Anda di halaman 1dari 27

ABSES SEPTUM NASI

hidung luar
puncak hidung (apeks)
batang hidung (dorsum
nasi)
hidung dalam

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan


tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat
dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk
melebarkan atau menyempitkan lubang hidung.
Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang
membentang dari os internum disebelah anterior
hingga koana di posterior, yang memisahkan
rongga hidung dari nasofaring.

Bagian anterosuperior septum nasi dan dinding


lateral memperoleh perdarahan dari arteri
ethmoidalis anterior dan posterior, sedangkan
bagian posteroinferior septum nasi memperoleh
dari arteri sfenopalatina dan arteri maksilaris
interna
kaudal septum nasi terdapat pleksus Kiesselbach
yang terletak tepat di belakang vestibulum.
Pleksus ini merupakan anastomosis dari arteri
sfenopalatina, arteri etmoidalis anterior, arteri
palatina mayor

Bagian anterosuperior hidung bagian dalam


dipersarafi oleh n.etmoidalis anterior dan
posterior, sedangkan cabang dari n. maksilaris
dan ganglion pterigopalatina mempersarafi
bagian posterior dan sensasi pada bagian
anteroinferior septum nasi dan dinding lateral

DEFINI
Abses septum nasi adalah kumpulan pus yang
terdapat antara tulang rawan atau tulang pada
septum nasi dengan mukoperikondrium atau muko
periosteum

ETIOLOGI
trauma pada hidung (75%)
komplikasi dari operasi hidung
penyebaran dari sinusitis etmoid dan sinusitis
sfenoid
penyebaran dari infeksi gigi

Staphylococcus aureus
infeksi
Pneumococcus
pneumoniae,
Streptococcus

hemolyticus,
Haemophilus
influenzae, dan organisme anaerob

EPIDEMIOLOGI
laki-laki
74% mengenai umur di bawah 31 tahun dan 42%
mengenai umur antara 3-14 tahun
Lokasi yang paling sering ditemukan adalah pada
bagian anterior tulang rawan septum

GEJALA KLINIS
hidung tersumbat progresif disertai dengan rasa
nyeri hebat, terutama terasa di puncak hidung.
demam dan sakit kepala
Obstruksi umumnya satu sisi setelah beberapa
hari karena nekrose kartigalo pus mengalir ke sisi
lain menyebabkan obstruksi nasi bilateral dan
total

PATOGENESIS
Trauma septum pembuluh darah di sekitar
tulang rawan pecah Darah terkumpul di ruang
antar tulang rawan dan mukoperikondrium
penekanan tulang rawan destruksi tulang rawan
dan hematoma septum media pertumbuhan
bakteri abses

PEMERIKSAAN FISIK

Inspeksi
Palpasi
Rhinoskopi anterior
Pungsi dan aspirasi

PEMERIKSAAN PENUNJANG
CT-Scan
kumpulan cairan yang berdinding tipis dengan
perubahan peradangan di daerah sekitarnya
foto SPN waters
perselubungan pada kavum nasi bilateral

PENAGAK DIAGNOSIS
riwayat trauma, riwayat operasi atau infeksi
intranasal
gejala dan tanda klinis berupa obstruksi nasi
bilateral yang parah dengan rasa nyeri di hidung
Diagnosis pasti adalah dijumpai adanya nanah
pada aspirasi abses

PENATALAKSANAAN
drainase yang adekuat serta terapi antibiotik
yang tepat
Drain dipasangn 2-3 hari untuk jalan keluar pus
serta serpihan kartilago yang nekrosis
Antibiotik sistemik diberikan segera setelah
diagnosa ditegakkan dan dapat dilanjutkan
sampai 10 hari
Terapi suportif diberikan Dexamethasone 3x 5 mg
(IV) dan Asam mefenamat 3x500 mg (oral)

KOMPLIKASI
Nekrosis Kartilago
deformitas hidung (lorgnet nose) yang disebabkan oleh
karena nekrose kartilago sehingga terjadi kerusakan
sebagian besar jaringan penyokong bagian bawah hidung.
Perforasi septum nasi
terjadinya kavitas yang kemudian diisi jaringan ikat
sehingga menyebabkan terjadinya retraksi columella
Infeksi Intrakranial
melalui saluran limfatik memasuki sirkulasi sistemik dan
kemudian masuk ke meningen ataupun melalui seluruh
perineural pada lamina cribosa dan area olfaktori
sehingga menyebabkan komplikasi meningitis

PENCEGAHAN
mengenali dan menangani hematoma septum
pada tahap awal
pada pasien yang telah menjalani operasi septal
dan tidak dapat bernapas melalui hidung setelah
pelepasan perban di bagian dalam hidung

KESIMPULAN
Abses septum nasi didefinisikan terkumpulnya nanah diantara
kartilago atau septum tulang. Kebanyakan abses septum
disebabkan oleh trauma yang terkadang tidak disadari oleh
pasien.
Abses septum seringkali didahului oleh hematoma septum
yang kemudian terinfeksi kuman dan menjadi abses. Gejala
yang paling sering muncul adalah obstruksi nasal bilateral.
Gejala yang lain adalah nyeri nasal, malaise, demam, dan nyeri
kepala.
Abses septum harus segera diobati sebagai kasus darurat
karena komplikasinya yang cukup berat, yaitu dalam waktu
singkat dapat menyebabkan nekrosis tulang rawan septum.
Terapinya dilakukan insisi dan drainase nanah serta diberikan
antibiotik dosis tinggi. Untuk mencegah deformitas hidung, bila
sudah terdapat destruksi tulang perlu dilakukan rekonstruksi
septum

DAFTAR PUSTAKA
Adams GL. Boies LR, Jr. Highler PA. Boies Buku Ajar THT. Edisi 6. Effendi H. Santoso RAK. Editor.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1993. 174-175.

Baker, Shan R. 2002. Principles of Nasal Reconstruction. Mosby inc: Missouri.

Becker W. Clinical Aspects of Diseases of The Nose. In: Ear, Nose and Throat Diseases, A Pocket
Reference. 2nd Ed. New York: Thieme Medical Pub Inc., 1994.
Collman BH. Diseases of the Nasal Septum. In: Hall and Colmans, Diseases of The Nose, Throat
and Ear, and Head and Neck. 14th Ed. Singapore: ELBS with Churchill Livingstone, 1992: 19-20.

Dhingra PL. 2002. Disease of Ear, Nose, and Throat. Churchill Livingstone: New Delhi.

Haryono Yuritno. 2006. Abses Septum dan Sinusitis Maksila. Majalah kedokteran nusantara; vol
39:hal 359-362.
Jalaludin MAB. 1993. Nasal Septal Abcess Retrospective Analysis of 14 Cases From University
Hospital, Kuala Lumpur. Singapore Med J; vol 34: page 435-437.
Soepardi EA. Iskandar HN. Editor. Buku ajar ilmu kesehatan telinga-hidung-tenggorok. Edisi 5.
Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia. 2005. 100-101.

TERIMA KASIH