Anda di halaman 1dari 17

Teknologi Switching

dan Prinsip Kerja


Switching Optik
Disusun oleh :
Faridatun Nida (140310130063)
Afifah Nurrida (140310130075)

Outline
Teknologi Switching
Switching Elektronik
Switching Optik
Prinsip Kerja Switching Optik

Switching
Switching merupakan suatu komponen yang sangat
penting dalam jaringan telekomunikasi. Ia juga
merupakan operasi dasar bagi komputer optik dan
sistem pemrosesan sinyal. Pengembangan yang sangat
pesat dari sistem komunikasi dengan serat optik yang
berkecepatan tinggi (1012 bit/detik) telah meyebabkan
suatu kebutuhan akan piranti untuk pemrosesan sinyal
optik berkecepatan tinggi yaitu dengan switching optik
(all-optical switching).

Parameter Piranti Switching


Ukuran dan arah
Waktu switching
Waktu tunda perambatan
Throughput
Energi switching
Disipasi daya
Insertion loss
Crosstalk
Dimensi fisik

Switching Elektronik
Switching elektronik adalah suatu piranti yang digunakan dalam
sinyal elektronik. Ia dikontrol oleh electro-mechanical (relay) atau
secara elektronik (rangkaian logika). Material yang digunakan
sebagai bahan sinyal elektronik umumnya bahan semikonduktor.
Karakteristik dari switching elektronik :
Minimum switching time : 10 20 ps
Minimum energy per operation = 10 20 fJ
Minimum switching power 1 mW
Piranti Josephson dapat beroperasi pada energi yang rendah
( 10 aJ), switching time 1,5 ps.

Gambar 1. Proses switching elektronik. Fotodetektor


digunakan untuk mengkonversi sinyal optik menjadi
sinyal elektronik(O/E), sedangkan sinyal elektronik
dikonversi menjadi sinyal optik (E/O) menggunakanLED
(Light Emitting Diode). Tahapan konversi sinyal
menyebabkan waktu switching menjadi lebih lama dan

All-Optical Switching
Dalam all-optical switching (optik-optik), switching
dilakukan oleh cahaya sehingga cahaya mengontrol
cahaya dengan bantuan bahan optik nonlinier.
Efek-efek optik nonlinier bersifat langsung dan tidak
langsung.
Contoh efek langsung : Efek Kerr, Saturable absorption
Efek tidak langsung : Material fotorefraktif , Opticallyaddressed liquid crystal saptial light modulator

Efek-efek optik nonlinier


Suatu
array
menggunakan
2. 3.
Retardasi,
yaituswitching
suatu
divais
dimana
4.
Directional
coupler
:
Indeks
bias
1.
Material
yang
memiliki
efek
Optically-addressed
liquiddiletakkan
crystal
material
nonlinier
anisotropi
dapat
dipilih
sedemikian
rupa
Kerr,
digunakan
untuk
spatial
light
modulator.
Kontrol
cahaya
diantara
dua
polarisator.
Contoh
divais
sehingga
input
yang
rendah
modulasi
intensitas
medan
listrik
didalam
lapisan
ini merubah
adalah
fiber
optik
nonlinier
dan
dapat berpindah
kesalah
channel
ditempatkan
didalam
materialKontrol
liquid crystal
anisotropi.
cahayasehingga
ke dalam
satu
lengan interferometer
waveguide
yang
lain,
merubah
reflektansi/transmitansi.
fiber
mengakibatkan
kelambatan fasaTitiksehingga
dapat
mengontrol
sedangkan
input yang
tinggi
titik
dalam
permukaan
liquid
crystals
(retardasi)
sebesar
.
Jika
kontrol
transmitansi
interferometer
dapat
bertahan
dalam
channel
memiliki
reflektansi
yang
berbeda
cahaya
ditiadakan,
maka
didalam
fiberdan
(ON
dan
OFF),
waveguide
yang
sama.
Indeks
bertindak
sebagai
switching
tidak
terjadi kelambatan
fasa, sehingga
bias
dapat
diatur adalah
independen
yang
dikontrol
dengan
output
danyang
input
sefasa.
material
optik nonlinier (efek
cahaya
input

Kerr).

Fundamental Physical Limits


1. Fluktuasi jumlah foton.
Jumlah foton yang dihasilkan oleh sumber cahaya umumnya memenuhi distribusi random Poisson, dengan probabilitas :

2. Ketidakpastian energi-waktu (energy-time uncertainty).

3. Waktu switching
Ini dibatasi oleh ketidakpastian energi-waktu. Kecepatan dalam femtosecond tidak dapat dicapai oleh switching semikonduktor.
4. Ukuran
Limit dari ukuran switching foton dibentuk oleh efek difraksi, dimana sulit untuk mengkopel cahaya ke dalam dan keluar dari divais dengan
dimensi lebih kecil dari panjang gelombang cahaya.
5. Keterbatasan Praktis
Masalah utama untuk all-optical switching adalah sulitnya memperoleh material dengan efek optik nonlinier yang besar, sehingga energi
switching yang diperlukan cukup besar.
6. Panas
Panas yang dihasilkan dari proses switching terutama jika switching dilakukan secara berulang.

KRISTAL FOTONIK
Kristal fotonik (photonic crystal, PhC) atau material
photonic bandgap (PBG) adalah struktur periodik dari
material dielektrik dengan permitivitas (e) atau indeks
bias (n) yang berbeda, sehingga dapat menghambat
perambatan gelombang dengan frekuensi dan arah
tertentu. Periodisitas dapat berupa satu, dua dan tiga
dimensi, sehingga PhC disebut kristal fotonik 1D, 2D
dan 3D,

Konsep Dasar Kristal Fotonik

PBG pada Kristal Fotonik 2D


Dalam PhC 2D, variasi indeks bias/permitivitas terjadi
dalam dua arah koordinat (misalnya arah-x, dan arah-y)
tapi seragam dalam arah-z

Dua jenis operator ini menghasilkan dua fungsi eigen


dengan duapolarisasi yang berbeda :
1. Polarisasi E (TE), dimana medan listrik E sejajar
sumbu-z

Pembentukan PBG

All-Optical Switching pada


Kristal Fotonik
Switching terjadi karena penyisipan material optik
nonlinier, dimana indeks biasnya bergantung pada
intensitas cahaya datang. Switching (perubahan
transmisi pada frekuensi tertentu) diatur dengan
intensitas cahaya datang.
Tampak bahwa transmitansi pada defect mode ( = 551
nm) berubah terhadap intensitas pumping, dan
switching (perubahan transmitansi) dapat berlangsung
pada 40 ps (4 x 10-11 detik).

Bandgap or Defect state shift


Third-order optical nonlinear photonic crystal
n n0 n2 I

Pump Beam Intensity

Defect State Shift

Photonic
Bandgap

Transmittance

Transmittance

Photonic Bandgap Shift

Wavelength

Pump Light

Photonic
Bandgap

Defect State

Wavelength

Probe Light

Pump Light Probe Light

Light beam controlled

Shift

Proses Switching pada Kristal


Fotonik

Nilai Q yang lebih tinggi sebagai


probe light
Nilai Q yang lebih rendah sebagai
pump light

Terimakasih