Anda di halaman 1dari 14

PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

Dr. Ir. Restu Juniah, MT

PERTAMBANGAN BATUBARA DAN PERMINYAKAN


By. Ir. Restu Juniah, MT

PUSAT STUDI LINGKUNGAN HIDUP


UNIVERSITAS JAMBI
APRIL, 2010

Undang Undang No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan


Batubara, mendefinisikan usaha pertambangan sebagai kegiatan
pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi tahapan kegiatan
penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan,
pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta
pascatambang.

Usaha pertambangan terbagi atas dua kelompok yaitu:


Pertambangan mineral, yaitu pertambangan bijih atau batuan, di luar panas
bumi, minyak dan gas bumi, serta air tanah.
Pertambangan batubara, yaitu pertambangan endapan karbon yang terdapat
di dalam bumi, termasuk bitumen padat, gambut, dan batuan aspal.

PENYELIDIKAN UMUM
EKSPLORASI

NPV > 0

STUDI KELAYAKAN (FEASIBILITY STUDY)

PEMBUKAAN TAMBANG
(MINE DEVELOPMENT)

ARSIP/ DOKUMENTASI

()

PENGGALIAN
PENAMBANGAN/EKSPLOITASI

PEMUATAN
PENGANGKUTAN

MINERAL

PENGOLAHAN BAHAN GALIAN


(MINERAL DRESSING
/ORE DRESSING)

BATUBARA

EKSTRAKSI METALURGI

Gamba1 Diagram Pegiatan Pertambangan

PEMASARAN

Penyelenggaraan kegiatan pertambangan didasarkan pada tiga ketentuan berikut:


Hak Milik (mineral right), tercantum pada Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945, dimana
bumi dan air serta seluruh kekayaan alam yang ada di dalamnya (termasuk bahan
tambang) adalah hak milik Bangsa Indonesia.
Hak Penguasaan (mining right), tercantum pada Pasal 2 Ayat (2) UU No. 5 tahun
1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, dimana Negara diberikan "hak
penguasaan" atas kekayaan alam milik Bangsa Indonesia agar dapat digunakan
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Hak Pengusahaan (economic right) sebagaimana tercantum dalam UU No. 4 tahun
2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, bahwa badan
usaha/perorangan adalah pelaksana "pengusahaan" pertambangan mineral dan
batubara (minerba).

Berdasarkan Pasal 2 UU 4/2009, pelaksanaan kegiatan


pertambangan minerba didasarkan pada 4 (empat) azas
berikut ini:

Azas manfaat, keadilan, dan keseimbangan;


Azas keberpihakan kepada kepentingan bangsa;
Azas partisipatif, transparansi, dan akuntabilitas;
Azas berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Dasar hukum kegiatan pertambangan, selain berlandaskan pada UU


No. 4/2009, juga berlandaskan pada peraturan perundangan yang
berlaku di bawah ini:

Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 2010 tentang Wilayah


Pertambangan;
Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 2010 tentang Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara;
Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 2010 tentang Pembinaan dan
Pengawasan
Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara.

Lingkup usaha pertambangan terdiri atas 5 (lima) jenis


pertambangan yaitu:
Pertambangan mineral radioaktif;
Pertambangan mineral logam;
Pertambangan mineral bukan logam;
Pertambangan batuan; dan
Pertambangan batubara.

Peraturan Terkait Kegiatan


Pertambangan

Untuk dapat melaksanakan kegiatan pertambangan,


badan usaha atau perorangan harus memperoleh Izin
Usaha Pertambangan (IUP) dari Pemerintah sesuai Pasal
22-46 Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 2010.
Pemberian IUP terbagi menjadi 2 (dua):

IUP Eksplorasi, meliputi kegiatan penyelidikan umum,


eksplorasi, dan studi
kelayakan.
IUP Operasi Produksi, meliputi kegiatan konstruksi,
penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta
pengangkutan dan penjualan.

IUP Eksplorasi dan Operasi Produksi berlaku untuk 4


(empat) jenis bahan galian tambang, yaitu (i) mineral
logam; (ii) batubara; (iii) mineral bukan logam; dan (iv)
batuan.