Anda di halaman 1dari 16

MEDIA SOSIAL

DAN
UNDANG-UNDANG INFORMASI
DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

Pelaksanaan Sosialisasi
Berkomunikasi Menggunakan
Sosial Media Sesuai Dengan UU ITE
Sosialisasi akan dilakukan pada:
Hari, tanggal : Senin, 4 Januari 2016
Waktu : 10.00 11.00 WITA
Tempat : SMK Negeri 1 Banjarmasin
Audiens : Kelas XI A dan XI B Multimedia (30
orang/kelas)
Booklet yang telah dibuat sejumlah 40 booklet.

Apa itu Media Sosial ?


Media sosialadalahsebuahmediaonline,denganpara
penggunanyabisadenganmudahberpartisipasi,berbagi,dan
menciptakanisimeliputiblog,jejaringsosial,wiki,forumdandunia
virtual.Blog,jejaringsosialdanwikimerupakanbentukmediasosial
yangpalingumumdigunakanolehmasyarakatdiseluruhdunia.
AndreasKaplandanMichaelHaenleinmendefinisikanmediasosial
sebagai"sebuahkelompokaplikasiberbasisinternetyang
membangundiatasdasarideologidanteknologiWeb2.0,danyang
memungkinkanpenciptaandanpertukaranuser-generated content.
MenurutKaplandanHaenleinadaenamjenismediasosial:proyek
kolaborasi,blogdanmicroblog,konten,situs,jejaringsosial,virtual
game world,virtual social world.
(sumber:https://id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial)

Apa itu Jejaring Sosial ?


Jejaring sosial secaraumumadalahmediabertukarinformasisecara
mudahdancepatmenggunakanjaringaninternettanpaadabatasan.
Jejaringsosialsaatinitelahmenguasaikehidupanparapengguna
Internet.Layananyangdihadirkanolehmasing-masingsitusjejaring
sosialberbeda-beda.Halinilahyangmerupakancirikhasdanjuga
keunggulanmasing-masingsitusjejaringsosial.Tetapiumumnya
layananyangadapadajejaringsosialadalahchating,email,berbagi
pesan,berbagivideoataufoto,forumdiskusi,blog,danlain-lain.
Sekaranginijejaringsosialbanyakyangberkembang,diantaranya
yaitu:Facebook,Twitter,Google+,Weibo,LinkedIn,Instagram,
Tumblr,MySpace,Foursquare,Pinterest,Soundcloud,Friendster,
Path,Snapchat,Flickr,MySpace,Vine,Blogspot,Wordpress,Live
Journal,danlain-lain.

Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 11 Tahun 2008
Tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik (ITE)

Perbuatan Yang Dilarang


dan
Ketentuan Pidana
Undang-Undang Informasi
dan Transaksi Elektronik

Kasus-Kasus Yang Berkaitan


Dengan Penggunaan Media
Sosial dan Undang-Undang
ITE

Kasus-Kasus Pelanggaran UU ITE


di Indonesia
Kasus 1 :
Penahanan seorang pengguna media sosial atas konten yang diunggah
kini tengah menjadi perhatian nasional. Florence Sihombing, mahasiswa
S2 Universitas Gajah Mada Yogyakarta, harus mendekam di sel Polda DIY
usai dilaporkan menghina masyarakat Yogya di akun Path miliknya.
Florence dijerat Pasal 27 ayat 3 terkait informasi elektronik yang
dianggap menghina dan mencemarkan nama baik.
Nasib yang dialami Florence itu bukan pertama kalinya. Sejak UU
Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) disahkan April 2008, regulasi ini
sudah menjerat beberapa korban di platfrom elektronik. Menurut Catatan
Ringkas Tata Kelola dan Praktik Internet di Indonesia ICT Watch, UU itu
telah memakan 32 korban pencemaran nama baik.
Jerat itu terdapat pada Pasal 27 ayat 3 UU ITE mengancam siapa pun
yang mendistribusikan dokumen atau informasi elektronik yang
bermuatan penghinaan dan atau pencemaran nama baik.
Sedangkan Pasal 28 UU itu juga memuat pelarangan penyebaran
informasi yang menyebarkan kebencian.

Kasus 2 :
Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) kembali
memakan 'korban'. Benny Handoko, pemilik akun twitter @benhan
dinyatakan bersalah atas tindak pidana pencemaran nama baik terhadap
anggota DPR M Misbakhun.
Ia divonis 6 bulan penjara dengan masa percobaan 1 tahun. Vonis
tersebut ditetapkan hari ini, Rabu (5/2/2014) oleh majelis hakim
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Benhan sendiri dinyatakan bersalah
dan melanggar UU ITE Pasal 27 ayat 3.
Menanggapi kasus ini, komunitas blogger dan aktivis online Asia Tenggara
yang tergabung dalam South Asian Freedom of Network (SAFENET)
menyerukan agar pemerintah segera menghentikan praktik
pembungkaman berpendapat di dunia maya.
SAFENET menilai pemerintah Indonesia belum bisa melindungi kebebasan
berpendapat warganya. Padahal publik berhak menyampaikan pendapat
tanpa harus takut merasa diawasi, dikekang ataupun dibungkam.
Pasal 27 ayat 3 dianggap sebagai salah satu ganjalan kebebasan
berpendapat di internet. Sebab pasal tersebut dapat memenjarakan para
pengguna internet yang berpendapat di dunia maya. Hal ini dianggap
tidak sesuai dengan semangat reformasi. Warga bisa sajajadi takut ngeblog atau mmeposting sesuatu di internet.

Kasus 3:
Seorang warga Surabayaditetapkan sebagai tersangka oleh Direktorat Reserse
Kriminal Khusus Polda Jatim gara-gara mengomentari berita di sebuah media
online tentang dugaan penggelapan uang Rp4,7 triliun di Gereja Bethany Surabaya
yang linknya dibagi ke Facebook.
Johan Yan nama warga tersebut sebelumnya telah meminta maaf dan menghapus
komentar yang ia berikan di Facebook, namun ia tetap dijadikan tersangka oleh
kepolisan. Menurut pihak kepolisianJohan disangka melanggar Pasal 27 Ayat 3 UU
Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Pasal 27 Ayat 3
melarang siapapun untuk menyebarkan informasi online yang punya muatan
penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.
Tentu saja rujukan yang diambil polisi adalah UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik yang memagari aktifitas pengguna internet pada
umumnya. Bila kita lihat, kasus ini sepele dan mungkin jauh dari pencemaran
nama baik.
Menurut Johan sendiri, komentar yang ia berikan waktu itu sekadar status saja dan
tidak bermaksud menjelekkan. Namun kemudian pihak gereja melaporkan hal
tersebut ke pihak kepolisian.
Satu hal yang sangat penting dari kejadian ini adalah bahwa pengguna Facebook
harus hati-hati, bukan hanya ketika membuat status, tetapi juga ketika
berkomentar. Pasal 27 UU ITE yang diduga pasal karet bisa saja dikenakan jika ada
pihak yang merasa dirugikan oleh status atau komentar pengguna di Facebook.

Kasus 4 :
Nasib apes menghampiri seorang blogger. Musni Umar, ditetapkan
sebagai tersangka dan terancam hukuman penjara oleh polisi. Semua
berawal dari tulisan Musni di blog pribadinya,
http://musniumar.wordpress.com yang membeberkan tentang dugaan
penyelewengan dana pungutan sekolah terhadap siswa SMAN 70 Jakarta.
Tulisan di blog tertanggal 15 Februari 2011, berjudul: Dr. Musni Umar:
Teladani Kejujuran Rasulullah SAW Dalam Memimpin Sekolah tersebut
membuat Musni dituntut dengan tuduhan pencemaran nama baik oleh
Komite Sekolah SMAN 70 Jakarta.
Kasus 5 :
Baru-baru ini publik dibuat heboh dengan kemunculan foto-foto topless
dari pedangdut pendatang baru,Pamela Safitri, yang juga merupakan
anggotaDuo Serigala. Entah akunPameladi-hackoleh pihak tak
bertanggung jawab atau ada unsur-unsur lain di dalam kasus ini, masih
belum diketahui secara pasti jawabannya.
Menanggapi kasus tersebut,runner-upPuteri Indonesia 2014,Elfin
Pertiwi Rappabuka suara. Ia menegaskan jika kini akan lebih berhatihati dalam menyimpan atau mengunggah foto-foto pribadi di akun sosial
media.