Anda di halaman 1dari 16

Nervus I ( Olfaktorius )

Syarat
Sadar penuh
Tidak ada sumbatan lubang hidung kanan dan kiri
Mengenali bau

Nervus 1 menempel pada bulbus olfaktorius bersinaps traktus


olfaktorius
Fungsinya menghidu rangsangan ( sensorik )
Nervus 1 sering rusak karena reseptornya putus sering terjadi pada
Trauma / Kecelakaan
Tumor
Radang selaput otak ( meningitis )

Pemeriksaan
Inspeksi lubang hidung apakah ada sumbatan atau kelainan
pada hidung ( ingus, polip, bekuan darah, atau nanah)
Di tes lubang hidung kanan dan kiri
Memakai zat pengetes yang tidak merangsang mukosa hidung (
N.V Mentol, Amoniak, dan cuka ) dan zat yang mudah di
kenal kopi, tembakau, teh, jeruk
Zat pengetes didekatkan di hidung pasien dan pasien disuruh
menciumnya. Tiap lubang hidung diperiksa satu per satu
dengan menutup lubang hidung yang lainnya dengan tangan

Gangguan fungsi penhidu dapat berupa


Anosmia Hilangnya penciuman / tidak dapat membaui
misalnya pada trauma lobus frontalis )
Hiposmia Kemampuan menghidu menurun / berkurang
Hipersomia Meningkatnya kemampuan menghidu di jumpai
pada hiperemesis gravidarum, migren
Normosmia Kemampuan hidung normal, tidak ada
gangguan
Parosomia Tidak dapat mengenali bau-bau, salah
menghidu)
Kokosmia Mempersepsi ada bau busuk padahal tidak ada
Halusinasi penciuman Berupa bau tidak enak pada
serangan epilepsi jenis parsial kompleks yang berasal dari
girus uncinat pada lobus temporal

Nervus II ( N. Optikus )
Pemeriksaan nervus 2 dibagi menjadi
Ketajaman penglihatan mata ( Visus )
Lapangan pandang

Pemeriksaan Visus
Pemeriksaan visus dibagi menjadi dua secara kasar dan dengan kartu
snellen

Secara Kasar
Dengan membandingkan ketajaman penglihatan pasien dengan
pemeriksa yang dianggap normal.

Dengan Kartu snellen


Dengan cara meminta pasien membaca huruf snellen dari jarak 6 m.
Tentukan sampai baris mana dapat dibaca pasien.

Gangguan ketajaman penglihatan bisa disebabkan oleh


Penurunan visus
Kelainan ofltalmologik Uveitis, katarak, kelainan kornea, kelainan
refraksi

Pemeriksaan lapangan pandang


Secara kasar
Dengan alat pemeriksaan (Kampimetri,Perimetri,LayarByerrum)

Secara Kasar
Dengan cara membandingkan lapang pandang pemeriksa yang
dianggap normal dengan METODE KONFRONTASI DARI DONDER
( Bed Side )

Laporan :
Baik / Sama dengan pemeriksa
Bila sulit dinilai yaitu pada pasien tidak kooperatif laporkan sulit
dinilai
Bila tidak diperiksa / tidak dapat diperiksa laporkan tidak diperiksa

Kelainan Nervus 2 :
Ambliopi ( buta pada sisi yang rusak )
Rusaknya n. 2 didepan chiasma optikum sebelum persilangan

Hemianopsia Bitemporal
Berkurangnya penglihatan pada lapangan pandang kedua mata
pada sisi yang berbeda yaitu sisi lateral (kerusakan dichiasma optikum
kemungkinan tumor hipofisis)

Hemianopsia homonim
Berkurangnya penglihatan pada lapangan pandang kedua mata
pada sisi yang sama ( Kerusakan traktus optikus )

Right homonymous hemianopsia


Tumor pada traktus optikus kiri

Right homonymous quadrantanopsia


Lesi pada gemikulo kalkarina bagian parietal

Nervus V
Membuka dan menutup mulut
Otot untuk menutup mulut :
M. Maseter
M. Temporalis(menarik rahang kebelakang)
M. Pterigoid medialis

Otot untuk membuka mulut dan menggerakkan rahang bawah ke samping (lateral):
M.Pterigoideus Lateralis.
Menggerakkan rahang bawah ke depan terjadi oleh kontraksi M.Pterigoideus
lateralis dan M.Pterigoideus medialis

Pada lesi :
LMN : dagu akan berdeviasi ke arah lesi(ipsilateral)
UMN : dagu akan berdeviasi ke kontra
Laporan : baik/tidak

Gerakan rahang
Pasien disuruh membuka mulut dan perhatikan apakah ada deviasi
rahang bawah.
Bila ada parese maka rahang bawah akan berdeviasi ke arah yang
lumpuh.
Pasien disuruh menggerakan rahang bawah ke samping(utk
menilai M.pterigoideus lateralis) kiri dan kanan. Bila terdapat
parese disebelah kanan. Rahang bawah tidak dapat digerakkan ke
samping kiri.
Cara pemeriksaan lain : pasien disuruh mempertahankan rahang
bawahnya ke samping dan kita beri tekanan untuk
mengembalikan rahang bawahnya ke posisi tengah (laporannya :
baik/tidak)

Sensibilitas
Pemeriksaannya : dibandingkan kanan dan kiri dg
menanyakan pd pasien rasanya sama atau tidak.
Laporannya : sensibilitas N.V1?
Rasa nyeri dg memakai jarum
Rasa suhu dg memakai tabung reaksi yg reaksi yg diisi air
kurang lebih 7 derajat celcius dibawah suhu tubuh
Rasa raba dg memakai kapas
Laporannya : kanan sama baik dengan kiri/tidak sama

Refleks
Refleks kornea
Cara pemeriksaan : pasien tdk boleh melihat datangnya
kapas, shg pasien disuruh melirik ke arah berlawanan dg arah
datangny kapas (lateral superior). Kemudian dari arah lain,
kornea mata disentuh dg sepotong kapas (os diminta untuk
melirik ke arah kanan atas, kapas disentuhan pada kornea
mata kiri dan sebaliknya).
Tangan kiri pemeriksa menunjukan arah lirikan pasien dan
penderita diminta untuk memfiksasi pandangannya pada jari
tangan kiri pemeriksa. Hasilnya dipejamkannya mata(M.
orbicularis okuli) dan sebaliknya.
Cara tidak langsung : sentuhan kapas pd kornea mata kiri
akan menimbulkan reflex menutup mata(kedipan) pada mata

Sistem refleksnya :

Afektor : mukosa kornea


Aferen : N.V cabang I
Pusat reflex kornea : pons
Eferen : N. VII
Efektor : M.Orbicularis Oris(menutup mata)

Laporannya : +/Bila hasil brarti gangguan pada


N.V1
Kelumpuhan M.Orbikularis okuli yg dipersyarafi oleh N.VII

Nervus VII
Ada 2 tipe yaitu
Perifer

Sifatnya LMN
Tidak dapat mengerutkan dahi
Lagoftalmus
Augesia
Sulcus nasolabialis mendatar pada sisi sakit

Sentral

Sifatnya UMN
Dapat mengerutkan dahi
Lagoftalmus
Sulcus nasolabialis mendatar pada sisi sehat

Sikap wajah dalam istirahat


Laporannya : simetris/tidak

Mimik
Laporannya : biasa/

Angkat alis
Laporannya : Baik(kanan=kiri)/tidak

Kerut dahi
Laporannya : Baik(kanan=kiri)/tidak
Pada kelumpuhan jenis supranuklir seisi penderita masih dapat mengangkat alis dan
mengerutkan dahi sebab otot2 ini mendapat persyarafan bilateral. Pada kelumpuhan
jenis perifer terlihat adanya asimetri.

Tutup mata dengan kuat


Cara pemeriksaan : pasien disuruh memejamkan mata sdgnkan tangan pemeriksa
mengangkat kelopak mata pasien. Suruh pula pasien memejamkan mata satu persatu
Hasil : bila lumpuh berat maka OS tdk dapat memejamkan mata, bila lumpuh ringan
maka tenaga pejaman kurang kuat.
Laporannya : baik(kuat)/tidak

Kembung pipi
Laporannya: baik/tidak

Menyeringai
Cara pemeriksaan : suruh penderita menyeringai, perhatikan,
bisa/tidak, kmd perhatikan pula sudut mulut OS, simetri/tidak.
Pada pasien tidak sadar/tdk kooperatif dpt dibuat menyeringai
dgn menekan sudut rahang(M. Maseter)
Laporannya : sulcus nasolabialis kanan sama dgn kiri

Gejala chovtek
Dilakukan dgn mengetok N.VII, ketokan dilakukan dibagian
depan telinga.
Bila +, ketokan akan menyebabkan kontraksi otot yang
dipersyarafinya. Bisa terdpt pada org normal dan pasien
tetani.

Rasa kecap lidah 2/3 depan


Syarat : pasien tidak boleh bicara, pakai tanda jari tangan sesuai dg
petunjuk yaitu:

Asam dg cuka ibu jari


Asin dg Garam telunjuk
Manis dg gula jari manis
Pahit dg kina jari tengah

Kemudian dikasih 1 tetes zat dilidahnya. Setelah selesai 1 zat pasien


harus berkumur2, istirahatkan lidah 5 menit, kemudian lakukan tes dgn
zat yang berbeda.
Laporannya : Normoaugesia/Augesia/Hipoaugesia
Catatan :
Motorik lidah : N.XII
Sensorik lidah : N.V Cabang 3 yaitu N.Mandibularis
Daya pengecapan lidah:
N.VII untuk 2/3 depan lidah
N.IX untuk 1/3 belakang lidah