Anda di halaman 1dari 21

Etnomatematika

Pendahuluan

Oleh: Arifin Riadi, M.Pd

Proses pembelajaran matematika yang


dilakukan saat ini cenderung terlalu kering,
teoritis, kurang kontekstual, dan bersifat
semu. Pembelajaran pun kurang bervariasi,
sehingga mempengaruhi minat siswa untuk
mempelajari
matematika
lebih
lanjutpengajaran matematika di sekolah
terlalu bersifat formal sehingga matematika
yang ditemukan anak dalam kehidupan
sehari-hari sangat berbeda dengan apa
yang mereka temukan di sekolah

Selain pembelajaran matematika formal


terdapat
pembelajaran
matematika
informal. Matematika informal dapat
diartikan sebagai praktek matematika
secara informal yang digunakan dalam
kehidupan sehari-hari oleh masyarakat
tanpa batasan sejarah dan geografis
namun erat kaitannya dengan budaya

DAmbrosio dalam Thomas Varghese &


Daniel P. (2006) menyatakan bahwa anakanak
memperoleh
pengetahuan
matematika dari budaya mereka sejak
usia muda. Namun, ketika mereka mulai
bersekolah,
pengetahuan
tersebut
digantikan oleh pengetahuan sekolah
yang lebih bernilai dengan adanya sistem.

Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan antara pembelajaran


matematika informal dan pembelajaran matematika formal. Dalam kehidupan seharihari siswa tidak terlepas dari matematika misalnya penggunaan operasi hitung.
Pengalaman dan pengetahuan matematika siswa dalam kehidupan sehari-hari
merupakan matematika informal.

Hal tersebut menjadi bekal ketika siswa berada di sekolah dalam


pembelajaran matematika formal. Oleh karena itu, diperlukan
penghubung antara pembelajaran matematika informal dengan
matematika formal.

Sebuah pendekatan yang dapat digunakan untuk menjelaskan realitas hubungan antara
budaya lingkungan dan matematika saat mengajar adalah etnomatematika. Jika kita
tengok negara-negara lain, keberhasilannegara Jepang dan Tionghoa dalam
pembelajaran matematika karena mereka menggunakan Etnomatematika dalam
pembelajaran matematikanya.(Uloko dan Imoko, 2007).

Istilah etnomatematika pertama kali digunakan pada tahun 1930-an


yang mencerminkan perubahan konsepsi umat manusia dalam
antropologi dan disiplin ilmu lainnya (Swapna Mukhopadhyay& Brian
Greer).

Gerakan etnomatematika dimulai dengan pembentukanInternational Study Group


on Ethnomathematicspada tahun 1985 pada pertemuanNational Council of
Teachers of Mathematics(NCTM) di San Antonio, Texas di bawah pimpinan
pendirinya yaitu seorang matematikawan dan filosof, Dr. Ubiratan DAmbrosio.

Istilah etnomatematika digunakan oleh


DAmbrosio dalam banyak tulisan dan
pidatonya untuk menjelaskan adanya
hubungan antara praktek budaya dalam
kaitannya dengan pengembangan dan
penggunaan ide atau konsep matematika
(Eduardo Jesus Arismendi-Pardi, 2001).

Menurut Gates & Vistro dalam Thomas Varghese & Daniel P. (2006)
ide
etnomatematika
dikembangkan
untuk
menggabungkan
pandangan yang lebih luas tentang matematika yang berkaitan
dengan dunia nyata.

John dalam Mohammed W. Z. & Ibrahim S. (2010) menyatakan bahwa


etnomatematika
merupakan
studi
teknik
matematika
dengan
menggunakan identifikasi kelompok budaya dalam pemahaman,
penjelasan, dan pengelolaan masalah yang timbul dari diri mereka sendiri.

Etnomatematika adalah matematika yang diterapkan oleh kelompok budaya tertentu,


kelompok buruh/petani, anak-anak dari masyarakat kelas tertentu, kelas-kelas
profesional, dan lain sebagainya (Gerdes, 1994). Dari definisi seperti ini, maka
etnomatematika memiliki pengertian yang lebih luas dari hanya sekedar etno (etnis)
atau suku.

Mengapa etnomatematika menjadi disiplin ilmu dan menjadi


perhatian luas akhir-akhir ini. Salah satu alasan yang bisa
dikemukakan adalah karena pengajaran matematika di sekolah
memang terlalu bersifat formal.

Gagasan etnomatematika akan dapat


memperkaya
pengetauan
matematika
yang telah ada. Oleh sebab itu, jika
perkembangan
etnomatematika
telah
banyak dikaji maka bukan tidak mungkin
matematika diajarkan secara bersahaja
dengan mengambil budaya setempat.

Etnomatematika memberikan makna kontekstual yang diperlukan untuk banyak konsep


matematika yang abstrak. Bentuk aktivitas masyarakat yang bernuansa matematika
yang bersifat operasi hitung yang dipraktekkan dan berkembang dalam masyarakat
merupakan gagasan matematika mempunyai nilai matematika yang dapat
dikembangkan dalam pembelajaran

Menurut Bishop (1994b), matematika merupakan suatu bentuk


budaya. Matematika sebagai bentuk budaya, sesungguhnya telah
terintegrasi pada seluruh aspek kehidupan masyarakat dimanapun
berada.

Pada
hakikatnya
matematika
merupakan
teknologi
simbolis
yang
tumbuh
pada
keterampilan atau aktivitas lingkungan yang
bersifat budaya. Dengan demikian matematika
seseorang dipengaruhi oleh latar budayanya,
karena yang mereka lakukan berdasarkan apa
yang mereka lihat dan rasakan. Budaya akan
mempengaruhi
perilaku
individu
dan
mempunyai
peran
yang
besar
pada
perkembangan
pemahaman
individual,
termasuk pembelajaran matematika (Bishop,
1991).

Dalam kegiatan pembelajaran matematika di sekolah tujuan guru adalah pembentukan


skema baru. Pembentukan skema baru ini sebaiknya dari skema yang telah ada pada diri
siswa. Oleh sebab itu tepat sekali jika dalam mengajarkan matematika formal
(matematika sekolah), guru sebaiknya memulai dengan matematika yang tidak formal
yang diterapkan oleh anak di masyarakat.

Jika pada diri anak terbentuk skema dengan baik tentang matematika yang
dipakai dalam dunia sehari-hari, maka untuk menambah pengetahuan
yang telah ada tersebut guru memperkuat skema yang telah ada atau
membentuk skema baru berdasarkan skema yang telah ada.

Sebagai contoh ketikaguru akan menjelaskan dalam pembelajaran tentang pencerminan


dan simetri, guru bisa membawa atau memperlihatkan contohcontoh artifak, lukisan
tato, danlukisan lain yang bermotif budaya lokal yang mempunyai nilai pencerminan.
Setelah siswa dikenalkan dengan bentukbentuk tadi, barulah kemudian mengenalkan
konsep pencerminan dan simetri yang formal.