Anda di halaman 1dari 85

AKTIFITAS FUNGSIONAL REKREASI

PADA KASUS MUSKULOSKELETAL


OLEH :
WIWIEK KUSUMA DEWI (1102305001)
HENDRA MEIRIANATA (1102305003)
BAKTIYASA (1102305007)
SURYA KENCANAWATI (1102305013)
SUKMAYANTI LESTARI (1102305016)
MIRA RESDIANI (1102305026)
HARRY NUGRAHA (1102305028)
LAKSMI PUSPA DEWI (1102305030)

AKTIFITAS FUNGSIONAL DAN


REKREASI
Seorang
fisioterapis
dalam
melakukan
intervensi me-mandang individu sebagai
manusia utuh dengan berbagai aspek yang
meiliki
berbagai komponen-komponen dan
kebutuhan dalam malakuakan aktifitas.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah
aktifitas fungsional rekreasi yaitu bentuk
aktifitas terapi yang dilakukan dengan
membuat terapi sedeikian rupa hingga dapat
memiliki efek gebira pada pasien tanpa
meninggalkan
makna
terapi
yang

KASUS MUSKULOSKELETAL

HEMIPLEGI

Hemiplegia adalah suatu keadaan spastic / placcid


paralisis lengan dan tungkai separuh badan akibat
gangguan kontralateral fungsi otak.
ETIOLOGI :
CVD: macam-macam tumor atau kondisi
peradangan pada otak
CVA : Trauma/perdarahan intra cerebralo

KASUS HEMIPLEGI
Seorang bapak berusia 56 tahun, mengalami hemiplegi dextra
post stroke, pasien tidak bisa makan, minum, ganti pakaian,
menyisir rambut secara mandiri, pasien juga mengalami
gangguan berjalan
INSPEKSI :
Pasien dalam posisi duduk di kursi roda posisi kepala miring ke
sisi detra, adduksi dan internal rotasi shoulder dextra, pronasi
lengan bawah detra, internal rotasi hip detra, pasien tidak
mampu menengok ke sinistra, tidak mampu mengangkat
tungkai dextra, tidak mampu mengangkat bokong.

Cont HEMIPLEGI
AFR
1. MAKAN
1) Persiapan:
Piring, makanan dan sendok khusus
Kursi dan meja
Serbet

2) Pelaksanaan:
Penderita duduk stabil di kursi, kedua siku rapat di atas meja makan
Keluarga membantu penderita memegang sendok, menyendok
makanan lalu membawa ke mulut penderita kemudian kembali ke
posisi semula.
Melakukan berulang kali hingga penderita berpengalaman makan
sendiri.

Cont HEMIPLEGI

2. MINUM
1) Persiapan:
Cangkir khusus (dua pegangan)
Kursi dan meja
Serbet
2) Pelaksanaan:
Penderita duduk stabil dikursi, kedua siku rapat di atas meja makan.
Keluarga membantu tangan penderita memegang tangkai/cangkir
sedemikian rupa yang berisi 1/3 gelas air, dibawa ke mulut untuk di
minurn, kemudian kembali ke posisi semula.
Melakukan berulang kali hingga penderita berpengaIaman minum sendiri.
Latihan makan dan minum dimaklumi lambat gerakannya, karena itu
dibutuhkan kesabaran keluarga dalam membantu penderita.

Cont HEMIPLEGI

3. MANDI
1) Persiapan:

Kursi khusus (bila dibutuhkan)

Peralatan mandi; sabung. sikat gigi khususnya. Gayung khusus, handuk, sarung dan lain-lain.
2) Pelaksanaan:

Tangan lumpuh memegang sikat gigi dan tangan sehat menaruh odol di sikat gigi.

Keluarga membantu memegang tangan penderita menggosok gigi sedemikian rupa


sehingga bersih sesuai dengan kemampuan penderita.

Gunakan tangan sehat, jika tangan sakit sangat sulit digunakan menggosok gigi.

Keluarga membantu memegang tangan penderita memegang gayung beris 1/3 air kemudian
menyiramkan beberapa kali ke tubuh penderita.

Hal yang sama keluarga membantu penderita memakai sabung ke seluruh tubuhnya
sekemampuannya, kecuali di wajahnya.

Keluarga membantu penderita tangan penderita menggunakan handuk ke sekujur tubuh


penderita.

Lakukan semua kegiatan berungkali hingga penderita berpengalaman melakukannya sendiri.

Contoh di atas adalah pola kehidupan keluarga pada umumnya, sedangkan penderita yang
menggunakan water bath, shower, maka Iatihannya disesuaikan.

Cont HEMIPLEGI

4. BAB

1) Persiapan:

Kursi yang khusus yang dilubangi di tengah agak melebar ke depan (bila dibutuhkan)

Ember berisi air dan gayung serta tersedia sabun cuci tangan.

2) Pelaksanaan:

Kursi diletakkan di atas landasan WC yang lubang kursinya sejajar ke bawah mulut WC
(bila dibutuhkan).

Penderita duduk sambil di atas kursi, sehingga tinja penderita jatuh persis di lubang WC.

Tangan yang sehat merangsang sekitar tulang ekor penderita, agar tinja cepat keluar.

Keluarga membantu penderita memegang tangan sakit penderita memegang gayung


untuk membasuh pantat secara berulangkali.

Lakukan berulangkali sampai penderita berpengalaman membersihkan diri ketika BAB.

Jika penderita sudah dapat jongkok, maka aktivitas BAB sedikit dengan AKS orang pada
umumnya yang disesuaikan denqan kemampuan penderita.

Cont HEMIPLEGI

5. BERPAKAIAN
1) Persiapan:
Baju kaos
Baju biasa
2) Pelaksanaan:
Untuk baju kaos dan baju biasa pelaksanaannya hamper sama.
Tangan sehat memasukkan lengan baju ke tangan sehat dan tangan sakit sedangkan untuk baju
biasa tangan sehat membantu tangan sakit masukkan tangan sakit ke lengan baju.
Tangan sehat membantu tangan sakit meletakkan tangan sakit ke atas di dinding.
Tangan sehat memasangkan dan merapikan baju ke sekujur tubuh bersama tangan sakit.
Melepas baju:
Tangan sehat meletakkan tangan sakit ke atas dinding.
Tangan sehat mengangkat , pinggiran baju kebahagiaan bawah,ke atas kepala, sekaligus
mengeluarkan leher baju dari kepala.
Tangan sehat membantu tangan sakit mengeluarkan lengan baju dan tangan sakit sekaligus
merapikan baju keluar dari tubuh. Sedangkan untuk baju biasa tangan sehat membantu tangan
sakit mengeluarkan tangan sakit dari lengan.
Lakukan berulang kali sehingga penderita berpengalaman (memakai dan melepas celana)

Cont HEMIPLEGI
1) Persiapan
Celana pendek/celana panjang
2) Pelaksanaan:
Penderita duduk di pinggir/tempat tidur
Tangan sehat membantu tangan sakit memasukkan celana ke tungkai
sakit dan tungkai sehat.
Penderita mengangkat pantat sehingga seluruh celana terpasang di
perut.
Tangan sehat membantu tangan sakit memasang rosleting dan kancing
celana hingga terpasang dengan sempurna.
Melepas celana:

Tangan sehat membantu tangan sakit membuka rosleting/kancing


celana.

Penderita sedikit mengangkat pantat agar celana dapat ditarik keluar


dari tubuh atas kerja sama antara tangan sehat dan tangan sakit.

Cara lain dapat dilakukan dalam posisi tidur.

Cont HEMIPLEGI

6. MENYISIR RAMBUT
1) Persiapan
Sisir khusus
Cermin kecil (jika dibutuhkan)
2) Pelaksanaan:
Penderita duduk di kursi menghadap ke cermin
Keluarga memegang tangan sakit penderita, membantu
penderita menyisir rambut dari samping, depan dan
belakang.
Lakukan berulangkali hingga penderita berpengalaman
sendiri menyisir rambut.

Cont HEMIPLEGI

7. BERPINDAH TEMPAT / AMBULASI


1) Persiapan:
Dorongan mental kepada penderita agar rasa percaya diri muncul
Kursi dimana penderita akan duduk setelah berpindah tempat.
2) Pelaksanaan
Keluarga membantu penderita dengan cara:
Satu tangan keluarga memegang tangan sakit pendenta seolah-olah bersalaman
Tangan yang lain keluarga memegang ikat pinggang/stage penderita.
Kaki sehat penderita ditetakkan agak ke belakang, sehingga 2/3 tubuh penderita saat
berdiri tertumpuk pada tungkai sehat penderita, kaki sakit diletakkan agak kedepan.
Penderita agak menunduk ke depan sambil menunggu aba-aba 1,2,3 lalu penderita
berdiri dengan mendapat bantuan tenaga dari keluarga (hati-hati lutut sakit tetap lurus).
Instruksikan agar penderita menumpukan berat badannya pada tungkai yang sakit.
Penderita muIai melangkah berjalan peIan-pelan menuju ke kursi yang sudah disiapkan
dengan bantuan dan pengawasan ketat dari keIuarga.
Proses duduk hampir sama dengan beranjak berdiri yakni penderita sedikit menunduk
kemudian menyatukan pantat dengan pelan ke kursi dengan penumpuan berat badan
Iebih pada tungkai sehat.

FRAKTUR

DEFINISI
Fraktur atau patah tulang merupakan suatu keadaan
dimana struktur tulang mengalami pemutusan secara
sebagian atau keseluruhan (Appley, 1995). Etiologi fraktur :
1. Fraktur akibat peristiwa trauma
Jika kekuatan langsung mengenai tulang maka dapat terjadi
patah pada tempat yang terkena, hal ini juga
mengakibatkan kerusakan pada jaringan lunak disekitarnya.
2.

Fraktur Patologis
Adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena
adanya proses pelemahan tulang akibat suatu proses
penyakit atau kanker yang bermetastase atau osteoporosis.

PATOFISIOLOGI
Apabila terjadi terputusnya kontinuitas tulang, maka hal tersebut akan mempengaruhi berbagai
struktur yang ada disekitarnya, seperti otot dan pembuluh darah. Akibat yang terjadi sangat
tergantung pada berat ringannya fraktur yang dapat dilihat dari tipe, luas, dan lokasi fraktur itu
sendiri. Pada umumnya terjadi :
edema pada jaringan lunak,
perdarahan pada otot dan persendian,
dislokasi atau pergeseran tulang,
ruptur tendon,
putus persarafan,
kerusakan pembuluh darah,
dan perubahan bentuk tulang.
Bila terjadi patah tulang maka sel-sel tulang akan mati. Perdarahan biasanya terjadi disekitar
tempat fraktur dan kedalaman jaringan lunak disekitar tulang tersebut. Jaringan lunak biasanya
juga mengalami kerusakan. Reaksi peradangan hebat timbul setelah fraktur.

AKTIVITAS FUNGSIONAL DAN REKREASI PADA KASUS POST OPERASI FRAKTUR FEMUR 1/3
DISTAL

CONTOH KASUS
Seorang wanita berumur 26 tahun bekerja sebagai pegawai swasta,
mengeluhkan nyeri dan keterbatasan gerak pada extremitas bawah dextra
akibat post op fraktur femur 1/3 distal setelah jatuh dari sepeda motor,
pasien memiliki hobi melukis dan mendengarkan musik.

GAMBARAN KONDISI UMUM PASIEN


Keadaan umum klien lemah, makan/minum tidak perlu bantuan dari orang
lain.Pasien mengalami keterbatasan gerak sendi lutut, penurunan kekuatan
otot, dan gangguan aktifitas fungsional tungkai. Adanya oedem dan nyeri
menyebabkan pasien mengalami penurunan kemampuan fungsionalnya,
seperti transfer, ambulasi, jongkok berdiri, naik turun tangga, keterbatasan
melakukan Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK).

INTERVENSI FISIOTERAPI
Tindakan Fisioterapi yang digunakan dalam kasus ini adalah terapi
latihan. Terapi latihan adalah usaha pengobatan dalam fisioterapi
yang pelaksanaannya menggunakan latihan-latihan gerakan
tubuh, baik secara aktif maupun pasif.
1. Static Contraction
2. Passive Movement

Relaxed Passive Movement


Forced Passive Movement

3. Active Movement

Free Active Movement


Assisted Active Movement
Ressisted Active
Movement

4. Hold Relax
5. Latihan Jalan

AKTIVITAS FUNGSIONAL DAN REKREASI PADA PASIEN POST


OPERASI FRAKTUR FEMUR 1/3 DISTAL

Pada kasus post operasi fraktur femur 1/3 distal, maka aktifitas
fungsional dan rekreasi yang dapat diberikan sebagai terapi antara
lain :
Melakukan terapi latihan sambil mendengarkan music sehingga pasien
juga dapat menyalurkan hobinya. Aspek yang didapat dari latihan ini
adalah :
Kapasitas fisik yang dapat diraih : pasien dapat menigkatkan lingkup
gerak sendi dan meningkatkan kekuatan otot melalui terapi latihan
Aspek emosi yang dapat diraih : pasien tidak merasa bosan dengan
terapi yang diberikan
Aspek intelegensi yang dapat diraih : pasien dapat mengikuti
instruksi dari terapis

Cont fraktur

Mendorong partisipasi pasien dalam aktivitas rekreasi


seperti melukis dan jalan jalan di alam terbuka
bersama suatu komunitas, selain untuk menyalurkan
hobi pasien aspek lain yang dapat diperoleh adalah :
Kapasitas fisik yang dapat diraih : pasien dapat
melakukan latihan jalan dengan jalan jalan di
alam terbuka
Aspek emosi yang dapat diraih : pasien tidak
merasa bosan
Aspek social yang dapat diraih : pasien dapat
bersosialisasi dengan orang lain sehingga terhindar
dari isolasi sosial

FROZEN SHOULDER

Pengertian

Frozen shoulder atau nyeri bahu adalah


penyakit kronis dengan gejala khas berupa
keterbatasan lingkup gerak sendi bahu ke
segala arah, baik secara aktif maupun pasif
oleh
karena
rasa
nyeri
yang
dapat
mengakibatkan gangguan aktifitas kerja
sehari-hari.

Adanya kekakuan kapsul sendi oleh jaringan


fibrous yang padat dan selular. Berdasarkan
susunan intra artikular adhesion, penebalan
sinovial akan berlanjut ke keterbatasan
artikular
kartilago.
Berkurangnya
cairan
sinovial
pada
sendi
sehingga
terjadi
perubahan kekentalan cairan tersebut yang
menyebabkan penyusutan pada kapsul sendi
berkurang dan akhirnya terjadi perlekatan.

Patofisiologi

Inflamasi pada sendi menyebabkan thrombine


dan fibrinogen membentuk protein yang
disebut fibrin. Protein tersebut menyebabkan
penjedalan dalam darah dan membentuk
suatu substansi yang melekat pada sendi.
Perlekatan pada sekitar sendi inilah yang
menyebabkan perlekatan satu sama lain
sehingga menghambat full ROM. Kapsulitis
adhesiva pada bahu inilah yang disebut frozen
shoulder.

Kasus
Seorang wanita bernama ibu Ida berusia 65 tahun dengan
profesi sebagai chef di salah satu restaurant datang ke klinik
fisioterapi dengan keluhan sakit pada bahu kiri saat digerakan
dan tidak mampu melakuan aktivitas fungsional sehari hari
seperti mengkancingkan dan membuka BRA. Saat datang ke
klinik
pasien
tampak
kesakitan
pada
bahu
ketika
menggerakan lengan ke atas, kontur bahu asimetris (bahu kiri
lebih tinggi daripada bahu kanan) dan adanya protaksi bahu.
Saat di palpasi ada spasme pada otot upper trapezius dan
rotator cuff kiri lebih berat daripada bahu kanan, nyeri tekan
pada tendon m. supraspinatus dan tendon m. biceps caput
longum serta di muscle belly-nya. Di sela-sela kesibukannya
ibu ida sering mengisi waktu luang dengan berenang.

Intervensi

MWD
TENS
US
Massage dan friction
Joint mobilization
Contrac rileks stretching
Terapi latihan

AFR pada kasus frozen


shoulder
Untuk memudahkan aktifitas memakai atau membuka BRA, kita mampu mensiasati

dengan memilih BRA yang memiliki kancing di depan.


Aspek fungsional : mempermudah penggunaan BRA sehingga mengurangi
nyeri.
Melatih pasien yang sesuai dengan hobinya yaitu berenang. Terapi ini sangat
bermanfaat bagi pasien karena tekanan dari air mengangkat tubuh dan
mengurangi efek dari gravitasi. Hal ini menyebabkan penderita yang menderita
nyeri dapat melakukan olahraga low impact yang memiliki sedikit gesekan
antara sendi. Tekanan dari air juga menyebabkan penderita untuk dapat
memaksimalkan gerakan dengan lebih mudah. Pada saat yang bersamaan air
memberikan hambatan yang mampu membangun kekuatan dan ketahanan.
Kapasitas fisik yang dapat diraih : pasien dapat menigkatkan lingkup gerak
sendi dan meningkatkan kekuatan otot melalui aktifitas fungsional rekreasi.
Aspek emosi yang dapat diraih : pasien tidak merasa bosan dengan terapi
yang diberikan karena sesuai dengan hobinya.
Aspek intelegensi yang dapat diraih : pasien dapat mengikuti instruksi dari
terapis

CARPAL TUNNEL
SYNDROME

DEFINISI

Carpal Tunnel Syndrome merupakan


sindroma dengan gejala kesemutan dan rasa
nyeri pada pergelangan tangan terutama
tiga jari utama yaitu ibu jari telunjuk dan jari
tengah sebagai akibat adanya neuropati
tekanan atau cerutan terhadap nervus
medianus di dalam terowongan karpal pada
pergelangan tangan, tepatnya di bawah
tleksor retinakulum.

PATOFISIOLOGI

Terjadinya
syndrome
ini
bertumpu
pada
pertumbuhan patologis yang diakibatkan oleh
adanya iritasi secara terus menerus pada nervus
medianus di daerah pergelangan tangan.
Bila kedudukan antara telapak tangan terhadap
lengan bawah bertahan secara tidak fisiologis
untuk waktu yang cukup lama, maka gerakangerakan
tangan
akan
menyebabkan
tepi
ligamentum transversum bersentuhan dengan
saraf medianus secara berlebihan.

LANJUTAN...

Ada bagian persendian tangan yang mengalami


tekanan atau regangan yang berlebih dan
sebagai
mekanisme
kompensasi,
tubuh
berusaha memperkuat bagian yang mendapat
beban tidakk fisiologis ini antara lain dengan
mempertebal ligamentum karpi transversum.
Penebalan ini akan mempersempit terowongan
tempat lewatnya saraf dan urat, dan lebih berat
lagi akan menjepit syaraf.

GEJALA KLINIS

Nyeri dan paraesthesia yang menyebar ke kulit telapak


tangan, punggung tangan di daerah ibu jari, telunjuk, jari
tengah, setengah sisi radial jari manis terutama saat posisi
wrist palmar fleksi.
Nyeri akan terasa lebih berat pada malam hari kemudian
berkurang setelah tangan digoyang-goyangkan atau
diletakan di atas bahu.
Kadang nyeri sampai lengan atas dan leher , tapi rasa baal,
kesemutan hanya pada distal pergelangan tangan saja.
Jari-jari, tangan, dan pergelangan tangan edem pada pagi
hari dan menghilang setelah mengerjakan sesuatu.

LANJUTAN...
Mati rasa, rasa terbakar, atau kesemutan di jarijari dan telapak tangan.
Nyeri di telapak, pergelangan tangan, atau lengan
bawah, khususnya selama penggunaan.
Penurunan cengkeraman kekuatan.
Kelemahan dalam ibu jari
Sensasi jari bengkak, ( ada atau tidak terlihat
bengkak)
Kesulitan membedakan antara panas dan dingin.

KASUS

Seorang wanita berusia 30 tahun, bekerja di


jasa pengetikan.dia mengalami keluhan
kesemutan pada telapak tangan. Apabila
tengah malam, jari-jari tangan (ibu jari
sampai setengah jari ke empat) mengalami
kesemutan
yang
luar
biasa
sampai
menyebabkan tidak bisa tidur.

Intervensi Kasus Tersebut


1.Microwave Diathermi(MWD)
Pemberian MWD pada kasus CTS bermanfaat,
pada dosis klinis terjadi peningkatan temperatur
kulit sebesar 10 dan aliran darah dalam dan
superfisial lengan bawah dan tangan pada subyek
normal, respon tersebut berlangsung hingga 20
menit setelah aplikasi. Meningkatkan elastisitas
pembungkus jaringan saraf dan meningkatkan
ambang rangsang/threshold.

Lanjutan...

Apabila pembungkus jaringan saraf atau


ligamentum karpi transversum menjadi lebih
elastis maka kompresi pada saraf medianus
akan berkurang

Lanjutan...
2. Ultrasound
Ultrasound diberikan dengan frekuensi 1 MHz,
diberikan secara continuous, dengan intensitas
0,5 watt/cm2, diberikan dalam waktu 6 menit.
Pengaruh US pada kasus tersebut :
a. Untuk dapat mempercepat proses inflamasi
normal dengan meningkatkan produksi dan
pelepasanwound-healing factors.
b. Dapat meningkatkan proses sintesa collagen dan
meningkatkan permeabilitas membran sel, hal
tersebut akan menyebabkan lebih banyak
collagen
yang
terbentuk
dan
juga
meningkatkantensile strengthpada ligamen.

Lanjutan...
c. Dapat memperbaiki extensibilitas jaringan
collagen yang telah terbentuk setelah proses
inflamasi.
d.
Dapat
terjadicapillary
hyperaemiadengan
pelepasanhistamine-like substancesyang akan
membantu
pengangkutan
dan
mengurangi
pengaruhalgogenic chemicalsyang dihasilkan
selama
proses
inflamasi,
sehingga
dapat
mengurangi nyeri.

AKTIFITAS FUNGSIONAL DAN REKREASI


PADA KASUS CTS
Aktifitas sangat bermanfaat untuk pemeliharaan kesehatan
bagi mereka yang sehat dan pemulihan bagi mereka yang sakit
atau cacat. Dengan kesibukan dalam kegiatan yang bertujuan
dan bermanfaat dapat memberikan perubahan dalam perilaku
maupun daya guna dari pola disfungsional, AFR sebagai
fasilisator dalam proses perubahan yang dimaksud diatas. Pada
kasus carpal tunnel syndrome kita dapat mengajak pasien
untuk menar atau masuk suatu sanggar tari apabila dia suka
menari. Pada suatu tarian terjadi gerakan pada tangan dan
pergelangan tangan
dimana gerakan terebut menyerupai
gerakan untuk mobilisasi saraf
disamping itu dapat juga
menyalurkan hobi. Aspek-aspek yang diperoleh, yaitu:

Lanjutan...
Kapasitas fisik yang dapat diperoleh yaitu
terjadinya mobilisasi n. Medianus yang mempu
mengurangi kesemutan yang terjadi.
Kapasitas emosi yang diperoleh yaitu pasien
merasakan relaksasi pada pikiran setelah jenuh
melakukan rutinitas.
Kapasitas sosial yang diperoleh yaitu pasien padat
bersosialisasi dengan orang yang berada di
sanggar meskipun dia mengalami keterbatsan.

OSTEOATRHITIS

DEFINISI
Osteoartritis merupakan gangguan persedian yang ditandai dengan
adanya nyeri dan kekakuan sendi yang biasanya banyak terjadi pada usia
lanjut. Jenis kelamin juga menjadi faktor resiko dimana wanita memiliki
resiko yang lebih tinggi dibanding pria. Penyebab terjadinya Osteoartritis
disebabkan beberapa faktor. Selain faktor usia, osteoartritis juga
disebabkan karena kondisi lain seperti kegemukan, cedera, abnormalitas
pada saat dilahirkan, penyakit diabetes dan gout, serta penyakit hormon
lainnya.
Kondisi akibat adanya Osteoartritis pada sendi lutut mengakibatkan
adanya gangguan gerak dan fungsi yang tingkatan derajat gangguannya
dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain : adanya nyeri (pain), gejala
yang dimunculkan (symptoms), fungsi aktivitas sehari-hari (ADL function),
fungsi 5 olah raga dan rekreasi (sport and recreation function) dan kualitas
hidup individu (quality of life).

PATOFISIOLOGI
Proses OA terjadi karena adanya gangguan fungsi
kondrosit. Kondrosit merupakan satu-satunya sel hidup
dalam tulang rawan sendi.
Kondrosit akan dipengaruhi oleh faktor anabolik dan
katabolik
dalam
mempertahankan
keseimbangan
sintesis dan degradasi.
Faktor katabolik utama diperankan oleh sitoksin
interkoukin 1 (iL-) dantumor necrosis factor (TNF ),
sedangkan faktor anabolik diperankan olehtransforming
growth factor(TNF ) daninsulin-like growth factor
1(IGF 1).

KASUS
Seorang ibu rumah tangga berusia 57 tahun. Dibawa ke
poliklinik dengan keluhan nyeri kedua lutut yang di alami
sejak 4 bulan terakhir ini terutama saat beraktifitas sulit
berdiri dan posisi jongkok. Bengkak dan kemerahan pada
kedua lutut. Berat badan 65 dan tinggi badan 158 cm.
akibat nyeri yang terus menerus pasien mengaku susah
tidur, sering berdebar debar karena mengkhawatirkan
penyakitnya yang tak kunjung sembuh meskipun
berulangkali minum obat yang di beli di warung. Setelah
di lakukan anamnessis dan pemeriksaan fisik dokter
memberi obat dan merujuk ke fisioterapi.

INTERVERSI FISIOTERAPI
Peran Fisioterapi pada kasus OA GENU masuk pada tahap rehabilitasi. Sesuai dengan
kasus di atas maka modalitas dan tindakan fisioterapi yang dapat di lakukan antara lain
:
1. Ultrasound
Efek yang diharapkan adalah meningkatkan kekuatan jaringan lunak, mempercepat
proses regenerasi sehingga terjadi peningkatan luas gerak sendi, menurunkan nyeri,
sehingga fungsi lutut dapat meningkat.
2. Traksi Osilasi
Bertujuan untuk peregangan baik pada ligament, dan kapsul sendi, memobilisasi
matriks pada jaringan ikat dan melepaskan perlekatan akibat fibrosis yang
menghasilkan abnormal cross links dan terjadi pengurangan viskositas cairan sendi
tibiofemural.
intervensi yang diberikan bertujuan untuk memperlancar sirkulasi darah, relaxasi
jaringan lunak, memperluas sela sendi, meningkatkan luas gerak sendi. Sehingga nyeri
menurun, kekakuan berkurang, meningkatkan fungsi lutut yang berkaitan dengan
kegiatan sehari-hari seperti naik turun tangga, berjalan jauh, meningkatkan aktifitas
fungsional seperti berjongkok, berlari, melompat, dan kualitas hidup akan meningkat
seperti melakuka aktifitas dengan senormal mungkin, meningkatkan rasa percaya diri.

AKTIFITAS FUNGSIONAL dan


REKREASI
Untuk dapat melakukan Aktifitas Fungsional dan Rekreasi
pasien di harapkan bisa melakukan latihan- latihan seperti
:
Dinamic Bicycle : bertujuan untuk mengaktifasi sendi dan
menambah ruang lingkup gerak sendi.
Weight bearing Exercise sambil mendengarkan music
favorite : bertujuan untuk memperkuat otot sekitar genu
dan lebih bersemangat dengan mendengarkan music
favorite

Tennis Elbow

DEfinisi
Suatu keadaan yang terjadi dengan gejala nyeri dan sakit
pada posisi luar siku, tepatnya pada epicondylus lateralis
humeri. Diambil dari namanya, umumnya terjadi pada
pemain tennis karena pukulan backhand yang terusmenerus

atau

gerakan

backhand

yang

salah,

yang

mengakibatkan overuse otot.


Biasanya terjadi akibat overuse kelompok otot extensor
wrist (arm, forearm, dan otot-otot tangan lain) yang dapat
menyebabkan nyeri siku

Patofisiologi
Penyebab tennis elbow belum jelas. Para ahli menganggap
gerakan terus-menerus serta intensif dalam bentuk pronasi
dan

supinasi

dengan

tangan

yang

memegang

raket,

menimbulkan overstrain otot-otot extensor lengan bawah


yang berorigo pada epikondilus lateralis humeri.
Tarikan pada otot-otot tersebut akan menimbulkan mikro
trauma yang makin lama makin bertumpuk menjadi makro
trauma, sehingga akhirnya menimbulkan tennis elbow.

Contoh Kasus
Keluhan Utama:
Seorang wanita bernama Angelina berusia 45 tahun dengan profesi sebagai
PNS dating ke klinik fisioterapiPasien merasakan nyeri pada tangan kanan
terutama pada bagian lateral siku ketika menggunakan tangan kanan
dalam beraktivitas
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien merasakan nyeri pada siku kanan yang dirasakan pertama kali
setelah bermain tenis, Di pagi hari terkadang siku tidak dapat diluruskan
secara maksimal, karena nyeri yang timbul. Pada gerakan tertentu timbul
nyeri kejut (nyeri tiba-tiba) sehingga bila memegang benda, benda dapat
jatuh karenanya. Nyeri dirasakan saat dorso flexi dan juga saat mengepal /
menggenggam dengan kuat
Riwayat Pribadi :
Pasien memiliki hobby bermain tennis dan berenang. Melakukan aktivitas
sehari-hari dominan dengan menggunakan tangan kanan. Termasuk ketika
bermain tennis pasien memegang raket dengan menggunakan tangan

Kemampuan Fungsional Dasar :


pasien merasakan nyeri disekitar siku tangan kanan bagian luar saat

diluruskan

terutama

ketika

pagi

hari

saat

bangun

tidur,

ketika

melakukan gerakan pronasi, dan ketika menggenggam/meremas benda.


Aktifitas Fungsional
Pasien dalam melakukan beberapa aktivitas mengalami keterbatasan

akibat merasakan nyeri terutama pada aktivitas yang memanfaatkan


tangan kanannya, seperti mencuci dan memeras pakaian, membuka
pintu, memasak, mengangkat barang,

INTERVENSI
Heating : dapat menggunakan IR, SWD, MWD,
maupun kompres panas. Bertujuan agar peredaran
darah menjadi lancar sehinga suplai nutrisi dan
oksigen daerah yang bersangkutan tetap terjaga
sehingga proses penyembuhan berjalan degnan
baik.
US : bertujuan untuk menghancurkan jaringan
fibrous yang terbentuk akibat cedera/ruptur yang
terjadi.
Massage : teknik yang digunakan adalah friction
pada tendo otot-otot ekstensor carpi radialis.
Bertujuan untuk menghancurkan jaringan fibrous
yang timbul serta memperlancar peredaran darah.
Latihan gerak tanpa tahanan : dapat membantu

Aktivitas yg diberikan agar


pasien dpt mlkkn AKS
Makan
Pasien duduk di kursi kedua siku rapat diatas meja makan
Keluarga membantu pasien untuk memegang sendok,menyendok makanan lalu membawa ke
mulut pasien. Kemudian nantinya pasien mencoba untuk melakukannya sendiri sampai ia
mampu secara mandiri melakukannya
Berpakaian
Selama pasien masih merasakan nyeri maka disarankan untuk menggunakan baju kemeja
agar lebih mudah dalam proses pemakaiannya. Jika menggunakan t-shirt akan menimbulkan
gerakan yang lebih kompleks. Tangan yang sehat membantu tangan yang sakit untuk
memakai dan melepas baju
Memakai Celana
Tangan sehat membantu tangan yg sakit memasukkan celana ke tungkai
Untuk aktivitas seperti menyisir rambut,mandi sebaiknya menggunakan tangan kiri yang sehat
dulu.Sebaiknya pasien tidak melakukan aktivitas seperti mencuci,memeras pakaian dan
aktivitas berat yang menggunakan tangan kanan
Ketika nyeri sudah berkurang pasien bias melakukan latihan tenis yang ringan dan juga pasien
dapat melakukan aktivitas sesuai dengan hobby nya dia yaitu berenang. Dengan berenang
dapat membangun kettahanan dan kekuatan pada elbow yg sakit tsb. Pasien juga tidak merasa
bosan dengan latihan tersebut karena sesuai dengan hobbynya

Home Exercise
Latihan 1 . Peregangan otot-otot yang memperpanjang
pergelangan tangan ( otot ekstensor ) : Meluruskan lengan secara
penuh dan mendorong telapak tangan ke bawah sehingga Anda
merasakan peregangan di bagian atas lengan bawah

Latihan 2 . Peregangan otot-otot yang melenturkan pergelangan


tangan ( otot fleksor ) : meluruskan lengan keluar sepenuhnya ( sisi
telapak up ) , dan mendorong telapak tangan ke bawah untuk
meregangkan . Penguatan latihan dilakukan dua kali sehari setelah latihan
peregangan . Untuk melakukan latihan ini , pasien duduk di kursi dengan
siku didukung di tepi meja atau di lengan kursi pergelangan tangan
menggantung di tepi . Gunakan bobot yang ringan seperti palu atau sup
dapat saat melakukan latihan penguatan . Ulangi latihan 30 sampai 50
kali , dua kali sehari , tetapi jangan memaksakan diri di luar titik nyeri .

Latihan 3 . Penguatan otot ekstensor


pergelangan tangan : Tahan berat di tangan
dengan telapak menghadap ke bawah .
Memperpanjang pergelangan tangan ke atas
sehingga ditarik kembali . Tahan posisi ini
selama 2 detik dan kemudian perlahan-lahan
lebih rendah .

Latihan 4 . Penguatan otot fleksor


pergelangan tangan : Tahan berat di tangan
dengan telapak up . Tarik pergelangan tangan
ke atas , tahan selama 2 detik dan menurunkan
perlahan-lahan .

Latihan 5 . Memperkuat otot-otot yang menggerakkan


pergelangan tangan dari sisi ke sisi ( otot deviator ) :
Tahan berat di tangan dengan ibu jari mengarah ke atas .
Pindah pergelangan tangan ke atas dan ke bawah , seperti
memalu paku . Semua gerakan harus terjadi pada pergelangan
tangan .

Latihan 6 . Memperkuat otot-otot yang memelintir


pergelangan tangan ( pronator dan supinator otot ) :
Tahan berat di tangan dengan ibu jari mengarah ke atas . Putar
pergelangan tangan ke dalam sejauh mungkin dan kemudian
keluar sejauh mungkin . Tahan selama 2 detik dan ulangi
sebanyak nyeri memungkinkan , hingga 50 pengulangan .

Sprain ankle

DEFINISI

Sprain adalah cedera struktur ligamen di sekitar sendi, akibat gerakan


menjepit atau memutar.
Brunner & Suddarth. 2001. KMB. Edisi 8. Vol3.hal 2355. Jakarta:EGC)
Sprain adalah trauma pada ligamentum, struktur fibrosa yang
memberikan stabilitas sendi, akibat tenaga yang diberikan ke sendi dalam
bidang abnormal atau tenaga berlebihan dalam bidang gerakan sendi.
(Sabiston.1994.Buku Ajar Bedah. Bagian 2. Hal 370. Jakarta:EGC)
Sprain merupakan keadaan ruptura total atau parsial pada ligamen
penyangga yang mengelilingi sebuah sendi.
(Kowalak, Jenifer P. 2011. Patofisiologi. Hal 438. Jakarta:EGC)

Kesimpulan
Dari ketiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
sprain adalah cedera struktural ligamen akibat tenaga
yang di berikan ke sendi abnormal, yang juga merupakan
keadaan ruptura total atau parsial pada ligamen.

Anatomi ankle

KLASIFIKASI
SPRAIN ANKLE
Sprain derajat I (kerusakan minimal)
Nyeri tanpa pembengkakan, tidak ada memar, kisaran pembengkakan aktif dan
pasif, menimbulkan nyeri, prognosis baik tanpa adanya kemungkinan
instabilitas atau gangguan fungsi.
Sprain derajat II (kerusakan sedang)
Pembengkakan sedang dan memar, sangat nyeri, dengan nyeri tekan yang
lebih menyebar dibandingkan derajat I. Kisaran pergerakan sangat nyeri dan
tertahan, sendi mungkin tidak stabil, dan mungkin menimbulkan gangguan
fungsi.
Sprain derajat III (kerusakan kompit pada ligamen)
Pembengkakan hebat dan memar, instabilitas stuktural dengan peningkatan
kirasan gerak yang abnormal (akibat putusnya ligamen), nyeri pada kisaran
pergerakan pasif mungkin kurang dibandingkan derajat yang lebihh rendah
(serabut saraf sudah benar-benar rusak). Hilangnya fungsi yang signifikan yang
mungkin membutuhkan pembedahan untuk mengembalikan fungsinya.

PATOFISIOLOGI

Adanya tekanan eksternal yang berlebih menyebabkan suatu


masalah yang disebut dengan sprain yang terutama terjadi
pada ligamen. Ligamen akan mengalami kerusakan serabut dari
rusaknya serabut yang ringan maupun total ligamen akan
mengalami robek dan ligamen yang robek akan kehilangan
kemampuan stabilitasnya. Hal tersebut akan membuat
pembuluh darah akan terputus dan terjadilah edema ; sendi
mengalami nyeri dan gerakan sendi terasa sangat nyeri.
Derajat disabilitas dan nyeri terus meningkat selama 2 sampai
3 jam setelah cedera akibat membengkaan dan pendarahan
yang terjadi maka menimbulkan masalah yang disebut dengan
sprain.

Tekanan eksternal
berlebih

Kerusakan serabut ringan

Kerusakan serabut total

Ligamen robek
Kehilangan stabilitas
Terputusnya pembuluh darah
arteriol

inflamasi

edema

Keterbatasan gerak pada


persendian

Nyeri akut

GEJALA KLINIS

Tanda dan gejala mungkin timbul karena sprain


meliputi :
a.Nyeri lokal (khususnya pada saat menggerakkan
sendi)
b. Pembengkakan dan rasa hangat akibat inflamasi
c.Gangguan mobilitas akibat rasa nyeri (yang baru
terjadi beberapa jam setelah cedera)
d.Perubahan warna kulit akibat ekstravasasi darah
ke dalam jaringan sekitarnya.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin terjadi pada kondisi ini meliputi:
Dislokasi berulang akibat ligamen yang ruptur tersebut
tidak sembuh dengan sempurna sehingga diperlukan
pembedahan untuk memperbaikinya (kadang-kadang).
Gangguan fungsi ligamen (jika terjadi tarikan otot yang
kuat sebelum sembuh dan tarikan tersebut
menyebabkan regangan pada ligamen yang ruptur,
maka ligamen ini dapat sembuh dengan bentuk
memanjang, yang disertai pembentukan jaringan parut
secara berlebihan).

KASUS
Seorang altit sepak bola berusuia 20 tahun
datang ke praktek fisioterapi dengan
keluhan nyeri dan bengkak pada
pergelangan kaki bagian lateral.

PEMERIKSAAN

Inspeksi :
- tampak edema pada sisi lateral dari pergelangan kaki
Tes gerak aktif:
- nyeri saat inversi, ROM terbatas
- lemah saat gerakan eversi
- nyeri saat dorso dan plantar fleksi
Tes gerak pasif:
- nyeri saat inversi, ROM terbatas
- gerakan lain negatif
Tes gerak isometrik :
- gerak isometrik nyeri apabila tendon m. Peroneus longus dan brevis cidera
Tes khusus
- palpasi pada lig. Calcaneofibulare dan lig. Talofibulare terasa nyeri
- Pada cidera tendon palpasi diatas tendon mm.peroneus longus dan atau peroneus
brevis
terasa nyeri
-Joint play movement.pada sendi calcaneo-fibulare dan talofibulare nyeri dengan springy end
feel.

INTERVENSI

-Pada fase acute diterapkan RICE


-Bandaging dengan elestic bandage dan /atau
tapping diberikan hingga satu minggu atau lebih
-US: diberikan pada fase kronik:
(Pada ligamenta atau tendon yang terjadi
cidera)

(Dosis 1.5 2 watt/cm2waktu 2-3 menit)


-Transverse friction
-Active stabilization and balance exercise.
-Walking exc

AFR PADA SPRAIN ANKLE


Secara sederhana yang dimaksud dengan kapasitas
fisik adalah kondisi yang tersedia dan dimiliki oleh
individu yang potensial untuk melakukan
kemampuan fungsional yang dipengaruhi oleh
sistem dan sub sistemnya dimana komponennya
berurutan secara berjenjang dimulai dari sel,
jaringan, organ sampai sistem tubuh. Berdasarkan
fungsi dan sudut pandang Fisioterapi maka
kapasitas fisik dapat dikelompokkan menjadi :
Aspek motorik
Aspek sensorik
Aspek kognitif
Aspek psikologik

Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan


fungsional adalah suatu kemampuan seseorang
untuk menggunakan kapasitas fisik yang dimiliki
guna memenuhi kewajiban hidupnya.
Kewajiban melaksanakan aktifitas kehidupan sehari-hari

Kewajiban melaksanakan aktivitas produktif

Kewajiban melaksanakan aktivitas rekreasi

Dimana pada kasus ini kita dapat memberikan


pasein melakukan aktivitas yang sesuai dengan
fungsional pada minggu ke 2-3 dimana bengkak
yang terjadi sudah minimal dan kondisi dari
persendian sudah mulai stabil.
AFR yang dapat diberikan pada pasien ini yaitu
kembali lagi pada hobi semula dimana pasien
mempunyai hobi bermain sepak bola dan pada
teori dasar dari AFR kita memandang manusia
secara holistik yaitu secara biopsikososial.

Adapun perubahan dari aspek tersebut yaitu:


Biologi: terjadinya peregangan otot-otot yang
kaku dan penguatan kembali pada persendian.
Psikologi:pasien dalam menjalani proses
penyembuhan tidak mengalami kejenuhan karena
pasien secara tidak langsung menjalani hobi dan
melakuka proses penyembuhan.
Sosial: pasien dapat berinteraksi langsung dengan
teman atau kerabat meski dalam keadaan yang
terbatas (bengalami keterbatasan)

STRAIN

Strain adalah trauma pada suatu otot atau


tendon, biasanya terjadi ketika otot atau
tendon teregang melebihi batas normalnya.
Sprain dapat mencakup robekan atau ruptur
jaringan. Inflamasi terjadi pada otot atau
tendon
yang
menyebabkan
nyeri
dan
pembengkakan jaringan.

Patofisiologi
Strain dapat mencakup robekan atau ruptur jaringan.
Inflamasi terjadi pada cedera otot atau tendon yang
menyebabkan nyeri dan pembengkakan jaringan
(Corwin, 2008).Strain adalah kerusakan pada
jaringan otot karena trauma langsung (impact) atau
tidaklangsung (overloading). Cedera ini terjadi
akibat otot tertarik pada arah yang salah, kontraksi
otot yang berlebihan atau ketika terjadi kontraksi
otot belum siap, terjadi pada bagian groin muscles
(otot pada kunci paha), hamstring (otot paha bagian
bawah), dan otot quadriceps. Fleksibilitas otot yang
baik bisa menghindarkan daerah sekitar cedera
memar dan membengkak (Smeltzher, 2000).

KASUS

Seorang mahasiswa berusia 21 tahun yang


hobinya bermain sepak bola dan bermain band
mengalami nyeri tajam dibagian belakang kaki
kanan saat berlari ketika bermain sepak bola,
nyeri pada saat meregangkan otot (meluruskan
kaki), dan tampak kemerahan dan memar di
bagian belakang kaki kanan.
Setelah dilakukan peerisaan di dapatkan hasil
pasien mengalami strain hamstring grade 2

Gabaran Umum Pasien

warna kulit pada hamstring kanan terlihat sedikit


memerah, paha kanan terlihat bengkak. Pada
saat berjalan pasien terlihat pincang (antalgic
gait). Saat bagian hamstring yang mengalami
sprain dipalpasi, dirasakan ada hematoma dan
odeme pada hamstring. Otot di sebelah medial
terasa nyeri (otot semimembranosus). Teraba
adanya defect separuh atau robek/putus
sebagian pada otot (Strain Hamstring Grade 2)

INTERVENSI
Fase akut : RICE
Fase kronis :
Ultrasound ( US )
Heating
Massage
Taping
Terapi Latihan :
Latihan Flexibility
Latihan Strength

AFR pada Strain Hamstring


1. Berjalan
jika terlalu nyeri ketika berjalan dapat
menggunakan alat bantu berjalan berupa
tongkat, sehingga tidak terjadi immobilisasi
karena pasien merasa nyeri

2. Latihan fleksibilitas
Melakukan terapi latihan sambil mendengarkan
music sehingga pasien merasa rileks. Aspek yang
didapat dari latihan ini adalah :
Kapasitas fisik yang dapat diraih : pasien
dapat menigkatkan meningkatkan kekuatan
otot dan menjaga lingkup gerak sendi melalui
terapi latihan
Aspek emosi yang dapat diraih : pasien tidak
merasa bosan dengan terapi yang diberikan
Aspek intelegensi yang dapat diraih : pasien
dapat mengikuti instruksi dari terapis