Anda di halaman 1dari 20

Kebijakan Pengelolaan Sumber

Daya Alam Suatu Tantangan


Dalam
Pembangunan Berkelanjutan
Syaifudin Zakir

Fakta Indonesia
Luas daratan 1,9 juta kilometer persegi

tersebar di 17.000 buah pulau.


Luas lautan 5,8 juta kilometer persegi.
Hampir semua ibukota provinsi terletak di
wilayah pantai/perairan.
65 % penduduk tinggal di wilayah pesisir
dengan panjang pantai total sebesar 81.000
km.
Negara kepulauan yang rentan terhadap
perubahan iklim

Konsentrasi gas CO2 (dunia):


265-285 ppm dari tahun 1750-1800 (sebelum
Revolusi Industri).
365 ppm pada tahun 1996.
diprediksi > 600 ppm pada tahun 2100 (KLH,
2007).
Negara kepulauan dengan pantai terpanjang

di dunia
Hutan terluas ketiga di dunia dengan
berbagai kekayaan flora, fauna, plasma nutfah
yang sangat berguna sehingga dikenal
sebagai mega-biodiversity country.
Belum mampu menjaga kelestarian
keanekaragaman hayati.

Masalah Kita
Menjaga keberlangsungan pembangunan melalui

penjagaan keberlangsungan keanekaragaman hayati


sehingga dapat dinikmati selama mungkin bagi
bangsa Indonesia dari satu generasi ke generasi
berikutnya.
Meminimalisir dampak negatif pembangunan melalui
perencanaan, pengelolaan dan aplikasi yang baik, dan
kolaborasi dan kerjasama antara pemerintah,
masyarakat lokal dan perusahaan untuk memberikan
keluaran terhadap keanekaragam yang optimum.

Harmonisasi lingkungan dan kegiatan

pembangunan seperti pertambangan,


perkebunan, real estate, dst. yang sangat
diperlukan untuk menjaga keseimbangan dan
keselerasan antara kawasan lindung (hutan)
dan budidaya (pertambangan, perkebunan,
real estate, dst.) sebagai komponen dari
lingkungan hidup belum berjalan dengan baik.

Perubahan Pola Pikir


Keanekaragaman hayati sangat dipengaruhi

oleh pemahaman, budaya dan kesadaran untuk


menjaga harmonisasi antar kepentingan aspek
kebutuhan ekonomi, kebutuhan sosial dan
kondisi lingkungan.
Melalui prinsip-prinsip ekologi:
1.
2.
3.
4.
5.

Interaksi (interaction),
Saling kebergantungan (interdependency),
Keanekaragaman (diversity),
Keharmonisan (harmony),
Kemampuan berlanjut (sustainability).

Tren dan Penyebab Kemunduran


Kehilangan sumber daya hayati merupakan suatu proses

yang alami, namun dalam kenyataannya laju penurunan


yang sangat tajam justru terjadi akibat dari kegiatan
manusia.
Laporan KLH tahun 2009:
1/3 kawasan hutan Indonesia tidak lagi memiliki pohon di

atasnya,
luas lahan kritis mendekati 60 juta hektar yang mengarah
pada deforestasi.
Kawasan laut di Indonesia, tinggal 30 persen terumbu
karang di laut Indonesia dalam keadaan baik,
40 persen masuk dalam kategori rusak sedang,
30 persen rusak parah.

Tantangan utama penyelamatan

keanekaragaman hayati di Indonesia:


(a) kenaikan jumlah penduduk;
(b) deforestasi dan kebakaran hutan;
(c) eksploitasi berlehihan di hutan dan di laut;
(d) fragmentasi dan perusakan habitat.

Penyebab Utama dan


Pendorong Dalam
Kepunahan
1. Kebijakan pembangunan yang lebih

mengutamakan pertumbuhan ekonomi dan


mengabaikan keseimbangan ekosistem, dan
keengganan menggunakan ukuran-ukuran
integritas ekosistem.

2. Marjinalisasi masyarakat miskin dan

masyarakat adat dan/atau masyarakat lokal


pemangku kepentingan keberlanjutan
ekosistem dan sumber daya alam.
Pembangunan yang mengutamakan
pertumbuhan juga memprioritaskan pemilik
modal dan memarjinalisasi masyarakat
miskin dan masyarakat adat/lokal.

3. Eksploitasi sumber daya alam secara

berlebihan baik di hutan maupun di laut,


dengan mengabaikan kaidah-kaidah
kelestarian.

4. Korupsi dan keseluruhan tata kelola sumber

daya alam yang buruk (bad natural


resources governance) terkait dengan
konversi hutan, alokasi dan distribusi akses
terhadap sumber yang menghambat
masyarakat Indonesia untuk dapat bisa maju
dan sejahtera bersama-sama.

Strategi Penyelamatan
1. Menetapkan atau menyepakati ukuran yang

digunakan sebagai indikator keanekaragaman hayati


(matrices) sebagai adaptasi dari pendapat orangorang bisnis yang selalu mengatakan anda tidak akan
dapat mengelola hal-hal yang tidak dapat anda ukur.
2. Menciptakan harga bagi kegiatan internasional dan
upaya penyelamatan keanekaragaman hayati. Pasar
sebagai instrumen alokasi sumber daya secara
ekonomis, tidak dapat memastikan penggunaan
sumber daya secara efisien untuk barang dan jasa
yang tidak ada harganya.

3. Pengembangan berbagai instrumen, mekanisme dan

kelembagaan untuk memastikan balas jasa lingkungan


(payment for ecosystem services, PES) untuk
keanekaragaman hayati yang berasal dari pajak atau
kewajiban kompensasi disalurkan dan digunakan untuk
kegiatan penyelamatan keanekaragaman hayati.
Mekanisme pengukuran, pelaporan, dan pemantauan
yang kredibel (MRV/measurable, reportable and
verifiable).
Mekanisme sertifikasi penciptaan kredit keanekaragaman
hayati (biodiversity credit) sebagaimana yang telah
dilakukan oleh perusahaan di Sabah, Malaysia yang dapat
dikaitkan dengan inisiatif REDD (Reducing Emissions from
Deforestation and Degradation) yaitu usaha
penyelamatan hutan untuk mengurangi emisi yang secara
bersamaan memberikan manfaat dari sisi
keanekaragaman hayati.

Pengembangan biodiversity banking untuk

memfasilitasi perdagangan kredit


keanekaragaman hayati.
Penetapan aturan-aturan terkait dengan
biodiversity offset bagi perusahaan tambang,
kehutanan, real estate untuk perumahan dan
bisnis (Australia, Amerika Serikat, Belanda).
Mekanisme transfer langsung
pembayaran/kompensasi pada tingkat lokal.
Pengembangan organisasi lokal yang effektif
untuk pengelolaan ekosistem.

4. Perlunya dukungan penuh dari pemerintah

yang memiliki keanekaragaman hayati untuk


menerapkan kebijakan No Net Loss atau Net
Positive Impact on Biodiversity.

Keniscayaan
Kebijakan pengelolaan sumber daya alam dalam

pembangunan yang berkelanjutan, harus senantiasa


memperhatikan ekosistem dan keanekaragaman
hayati, yaitu alam dengan segala jaringan
kehidupannya yang akan mementukan setiap aspek
kehidupan manusia di muka bumi.
Tanpa ekosistem dan keanekaragaman hayati kita tidak
dapat memiliki ketahanan nasional, yang ditentukan
oleh keberadaan air, ketersediaan makanan dan
nutrisi, dan kelimpahan energi. Perubahan iklim,
bencana alam, munculnya penyakit menular semua
terkait dengan keanekaragaman hayati.

Paradigma pembangunan yang hanya

menekankan aspek ekonomi, dan


kesejahteraan dari konsumsi materi telah
mengabaikan dan merusak ekosistem dan
keanekaragaman hayati, untuk itu sistem
kebijakan yang diambil harus senantiasa
mengaitkan pada tatanan global yang
semakin merapatkan pendekatannya pada
lingkungan hidup dan sumber daya alam yang
harus mampu melindungi keanekaragaman
hayati dari ancaman kepunahan.

TERIMA KASIH