dan TP0136. Peran gen ini tidak pasti, namun
mereka telah terlibat di pathogenesis.
Hubungan filogenetik antara frambusia dan sifilis
masih belum jelas dan terdapat bukti bahwa
rekombinasi antara dua organisme tersebut dapat
terjadi.

Gambaran Klinis
Gambaran klinis mirip dengan sifilis.
frambusia memiliki stage yaitu dini (primer dan

sekunder) dan akhir, atau tersier.


Tabel 2. Perbandingan frambusia dan sifilis.
Sifilis
Primary

Inkubasi
Morfologi
Site

Secondary

Incubation
Clinical presentation

frambusia
990 hari
Inkubasi
Chancre. Usually
Morfologi
solitary, often multiple.
Site
Non-tender.Scarring very
unusual Ano-genital

1090 hari
Induk frambusia
Usually solitary.
Non-tender. Scarring
usual. Legs, ankles

Weeks- 24 months
Skin rash
Lymphadenopathy
Mucosal lesions

Weeks-24 months
Arthralgia Malaise
Skin lesions
Polyosteitis of fingers,
feet or long bones

Incubation
Clinical presentation

Latency

Yes

Yes

Infectious
relapses
.

Commonest within the


first two years,
rarely thereafter

Up to 5 years,

Tertiary

Clinical
Cardiovascular(10%)
Neurosyphilis (10%)
Gummata

Congenital
infection

Yes

Rarely up to 10 years
Clinical
Decades
Cardiovascular,
Weeks
Neuroyaws
(meningitis,cranial
Gummatous nodules.
neuritis) Decades: tabes, Scarring, contractures.
GPI
Gangosa. Tibial bowing.
Goundou
1015 years
No evidence

5+years

Frambusia primer
Papul muncul di tempat inokulasi setelah kira-kira 21

hari. Mother yaws mungkin berevolusi menjadi


papilloma exudatif,dengan ukuran 2-5cm atau
berdegenerasi membentuk satu lesi dengan ulkus yang
ditutupi dengan krusta berwarna kuning.
Predileksi : Kaki dan pergelangan kaki paling
utama,wajah, bokong, lengan, atau tangan.
Split papul dapat terjadi di sudut mulut. Limfadenopati
regional juga bisa terjadi. Berbeda dengan sifilis, lesi di
genital jarang terjadi.
Lesi primer terjadi perlahan dan membutuhkan waktu 36 bulan untuk disembuhkan, lebih sering meninggalkan
bekas luka berpigmen.

Frambusia sekunder
Penyebaran secara hematogen dan limfatik dari

treponema menyebabkan lesi sekunder, yang paling


sering terjadi 1-2 bulan (tapi dapat terjadi sampai 24
bulan) setelah lesi pertama.
Malaise general dan limfadenopati dapat terjadi.
Manifestasi yang paling sering terjadi di frambusia
sekunder yaitu dikulit dan tulang.

Frambusia Sekunder
Kulit
Ruam muncul awalnya seperti papula berukuran kepala peniti,

pustule atau tampak seperti krusta dan mungkin bertahan untuk


beberapa minggu. Jika kerak dibuang, maka akan nampak
gambaran mirip raspberry. Terkadang papula-papul membesar
dan menyatu menjadi lesi seperti kembang kol
terdapat di wajah, badan, alat kelamin, dan bokong. Makula
bersisik mungkin dapat terlihat. Lesi didaerah lembab mungkin
menyerupai kondilomata lata sifilis.
Lesi dikulit pada frambusia dini sering terasa gatal dan ditemukan
Koebner phenomenon. Campuran lesi macula dan papul sering
dijumpai pada pasien. Lesi kulit sekunder dapat sembuh meskipun
tanpa pengobatan, dengan atau tanpa bekas luka

Makula skuamosa atau frambusia plantar dapat menyeripai

sifilis sekunder. Lesi pada telapak kaki dapat berubah


menjadi hyperkeratosis, retak, berubah warna atau infeksi
sekunder. Hal ini mengakibatkan rasa sakit dan membuat
gaya berjalan seperti kepiting (crab-like gait).
Keterlibatan mukosa membrane, paling sering hidung,
dilaporkan terjadi kurang dari 0,5% kasus di Amerika
Samoa.
Diagnosis banding dari lesi frambusia sangat luas dan
termasuk sifilis, leishmaniasis, kusta dan ulkus Buruli,
serta penyebab non infeksi.

Tulang

Frambusia sekunder osteoperiostitis pada


beberapa tulang. Keterlibatan dari tulang panjang
dapat menyebabkan nyeri nocturnal dan terlihat
penebalan periosteal
. Keterlibatan dari palang proximal jari tangan
menimbulkan gejala polidaktili. ini berbeda dengan
frambushia akhir yang mana sering terjadi
monodaktili.

Frambusia laten

Individu dengan frambusia laten memiliki hasil tes

serologi yang reaktif namun tidak ada gejala


klinis.Pasien dengan frambusia primer dan sekunder
mungkin masuk ke periode laten setelah resolusi
dari gejala klinis.
Sama dengan sifilis, infeksi berulang dapat terjadi,
sering terjadi dalam 5 tahun (jarang hingga sepuluh
tahun) setelah infeksi. Lesi berulang cemderung
terjadi disekitar ketiak, anus, dan mulut.

Frambusia tersier
Frambusia tersier diduga terjadi di sekitar 10% pada

pasien yang tidak diobati


Hiperkeratosis di telapak tangan dan telapak kaki dan plak
mungkin terjadi. Nodul mungkin dapat terbentuk dekat
persendian dan ulserasi, menyebabkan nekrosis jaringan.
Sabre Tibia adalah hasil dari osteo-periostitis kronik.
Gangosa atau rhinofaringitis mutilans menunjukkan
ulserasi wajah dari langit-langit dan nasofaring sekunder
untuk osteitis.
Goundou adalag komplikasi yang jarang terjadi bahkan
ketika frambusia menjadi hiperendemik dan ditandai
dengan exostose dari tulang rahang atas.

Frambusia kardiovaskular

Penelitian pemeriksaan mayat ditemukan adanya aortitis pada pasien


frambusia. Secara histology, lesi yang ditemukan sama dengan yang ada pada
sifilis tersier. Meskipun sudah ada penelitiannya, namun bukti definitive masih
kurang.
Frambusia neurologis
ada penelitian yang menemukan adanya kelainan pada saraf mata dan CSS
pada pasien frambusia. Namun bukti definitive masih tetap kurang.
Frambusia dan kehamilan
tidak ada bukti laboratorium bahwa T Pallidum ssp. perteenue dapat
menyebabkan frambusia congenital, namun ditemukan banyaknya laporan
yang bertentangan.
Frambusia dan HIV
Ini mungkin terjadi akibat pasien dengan frambusia laten mengalami relaps
atau berulang akibat meningkatnya kerusakan imunitas tubuh. Tidak ada pula
data mengenai dampak frambusia ke infeksi menular seksual lainnya karena
rendahnya tingkat lesi genital dan penyakit ini didominasi terjadi pada anakanak.

Diagnosis
Sifilis atau Frambusia?
Dokter yang bekerja didaerah endemik biasanya

membuat diagnosis frambusia berdasarkan


gambaran klinis dan epidemiologi. Namun, karena
sifilis dan frambusia masih terjadi dibanyak negara
tropic, dan serologi tidak dapat membedakan antara
treponemal sub spesies, mungkin mustahil untuk
mengidentifikasi dengan pasti organism penyebab.

Diagnosis laboratorium
Dark ground microscopy

T. pallidum ssp pertenue secara morfologinya sama atau identik


dengan T pallidum ssp pallidum. lebar T pallidum ssp pallidum
hanya 0,3nanometer dan panjangnya 6-20nanometer. dark ground
microscopy diperlukan untuk visualisasi. Sampel dari lesi primer dan
sekunder frambusia sama seperti yang yang ditemukan pada sifilis.
Polymerase chain reaction
Tes polymerase chain reaction (PCR) dapat mengidentifikasi T
pallidum tapi hingga saat ini protocol PCR masih belum bisa
membedakan antara sub spesies.
Serology
Meskipun tes serologi adalah landasan diagnosis frambusia, mereka
masih tidak bisa membedakan antara subspecies T pallidum.

Diagnosis laboratorium
Non-treponemal(cardiolipin)Tes

- VDRL dan RPR tes menggunakan sebuah antigen dari


kardiolipin, lesitin, dan kolesterol.
- Antibodi yang dihasilkan oleh pasien menyatu dengan
lipid di permukaan sel T pallidum akan bereaksi dengan
antigen yang menyebabkan flokulasi yang nyata.
- VDRL dapat dibaca secara mikroskopis sedangkan RPR
dapat dibaca dengan mata telanjang.
- Meskipun tidak spesifik, VDRL/RPR merupakan titer
terbaik untuk mencerminkan aktivitas penyakit. Titer
menurun setelah pengobatan dan mungkin akan menjadi
nol, tertutama setelah pengobatan di infeksi dini.

Tes Treponemal
Tes ini termasuk tes Hemaglutinasi T pallidum

(TPHA) dan T pallidum partikel hemaglutinasi


(TPPA). Tes ini lebih spesifik daripada tes
cardiolipin dan biasanya tetap positif setelah
pengobatan.

Histologi
Pada frambusia dini hyperplasia epidermal dan

papillomatosis, sering juga dengan spongiosis fokal.


Netrofil menumpuk di epidermis, menyebabkan
mikroabses.
Berbeda dengan sifilis, ada sedikit proliferasi sel
endothelial atau obliterasi pembuluh darah.
T pallidum dapat diidentifikasi di dalam potongan
jaringan menggunakan Warthin-Starry atau Levaditi
silver stains. Apabila T pallidum ssp. pertenue banyak
ditemukan di epidermis, T pallidum ssp pallidum lebih
banyak teridentifikasi didermis.

Pengobatan
Benzatin penisilin-G telah menjadi pengobatan

andalan untuk frambusia selama lebih dari 60 tahun.


Direkomendasikan dosis 0,6 MU untuk anak-anak
(dibawah 10 tahun) dan 1,2 MU untuk anak yang
lebih besar dan orang dewasa.
Diujicoba terbaru , pengobatan satu dosis
azitromisin 30mg/kg setara dengan penicillin pada
pasien dengan frambusia primer dan sekunder,
dengan tingkat kesembuhan 95%.

Pengobatan
kini azitromisin menjadi rencana pengobatan utama WHO

untuk memberantas frambusia,yang bertujuan untuk


melakukan pengobatan massal masyarakat di daerah
endemic.
Rencana WHO yaitu tidak ada lagi kasus frambusia aktif
diseluruh dunia pada tahun 2017 dan memastikan
pemberantasan frambusia di 2020.
Hambatan untuk program pemberantasan frambusia, yaitu
kurang akuratnya data epidemiologi
tidak adanya dana khusus untuk usaha pemberantasan
kekhawatiran terhadap resistensi azitromisin.

Respon pengobatan
Treponema menghilang dari lesi dalam 8-10 jam setelah

pengobatan dengan penicillin. Lesi di kulit mulai sembuh


dalam 2-4 minggu.
Pada pasien dengan frambusia sekunder, nyeri sendi mulai
menghilang sedikit dalam 48 jam. Perubahan tulang dapat
reversible bila diobati sedini mungkin.
Setelah pengobatan sukses, terjadi penurunan RPR dan
setelah 12 bulan, 90% individu memiliki 4x penurunan RPR
atau menjadi negative.
Kegagalan lesi untuk sembuh atau RPR tidak menurun dapat
dipertimbangkan bahwa terjadi kegagalan pengobatan dan
menjadi indikasi untuk mengulang pengobatan.

Frambusia primer, lesi yang sudah sembuh

Kesimpulan
Frambusia masih endemic di beberapa Negara diseluruh dunia.
Tes rutin tidak dapat membedakan antara sifilis dan frambusia.

Strategi pengobatan antara keduanya adalah sama, meskipun pada


frambusia menggunakan dosis yang lebih rendah.
Mengingat keterbatasan dalam membedakan dua penyakit ini, dokter
harus mempertimbangkan pengobatan untuk sifilis kelamin pada
pasien dengan serologi reaktif tanpa riwayat yang jelas tentang
frambusia.
Kita juga perlu mengetahui bahwa frambusia dapat ditularkan dari ibu
ke anak in utero dan hal itu dapat menimbulkan komplikasi neurologic
dan kardiovaskular.
Mengingat prevalensi resistensi macrolide dan azalide dilaporkan pada
T pallidum ssp pallidum , maka penting untuk pengawasan efikasi
pengobatan dipertahankan dalam kampanye pengobatan massal
frambusia.

TERIMAKASIH