Anda di halaman 1dari 25

KAJIAN ARSITEKTUR PADA BANGUNAN

RUMAHDJIAW KIE SIONG (RUMAH PENGASINGAN


SOEKARNO DAN HATTA)
BERDASARKAN IKLIM TROPIS
MATA KULIAH:

DOSEN PENGAMPU :

PERENCANAAN
KEPARIWISATAAN

TIGOR DAVID MANALU ST.,M M


DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 3

1.

M RIDWAN N H

7.

EDDY SHAKA SAPUTRA

2.

CHINTAMI IL SUHERLI

8.

MARWOTO

3.

DIAN MAULANA

9.

HERMAN

4.

AHMAD NASIR

10.

5.

AHMAD
FATHURROCHMAN

WAHYU STIADI
LAKSONO

11.

DELA LIONITA

BAB I: PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
A. Iklim Tropis
Tropis berasal dari bahasa yunani, yaitu tropikos garis balik yang meliputi sekitar 40% dari luas
seluruh permukaan bumi yaitu garis lintang 23- 27, Utara - Selatan. (Lippsmeier, 1994). Bangunan
di daerah tropis berorientasi menghadap utara selatan agar dapat menghindari sinar matahari
langsung. Pada awal abad ke 17 perancangan ala Eropa yang memiliki empat musim di terapkan
langsung kekawasan tropis.
B. Sejarah Rengasdengklok
Peristiwa Rengasdengklokadalah peristiwa penculikan yang dilakukan oleh sejumlah pemuda antara
lainSoekarni,Wikana,AiditdanChaerul
Salehdari
perkumpulan
"Menteng
31"
terhadapSoekarnodanHatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00. WIB,
Soekarno dan Hatta dibawa keRengasdengklok,Karawang, untuk kemudian didesak agar
mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, sampai dengan terjadinya kesepakatan
antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr.Achmad Subardjodengan golongan
muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan terutama setelah Jepang mengalami kekalahan
dalam Perang Pasifik.

Gambar 1. Peta Karawang

Gambar 2. Peta Lokasi


Rumah

Rengasdengklok adalah sebuah daerah yang terletak di kabupaten Karawang Jawa Barat, nama
daerah yang tidak asing lagi sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Yaitu nama daerah yang harus
dihafal terkait dengan asal mula peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia. Menurut cerita,
sebelum terjadi proklamasi kemerdekaan didahului dengan peristiwa penculikan terhadap Soekarno
dan Hatta. Kemudian di sana Sukarno-Hatta singgah di sebuah rumah milik Djiauw Kie Siong,

salah seorang dari pasukan Pembela Tanah Air (Peta).

Rumah tinggal keluarga Djiaw Kie Siong berada di


Kampung Bojong Tugu, Kelurahan Rengasdengklok,
Kecamatan Rengasdengklok. Rumah tinggal ini
menyimpan sejarah peristiwa menjelang proklamasi
kemerdekaan Republik Indonesia. Lingkungan di
mana rumah ini berada merupakan pemukiman
yang tidak begitu padat. Di sebelah selatan rumah,
seberang jalan kampung berupa kebun dan
belakang rumah merupakan area persawahan.
Sedangkan di sebelah barat dan timur merupakan
rumah penduduk.

Gambar 3. Tampak Depan


Rumah

Berdasarkan uraian di atas Bangunan RumahDjiaw


Kie Siong (Rumah pengasingan Soekarno dan Hatta)
menarik untuk di angkat dalam Penelitian ini.
Bagaimana bentuk Arsitektur rumah berdasarkan
dengan iklim tropis, seperti: Bentuk bangunan,
Orientasi bangunan, Denah, Dinding, bukaan (pintu jendela) dan Bentuk atap.

MASALAH
Bagaimana bentuk Arsitektur rumah Djiaw Kie Siong berdasarkan dengan iklim
tropis.

TUJUAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk Arsitektur rumah tropis
berdasarkan iklim tropis.

MANFAAT
Memperkaya wawasan tentang bangunan arsitektur rumah Djiau Kie Song.
Menemukan bentuk Arsitektur rumah tropis berdasarkan iklim tropis.
Menjadi landasan/acuan bagi para arsitek dalam merancang bangunan
modern yang sesuai dengan iklim tropis di Indonesia .

2.3. Iklim

BAB II: TINJAUAN


PUSTAKA

Pengertian iklim

Iklim merupakan kondisi cuaca rata-rata secara tahunan yang mencakup wilayah
yang relatif luas. Iklim suatu tempat diketahui dari data rata-rata cuaca tahunan
seperti kelembaban udara, suhu, pola angin dan curah hujan minimal 10-30 tahun.
Selain cuaca, indikasi lain yang dapat dijadikan sebagai penentu tipe iklim di suatu
wilayah adalah vegetasi alam atau tumbuh-tumbuhan yang mendominasi suatu
daerah, misalnya hutan hujan tropis, hutan gugur, atau hutan berdaun jarum. Dan
secara garis besar iklim di suatu tempat dapat terbentuk karena adanya dua hal
yang mempengaruhi, yaitu:

Rotasi dan Revolusi Bumi

Perbedaan lintang geografis dan perbedaan lingkungan fisik

Pengertian

iklim tropis
Tropis dapat diartikan sebagai suatu daerah yang terletak di antara garisisothermdi bumi
bagian utara dan selatan, atau daerah yang terdapat di 23,5 lintang utara dan 23,5 lintang
selatan. Pada dasarnya wilayah yang termasuk iklim tropis dapat dibedakan menjadi daerah
tropis kering yang meliputi stepa, savanna kering, dan gurun pasir dan daerah tropis lembab
yang meliputi hutan hujan tropis, daerah-daerah dengan musim basah dan savanna lembab.
Indonesia sendiri termasuk dalam iklim tropis basah atau daerah hangat lembab yang
ditandai dengan:
Kelembaban udara yang relatif tinggi (pada umumnya di atas 90%)
Curah hujan yang tinggi Temperatur tahunan di atas 18C (dan dapat mencapai 38C pada
musim kemarau).
Perbedaan antar musim tidak terlalu terlihat, kecuali periode sedikit hujan dan banyak hujan
yang disertai angin kencang
Selain iklim tropis basah, ada pula iklim tropis kering dengan ciri-ciri sebagai berikut:
Kelembaban udara yang relatif rendah (umumnya dibawah 50%)
Curah hujan yang juga rendah
Radiasi matahari ke wilayah yang memiliki iklim tropis kering langsung tinggi dan maksimal
karena jarang terdapat awan
Banyak terdapatgurunpasir karena sangat jarang terjadi hujan
Pada sore hari sering terdengar ledakan batu-batu akibat perubahan suhu ekstrem

2.4. Arsitektur Tropis

Perencanaan pada iklim tropis lembab

Perencanaan dan perancangan bangunan di daerah tropis memerlukan banyak


pertimbangan.Iklim inidapatditemukan pada wilayah Afrika tengah, Asia Tenggara
dan Amerika tengah. Iklim tropis itu sendiri dapat memberikan pengaruh terhadap
bentuk, perletakkan dan orientasi bangunan. Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan sejak sebelum membangun atau dalam proses mendesain dan memilih
tapak.Iklim mempunyai dampak yang kuat terhadap pembentukan sebuah
rancangan bangunan. Iklim sebuah wilayah akan mempengaruhi respon dalam
membentuk kenyamanan beraktifitas pengguna. Respon rancangan dari masingmasing iklim membentuk tipologi bentuk yang secara umum dikenal dengan
arsitektur lokal.

Pengaruh orientasi bangunan terhadap kenyamanan

Usaha
untuk
mendapatkan
kenyamanan
thermal
terutama
adalah
mengurangiperolehan panas, memberikan aliran udara yang cukup dan membawa
panas keluar bangunan serta mencegah radiasi panas, baik radiasi langsung
matahari maupun daripermukaan dalam yang panas.Perolehan panas dapat
dikurangi dengan menggunakan bahan atau material yangmempunyai tahan panas
yang besar, sehingga laju aliran panas yang menembus bahan tersebut akan

Permukaan yang paling besar menerima panas adalah atap. Sedangkan bahan
atap umumnya mempunyai tahanan panas dankapasitas panas yang lebihkecil
dari dinding. Untuk mempercepat kapasitas panas dari bagian atas agak sulit
karenaakan memperberat atap. Tahan panas dari bagian atas bangunan dapat
diperbesar denganbeberapa cara, misalnya rongga langit-langit, penggunaan
pemantul panas reflektif juga akan memperbesar tahan panas.

View dan orientasi bangunan


Menghadap
padaarah
dimanasinar
mataharidiusahakan
dapatmemasukiruangan pada pagi hingga sore hari.
Ruangan dengan fungsi public atau pusat aktifitas berada pada kawasan yang
mendapat cahaya matahari langsung, dengan suatu system pelindung yang
menambah kenyamanan manusia.

Bahan bangunan di daerah tropis


Sun Protection
Sun protection adalah suatu bagian yang memprotec atau menjaga bagian dalam
bangunan atau interior, dengan suatu system atau bahan, yang dapat menambah
kenyamanan.
Sun Shading
Sun Shading adalah suatu bagian penyaring sinar matahari pada bukaan atau

Bentuk Atap
Bentuk atap bangunan tropis yang dominan adalah atap pelana, atap perisai dan
pergola yang menaungi ruang dalam dan menghindaridari teriknya sinar matahari.
Permasalahan utama iklim tropis adalah curah hujan yang besar sehingga beban
air hujan yang jatuh di atap harus segera di alirkan. Atap pelana, atap perisai
karena kemiringannya dapat mengalirkan air hujan dengan lebih mudah selain itu
overstek pada atapnya dapat melindungi bangunan (terutama kusen) dari tampias
air hujan dan dapat pula menjadi pereduksi sinar matahari. Atap yang dibutuhkan
untuk hunian tropis idealnya memiliki kemiringan minimal 30 derajat, seng minimal
15 derajat, dan sirap minimal 22,5 derajat.
Selain itu, langit-langit atap desain rumah tropis di buat cukup tinggi, hal ini di
maksudkan untuk membuat sirkulasi udara di dalam rumah lancar, mengatur suhu
di dalam ruangan dan juga untuk membuat kesan luas pada ruangan. Tinggi langitlangit atap minimal adalah 2,7 m.
Perancangan atap tersebut memperhatikan indikator-indikator meliputi potensi
angin, penyinaran matahari, potensi hujan, dan yang tidak kalah penting adalah
bahan atap yang baik.

Dinding
Dinding digunakan sebagai pemikul beban atap, pelindung, dan pembatas ruang.
Prinsip utama hunian tropis adalah keberadaan ruang terbuka sehingga dinding

Lubang dinding (Pintu & Jendela)


Dinding rumah tropis mempunyai ciri khusus yakni dindingnya terdapat banyak
ventilasi udara dan juga sebagai jalan masuk cahaya matahari yang berfungsi
sebagai pencahayaan pada siang hari. Jadi dinding rumah tropis biasanya memiliki
jendela yang berukuran besar yang berfungsi untuk memperlancar sirkulasi udara
dan memaksimalkan pencahayaan matahari.

Lantai
Untuk pelapis lantai pada rumah tropis mengunakan lantai batu, ubin keramik dan
ubin teraso.

Fasade bangunan
Rumah tropis memiliki teras yang luas. Fungsi teras yang cukup lebar pada bagian
depan dan belakang rumah memberikan manfaat sebagai area transisi. Area
tersebut menjadi tempat mendinginkan udara panas sebelum masuk ke dalam
rumah. Selasar lebar pun dapat menghalau sinar matahari yang masuk sehingga
temperatur ruangan lebih rendah.

2.5. Bangunan RumahDjiaw Kie


Siong

Lokasi RumahDjiaw Kie Siong

Rumah tinggal keluarga Djiaw Kie


Siong berada di Kampung Bojong
Tugu, Kelurahan Rengasdengklok,
Kecamatan Rengasdengklok. Rumah
tinggal yang berada pada kawasan
pedataran rendah pantai utara ini
berada pada posisi 06 09' 377"
Lintang Selatan dan 107 17' 415"
Bujur Timur. Lokasi sekarang ini
merupakan lokasi baru. Dahulu
lokasinya berada di sebelah barat
daya lokasi sekarang berjarak sekitar
500 m, pada tepi Citarum. Kondisi
erosi oleh arus sungai yang dialami
rumah ini mengakibatkan diputuskan
untuk memindahkan rumah ke lokasi
yang aman pada tahun 1957.

Gambar 4. Lokasi Rumah

Sejarah Rumah Djiaw Kie Siong


Para pemuda memilih rumah Djiauw Kie Siong, karena dekat dengan markas Peta
yang
sekarang
dijadikan
Monumen
Kebulatan
Tekad.
Dan
mengapa
Rengasdengklok? Karena lokasi yang berjarak sekitar 81 kilometer dari Jakarta itu
jauh dari jangkauan pengawasan tentara Jepang. Rengasdengklok berjarak sekitar
15 kilometer dari jalan utama, yang termasuk bagian dari jalur pantura. Bahkan
saat ini pun perjalanan ke rumah Djiauw Kie Siong pun masih terasa jauh dan agak
terpencil.

Gambar 5. Markas Peta Rengasdengklok yang


dijadikan Monumen Kebulatan Tekad

Bentuk Rumah Djiaw Kie Siong


Lahan pekarang lokasi baru ini luasnya 150 m2. Batas halaman sisi selatan berupa
pagar bambu, sedangkan batas lainnya tidak begitu tegas. Rumah dibangun
menghadap ke arah selatan. Ukuran rumah 9 x 6 memanjang ke samping dengan
atap berbentuk limasan berbahan

Gambar 6. Denah Rumah

Dinding bercat putih dan tiang bercat hijau muda terbuat dari bahan kayu, lantai
berupa ubin terakota. Bagian depan rumah merupakan serambi terbuka. Pintu
masuk berada di tengah di apit dua jendela. Pintu dan jendela juga bercat warna
hijau muda.

Gambar 7. Tampak Depan Rumah

Gambar 8. Interior Ruang Tengah


Ruang dalam terbagi tiga bagian yaitu bagian tengah, kamar samping kanan
(barat), dan kamar samping kiri (timur). Ruang dalam bagian tengah merupakan
semacam ruang pertemuan keluarga atau ruang tamu. Pada saat sekarang di
bagian utara ruangan ini terdapat altar persembahyangan. Pada dinding di atas

Dari ruang tengah ke kamar samping kanan melalui pintu yang berada di tengah.
Di dalam kamar ini tersimpan tempat tidur (ranjang) yang dahulu merupakan
tempat peristirahatan Bung Hatta. Ke kamar samping kiri juga melalui pintu yang
berada di tengah. Kamar samping kiri ini merupakan tempat peristirahatan Bung
Karno, Ibu Fatmawati, dan Guntur Soekarno Putra. Tempat tidur yang dahulu
dipakai beliau juga masih tersimpan.

Gambar 9. Interior Kamar Tidur

BAB III: METODE PENELITIAN


3.1 Metode penelitian yang digunakan ( Kualitaif ) berdasarkan studi literature dan
dilaksanakan secara ( Deskriptif ).
3. 2 Langkah Langkah Penelitian :
a.

Observasi bangunan yang diteliti

b. Pengambilan

data (Primer) : (Observasi / Pengamatan bangunan, Foto pada


bangunan dan Wawancara).

c.

Data (Skunder) berupa : (Tulisan, Gambar dan Foto)

3. 3 Cara Penelitaian
d. Tahap

pengelolaan data secara kualitatif, menggunakan bantuan gambar serta


uraian dengan dasar teori-teori yang ada.

e.

Tahap Penyusunan

BAB IV: HASIL & PEMBAHASAN


4.1 Orientasi Bangunan
Bangunan rumah Djiau Kie Siong, berdasarkan
survey, bangunan menghadap arah Selatan
Utara, sedangkan arsitektur tropis yang paling
optimum bangunan menghadap Timur Barat.
Kesimpulannya bangunan tersebut tidak
sesuai dengan iklim tropis.
4. 2 Denah
Bangunan rumah Djiau Kie Siong, berdasarkan
survey, bangunan denah terdiri dari beberapa
ruang berbentuk persegi panjang
(kesamping). Sedangkan bangunan tropis
berbentuk persegi panjang. Kesimpulannya
bangunan tersebut masih sesuai dengan iklim
tropis.

4. 3 Dinding
Bangunan rumah Djiau Kie Siong, berdasarkan survey, Ketebalan dinding 15cm,
dengan penggunaan bahan material alami dari kayu dan bilik bambu. sedangkan
pada bangunan tropis ketebalan dinding 15cm dengan penggunaan bahan
material alami. Kesimpulannya Bangunan tersebut masih sesuai dengan iklim
tropis.

4. 4 Pintu & Jendela


Bangunan rumah Djiau Kie Siong, berdasarkan survey terdapat pintu dan jendela
kayu + relling kayu dan ukurannya besar-besar. Kesimpulannya bangunan
tersebut Sesuai dengan iklim tropis.

4. 5 Lantai
Bangunan rumah Djiau Kie Siong, berdasarkan survey, terdapat lantai ubin tegel.
Sedangkan pada bangunan tropis mengunakan lantai batu, tegel dan ubin teraso.
Kesimupulannya pada bangunan tersebut masih sesuai dengan iklim tropis.

4. 6 Atap
Bangunan rumah Djiau Kie Siong, berdasarkan survey, terdapat atap genteng
dengan kemiringan 30 berbentuk atap limasan. Dan pada bangunan tropis
menggunakan atap pelana dan limasan dengan kemiringan 30. Kesimpulannya
pada bangunan tersebut masih sesuai dengan iklim tropis.
4. 7 Bentuk Bangunan
Bangunan rumah Djiau Kie Siong, berdasarkan survey, secara arsitektur bergaya
tradisional. Sedangkan bentuk bangunan tropis harus memilki karekter tropis
seperti : Memiliki view dan orientasi bangunan yang sesuai dengan standard tropis.
Kesimpulannya pada bangunan tersebut masih sesuai dengan iklim tropis.

Rangkuman Hasil dan


Pembahasan Bangunan rumah
Djiau Kie Siong
No

Elemen Arsitektur

Arsitektur
Tropis

Orientasi Bangunan

Denah

Dinding

Pintu & Jendela

Lantai

Atap

Bentuk Bangunan

Keterangan :
( X )
Tidak sesuai
iklim tropis
()
Sesuai
Arsitektur tropis

BAB V: KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan & data literature pada bangunan rumah Djiau Kie Siong,
secara umum masih sesuai dengan iklim tropis.
5.2 Saran

Sebagai rumah tinggal, rumah ini sarat dengan nilai-nilai luhur perjuangan
pemuda ketika itu untuk mewujudkan kemerdekaan RI. Nilai-nilai luhur di balik
peristiwa bersejarah itulah yang hingga sekarang sering dikaji melalui
peninggalan ini. Oleh karena itu, generasi muda sekarang yang mengunjungi
rumah ini harus menjaga kelestarian dan keaslian bangunannya.
Pemerintah setempat harus jeli melihat potensi wisata dari nilai sejarah
bangunan tersebut, dengancara pengelolaan yang baik dan menyediakan sarana
pendukung yang layak.
Diarea sekitar rumah harus lebih dilakukan penataan untuk kenyamanan
pengunjung, seperti tempat parkir, taman, km/wc pengunjung, mushola, papan
informasi dan area komersial seperti warung.

TERIMAKASIH