Anda di halaman 1dari 57

BIAYA PRODUKSI DAN

LAPORAN HARGA
POKOK PRODUKSI
Oleh :

Indrayeni

Universitas Dharma Andalas


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Program Studi Akuntansi

BIAYA PRODUKSI
Biaya produksi (manufacturing
cost) biaya yang terjadi pada fungsi
produksi, yaitu fungsi yang mengolah
bahan baku menjadi barang jadi.
Proses Produksi

Bahan
baku

Pabrik
Tenaga kerja langsung,
tenaga kerja tidak langsung,
bahan penolong, fasilitas
pabrik
Biaya Produksi dan Laporan HPP

Barang
jadi
2

BIAYA PRODUKSI
Tiga komponen biaya produksi:
Biaya bahan baku (direct raw
material cost)
Biaya tenaga kerja langsung (direct
labor cost)
Biaya overhead pabrik (factory
overhead cost)
BBBL + BTKL = Biaya utama
BTKL + BOP = Biaya konversi
Biaya Produksi dan Laporan HPP

BIAYA BAHAN BAKU

Biaya Produksi dan Laporan HPP

Pembebanan Bahan Baku Pada


Produk
Biaya Bahan
Baku
Biaya Bahan
Baku Tidak
Langsung

Biaya Bahan
Baku Langsung

Biaya overhead
pabrik

Produk
Biaya Produksi dan Laporan HPP

PERHITUNGAN HARGA POKOK


BAHAN BAKU LANGSUNG

Biaya Produksi dan Laporan HPP

Pembebanan biaya langsung


dan biaya tidak langsung ke
bahan baku langsung
Biaya langsung:
Harga beli bahan
baku dan
potongan harga

Biaya tidak langsung:


Ongkos angkut, biaya
pembelian, biaya asuransi,
biaya gudang dan biaya
akuntansi.

Cost Driver

Bahan baku langsung


Biaya Produksi dan Laporan HPP

Cost driver yang dapat digunakan


untuk membebankan biaya tidak
langsung ke bahan baku langsung:
Biaya tidak langsung
Ongkot angkut
pembelian
Biaya asuransi
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya

Cost driver
Berat bahan baku
langsung
Nilai bahan baku
langsung
pembelian
Jumlah pesanan
pembelian
penerimaan
Jumlah pesanan
pembelian
gudang
Luas gudang yang
terpakai
akuntansi Biaya Produksi dan
Jumlah
transaksi
Laporan HPP

Contoh:
PT Hoya Bakery membeli bahan baku pembuat roti
yang terdiri dari tepung terigu sebanyak 4.000 kg
dengan harga Rp4.000 per kg, dan gula pasir
sebanyak 1.000 kg dengan harga Rp6.000 per kg.
Ongkos angkut yang dibayarkan untuk
mengangkut bahan baku ini sebesar Rp500.000
dan biaya asuransi pengangkutan Rp220.000.
Hitunglah harga pokok per kg untuk setiap jenis
bahan baku yang digunakan, jika cost driver
berat bahan baku digunakan untuk
membebankan ongkos angkut dan nilai pembelian
untuk biaya asuransi.
Biaya Produksi dan Laporan HPP

Keterangan

Tepung terigu

Gula Pasir

Biaya langsung:
Harga beli
4.000 kg x Rp4.000

Rp16.000.000

1.000 kg x Rp6.000

Rp6.000.000

Biaya tidak langsung:


Ongkos angkut
4.000 kg x Rp100

Rp400.000

1.000 kg x Rp100

Rp100.000

Biaya asuransi
1% x Rp16.000.000

Rp160.000

1%x Rp6.000.000

Rp60.000

Total Harga pokok bahan baku


Kuantitas yang dibeli
Harga pokok per kg

Rp16.560.000

Rp6.160.000

4.000 kg

1.000.kg

Biaya Produksi dan Laporan HPP

Rp4.140

Rp6.160

10

Potongan Pembelian
Potongan perdagangan
Diberikan jika membeli barang secara tunai.
Pada saat pembelian. Rekening Persediaan Bahan Baku
Langsung dicatat pada nilai bersihnya.

Rabat
Diberikan jika membeli dalam jumlah yang besar.
Rabat tidak dicatat dalam akuntansi, karena hanya
mempengaruhi harga per unit.

Potongan tunai
Diberikan jika dibayar lebih cepat dari jangka waktu kredit yang
ditetapkan.
Pada saat pembelian, rekening Persediaan Bahan Baku
Langsung dicatat sebesar nilai brutonya karena potongan tunai
akan diterima ketika dibayar pada periode diskon.
Biaya Produksi dan Laporan HPP

11

Ongkos Angkut
Pembelian
Bila ongkos angkut dikeluarkan untuk satu
jenis bahan baku biaya langsung bahan
baku.
Misal : Dibeli bahan baku berupa gula
sebanyak 1.000 kg secara tunai dengan
harga Rp2.000 per kg dan ongkos angkut
sebesar Rp100.000.

Biaya Produksi dan Laporan HPP

12

Ongkos Angkut
Pembelian
Persediaan Bahan baku langsung
gula

Rp2.000.
000

Kas
(mencatat
pembelian
Bahan baku)
Ongkos angkut
pembelian

2.000.0
00
Rp100.0
00

Kas

100.000

(mencatat pembayaran ongkos angkut


pembelian)

Persediaan bahan baku langsung


gula
Ongkos angkut pembelian
Biaya
Produksi dan
Laporan
HPP
(mencatat pembebanan
ongkos
angkut
ke

Rp100.0
00
Rp100.0
00
13

Ongkos Angkut
Pembelian

Bila ongkos angkut dikeluarkan untuk berbagai


jenis bahan baku biaya tidak langsung bahan
baku ongkos angkut harus dialokasikan ke
masing-masing jenis bahan baku dengan
menggunakan cost driver.
Ada tiga alternatif perlakuan ongkos angkut
pembelian bahan baku:
Ongkos angkut dibebankan berdasarkan biaya
sesungguhnya
Berdasarkan berat bahan baku langsung
Berdasarkan harga beli bahan baku
langsung
Ongkos angkut dibebankan berdasarkan tarif
ditentukan dimuka
Biaya Produksi dan Laporan HPP
14

1. Ongkos Angkut Dibebankan


Berdasarkan Biaya
Sesungguhnya

Perusahaan membeli gula sebanyak 1.000 kg


dengan harga Rp2.000 per kg, tepung sebanyak
500 kg dengan harga Rp5.000 per kg, dan garam
sebanyak 3.000 kg dengan harga Rp1.000 per
kg. Untuk membeli ketiga bahan baku ini
dikeluarkan ongkos angkut sebesar Rp450.000.
Diminta:
Berapa ongkos angkut yang dibebankan ke masingmasing jenis bahan baku jika berat bahan baku dan
harga bahan baku digunakan sebagai dasar alokasi?
Berapa harga pokok per unit untuk masing-masing
jenis bahan baku?
Biaya Produksi dan Laporan HPP

15

Pembebanan berdasarkan
Berat bahan baku langsung
Total
Tarif ongkos angkut
= ongkos angkut pembelian
Total berat bahan baku langsung
= Rp450.000 / 4.500 kg
= Rp100 / kg
Pembebanan Ongkos angkut ke masing-masing bahan baku
langsung:
Gula

: 1.000 kg x Rp100

Tepung

: 500 kg x Rp100

Garam

: 3.000 kg x Rp100

Rp100.000
50.000
300.000
Rp450.000

Biaya Produksi dan Laporan HPP

16

Harga pokok bahan baku langsung per


kg setelah pembebanan ongkos angkut
pembelian adalah sebagai berikut:
Gula
Harga beli

Tepung

Garam

Rp2.000.00
0

Rp2.500.0
00

Rp3.000.00
0

100.000

50.000

300.000

2.100.000

2.550.000

3.300.000

Kuantitas yg dibeli

1.000 kg

500 kg

3.000 kg

Harga pokok per kg

Rp2.100

Rp5.100

Rp1.100

(+) ongkos angkut


Harga pokok bahan
baku

Biaya Produksi dan Laporan HPP

17

Pembebanan berdasarkan
harga beli bahan baku
langsung
Perhitungan total harga beli bahan baku langsung:
Gula
: 1.000 kg x Rp2.000
= 2.000.000
Tepung : 500 kg x Rp5.000
Garam : 3.000 kg x Rp1.000

2.500.000
3.000.000
Rp7.500.000

Total ongkos angkut pembelian


X 100%
Tarif ongkos angkut =
Total harga beli BBL
X 100%
= Rp450.000 / Rp7.500.000
= 6%
Biaya Produksi dan Laporan HPP

18

Pembebanan Ongkos angkut ke masing-masing


bahan baku langsung:
Gula
: 6% x
Rp120.000
Rp2.000.000
Tepung
: 6% x
150.000
Rp2.500.000
Garam
: 6% x
180.000
Rp3.000.000
Rp450.000

Biaya Produksi dan Laporan HPP

19

Harga pokok bahan baku langsung per


kg setelah pembebanan ongkos angkut
pembelian adalah sebagai berikut:
Gula
Harga beli

Tepung

Garam

Rp2.000.00
0

Rp2.500.0
00

Rp3.000.00
0

120.000

150.000

180.000

2.120.000

2.650.000

3.180.000

Kuantitas yg dibeli

1.000 kg

500 kg

3.000 kg

Harga pokok per kg

Rp2.120

Rp5.300

Rp1.060

(+) ongkos angkut


Harga pokok bahan
baku

Biaya Produksi dan Laporan HPP

20

2. Ongkos Angkut Dibebankan


berdasarkan Tarif
Ditentukan Di Muka
Tarif ongkos angkut ditentukan pada
awal periode, kemudian dibebankan
ke masing-masing jenis bahan baku
langsung.

AnggaranOngkosAngkutSelamaSetahun
TarifOngkosAngkut =
TaksiranKapasitasCostDriver

OngkosAngkutDibebankan=TarifOngkosAngkutxBeratBahanBakuyangDibeli

Biaya Produksi dan Laporan HPP

21

Ongkos Angkut Dibebankan


berdasarkan Tarif Ditentukan Di
Muka
Penggunaan tarif ongkos angkut berdasarkan
anggaran, menyebabkan adanya perbedaan
antara ongkos angkut pembelian yang
dibebankan ke bahan baku dengan ongkos
angkut pembelian yang sesungguhnya.
Ongkos angkut dibebankan > ongkos angkut
sesungguhnya pembebanan terlalu besar
selisih menguntungkan.
Ongkos angkut dibebankan < ongkos angkut
sesungguhnya pembebanan terlalu rendah
selisih rugi.
Biaya Produksi dan Laporan HPP

22

Contoh:
Perusahaan membeli gula sebanyak 100 kg
dengan harga Rp2.000 per kg, tepung sebanyak
50 kg dengan harga Rp5.000 per kg, dan garam
sebanyak 300 kg dengan harga Rp1.000 per kg.
Untuk membeli ketiga bahan baku tersebut
dikeluarkan ongkos angkut sebesar Rp75.000.
Anggaran ongkos angkut selama setahun
Rp10.000.000 dan taksiran berat bahan baku yang
akan dibeli selama setahun 50.000 kg.
Berapakah ongkos angkut pembelian yang
dibebankan ke bahan baku dan berapa harga
pokok masing-masing jenis bahan baku.
Biaya Produksi dan Laporan HPP

23

AnggaranOngkosAngkutSelamaSetahun
TarifOngkosAngkut =
TaksiranKapasitasCostDriver
Rp10.000.000
TarifOngkosAngkut =
= Rp200perkg
50.000kg

Pembebanan ongkos angkut ke masing-masing


bahan baku langsung:
Gula
: 100 kg x
Rp20.000
Rp200
Tepung
: 50 kg x
10.000
Rp200
Garam
: 300 kg x
60.000
Biaya
Produksi dan Laporan HPP
24
Rp200

Total harga pokok bahan baku setelah


pembebanan ongkos angkut adalah
sebagai berikut:
Gula
Harga beli
(+) ongkos angkut
Harga pokok bahan
baku
Kuantitas yg dibeli
Harga pokok per kg

Tepung

Garam

Rp200.000

Rp250.000

Rp300.000

20.000

10.000

60.000

220.000

260.000

360.000

100 kg

50 kg

300 kg

Rp2.200

Rp5.200

Rp1.200

Biaya Produksi dan Laporan HPP

25

Selisih Ongkos Angkut


Pembelian
Perbedaan ongkos angkut sesungguhnya dengan
ongkos angkut dibebankan di tutup ke rekening
Selisih Ongkos Angkut Pembelian.
Selisih menguntungkan dikredit
Selisih rugi didebit

Perlakuan selisih ongkos angkut pembelian;


Selisih tidak signifikan ditutup ke Harga Pokok
Penjualan.
Selisih signifikan distribusikan selisih ongkos angkut
ke persediaan bahan baku, persediaan barang dalam
proses, persediaan barang jadi dan harga pokok
penjualan.
Biaya Produksi dan Laporan HPP

26

a Ongkos angkut pembelian


.

Rp75.0
00

Kas

75.000

(mencatat pembayaran ongkos angkut


pembelian)

b Persediaan bahan baku langsung gula


.

Rp20.0
00

Persediaan bahan baku langsung


tepung

10.000

Persediaan bahan baku langsung


garam

60.000

Ongkos angkut pembelian

Rp90.0
00

(mencatat pembebanan ongkos angkut ke


bahan baku)

c Ongkos Angkut Pembelian


.
Selisih Ongkos
Angkut
Biaya Produksi dan Laporan HPP
pembelian

Rp15.00
0
Rp15.00
27
0

3. Ongkos Angkut dibebankan


ke BOP
Ongkos angkut dibebankan ke BOP jika
ongkos angkut pembelian tidak signifikan.
Mencatat pembayaran ongkos angkut pembelian
Ongkos angkut pembelian
Kas

Rp75.000

Biaya overhead pabrik

Rp75.00
0

Rp75.00
0
Mencatat pembebanan ongkos angkut pembelian

Ongkos angkut
pembelian Biaya Produksi dan Laporan HPP

Rp75.00
28 0

Sistem Pencatatan Persediaan


Bahan Baku Langsung
Sistem Perpetual
Perubahan persediaan bahan baku langsung, baik
karena pembelian dan pemakaian dicatat dalam
akuntansi dengan menggunakan buku besar
persediaan bahan baku langsung dan buku
pembantu persediaan bahan baku langsung,
sehingga saldonya dapat diketahui setiap saat.

Sistem Fisik/periodik
Perubahan persediaan bahan baku langsung
tidak dicatat dalam akuntansi sehingga
saldonya tidak dapat diketahui setiap saat.
Biaya Produksi dan Laporan HPP

29

Akuntansi untuk Bahan Baku


Langsung Sistem Perpetual
1. Pembelian Bahan Baku
Langsung
Persediaan bahan baku
langsung
Kas/Utang dagang
2. Pemakaian Bahan baku
langsung
Persediaan barang dalam
proses
Persediaan bahan baku
langsung
Biaya Produksi dan Laporan HPP

xxx
xxx

xxx
xxx
30

Akuntansi untuk Bahan Baku


Langsung Sistem Fisik/Periodik
1. Pembelian Bahan Baku Langsung
Pembelian

xxx

Kas/Utang dagang

xxx

2. Pemakaian Bahan baku langsung


Tidak ada jurnal
3. Mencatat retur pembelian BBL
Kas/Utang usaha
retur pembelian dan pengurangan
harga
Biaya Produksi dan Laporan HPP

xxx
xxx
31

Biaya Bahan Baku Langsung


Terpakai
Persediaan awal BBL

xxx

(+) Pembelian bahan baku langsung

xxx

Bahan baku langsung tersedia untuk


dipakai

xxx

(-) Persediaan akhir BBL


Bahan baku langsung terpakai

Jurnal Penyesuaian
1.

(xxx)
xxx

Menghapus persediaan awal BBL


Ikhtisar Harga Pokok Produksi

xxx

Persediaan Bahan baku langsung


2.

xxx

Memunculkan persediaan akhir BBL


Persediaan bahan baku langsung
Biaya Produksi dan Laporan HPP
Ikhtisar harga
pokok produksi

xxx
32
xxx

Metode Penentuan Harga Pokok


Persediaan BBL
Metode masuk pertama, keluar pertama
(MPKP)
mengasumsikan bahwa bahan baku yang mula-mula dibeli
yang akan digunakan terlebih dahulu. Persediaan akhir
bahan baku langsung dinilai berdasarkan harga beli akhir.

Metode masuk terakhir, keluar pertama (MTKP)


mengasumsikan bahwa bahan baku langsung yang terakhir
dibeli yang akan digunakan terlebih dahulu. Persediaan akhir
bahan baku langsung dinilai berdasarkan harga beli awal.

Metode harga pokok rata-rata (average cost


method)
harga pokok persediaan akhir bahan baku langsung dinilai
berdasarkan harga pokok rata-rata
Biaya Produksi dan Laporan HPP

33

Nilai BBL tersedia dipakai


(persediaan awal + pembelian)

HP rata-rata = ------------------------------------Total kuantitas BBL tersedia dipakai


Metode ini cocok diterapkan pada perusahaan
yang memiliki jenis bahan baku yang jumlahnya
banyak dan nilainya relatif kecil sehingga bila
metode MPKP atau MTKP digunakan, perhitungan
harga pokok persediaan akhir bahan baku tidak
praktis.
Biaya Produksi dan Laporan HPP

34

BIAYA TENAGA KERJA LANGSUNG


(DIRECT LABOR COSTS)
Tenaga kerja langsung (direct labor)
adalah tenaga kerja yang terlibat
langsung dalam pembuatan produk jadi
dan pembayaran upahnya berdasarkan
unit yang dihasilkan atau berdasarkan jam
kerja, misalnya upahnya Rp50.000 per
unit atau Rp5.000 per jam.
Biaya tenaga kerja langsung (direct
labor cost) adalah upah yang dibayarkan
kepada tenaga kerja langsung.
Biaya Produksi dan Laporan HPP

35

BTK-Tidak Langsung
(BTK-TL)
TK-TL adalah tenaga kerja yang terlibat langsung dalam
pembuatan produk jadi tetapi pembayaran upahnya
secara harian atau bulanan atau tenaga kerja yang tidak
terlibat langsung dalam pembuatan produk jadi, seperti
manajer pabrik, mandor, cleaning service, karyawan
adm. pabrik.
BTK-TL adalah upah/gaji yang dibayarkan kepada TK-TL
BTK-TL diklasifikasikan sebagai biaya overhead pabrik
(BOP).
Selain upah pokok, pekerja juga menerima tunjangan,
seperti tunjangan uang makan, uang transpor, tunjangan
pajak dan lainnya; serta potongan-potongan seperti iuran
SPSI, iuran BPJS, PPh 21, dll.
Biaya Produksi dan Laporan HPP

36

Pembebanan Biaya Tenaga Kerja


Pada Produk
Biaya Tenaga
Kerja
Biaya Tanaga
Kerja Langsung

Biaya Tenaga Kerja


Tidak Langsung
Biaya overhead
pabrik

Produk
Biaya Produksi dan Laporan HPP

37

Perhitungan gaji/upah yang


dibayarkan
Gaji/upah pokok
Tunjangan:
Tunjangan uang makan
Penghasilan bruto
Potongan:
Iuran SPSI
Iuran BPJS
Gaji/upah bersih

xxx
xxx
xxx
xxx
xxx

Biaya Produksi dan Laporan HPP

(xxx)
xxx

38

Akuntansi untuk Biaya Tenaga


Langsung
1. Mencatat terutangnya gaji
dan upah
Biaya gaji dan upah

xxx

Utang gaji dan upah

xxx

Utang Asuransi

xxx

Utang PPh-21

xxx

2. Pembayaran kepada pihak


yang terkait
Utang gaji dan upah
Utang asuransi
Utang PPh 21

xxx
xxx

Biaya Produksi dan Laporan HPP

xxx

39

Akuntansi untuk Biaya Tenaga


Langsung
3. Mencatat pembebanan gaji
dan upah ke produk
I Persediaan barang dalam proses
(BTKL)
Biaya overhead pabrik (BTK-TL)

xxx
xxx

Biaya gaji dan upah


Atau
II

xxx

Barang dalam Proses - BTKL

xxx

Biaya overhead pabrik (BTK-TL)

xxx

Biaya gaji dan upah


Biaya Produksi dan Laporan HPP

xxx
40

Contoh:
Anton bekerja pada Jepara Perabot dengan upah Rp 50.000
per kursi Model 707 yang dihasilkan. Disamping upah, Anton
mendapat tunjangan uang makan Rp5.000 per hari. Anton
tidak hanya mengerjakan kursi tersebut, tetapi juga
mengerjakan produk-produk lainnya. Jepara Perabot
termasuk salah satu peserta BPJS Ketenagakerjaan. Anton
harus membayar premi BPJS Ketenagakerjaan 5% dari upah
pokok yang diterimanya. Selama 25 hari kerja, Anton mampu
menghasilkan kursi Model 707 sebanyak 10 buah dan produk
model lainnya. Total upah Anton untuk produk lainnya
sebesar Rp2.000.000. Perusahaan memotong PPh-21 Anton
sebesar Rp 20.000.
Berapakah biaya tenaga kerja langsung, biaya tenaga kerja
tidak langsung, dan penghasilan bersih Anton?
Biaya Produksi dan Laporan HPP

41

Penghasilan bersih Anton:


Upah produk Model 707
Upah produk lainnya
Tunjangan uang makan

500.000
2.000.00
0
(25 hari

125.000
2.625.00
0

x Rp5.000)

Penghasilan bruto
Potongan:
Premi asuransi
(5%x2.500.000)
PPh 21
Biaya Produksi dan Laporan HPP

125.00
0
(145.000
20.000
)
42

JURNAL BTKL
1. Mencatat terutangnya gaji dan upah (setelah disetujui
oleh manajer keuangan)
Gaji dan Upah
2.625.000
Utang Gaji dan Upah
2.480.000
Utang Asuransi
125.000
Hutang PPh-21
20.000
2. Pembayaran kepada pihak-pihak yang terkait (Anton,
Jamsostek, dan Kantor Pajak).
Utang Gaji dan Upah
2.480.000
Utang Asuransi
125.000
Utang PPh-21
20.000
Kas
2.625.000
Biaya Produksi dan Laporan HPP

43

3. Mencatat pembebanan gaji dan upah


Persediaan Barang Dalam Proses (untuk BTK-L)
2.500.000
Biaya overhead pabrik (untuk BTK-TL)
125.000
Biaya Gaji dan Upah
2.625.000

Biaya Produksi dan Laporan HPP

44

BIAYA OVERHEAD PABRIK


(BOP)
Biaya overhead pabrik semua biaya
produksi selain biaya bahan baku langsung
dan biaya tenaga kerja langsung.
BOP merupakan biaya tidak langsung
produk (indirect cost of product).
Contoh: biaya listrik pabrik, biaya
penyusutan mesin, biaya asuransi pabrik,
biaya bahan bakar, biaya bahan baku tidak
langsung, biaya tenaga kerja tidak
langsung, dan PBB pabrik.
Biaya Produksi dan Laporan HPP

45

Pembebanan Biaya Overhead


Pabrik ke Produk
Biaya Overhead
Pabrik
Pool Biaya:
Pabrik atau
Departemen
Produksi
Produk
Biaya Produksi dan Laporan HPP

46

Pada perusahaan yang berproduksi berdasarkan


pesanan (job shop companies), seperti pembuat
perabot, biaya overhead pabrik dibebankan ke
produk berdasarkan tarif yang ditentukan
dimuka (predetermined rate).
Bila pool biaya adalah pabrik, maka tarif biaya
overheadnya disebut tarif pabrik (plant-wide
rate) atau tarif tunggal.
Bila pool biaya adalah departemen produksi, maka
tarif biaya overheadnya disebut tarif
departemen (departmental rates) atau multi tarif.
Biaya Produksi dan Laporan HPP

47

Penentuan Tarif BOP


AnggaranBiayaOverheadPabrik
TarifBOP =
DasarPembebanan
Dasar pembebanan BOP ke produk
ada 2:
Dasar Unit atau Volume
Dasar Non-unit atau Aktivitas
Biaya Produksi dan Laporan HPP

48

Dasar Unit atau Volume


Dasar unit mengasumsikan bahwa
BOP memiliki hubungan langsung
dengan unit yang dihasilkan.
Unit
memicu
yang
dihasilka
n

Unit
driver:
JM
JKL
BBBL
BTKL

memicu

Biaya Produksi dan Laporan HPP

BOP

49

Dasar Non-Unit atau Aktivitas


Dasar non-unit atau non-unit driver
digunakan karena tidak semua BOP
berubah karena perubahan unit yang
dihasilkan. Misalnya, biaya pembelian
bahan baku, pengecekan bahan baku per
sampel, pemindahan produk ke gudang,
tidak berhubungan dengan unit yang
dihasilkan.

Biaya Produksi dan Laporan HPP

50

Akuntansi untuk Biaya


Overhead Pabrik
1. Mencatat BOP sesungguhnya
Biaya overhead Pabrik

xxx

Berbagai rekening dikredit

xxx

(penyusutan, asuransi,
BBBTL, dll)
2. Mencatat pembebanan BOP
ke produk
Persediaan Barang dalam proses
Biaya overhead pabrik
Biaya Produksi dan Laporan HPP

xxx
xxx
51

Akuntansi untuk Biaya


Overhead Pabrik
3. Menutup BOP selisih
menguntungkan
Biaya overhead pabrik

xxx

Selisih biaya overhead pabrik

xxx

4. Menutup selisih BOP


Selisih biaya overhead pabrik
Harga pokok penjualan

Biaya Produksi dan Laporan HPP

xxx
xxx

52

Akuntansi untuk Produk Selesai


dan Harga Pokok Penjualan
1. Mencatat produk selesai
Persediaan barang jadi

xxx

Persediaan barang dalam


proses
4. Mencatat penjualan barang
jadi sistem perpetual
a. Kas/Piutang dagang

xxx

xxx

Penjualan
b. Harga pokok penjualan
Persediaan Biaya
barang
Produksi jadi
dan Laporan HPP

xxx
xxx
xxx 53

Arus Biaya Produksi Alternatif


1
Persediaan BDP

Persediaan BBL
B. Ssg

B. Ssg

B. Ssg

Persediaan Barang Jadi


NC

NC

NC

B. Ssg

B. Gaji & Upah


B. Ssg

B. Dibebankan

B. Ssg

NC
Selisih BOP

BOP
B. Ssg

HPP

B. Dibebankan

Rugi

Laba

NORMALBiaya
COSTING
Produksi dan Laporan HPP

54

Arus Biaya Produksi


Alternatif 2

BDP BBL

Persediaan BBL
B. Ssg

B. Ssg

B. Ssg

Persediaan Barang Jadi


BTKL
B. Ssg

BDP BTKL

B. Ssg

B. Ssg
BDP BOP

BOP Sesungguhnya
B. Ssg

Persediaan BDP

B. Dibebankan

BOP Dibebankan
B. Dibebankan

Selisih BOP
Rugi

HPP

Laba

Biaya Produksi dan Laporan HPP

55

Laporan Harga Pokok Produksi dan laporan laba


rugi untuk pihak luar (menggunakan sistem
pisik)
PT Sumbar
Laporan Harga Pokok Produksi
Tahun 200x

PT Sumbar
Laporan Laba Rugi

Tahun 200x
Penjualan bersih..
Pembelian BBL bersih.
xx
xx
BBL tersedia utk dipakai
xx
Persediaan BJ awal.
(xx)
Persediaan BBL akhir...
(xx)
Harga Pokok Produksi..
(xx)
BBL dipakai (BBBL) ..
xx
(xx)
BTKL...
xx Barang tersedia dijual...
Persediaan BJ akhir.. .
xx
BOP dibebankan...
xx
Harga pokok penjualan.
Total b. produksi
xx
(xx)
Persediaan BDP awal
xx
Laba kotor.
B. Produksi diperhitungkan xx
xx
Persediaan BDP akhir...
(xx)
operasi.56
Laporan HPP
Harga pokok produksi Biaya Produksi
xx danBeban
Persediaan BBL awal..

xx

The End

Biaya Produksi dan Laporan HPP

57