Anda di halaman 1dari 32

Laporan kasus

SCABIES

Pembimbing : dr. Bowo Wahyudi, Sp.KK


Laras asri fatahani

Identitas pasien
Nama

Tn. M

Umur

35 tahun

Jenis Kelamin

laki - laki

Alamat

Cangkring RT/RW 02/01

Kel. Rawawangi, Kec. Banjarsari


Agama

Islam

Status marital :

Menikah

Pekerjaan

Karyawan Swasta

Tanggal MRS

21 November 2016

Keluhan utama

Timbul bruntus-bruntus kemerahan yang


bertambah banyak disertai rasa terasa gatal
terutama pada malam hari di kedua sela-sela
jari tangan, lipatan paha (selangkangan) sejak
1 minggu SMRS.

Riwayat penyakit sekarang

Pasien tinggal di daerah tropis lingkungan padat


penduduk dan antara 1 rumah jaraknya berdekatan
sekitar 3-5 meter, dengan rumah permanen
tembok, lantai dari keramik, dan beratap genteng.

Pemeriksaan fisik
Keadaan Umum :

Sakit ringan

Kesadaran

Composmentis

Tanda vital
Nadi

82 x/menit, irama nadi teratur, regular

RR

18 x/menit

Suhu

36,60C

Kepala
Mata

Normocephal, rambut bewarna hitam distribusi


merata, tidak mudah dicabut
Konjungtiva anemis (-/-), konjungtiva hiperemis (-/-), sklera
ikterik

Hidung

(-/-), refleks pupil (+/+) isokor


Deviasi septum (-), sekret (-/-), nyeri tekan (-/-)

Telinga
Mulut

Normotia, serumen (-/-), nyeri tekan (-/-)


Mukosa bibir kering (-), stomatitis (-), faring tidak hiperemis,
pembesaran tonsil (-)

Leher
Thoraks

Pembesaran KGB (-)


Simetris, retraksi dinding dada (-/-), suara napas vesikuler (+/
+), lendir (-/-), ronkhi (-/-), wheezing(-/-). Bunyi jantung I dan
II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Perut supel, scar (-) lesi kulit (+) (liat status dermatologi),
tidak terdapat pembesaran, BU (+), perkusi timpani
Ekstremitas Akral hangat, udem (-/-), pucat (-), RCT < 2 detik, lesi kulit (+)

Distri

Status
dermatologikus
Regional, Bilateral

busi
A/R

Kedua sela-sela jari tangan, perut bagian


bawah, bokong, lipatan paha (selangkangan),
kedua lutut, kedua sela-sela jari kaki

Lesi

Multiple, diskret, berbentuk bulat, berbatas


tegas, sebagian menimbul di permukaan kulit,
sebagian tidak menimbul di permukaan kulit,
ukuran terkecil 0,2 cm x 0,2 cm x 0,1 cm dan
ukuran terbesar 0,5 cm x 0,3 cm x 0,3 cm,
tampak kering

Eflore

Makula

eritematosa,

papul

sensi

erosi,ekskoriasi, skuama kasar,

eritematosa,

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan mikroskopik dengan
KOH 10 % mencari Sarcoptes Scabiei
dewasa, larva, telur dengan preparat
kaca objek, lalu di tutup cover glass
dilihat dengan mikroskop.

Resume

Distribusi
A/R

Pada status dermatologikus didapatkan :

Regional, Bilateral
Kedua sela-sela jari tangan, perut bagian bawah,
bokong, lipatan paha (selangkangan), kedua lutut,
kedua sela-sela jari kaki

Lesi

Multiple, diskret, berbentuk bulat, berbatas tegas,


sebagian menimbul di permukaan kulit, sebagian
tidak menimbul di permukaan kulit, ukuran terkecil
0,2 cm x 0,2 cm x 0,1 cm dan ukuran terbesar 0,5
cm x 0,3 cm x 0,3 cm, tampak kering

Efloresens

Makula

eritematosa,

papul

ekskoriasi, skuama kasar.

eritematosa,

erosi,

Diagnosis kerja
Skabies

Non medikamentosa

Medikamentosa
1. Permetrin krim 5%
2. Loratadine 10 mg 1 dd 1

Prognosis

Quo ad vitam
: ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
Quo ad sanationam : ad bonam

Analisa Kasus

Berdasarkan usia
Prevalensinya berkisar antara 6-27% dari populasi umum dan
cenderung lebih tinggi pada anak dan remaja. Namun penyakit ini
dapat mengenai semua kalangan usia.
Diperkirakan 300 juta orang diseluruh dunia telah terinfeksi.
Sarccoptes scabiei menyerang semua tingkat sosio-ekonomi.

Pasien laki-laki dan pekerjaan karyawan swasta, usia 35 tahun.

Berdasarkan epidemiologi
Skabies ditemukan di semua negara.
Daerah endemik skabies adalah di daerah tropis dan
subtropis.
Faktor primer yang berkontribusi adalah kondisi hidup di
daerah yang padat.

Pasien tinggal di rumah bersama dengan istri, 3 orang anak, di


daerah tropis (Indonesia) lingkungan padat penduduk
dan antara 1 rumah jaraknya berdekatan sekitar 3-5
meter.

Berdasarkan predileksi
Predileksi
:
tempat
dengan
stratum korneum yang tipis, yaitu
sela-sela jari tangan, pergelangan
tangan bagian polar, siku bagian
luar, lipatan ketiak bagian depan,
areola mammae (wanita), umbilikus,
bokong, genital eksterna (pria), dan
perut bagian bawah. Pada bayi
dapat menyerang telapak tangan dan
telapak kaki.

Keluhan gatal dan menyerang secara berkelompok

Beberapa faktor perkembangan penyakit skabies

Faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini,


antara lain: higiene yang buruk, kesalahan diagnosis, dan
perkembangan dermografik serta ekologi.
Pasien mengatakan:
Kasur dirumahnya jarang dijemur dibawah sinar
matahari 3 bulan sekali dijemurnya
Seprei yang digunakan 1 bulan sekali dicuci.
Penggunaan alat mandi (sabun batang) secara
bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga nya
dan handuk yang setelah digunakan jarang dijemur
dibawah sinar matahari.

Efloresensi yang bisa ditemukan pada penyakit skabies

Dapat berupa papul, nodul, vesikel, urtika dan lainnya.


Akibatgarukan yang dilakukan oleh pasien dapat timbul
erosi, ekskoriasi, krusta hingga terjadinya infeksi sekunder
ruam kulit menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi, krusta,
erosi dan lain-lain).

Pada pemeriksaan fisik kasus ini didapatkan


efloresensi berupa makula eritematosa, papul
eritematosa, dan akibat seringnya digaruk
karena gatal maka timbul erosi, ekskoriasi
pada lesi, skuama kasar

Tanda-tanda
Cardinal
menegakkan
diagnosis Skabies

Berdasarkan pemeriksaan penunjang

Hasil Pemeriksaan Kerokan kulit


dengan KOH 10% :
ditemukan nya Sarcoptes Scabiei dewasa.

Penatalaksanaan Medikamentosa
Permethrin krim
5%

Loratadine 10
mg 1 dd 1

suatu
skabisid
berupa
piretroid
simetris yang efektif pada manusia
dengan toksisitas rendah

Antihistamin trisiklik yang bekerja lama


dengan aktivitas antagonis terhadap
reseptor H1 (reseptor histamine 1)
Mengurangi rasa gatal

Quo Ad vitam: Ad Bonam Tidak ada


gejala atau tanda yang mengarah kepada
ancaman
kematian.
Keadaan
umum,
kesadaran, dan tanda vital pasien masih
dalam batas normal.
Quo Ad functionam: Ad Bonam tidak
menimbulkan lesi yang
mengganggu
fisiologis kulit secara bermakna.
Quo Ad Sanactionam: Ad Bonam
Dengan menghilangkan faktor predisposisi
maka penyakit ini dapat diobati secara
tuntan dan sembuh.

DAFTAR PUSTAKA

Handoko,
P. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin Edisi Keenam. Penyakit Kulit : Penyakit Parasit Hewani. Jakarta:
FKUI. 2015. Hal : 122-125

Kartowigno, S. 10 Besar Kelompok Penyakit Kulit. Edisi Pertama. Palembang : Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya. 2011. Hal : 167-173

Sungkar, S. Srirasi., Herry, D. Penyakit yang Disebabkan Artropoda : Parasitologi Kedokteran. Edisi III.
Fakultas Kedokteran UI Jakarta. 2010. Hal : 264-267

Stone, S.P., Goldfarb, J,N., Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 7th edition. McGraw Hill, New York:
2008. Hal : 2029-2037

Murtiastutik, D. Skabies. Buku Ajar Infeksi Menular Seksual, edisi ke 1. Surabaya. Airlangga University
Press. 2008. Hal : 202-208

Golant, A,K., Levitt, J., Scabies : A review Diagnosis and Management Based on Mite Biology. New York :
Departemen of Dermatology .2012. hal 1-12

Marks, J.G., and Miller. Principles of Dermatology, 4 edn, Elsevier, Philadephia. 2006. Hal : 236-239

Chosidow, Oliver, Scabies. The New England Journal of Medicine. 2006. Hal : 27-28

Wyatt. El., Sutter, S,H., Drake L.,A., Dermatological Pharmacology. In Hardman JG, Limbird IE, eds Goodman
and Gillmans the pharmocological basis of theraupetic. 10th ed. New York: McGraw Hill. 2001. Hal : 795814

Wolff K., Goldsmith, L. Dermatology in general Medicine.7th ed. New York: McGraw Hill. 2010. Hal :1205

Gunawan, Sulistia, Gan., 2008. Farmakologi dan Terapi, edisi 5. Jakarta: FKUI. Hal : 664-673.

Terimakasih