Anda di halaman 1dari 11

Kelompok 11

Nama :
1. Aprilia manoraini
2. Aryanti
3. Nining
4. Rinda Hanifah

Pph Bagi karyawan tidak tetap


penerima upah honorarium, yang
tidak berkesinambungan
Sebelumnya telah dijelaskan peraturan PPh 21 bagi bukan
pegawai, kali ini akan dibahas mengenai peraturan PPh 21
bagi pegawai tidak tetap. Tapi apa yang dimaksud dengan
Pegawai Tidak Tetap? Pegawai Tidak Tetap adalah pegawai
yang hanya menerima penghasilan apabila pegawai yang
bersangkutan bekerja, berdasarkan jumlah hari bekerja,
jumlah unit hasil pekerjaan yang dihasilkan, atau
penyelesaian suatu jenis pekerjaan yang diminta oleh pemberi
kerja. Lalu bagaimanakah peraturan Penghasilan Kena Pajak
(PKP) dengan perhitungan pajak PPh 21 bagi pegawai tidak
tetap? Secara garis besar pegawai tidak tetap yang
penghasilannya kurang dari Rp300.000,- tidak akan dilakukan
pemotongan penghasilan. Secara lebih rinci ketentuannya
adalah sebagai berikut:

Tarif PPh 21 pegawai tidak tetap atas penghasilan


berupa upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah
borongan, dan uang saku harian, sepanjang penghasilan
tidak dibayarkan secara bulanan, tarif lapisan pertama
Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak
Penghasilan diterapkan atas:
- Jumlah penghasilan bruto sehari yang melebihi Rp
300.000,- atau
- Jumlah penghasilan bruto dikurangi PTKP yang
sebenarnya, dalam hal jumlah penghasilan kumulatif
dalam 1 bulan kalender telah melebihi Rp3.000.000,-.
Perhitungan PPh 21 pegawai tidak tetap / tenaga kerja
lepas dengan jumlah penghasilan kumulatif dalam satu
bulan kalender telah melebihi Rp8.200.000,-, PPh Pasal
21 dihitung dengan menerapkan Pasal 17 ayat 1 huruf a
Undang-Undang Pajak Penghasilan atas jumlah
Penghasilan Kena Pajak yang disetahunkan.

Definisi Bukan Pegawai


Bukan pegawai merupakan penerima penghasilan yang menerima atau
memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau
kegiatan, antara lain meliputi :
1. tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari
pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan
aktuaris;
2. pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film,
bintang sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model,
peragawan/peragawati, pemain drama, penari, pemahat, pelukis, dan
seniman lainnya;
3. olahragawan
4. penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;
5. pengarang, peneliti, dan penerjemah;
6. pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik komputer dan
sistem aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi, dan
sosial serta pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan;
7. agen iklan;
8. pengawas atau pengelola proyek;
9. pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang
menjadi perantara;
10. petugas penjaja barang dagangan;
11. petugas dinas luar asuransi;
12. distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling dan
kegiatan sejenis lainnya;

Jenis Penghasilan Yang Diterima Bukan Pegawai


Antara lain berupa honorarium, komisi, fee dan imbalan sejenisnya dengan
nama dan dengan bentuk apapun sebagai imbalan sehubungan dengan
pekerjaan, jasa dan kegiatan yang dilakukan.
Tarif Pemotongan PPh Pasal 21 Bukan Pegawai
Untuk bukan pegawai, yang menerima imbalan yang bersifat
berkesinambungan dan memenuhi ketentuan Pasal 13 ayat (1) PER31/PJ/2009)
Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a dari atas Jumlah Kumulatif dari Penghasilan
Kena Pajak yang diterima atau diperoleh bukan pegawai, yang menerima
imbalan yang bersifat berkesinambungan. sepanjang yang bersangkutan
telah mempunyai NPWP dan hanya memperoleh penghasilan dari hubungan
kerja dengan pemotong PPh Pasal 21 serta tidak memperoleh penghasilan
lainnya (memenuhi ketentuan Pasal 13 ayat (1) PER-31/PJ/2009)
Rumus :
PPh Ps 21 = Tarif x {(50% x Jumlah Penghasilan Bruto) - PTKP}

Bukan Pegawai Bersifat Tidak Berkesinambungan


Bukan pegawai bersifat tidak berkesinambungan adalah wajib pajak orang
pribadi yang berhubungan sekali atau sangat jarang terjadi dengan pemberi
kerja. Perhitungannya sama dengan dengan yang berkesinambungan, namun
dengan kondisi apapun tidak dapat menggunakan PTKP. Meski sama
sebaiknya kita gunakan contoh saja sebagai berikut:

Pada bulan Oktober, Toni memperoleh upah sebesar Rp 20.000.000,00 dari PT


AAA sebagai distributor MLM. Maka perhitungan pajaknya dapat dapat
dijelaskan sebagai berikut:

Pertama kita menghitung dahulu dasar pengenaan pajak sebagai berikut:


= 50% x Rp 20.000.000,00
= Rp 10.000.000,00
Kemudian kita menghitung pajak penghasilan pasal 21 sebagai berikut:
= 5% x Rp 10.000.000,00
= Rp 500.000,00

Jadi pajak pasal 21 yang dikenakan kepada upah Toni sebesar Rp 500.000,00

PPh Pasal 21 untuk Tenaga Ahli


Berdasarkan peraturan perpajakan, yang dimaksud dengan tenaga ahli adalah dokter, pengacara,
notaris, konsultan, akuntan, aktuaris, penilai, arsitek).
Pada perhitungan pajak pasal 21 untuk tenaga ahli baik berkesinambungan maupun tidak sama
sama tidak menggunakan PTKP.
Perhitungan pajaknya sama dengan pajak pasal 21 bukan pegawai yang dapat dijelaskan sebagai
berikut:

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) = 50% x Penghasilan Bruto


Agar lebih asik, lebih baik contoh digunakan sebagai berikut:
Pada bulan Februari, Toni seorang akuntan memperolehfeesebesar Rp 30.000.000,00 atas jasa
audit PT AAA . Maka perhitungan pajaknya dapat dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama kita menghitung dahulu dasar pengenaan pajak sebagai berikut:


= 50% x Rp 30.000.000,00
= Rp 15.000.000,00
Kemudian kita menghitung pajak penghasilan pasal 21 sebagai berikut:
= 5% x Rp 15.000.000,00
= Rp 750.000,00
Jadi pajak penghasilan pasal 21 yang dibebankan kepada Toni sebesar Rp 750.000,00

PPh Pasal 21 untuk Mantan Pegawai


Perhitungan pajak penghasilan pasal 21 untuk komisaris yang tidak
merangkap sebagai pegawai, mantan pegawai, dan peserta kegiatan
dihitung langsung dari upah atau gaji atau honor atau yang setara
dengan upah. Perhitungan pajaknya juga tidak mengenal PTKP. Tarif
yang digunakan tetap menggunakan tarif UU PPh pasal 17 ayat 1, yaitu:
5%, 15%, 25% dan 30%. Agar lebih paham, langsung ke contoh:

PT AAA membayar bonus kepada beberapa mantan pegawainya dengan


rincian sebagai berikut:
1. Tio sebesar Rp 45.000.000,00
2. Rangga sebesar 65.000.000,00
3. Jefri sebesar Rp 375.000.000,00
4. Abraham sebesar Rp 765.000.000,00

Maka pajak penghasilan pasal 21 yang dikenakan kepada


masing-masing mantan pegawai dapat dihitung sebagai
berikut:
1. Pajak yang dikenakan kepada Tio
5% x Rp 45.000.000,00 =
Rp 2.250.000,00
Pajak Pasal 21
Rp 2.250.000,00
2. Pajak yang dikenakan kepada Rangga
5% x Rp 50.000.000,00 =
Rp 2.500.000,00
15% x Rp 15.000.000,00 =
Rp 2.250.000,00+
Pajak Pasal 21
Rp 4.750.000,00

3. Pajak yang dikenakan kepada Jefri


5% x Rp 50.000.000,00 =
Rp 2.500.000,00
15% x Rp 200.000.000,00 =
Rp 30.000.000,00
25% x Rp 125.000.000,00 =
Rp 31.250.000,00+
Pajak Pasal 21
Rp 63.750.000,00
4. Pajak yang dikenakan kepada Abraham
5% x Rp 50.000.000,00 =
Rp 2.500.000,00
15% x Rp 200.000.000,00 =
Rp 30.000.000,00
25% x Rp 250.000.000,00 =
Rp 62.500.000,00
30% x Rp 265.000.000,00 =
Rp 79.500.000,00+
Pajak Pasal 21
Rp 174.500.000,00