Anda di halaman 1dari 11

COAL BED

METHANE

Pengertian CBM
Gas Metana Batubara (GMB) atau yang populer dikenal dengan Coal Bed Methane
(CBM), merupakan campuran gas alam seperti halnya gas bumi yang diperoleh pada suatu
situasi geologi tertentu pada lapisan batubara. CBM adalah gas alam yang mengandung
metana (CH4), diproduksi engan metode yang non tradisional namun karena karakternya
seperti gas alam biasa, maka bisa dijual dengan cara konvensional gasbiasa. CBM timbul
karena proses biokimia sebagai akibat dari aktifitas mikrobiologi ataudari proses termal
akibat penambahan panas sebanding kedalaman dari batubara. Pada umumnya CBM ini
terdapat dalam keadaan batubara yang terendam (jenuh) air. Seringnya seam batubara
tersaturasi oleh air ini yang menyebabkan timbulnya kandungan metana (CH4) dalam
batubara. Padahal batubara yang tersaturasi dalam air padaumumnya merupakan batubara
kualitas rendah.
CBM juga dikenal sebagai coal seam gas (CSG) atau coal seam natural gas (CSNG).
Batubara memiliki lapisan-lapisan berisi gas alam dengan kandungan utamanya metana
atau methane (CH4) yang disebut CBM. CBM (Coal Bed Methane) adalah gas metana yang
dihasilkan selama proses pembatubaraan dan (tetap) terperangkap dalam batubara. Gas
tersebut dapat terbentuk secara biogenik maupun thermogenik. Ciri fisiknya gas ini tak
berwarna, tidak berbau, tidak beracun, tapi ketika bercampur dengan udara bisa tiba-tiba
meledak (mudah terbakar).
Saat ini Gas tambang ini dapat dimanfaatkan dan diambil sebagai energi gas. Sehingga
gas tambang ini tidak mencelakai para pekerja tambang. Selain itu gas tambang metana
yang keluar merusak atmosfer dapat dicegah

Keterbentukan Coal Bed


Methane

Batubara memiliki kemampuan menyimpan gas dalam jumlah yang banyak, karena permukaannya
mempunyai kemampuan mengadsorpsi gas. Meskipun batubara berupa benda padat dan terlihat seperti
batu yang keras, tapi di dalamnya banyak sekali terdapat pori-pori yang berukuran lebih kecil dari skala
mikron, sehingga batubara ibarat sebuah spon. Kondisi inilah yang menyebabkan permukaan batubara
menjadi sedemikian luas sehingga mampu menyerap gas dalam jumlah yang besar. Jika tekanan gas
semakin tinggi, maka kemampuan batubara untuk mengadsorpsi gas juga semakin besar.
Di dalam lapisan batubara banyak terdapat rekahan (cleat), yang terbentuk ketika berlangsung
proses pembatubaraan. Melalui rekahan itulah air dan gas mengalir di dalam lapisan batubara. Adapun
bagian pada batubara yang dikelilingi oleh rekahan itu disebut dengan matriks (coal matrix), tempat
dimana kebanyakan CBM menempel pada pori-pori yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian,
lapisan batubara pada target eksplorasi CBM selain berperan sebagai reservoir, juga berperan sebagai
source rock.

Sebagian besar CBM adalah gas yang terbentuk ketika terjadi perubahan kimia pada batubara
akibat pengaruh panas, yang berlangsung di kedalaman tanah. Ini disebut dengan proses
thermogenesis. Sedangkan untuk CBM pada lapisan brown coal (lignit) yang terdapat di kedalaman
kurang dari 200m, gas metana terbentuk oleh aktivitas mikroorganisme yang berada di lingkungan
anaerob. Ini disebut dengan proses biogenesis. Baik yang terbentuk secara thermogenesis maupun
biogenesis, gas yang terperangkap dalam lapisan batubara disebut dengan CBM.
Kuantitas CBM berkaitan erat dengan peringkat batubara, yang makin bertambah kuantitasnya dari
gambut hingga medium volatile bituminous, lalu berkurang hingga antrasit. Tentu saja kuantitas gas
akan semakin banyak jika lapisan batubaranya semakin tebal. Terkait potensi CBM ini, ada 2 hal yang
menarik untuk diperhatikan:

Pertama, jika ada reservoir conventional gas (sandstone) dan reservoir CBM (coal) pada kedalaman,
tekanan, dan volume batuan yang sama, maka volume CBM bisa mencapai 3 6 kali lebih banyak
dari conventional gas. Dengan kata lain, CBM menarik secara kuantitas.

Kedua, prinsip terkandungnya CBM adalah adsorption pada coal matrix, sehingga dari segi
eksplorasi faktor keberhasilannya tinggi, karena CBM bisa terdapat pada antiklin maupun sinklin.
Secara mudahnya dapat dikatakan bahwa ada batubara ada CBM.

Cadangan CBM Di Indonesia


Sumber dari ESDM menyebutkan bahwa cadangan CBM di tanah air
sekitar 2-3 kali daricadangan gas nasional. Selain itu, pemanfaatan gas
metana menjadi sebuah pertimbangan karena beberapa hal sebagai
berikut:
CBM merupakan energi alternatif yang dihasilkan di luar MIGAS dari
fosil.
Pemanfaatan CBM sebagai sumber energi menjadi alternatif menarik
karena kadarpolutannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan
batubara dan minyak bumi.
Biaya eksploitasi untuk CBM sendiri cukup rendah karena sumursumur eksploitasiyang digunakan untuk mengambil CBM tidak
membutuhkan biaya tinggi dalam pengeborannya.
Gas mempunyai tingkat penggunaan dengan energi yang luas, dan
dengan krisis energy yang terjadi saat ini serta harga bahan bakar
yang relatif sangat tinggi pengembangan akan sumber daya energi
alternatif ini sewajarnya mendapat perhatian serius.

Indonesia memiliki potensi CBM yang cukup besar pada 11 coal basin yang ada dengan sumber daya gas sekitar
453,30 Tcf (Migas dan ADB, 2003). Potensi sebesar ini hanya tersebar di dua pulau saja, yaitu pulau Sumatera dan
Kalimantan. Pulau-pulau lainnya tidak significant. Cekungan Sumatera Selatan merupakan peringkat pertama dengan
potensi sumber daya (resources) CBM sebesar 183 Tcf. Sumber daya adalah undiscovered reserves atau cadangan
yang belum ditemukan, yang ditentukan (dihitung) berdasarkan perkiraan teoritis dengan memakai informasi geosain.
Oleh karena itu perlu dilakukan peningkatan status dari sumber daya (resources) menjadi cadangan.Peningkatan
status dapat dilakukan dengan cara pemetaan kondisi bawah permukaan menggunakan metode geofisika dimana
lokasi masing- masing sumber daya yang diperkirakan ada. Setelah memperoleh kepastian mengenai keberadaan,
kuantitas, dan kualitasnya, sumber daya ini berubah tingkatnya menjadi cadangan. Cadangan ini kemudian akan
merupakan cadangan terbukti (proven reserves), apabila cukup bukti-bukti mengenai volume dan kapasitas produksi
(dan karakteristik fisik lingkungan pengendapannya), serta cara penambangannya dan tingkat komersialitasnya
(mineable).

Ekstraksi Coal Bed Methane


Eksplorasi CBM pada umumnya merujuk dari pengetahuan geologi dari daerah tersebut dan
melakukan pengeboran langsung pada daerah yang disinyalir kaya CBM dengan kenampakan di
permukaannya (ada semburan gas). Namun karena umumnya untuk mengeksplorasi keberadaan
CBM ini biasanya dilakukan pengeboran langsung, hal ini disamping kurang efisien juga
menimbulkan biaya yang relatif mahal. Oleh karena itu diperlukan metode-metode eksplorasi yang
paling efektif dan efisien untuk memetakan keberadaan CBM di bawah permukaan tanah beserta
penghitungan cadangannya. Untuk mendapatkan metode-metode tersebut diperlukan tahap-tahap
kegiatan yang dimulai dari:
Mempelajari genesa batubara yang menghasilkan metane beserta CBM geologi play di sekitar
Sumatera Selatan.
Menentukan strategi pendeteksian CBM dibawah permukaan dengan seismik fisika batuan. Pada
beberapa keadaan reservoar (temperatur, fluida, tekanan pori).
Menentukan strategi pendeteksian CBM dibawah permukaan dengan resistivitasfisika batuan
(real resitivity,imajiner resistivity,complex resistivity frekuensi response) pada beberapa keadaan
reservoar (temperatur, saturasi fluida).
Menentukan standard petrofisika well-logging untuk seam batubara menghasil CBM.
Melakukan uji pengukuran lapangan seismik pantul dan pembuatan bor eksplorasipada lapangan
penghasil CBM, karakterisasi CBM dengan data seismik pantul.
Melakukan uji pengukuran lapangan geolistrik dan pembuatan bor wksplorasi padalapangan
penghasil CBM, karakterisasi CBM dengan data geolistrik.

Karakter dari batubara yang baik untuk produksi CBM :


Kandungan gas tinggi :15m3-30m3 per ton
Permeabilitas yang baik : 30mD-30mD.
Dangkal : lapisan batubara < kedalaman 1000m. Tekanan pada
kedalaman yang berlebih terkadang sangat tinggi dan telah
mengalami penguapan. Hal ini disebabkan tekanan tinggi
menyebabkan adanya struktur cleat yang menyebabkan penurunan
permeabilitas.
Ranking batubara : kebanyakan proyek CBM memproduksi gas dari
batubara bituminus, tetapi hal ini dapat mungkin terjadi di Antrasit.
Semakin bertambah kuantitasnya dari gambut hingga medium
volatile bituminous rank, lalu berkurang hingga antrasit. Jadi, dari low
rank coal pun sudah punya CBM (umumnya kualitas batubara di
Indonesia kita adalah low rank). Tentu saja kuantitas gas akan
semakin banyak jika lapisan batubaranya semakin tebal.

Pada metode produksi CBM secara konvensional, produksi yang ekonomis hanya dapat
dilakukan pada lapisan batubara dengan permeabilitas yang baik.

Tapi dengan kemajuan teknik pengontrolan arah pada pengeboran, arah


lubang bor dari permukaan dapat ditentukan dengan bebas, sehingga
pengeboran memanjang dalam suatu lapisan batubara dapat dilakukan.
Seperti ditunjukkan oleh gambar di bawah, produksi gas dapat
ditingkatkan volumenya melalui satu lubang bor dengan menggunakan
teknik ini.
Teknik ini juga memungkinkan produksi gas secara ekonomis pada
suatu lokasi yang selama ini tidak dapat diusahakan, terkait
permeabilitas lapisan batubaranya yang jelek. Sebagai contoh adalah
apa yang dilakukan di Australia dan beberapa negara lain, dimana
produksi gas yang efisien dilakukan dengan sistem produksi yang
mengkombinasikan sumur vertikal dan horizontal.

DAFTAR PUSTAKA
Siahaan, jefri. 2010. Coal Bed Methane (Cbm).
http://arsipteknikpertambangan.blogspot.co.id/2010/06/cbm.html
Diakses tanggal 7/11/2016.
Ibrahim, eddy. 2013. Peranan Metode Gefisika Dalam Eksplorasi
Gas
Metana Batubara (Coal Bed Methane).
https://www.scribd.com/doc/132204902/Makalah-Prof-Eddy-i. Diakses
tanggal 7/11/2016.
Pratama, rizki. 2014. Coal Bed Methane (Cbm).
http://rhaydenmazzrhezky.blogspot.co.id/2014/09/coal-bed-me
thanecbm.html. Diakses tanggal 7/11/2016.