Anda di halaman 1dari 10

Studi Kasus

Reklamasi di Teluk
Jakarta
Berdasarkan UU
No.32 Tahun 2014
Tentang Kelautan
Oleh:
MARIA MARLEIN WARONG
270110140031
KELAS G

Undang-Undang (UU) No. 32


Tahun 2014 Tentang Kelautan
Pada Pasal Pasal 1, ayat 2 disebutkan bahwa wilayah Laut yang
meliputi dasar Laut dan tanah di bawahnya, kolom air dan
permukaan Laut, termasuk wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil. Ditegaskan pada Pasal 1 ayat 4 bahwa Semua ruang laut
ini merupakan, satu kesatuan geografi, ekonomi, pertahanan,
dan keamanan serta politik yang hakiki.
Dengan demikian, berdasarkan UU 32/2014, ruang laut terdiri
dari dasar Laut dan tanah di bawahnya, kolom air dan
permukaan Laut, termasuk wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia


(KBBI) Definisi Reklamasi
1) Bantahan atau sanggahan (dengan nada keras)
2)

Usaha memperluas tanah (pertanian) dengan memanfaatkan


daerah yang semula tidak berguna (misalnya dengan cara
menguruk daerah rawa-rawa)

3) Pengurukan (tanah).

Reklamasi di Teluk Jakarta


Reklamasi jelas akan semakin menyudutkan kehidupan para nelayan di sekitar Teluk
Jakarta.

Masyarakat pesisir digusur, tujuannya adalah penjualan properti perumahan, apartemen, dan
wisata bahari berbayar

Reklamasi telah mengorbankan nelayan tradisional yang miskin. Selain itu, ekspolitasi pasir laut
untuk bahan urugan dari Banten, sehingga berdampak ganda karena lokasi pengambilannya di
pesisir Banten.

- Adanya kekeliruan dalam pengelolaan tata ruang laut di Indonesia.

Menyebabkan kemiskinan di wilayah pesisir begitu massif.

- Saat ini reklamasi pantai telah menjadi ancaman serius bagi tata ruang laut di Indonesia.
- Reklamasi Teluk Jakarta jelas melanggar Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor
3/VPUU-VIII/2010 tentang pengujian UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang sangat tegas melarang praktek pengaplingan dan
komersialisasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Dampak Ekonomi dari reklamasi dan


penggusuran di Teluk Jakarta
1. Menghilangkan daerah penangkapan ikan yang mengoperasikan alat tangkap payang,
dogol, bubu, gillnet dan budidaya kerang hijau (Perna viridis) yang diperkirakan mencapai
1.527,34 hektar.
2.

Menghilangnya manfaat ekonomi dari kegiatan perikanan tangkap senilai Rp. 314,5 miliar
yang 35 %-nya bersumber dari perikanan gillnet (IPB, 2013). Terutama akan dirasakan
nelayan tradisional yang menggantungkan hidupnya pada aktivitas perikanan tangkap.

3. Penurunan kontribusi lapangan usaha perikanan dalam perokonomian Jakarta Utara.


Terbukti dalam tahun 2006-2012 saja telah turun dari 0,10% menjadi 0,08% pada tahun
2012. Padahal kegiatan ini menyediaakan lapangan kerja bagi 30.000 orang dari berbagai
kelompok masyarakat (Zulham, 2016).
4. Meningkatnya kemiskinan di wilayah pesisir dan pulau kecil. Terbukti 2013 di Jakarta Utara
dan Kabupaten Administrasi kepulauan seribu memiliki jumlah penduduk miskin tertinggi
93.400 (25 % dari total kemiskinan di DKI Jakarta berjumlah 373.613 jiwa) ketimbang
daerah Jakarta yang lain.

Dampak Ekologi
Berubahnya struktur ekosistem pesisir yang akan merubah
kelimpahan makrozoobentus dan juga kawasan lindung hutan
mangrove akan terancam (seluas 242,97 ha yang jadi nursery dan
fishing ground ikan. Imbasnya, metabolisme alam di kawasan
pesisir Teluk Jakarta akan terganggu.
Imbas lanjutannya bakal memperparah kerusakan ekologi dan tingkat
trofik makanan di pesisir.
Adanya ketidakadilan ruang. Dalam penataan ruang di Indonesia
meskipun UU No 26 tahun 2007 telah mengamanatkan agar penataan
ruang mengintegrasikan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dan
juga diatur secara spesifik khusus pesisir lewat UU No 27 tahun 2007.

Dampak Sosial
Memperparah defisit sosial dan merusak metabolisme sosial
(keharmonisan, dan egalitarian di pesisir). Imbasnya, pengangguran
kian parah (7,23 %, Agustus 2015), kemiskinan struktural (pertumbuhan
orang miskin 2009-2013 sebesar 18 %), dan kesenjangan makin
timpang (gini rasio DKI 0,43) sehingga defisit sosial akan bermunculan
akibat dari dampak Reklamasi dan penggusuran teluk Jakarta.

Defisit sosial yang bakal muncul yaitu konflik pemanfaatan ruang,


kriminalitas akibat pengangguran, hilangnya ruang hidup nelayan dari
tempat tinggalnya. Padahal masyarakat pesisir Teluk Jakarta secara
historis, sosiologis dan antropologis telah menempati wilayah itu
semenjak sebelum Indonesia merdeka.

Usulan Pendapat Reklamasi di


Teluk Jakarta
1. Revitalisasi, dan rekonstruksi Kampung Nelayan sebagai perwujudan Coastal and Small
Islands Reform dengan mengembangkan Model Coastal Eco-Village.

Pemda DKI dapat memperbaiki kawasan permukiman, sanitas dan lingkungan serta
menyediakan infrastruktur pendukung seperti pembangunan pelabuhan tambatan kapal, dan
groin pemecah ombak untuk mendukung aktivitas wisata yang berbasis kampung nelayan.
Termasuk infrastruktur publik yang mendukung wisata kuliner berbasis Seafood.

2. Menyiapkan institusi kelembagaan yang mendukung pengembangan kampung nelayan.

Berupa Perda Pengelolaan dan Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di kawasan pesisir
Teluk Jakarta yang memberikan keadilan distribusi ruang dan ekologi sehingga nelayan tidak
menjadi korban pembangunan. Bukan untuk mendukung reklamasi yang belum tentu
mensejahterakan nelayan tradisional.

3. Merelokasi nelayan ke tempat yang sesuai dengan habitus kehidupannya sehingga


mudah mengakses dan mendapatkan sumberdaya yang menjadi sumber pendapatan
keluarganya.
Kebijakan ini bisa saja diberlakukan bagi nelayan yang tidak memililki KTP DKI Jakarta.
Caranya Pemda DKI berkoordinasi dengan pemerintah daerah asal nelayan tersebut dan
disediakan permukiman dan sarana produksinya yang tetap masih berprofesi sebagai
nelayan.

Daftar Pustaka
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2014
Tentang Kelautan
http://hallojakarta.com/reklamasi-teluk-jakarta-penggusurandan-dampaknya
http://kicaunews.com/2016/04/kiara-mengecam-proyekreklamasi-di-teluk-jakarta/

Terima Kasih