Anda di halaman 1dari 29

Asuhan Keperawatan Luka Bakar dan

Keseimbangan Asam Basa

Kelompok 9

Luka Bakar
Luka bakar adalah kerusakan jaringan tubuh
terutama kulit akibat trauma panas, elektrik,
kimia dan radiasi (Smith, 1998).
Luka bakar adalah kerusakan pada kulit
diakibatkan oleh panas, kimia atau radio aktif
(Wong, 2003).
Luka bakar disebabkan oleh perpindahan
energi dari sumber panas ke tubuh. Panas
tersebut dapat dipindahkan melalui konduksi
dan radiasi elektro magnetic. (Effendi. C, 1999).

luka

bak
ar

kerusakan
jaringan kulit
yang disebabkan
perpindahan
energi dari
sumber panas ke
tubuh melalui
konduksi dan
radiasi elektro
magnetic serta
bahan kimia

Etiologi Luka Bakar


basah (air panas,minyak), kering (uap,
Pana
metal, api)
s
Asam kuat seperti AsamSulfat, Basa
Kimia kuat seperti Natrium Hidroksida
Listri Voltage tinggi,petir
k
Radia X-ray
si

Tanda dan Gejala


Grade 1 : Kerusakan pada epidermis (kulit bagian luar), kulit
kering kemerahan, nyeri sekali, sembuh dalam 3 - 7 hari dan
tidak ada jaringan parut.

Grade 2 : Kerusakan pada epidermis (kulit bagian luar) dan


dermis (kulit bagian dalam), terdapat vesikel ( benjolan
berupa cairan atau nanah) dan oedem sub kutan (adanya
penimbunan dibawah kulit), luka merah dan basah,
mengkilap,sangatnyeri,sembuhdalam21-28 hari tergantung
komplikasi infeksi.
Grade 3 : Kerusakan pada semua lapisan kulit, nyeri tidak
ada, luka merah keputih-putihan (seperti merah yang
terdapat serat putih dan merupakan jaringan mati) atau
hitam keabu-abuan (seperti luka yang kering dan gosong juga
termasuk jaringan mati), tampak kering, lapisan yang rusak
tidak sembuh sendiri (perlu skin graf).

Metode Rule of Nines untuk menentukan daerah


permukaan tubuh total (Body surface Area : BSA) untuk
orang dewasa

Kepala dan leher : 9%


Ekstremitas atas kanan : 9%
Ekstremitas atas kiri : 9%
Ekstremitasbawahkanan: 18%,
Ekstremitasbawahkiri : 18%
Badanbagiandepan : 18%
Badanbagianbelakang: 18%
Genetalia : 1%
100%

Kartu Penilaian Luka Bakar menurut Nelson, 1992

Patofisiologi
Luka bakar (combustio) pada tubuh dapat terjadi karena konduksi panas
langsung atau radiasi elektromagnetik. Setelah terjadi luka bakar yang
parah, dapat mengakibatkan gangguan hemodinamika, jantung, paru,
ginjal serta metabolik akan berkembang lebih cepat. Dalam beberapa
detik saja setelah terjadi jejas yang bersangkutan, isi curah jantung akan
menurun,mungkin sebagai akibat dari refleks yang berlebihan serta
pengembalian vena yang menurun.Kontaktibilitas miokardium tidak
mengalami gangguan.
Segera setelah terjadi jejas, permeabilitas seluruhh pembuluh darah
meningkat, sebagai akibatnya air, elektrolit, serta protein akan hilang dari
ruang pembuluh darah masuk ke dalam jarigan interstisial,baik dalam
tempat yang luka maupun yang tidak mengalami luka. Kehilangan ini
terjadi secara berlebihan dalam12 jam pertama setelah terjadinya luka
dan dapat mencapai sepertiga dari volume darah. Selama 4 hari yang
pertama sebanyak 2 pool albumin dalam plasma dapat hilang, dengan
demikian kekurangan albumin serta beberapa macam protein plasma
lainnya merupakan masalah yang seringdidapatkan.

Dalam jangka waktu beberapa menit setelah luka bakar besar,


pengaliran plasma dan laju filtrasi glomerulus mengalami penurunan,
sehingga timbul oliguria.
Sekresi hormon antideuretika dan aldosteron meningkat. Lebih lanjut
lagi mengakibatkan penurunan pembentukan kemih, penyerapan
natrium oleh tubulus dirangsang,ekskresi kalium diperbesar dan
kemih dikonsentrasikan secara maksimal.
Albumin dalam plasma dapat hilang, dengan demikian kekurangan
albumin serta beberapa macam protein plasma lainnya merupakan
masalah yang sering didapatkan. Dalam jangka waktu beberapa menit
setelah luka bakar besar, pengaliran plasma dan laju filtrasi
glomerulus mengalami penurunan, sehingga timbul oliguria. Sekresi
hormon antidiuretika dan aldosteron meningkat. Lebih lanjut lagi
mengakibatkan penurunan pembentukan kemih, penyerapan natrium
oleh tubulus dirangsang,ekskresi kalium diperbesar dan kemih
dikonsentrasikan secara maksimal.

Konsep Keseimbangan Asam dan


basa

Keseimbangan asam basa


adalah keseimbangan ion H+.
Walaupun produksi akan terus
menghasilkan ion H+ dalam
jumlah sangat banyak,
ternyata konsentrasi ion H+
dipertahankan pada kadar
rendah 40 + 5 nM atau pH
7,4.

SISTEM
BUFFER

Keseimban
gan ASAM
BASA
SISTEM
GINJAL

SISTEM
PARU

SISTEM BUFFER
Menetralisir kelebihan ion H+,

bersifat temporer dan tidakmelakukan


eliminasi.

Fungsi utama sistem buffer adalah mencegah


perubahan pH yang disebabkan oleh pengaruh
asam fixed dan asam organic pada cairan
ekstraseluler.

KETERBATASAN SISTEM
BUFFER
Tidak dapat mencegah perubahan pH di
cairan ekstraseluler yang disebabkan
karena peningkatan karbon dioksida (CO2).
Sistem ini hanya berfungsi bila sistem
respirasi dan pusat pengendalian sistem
pernafasan bekerja normal.
Kemampuan menyelenggarakan sistem
buffer tergantun pada tersediannya ion
bikarbonat ( HCO3-).

SISTEM BUFFER
BUFFER
BIKARBONA
T

sistem yang terdapat dicairan


ekstrasel terutama untuk perubahan
yangdisebabkan oleh non-bikarbonat.

BUFFER
PROTEIN

sistem yang terdapat di cairan


ekstrasel dan intrasel.

BUFFER
HEMOGLOBI
N

sistem yang terdapat di dalam


eritrosit untuk perubahan asam
karbonat.

BUFFER
FOSFAT

sistem yang terdapat di sistem


perkemihan dan cairan intrasel.

SISTEM Ginjal

Ginjal mengatur keseimbangan asam basa dengan sekresi dan reabsorpsi


ion H+ dan ion bikarbonat. Pada mekanisme pemgaturan oleh ginjal ini
berperan 3 sistem buffer asam karbonat, buffer fosfat dan pembentukan
ammonia. Ion H+, CO2, dan NH3 diekskresi ke dalam lumen tubulus
dengan bantuan energi yang dihasilkan oleh mekanisme pompa natrium di
basolateral tubulus. Pada proses tersebut, asam karbonat dan natrium
dilepas kembali ke sirkulasi untuk dapat berfungsi kembali.
Tubulus proksimal adalah tempat utama reabsorpsi bikarbonat dan
pengeluaran asam. Ion H+ sangat reaktif dan mudah bergabung dengan
ion bermuatan negative pada konsentrasi yang sangat rendah.
Pada kadar yang sangat rendahpun, ion H+ mempunyai efek yang besar
pada sistem biologi. Ion H+ berinteraksi dengan berbagai molekul biologis
sehingga dapat mempengaruhi struktur protein, fungsi enzim dan
ekstabilitas membran. Ion H+ sangat penting pada fungsi normal tubuh
misalnya sebagai pompa proton mitokondria pada proses fosforilasi
oksidatif yang menghasilkan ATP. Produksi ion H+ sangat banyak karena
dihasilkan terus menerus di dalam tubuh. Perolehan dan pengeluaran ion
H+ sangat bervariasi tergantung diet,aktivitas dan status kesehatan. Ion
H+ di dalam tubuh berasal dari makanan, minuman, dan proses
metabolism tubuh. Di dalam tubuh ion H+ terbentuk sebagai hasil
metabolism karbohidrat, protein dan lemak, glikolisis anaerobik atau

Sistem Paru
Peranan sistem respirasi dalam keseimbangan asam basa
adalah mempertahankan agar Pco2 selalu konstan
walaupun terdapat perubahan kadar CO2 akibat proses
metabolism tubuh.
Keseimbangan asam basa respirasi bergantung pada
keseimbanagn produksi dan ekskresi CO2. Jumlah CO2
yang berada di dalam darah tergantung pada laju
metabolism sedangkan proses ekskresi CO2 tergantung
pada fungsi paru. Kelainan ventilasi dan perfusi pada
dasarnya akan mengakibatkan ketidakseimbanagn rasio
ventilasi perfusi sehingga akan terjadi ketidakseimbangan,
ini akhirnya menyebabkan hipoksia maupun retensi CO2
sehingga terjadi gangguan keseimbangan asam basa.

Ketidakseimbangan Asam
basa
Ketidakseimbangan asam basa
terjadi karena adanya kelainan pada
satu atau lebih mekanisme
pengendalian pH tersebut, bisa
menyebabkan salah satu dari 2
kelainan utama dalam keseimbangan
asam basa, yaitu asidosis atau
alkalosis.

Asidosis

Asidosis
respirato
ry

Asidosis
metaboli
c

Penyakit kronis

Akut dan kronik

O2
Penumpukan C
diparu

++
Keasaman darah

tu yg
Penyakit terten
ka
mnyebab n
rbonat
kehilangan bika
Rendah kadar
bikarbonat

h ++
Keasaman dara

kompensasinya
Asidosis respiratory

Asidosis metabolic

pada saat CO2


berakumulasi ,
peningkatan frekuensi
pernafasan respiratorik
(hiperventilasi) ketika
istirahat terjadi untuk
mengeluarkan CO2 dari
tubuh. Ginjal
mengkompensasi
peningkatan kadar asam
dengan mengekskresi
lebih banyak ion H+
untuk mengembalikan pH
darah mendekati tingkat
yang normal. Jika
penyesuaian respiratorik
dan ginjal terhadap pH

jika hiperventilasi sebagai


respon terhadap stimulasi
saraf adalah tanda klinis
asidosis metabolik.
Bersamaan dengan
kompensasi ginjal,
peningkatan frekuensi
respiratorik dapat
mengembalikan pH darah
mendekati tingkat
normalnya. Asidosis yang
tidak terkompensasi akan
menyebabakan depresi
sistem saraf pusat dan
mengakibatkan
disorentasi, koma dan
kematian.

alkalosis
respirat
oy

metabo
lic

Pernafasan
cepat
Darah basa

Darah basa

Kadar CO2
RENDAH

Kadar
bikarboat
menjadi
tinggi

Kompensasi
jika hiperventilasi terjadi akibat kecemasan
gejalanya dapat diredakan melalui pengisapan
kembali CO2 yang sudah di keluarkan. Ginjal
resirator mengkompensasi cairan alkalintubular dengan
mengekskresi ion bikarbonat dan menahan ion H+.
ry
penurunan ventilasi pulmonar dan mengakibatkan
peningkatan pCO2 dan asan karbonat. Kompensasi
ginjal melibatkan sedikit ekskresi ion amonium,
banyak ekskresi ion natrium dan kalium,
metabol lebih
berkurangnya cadangan ion bikarbonat dan lebih
ic
banyak ekskresi bikarbonat.

Pemberian
asam
melalui
makanan
Pembentuka
n asam
dalam
jumlah
besar oleh
sel-sel
lambung

Pengeluaran
asam
karbonat
(H2CO3)
oleh paru

Faktorfaktor yang
mempengar
uhi asam
basa
Pengeluaran
asam basa
oleh ginjal
dan usus

Penambaha
n secara
endogen
dari hasil
metabolism
e (laktat)

Penambaha
n secara
endogen
yang tidak
fisiologis
(DM)

Asuhan Keperawatan

TERIMA KASIH