Anda di halaman 1dari 14

METALURGI FISIK

ALUMUNIUM
DISUSUN OLEH :
ADITYA EKA SURYANA (082)
AHMAD SOFI AL HAFIS (057)
PRACIHATA SAKTI (080)
RENGGI AHMAD R. (072)
RUDI HARTONO (093)

ALUMUNIUM
Aluminium adalah logam yang paling banyak terdapat di kerak bumi, dan unsur ketiga
terbanyak setelah oksigen dan silikon. Aluminium terdapat di kerak bumi sebanyak kirakira 8,07% hingga 8,23% dari seluruh massa padat dari kerak bumi.
Aluminium tahan terhadap korosi karena fenomena pasivasi. Pasivasi adalah
pembentukan lapisan pelindung akibat reaksi logam terhadap komponen udara sehingga
lapisan tersebut melindungi lapisan dalam logam dari korosi.
Aluminium murni adalah logam yang lunak, tahan lama, ringan, dan dapat ditempa
dengan penampilan luar bervariasi antara keperakan hingga abu-abu, tergantung kekasaran
permukaannya. Kekuatan tensil aluminium murni adalah 90 MPa, sedangkan aluminium
paduan memiliki kekuatan tensil berkisar 200-600 MPa. Aluminium memiliki berat sekitar
satu pertiga baja, mudah ditekuk, diperlakukan dengan mesin, dicor, ditarik (drawing), dan
diekstrusi.

PENGERASAN ALUMUNIUM
Kekerasan gabungan dari berbagai sifat yang terdapat dalam suatu bahan yang mencegah terjadinya
suatu deformasi terhadap bahan tersebut ketika diaplikasikan suatu gaya. Kekerasan suatu bahan
dipengaruhi oleh elastisitas, plastisitas, viskoelastisitas, kekuatan tensil, ductility, dan sebagainya.
Kekerasan dapat diuji dan diukur dengan berbagai metode. Yang paling umum adalah metode Brinnel,
Vickers, Mohs, dan Rockwell.
Perlakuan panas pada Alumunium paduan dilakukan dengan memanaskan sampai terjadi fasa
tunggal, kemudian ditahan beberapa saat dan diteruskan dengan pendinginan cepat hingga tidak sempat
berubah ke fase lain. Jika dibiarkan dalam waktu tertentu, maka akan terjadi proses penuaan (Aging).
Perubahan akan terjadi berupa presipitasi fase kedua yang dimulai dengan proses nukleasi dan
timbulnya klaster atom yang menjadi awal dari presipitat (dapat meningkatkan kekerasannya) yang
disebut Natural Aging. Setelah dilakukan pendinginan cepat, kemudian dipanaskan lagi hingga dibawah
temperatur solvus dan kemudian ditahan dalam jangka waktu yang lama dan dilanjutkan dengan
pendinginan lambat di udara yang disebut proses Artifical Aging atau penuaan buatan. Proses dari
pemanasan awal hingga pendinginan cepat disebut proses Solution Treatment dan sesudahnya disebut
proses Precipitation Treatment.

Diagram fasa perubahan


mikrostruktur paduan Al-Cu.

Suatu paduan dengan 4 % Cu mulai membeku di titik 1 dengan membentuk dendrit larutan padat a.
Pada titik 2 seluruhnya sudah membeku menjadi larutan padat a dengan 4 % Cu.
Pada titik 3 kelarutan Cu dalam Al mencapai batas jenuhnya, bila temperaturnya diturunkan akan ada Cu yang keluar dari larutan
padat a berupa CuAl2. Makin rendah temperaturnya makin banyak Cu-Al yang keluar. Pada gambar struktur mikro Al-Cu tampak
partikel CuAl tersebar didalam matriks a.
Dengan pemanasan kembali sampai diatas garis solvus (titik 3) semua Cu larut kembali di dalam a. Dengan pendingan cepat
(quench) Cu tidak sempat keluar dari a. Pada suhu kamar struktur masih tetap berupa larutan padat a fase tunggal sifat nya pun
masih belum berubah, tetap lunak dan sedikit ulet. Dalam keadaan ini larutan dikatakan sebagai larutan yang lewat jenuh karena
mengadung solute yang melampaui batas jenisnya untuk temperatur itu. Setelah beberapa saat larutan yang lewat jenuh ini akan
mengalami perubahan kekerasan dan kekuatan. Menjadi lebih kuat dan keras , tetapi struktur mikro tidak tampak mengalami
perubahan .

Struktur mikro dari presipitasi Al-Cu dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Micrograph showing Cu
rich GP zones in Al4%Cu, aged for 6 hours
at 180 C.

Micrograph showing
precipitates in Al-4%Cu,
aged for 2 hours at
200 C

Micrograph showing
precipitates in Al4%Cu, aged for 45
mins at 450 C.

KLASIFIKASI ALUMUNIUM
A. Paduan Aluminium-Silikon
Paduan aluminium dengan silikon hingga 15% akan memberikan kekerasan dan kekuatan tensil
yang cukup besar, hingga mencapai 525 MPa pada aluminium paduan yang dihasilkan pada perlakuan
panas. Jika konsentrasi silikon lebih tinggi dari 15%, tingkat kerapuhan logam akan meningkat secara
drastis akibat terbentuknya kristal granula silika.

B. Paduan Aluminium-Magnesium
Keberadaan magnesium hingga 15,35% dapat menurunkan titik lebur logam paduan yang cukup
drastis, dari 660 oC hingga 450 oC. Namun, hal ini tidak menjadikan aluminium paduan dapat ditempa
menggunakan panas dengan mudah karena korosi akan terjadi pada suhu di atas 60 oC. Keberadaan
magnesium juga menjadikan logam paduan dapat bekerja dengan baik pada temperatur yang sangat
rendah, di mana kebanyakan logam akan mengalami failure pada temperatur tersebut

C. Paduan Aluminium-Tembaga
Paduan aluminium-tembaga juga menghasilkan sifat yang keras dan kuat, namun rapuh. Umumnya,
untuk kepentingan penempaan, paduan tidak boleh memiliki konsentrasi tembaga di atas 5,6% karena akan
membentuk senyawa CuAl2 dalam logam yang menjadikan logam rapuh

D. Paduan Aluminium-Mangan
Penambahan mangan memiliki akan berefek pada sifat dapat dilakukan pengerasan tegangan dengan
mudah (work-hardening) sehingga didapatkan logam paduan dengan kekuatan tensil yang tinggi namun
tidak terlalu rapuh. Penambahan mangan akan meningkatkan titik lebur paduan aluminium.

E. Paduan Alumunium-Seng
Paduan aluminium dengan seng merupakan paduan yang paling terkenal karena merupakan bahan pembuat
badan dan sayap pesawat terbang. Paduan ini memiliki kekuatan tertinggi dibandingkan paduan lainnya,
aluminium dengan 5,5% seng dapat memiliki kekuatan tensil sebesar 580 MPa dengan elongasi sebesar
11% dalam setiap 50 mm bahan.

F. Paduan Aluminium-Besi

Besi (Fe) juga kerap kali muncul dalam aluminium paduan sebagai suatu "kecelakaan". Kehadiran besi
umumnya terjadi ketika pengecoran dengan menggunakan cetakan besi yang tidak dilapisi batuan kapur atau
keramik. Efek kehadiran Fe dalam paduan adalah berkurangnya kekuatan tensil secara signifikan, namun
diikuti dengan penambahan kekerasan dalam jumlah yang sangat kecil. Dalam paduan 10% silikon,
keberadaan Fe sebesar 2,08% mengurangi kekuatan tensil dari 217 hingga 78 MPa, dan menambah skala
Brinnel dari 62 hingga 70. Hal ini terjadi akibat terbentuknya kristal Fe-Al-X, dengan X adalah paduan
utama aluminium selain Fe.
Paduan

Komposisi (%)

Kekuatan
Tensil (MPa)

Elongasi (%) pada 50


mm bahan

1100

99,00 Al

90-170

5-35

3003

1,2 Mn

110-200

4-30

3004

1,2 Mn, 1,0 Mg

180-290

5-20

5052

2,5 Mg, 0,2 Cr

195-295

8-30

5056

5,2 Mg, 0,1 Mn,


0,1 Cr

295-440

10-35

Tabel 2. Sifat aluminium tempa pada tiga jenis paduan dengan komposisi yang berbeda-beda.
Perlu diperhatikan bahwa elongasi berbanding terbalik dengan kekuatan tensil.

Kelemahan aluminium paduan adalah pada ketahanannya terhadap lelah (fatigue). Aluminium paduan tidak
memiliki batas lelah yang dapat diperkirakan seperti baja, yang berarti failure akibat fatigue dapat muncul
dengan tiba-tiba bahkan pada beban siklik yang kecil.

G. Aluminium Paduan Cor


Aluminium dapat dicor di cetakan pasir/tanah liat, cetakan besi, atau cetakan baja dengan diberi tekanan.
Logam cor dapat lebih cepat mengeras jika dicor dengan cetakan logam, sehingga akan menghasilkan efek
yang sama seperti efek quenching, yaitu memperkeras logam.
Komposisi utama Aluminium paduan cor pada umumnya adalah tembaga, silikon, dan magnesium. Al-Cu
memberikan keuntungan yaitu kemudahan dalam pengecoran dan memudahkan pengerjaan permesinan. Al-Si
memmberikan kemudahan dalam pengecoran, kekuatan, ketahanan pada temperatur tinggi, dan pemuaian
yang rendah. Sifat pemuaian merupakan sifat yang penting dalam logam cor dan ekstrusi, yang pada
umumnya merupakan bagian dari mesin. Al-Mg juga memberikan kekuatan, dan lebih baik dibandingkan AlSi karena memiliki ketahanan yang lebih tinggi hingga logam mengalami deformasi plastis (elongasi). Namun
konsentrasi lebih dari 10% dapat mengurangi kemudahan dalam pengecoran.

PENGAPLIKASIAN ALUMUNIUM
Aluminium adalah logam non-besi yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Produksi global
dunia pada tahun 2005 mencapai 31,9 juta ton, melebihi produksi semua logam non-besi lainnya
(Hetherington et al, 2007). Aluminium memiliki rasio kekuatan terhadap massa yang paling tinggi,
sehingga banyak digunakan sebagai bahan pembuat pesawat dan roket. Aluminium juga dapat menjadi
reflektor yang baik, lapisan aluminium murni dapat memantulkan 92% cahaya.
Macam-macam pengaplikasian Alumunium dalam kehidupan manusia adalah sebagai berikut :
A. Paduan aluminium-magnesium umumnya digunakan sebagai bahan pembuat badan kapal. Paduan
lainnya akan mudah mengalami korosi ketika berhadapan dengan larutan alkali seperti air laut.

B. Paduan Alumunium Tembaga - Lithium digunakan sebagai bahan pembuat tangki bahan bakar pada
pesawat ulang-alik milik NASA

C. Paduan Al-Cu digunakan sebagai bahan pembuatan beberapa roda gigi. Penggunaan paduan Cu
untuk mendapatkan tingkat kekerasan yang cukup dan memperpanjang usia benda akibat fatigue.