Anda di halaman 1dari 50

United Nations Office on Drugs and

Crime
Tahun 2015 246
juta orang atau
5,2% populasi
dunia usia 15-64
tahun atau 1 dari
20 orang pernah
menyalahgunakan
narkotika

Istilah
NAPZA : narkotik, psikotropika, dan
zat adiktif lain
Narkoba : narkotik, psikotropika, dan
bahan-bahan (atau obat-obatan, zat
adiktif lain) berbahaya lebih
populer di masyarakat
Adiksi : berasal dari kata addiction
(bahasa Inggris) yang berarti
ketagihan atau kecanduan (Echols &
Shadily, 1975)

Definisi
NAPZA (Drugs / Substances /
Narkoba) adalah:
setiap bahan kimia/ zat yang bila
masuk ke dalam tubuh akan
mempengaruhi fungsi tubuh secara
fisik dan psikologis

Courtesy: Kristiana Siste, Adiksi NAPZA, FKUI, 2014

Adiksi?
Adiksi adalah penyakit primer kronis yang
dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik,
psikososial dan lingkungan dalam proses
perkembangannya. Penyakit seringkali
berkembang secara cepat dan fatal.
Ditandai dengan ketidakmampuan untuk
mengnotrol perilaku penggunaan Napza,
preokupasi pada Napza, sekalipun
mengetahui konsekuensi negatif yang
ditimbulkannya (Morse & Flavin, 1992)

Klasifikasi NAPZA UU RI No.22 Tahun


1997
Narkotika

Psikotropika

Zat Adiktif

zat atau obat yang


setiap bahan baik
bahan lain yang
berasal dari
alami ataupun
bukan Narkotika
tanaman maupun
buatan bukan
atau Psikotropika
bukan tanaman
Narkotika, yang
yang merupakan
baik sintesis
berkhasiat
inhalasi yang
maupun semi
psikoaktif
penggunaannya
sintesis yang
mempunyai
dapat
menyebabkan
pengaruh selektif
menimbulkan
penurunan dan
pada susunan
ketergantungan,
perubahan
saraf pusat yang
misalnya lem,
kesadaran,
menyebabkan
aceton, eter,
mengurangi dan
perubahan khas
premix, thiner dan
menghilangkan
pada aktifitas
lain-lain.
rasa nyeri serta
mental dan
dapat
perilaku.
menimbulkan
Sumber:
Muchlisin Riadi,
ketergantungan
http://www.kajianpustaka.com/2013/08/pengertian-dan-jenissecara fisik
jenis-napza.html
maupun psikologik.

Narkotika
Narkotika golongan I adalah narkotika yang dapat digunakan untuk
tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam
terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan
ketergantungan. Contoh: heroin, kokain, ganja.
Narkotika golongan II adalah narkotika yang berkhasiat untuk
pengobatan, digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan
ketergantungan. Contoh: morfin, petidin, turunan garam dalam
golongan tertentu.
Narkotika golongan III adalah narkotika yang berkhasiat dalam
pengobatan yang banyak digunakan dalam terapi dan atau tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan
menyebabkan ketergantungan. Misalkan: kodein, garam-garam
narkotika dalam golongan tertentu.

Psikotropika

Psikotropika golongan I psikotropika yang hanya digunakan untuk


tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta
mempunyai potensi yang amat kuat mengakibatkan sindroma
ketergantungan. Yang termasuk golongan ini yaitu: MDMA, ekstasi, LSD, ST

Psikotropika golongan II psikotropika yang berkhasiat untuk


pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi kuat menimbulkan
ketergantungan. Contoh: amfetamin, fensiklidin, sekobarbital, metakualon,
metilfenidat (Ritalin).

Psikotropika golongan III psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan


banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan
serta mempunyai potensi sedang menyebabkan ketergantungan. Contoh :
fenobarbital dan flunitrasepam.

Psikotropika golongan IV psikotropika yang mempunyai khasiat


pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan
ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan
ketergantungan. Contoh: diazepam, klobazam, bromazepam, klonazepam,

Tiga Kategori Utama NAPZA


STIMULAN
(UPPERS)

HALUSINO
GEN

DEPRESAN
(DOWNERS
)

Klasifikasi NAPZA Berdasarkan Efek


yang Ditimbulkan
Stimulan
Amfetamin
(speed, ice)
Metamfetami
n (shabu)
Kokain
Khat
Kafein
MDMA
(ectasy)

Halusinogen

Depresan

LSD
Meskalin
PCP
Ketamin
Kanabis/ganj
a (dosis
tinggi)
Magic
musrooms
(psilocybin)
MDMA
(ectasy)

Alkohol
Benzodiazepi
n
Opioid
Inhalant
Barbiturat
Kanabis
(dosis
rendah)

Stimulan
Stimulan dikenal sebagai party drugs
alert dan terjaga sepanjang malam
Stimulan bekerja dengan cara
mempercepat penyampaian pesan dari
dan ke otak melalui peningkatan aktivitas
di otak dan susunan syaraf pusat
Perasaan senang atau euforia biasanya
merupakan alasan utama orang memakai
stimulan

Depresan
Efek yang ditimbulkan depresan adalah
memperlambat aktivitas di otak dan susunan
syaraf pusat komunikasi menjadi lambat
Depresan yang paling banyak dipakai adalah
alkohol dan heroin (putaw)
Efek depresan sangat tergantung dengan
jumlah zat yang dipakai ganja dosis
rendah menjadi depresan
Kombinasi depresan seringkali
menyebabkan overdosis

Halusinogen
Halusinogen bekerja pada susunan
syaraf pusat dengan cara mengubah
secara dramatis persepsi sensori
orang yang memakai mengalami
halusinasi, merasa relaks dan euforia
Efek yang tidak diinginkan
mempercepat denyut jantung,
menaikkan TD, agitasi, halusinasi
buruk, dan paranoia

Efek NAPZA Terhadap Tubuh

Sumber: http://slideplayer.com/slide/6435397/

Mengapa Orang Mulai Menggunakan


NAPZA?
To feel good menimbulkan rasa
senang, percaya diri, meningkatkan
energi (stimulan); relaksasi dan
kepuasan (oppiates)
To feel better mengurangi tingkat
stress
To do better meningkatkan
performa kognitif dan jasmani (misal
pada atlet)
NIDA, 2014
Sumber:
Curiosity
and because others are

Tidak ada faktor tunggal yang menentukan apakah


seseorang akan menjadi seorang pecandu

Bagaimana NAPZA
Digunakan?
Dihisap (efeknya mencapai
otak dalam 7-10 detik)
Disuntikkan (efeknya
mencapai otak dalam 15-30
detik di vena, 3-5 menit di
kulit/otot)
Dihirup/snorting (efeknya
mencapai otak kira-kira dalam
3-5 menit)
Ditelan (efeknya mencapai
otak dalam 20-30 menit)
http://learn.genetics.utah.edu/content/addiction/delivery/
https://drugs-forum.com/forum/showthread.php?t=15983

Pemakaian NAPZA dan Pengaruhnya di Otak


Alasan Utama Penggunaan NAPZA
Meningkatkan level
dopamin di otak
yaitu di sistem
dopamin di reward
pathway
Dalam hitungan
detik hingga menit
menimbulkan
lonjakan sensasi rasa
senang dengan
mengaktifkan sirkuit
reward di otak
Sumber: http://learn. genetics. utah.

Edu/content/addiction/brainchange/

Menurunkan Aktivitas
Sinaps Otak
Menurunkan aktivitas sinaps di
otak
Penyalahgunaan napza
mempengaruhi otak secara
dramatis dibandingkan dengan
reward alami seperti makanan atau
interaksi sosial otak lalu
beradaptasi untuk menurunkan
stimulasi di otak dengan cara
mengurangi jumlah reseptor
dopamin di sinaps
Sementara itu di neuron pengirim
menambah jumlah transporter
dopamin dan mempercepat
clearance dopamin di sinaps
menyebabkan otak sedikit kurang
responsif terhadap drugs demikian
pula terhadap reward alami
pengguna napza akan

Mengubah Koneksi Area di


Otak

NAPZA juga mempengaruhi

Sumber:

daerah otak yang lain selain


reward pathway yaitu
daerah yang bertanggung
jawab untuk membuat
penilaian, pengambilan
keputusan, belajar, dan
mengingat (memori)
neuron memendek koneksi
terganggu
Sementara di daerah lain
koneksi neuron bertambah
jika hal ini terjadi perilaku
drug-seeking menjadi suatu
habit seiring waktu hampir
menyerupai refleks pada
saat ini terjadi pengguna

ADICCTION IS
BRAIN
DISEASE

Area Otak yang dipengaruhi


NAPZA

Coutesy of NIDA ,Presentation1-120508022745phpapp01/95/effects-of-smoking-alcohol-and-drugs-on-the-body15-728.jpg?cb=1454672135

Pola Penggunaan NAPZA

Sumber: https://mytoolkit.ca/atoz-substance/images/img_006.gif

Kriteria Ketergantungan (Adiksi)


PPDGJ III
Adanya keinginan yang kuat atau dorongan yang
memaksa (kompulsi) untuk menggunakan zat
Kesulitan dalam mengendalikan perilaku
menggunakan zat sejak awal, usaha
penghentian atau tingkat penggunaannya
Keadaan putus zat secara fisiologis ketika
penghentian penggunaan zat atau pengurangan,
terbukti orang tersebut menggunakan zat atau
golongan zat yang sejenis dengan tujuan untuk
menghilangkan atau menghindari terjadinya
gejala putus zat
Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia
III, Depkes 1993

Adanya bukti toleransi, berupa peningkatan


dosis zat psikoaktif yang diperlukan guna
memperoleh efek yang sama yang biasanya
diperoleh dengan dosis yang lebih rendah
Secara progresif mengabaikan alternatif
kesenangan lain, meningkatnya jumlah waktu
yang diperlukan untuk mendapatkan atau
menggunakan zat atau pulih dari akibatnya
Terus menggunakan zat meskipun ia menyadari
adanya akibat yang merugikan kesehatannya

Keadaan Putus Zat


Sekelompok gejala dengan aneka bentuk dan
keparahan yang terjadi pada pengehentian
pemberian zat secara absolut atau relatif
sesudah penggunaan zat yang terus-menerus
dalam jangka panjang atau dosis tinggi
Onset dan perjalanan keadaan putus zat
biasanya waktunya terbatas dan berkaitan
dengan jenis dan dosis zat yang digunakan
sebelumnya
Dapat disertai komplikasi kejang

Intoksikasi
Suatu kondisi peralihan yang timbul akibat
menggunakan alkohol atau zat psikoaktif lain
sehingga terjadi gangguan kesadaran, fungsi
kognitif, persepsi, afek atau perilaku, atau fungsi
dan respons psikologis lainnya
Ini merupakan diagnosis utama hanya pada kasus
intoksikasi semata-mata tanpa berkaitan dengan
alkohol atau penggunaan zat menetap. Bila ada
masalah
demikian,
maka
diagnosis
yang
didahulukan adalah penggunaan yang merugikan
(F1x.1), sindrom ketergantungan (F1x.2), dan
gangguan psikotik (F1x.5)

Substance/ Medication Induced


Mental Disorder
Gangguan mencerminkan gejala
klinis yang signifikan
Adanya riwayat, pemeriksaan fisik
atau hasil laboratorium sebagai
berikut: gangguan terbentuk selama
atau dalam waktu dua bulan setelah
terjadinya intoksikasi atau putus obat
atau menggunakan zat dan zat
tersebut dapat menimbulkan
gangguan mental

Gangguan tidak dapat dijelaskan oleh


gangguan mental lainnya: gangguan
mendahului terjadinya intoksikasi atau
putus zat atau gangguan
tersebut
menetap minimal 1 bulan setelah putus
zat atau intoksikasi
Gangguan tidak terjadi selama delirium
Gangguan menimbulkan distress yang
bermakna secara sosial, okupasional, dan
fungsi penting lainnya

Rehabilitasi: Terapi dan Upaya


Pemulihan
Sasaran terapi adiksi NAPZA:
1. Abstinensia atau mengurangi
penggunaan NAPZA bertahap
sampai abstinensia total
2. Mengurangi frekuensi dan
keparahan relaps
3. Perbaikan dalam fungsi psikologi
dan penyesuaian fungsi sosial
dalam
masyarakat
Sumber:
Al Bachri
Husain, Buku Ajar Psikiatri FKUI, 2010

Tahapan Terapi
1. Fase Penilaian (assessment phase)
meliputi pemeriksaan fisik,
psikologis, dan wawancara (zat yang
digunakan, onset, dosis zat,
pemakaian terakhir, gejala yang
timbul, frekuensi penggunaan,
bagaimana cara penggunaan,
riwayat rehabilitasi, komplikasi,
stresor psikososial)

2. Fase Terapi Detoksifikasi: fase terapi


withdrawal atau fase terapi
intoksikasi meliputi: rawat inap dan
rawat jalan, long term residential
treatment (Therapeutic Community),
short term residential treatment

3. Fase Terapi Lanjutan: strategi


tergantung dengan kebutuhan
individu agar tetap drug free atau
menggunakan terapi substitusi
(antagonis-naltrekson, agonismetadon, parsial-agonis buprenorfin)

Konseling
Counseling: the process of helping
people make adjustments in normal
developmental processes across the
life span, including educational,
vocational, and marital adjustment
and planning; family dynamics;
aging;
and
rehabilitation
after
disability (The Cambridge Dictionary
of Physiology)
Konseling adiksi membantu dalam
proses perubahan dalam diri klien

Prinsip Konseling Adiksi

Hubungan
interaktif

Kolaborasi
dan
membina
rapport

Teknik
mengajarkan

Penguatan
positif dan
dukungan
emosional

Terekam
dengan baik

Tercatat dan
ada
supervisi

Empat Keterampilan Dasar


Konseling
Mendeng
ar
aktif

Mempros
es

Merespo
ns

Mengajar
kan

Tahapan Konseling
Tahap
Awal
Penggalian
motivasi dan
pengetahuan
program
Pemberian
informasi

Tahap
Stabilisasi
Pemahaman
adiksi Napza
adalah
penyakit otak
Pemahaman
proses
pemulihan
Inventarisasi
dan rencana
kegiatan
pengganti
waktu luang

Tahap
Lanjutan
Kesempatan untuk
berpikir dan
merasakan persoalanpersoalan dasar yang
dialaminya:
Produktivitas, rumah
tangga, hubungan
dengan orang lain,
hingga perasaan
nagih untuk kembali
menggunakan Napza
ilegal
Seringkali klien
melaporkan berbagai
persoalan dalam satu
waktu:
Prioritas masalah
(utamakan persoalan
nagih dengan
alternatif kegiatan)

Source : DiClemente C. Addiction and Change. The Guilford Press.


2003

Fase Prekontemplasi
Individu belum menyadari adanya
perubahan dalam dirinya akibat
menggunakan zat
Tidak memiliki minat untuk berubah
walaupun telah diingatkan orang-orang
terdekat bahwa ada masalah
Masuk sentra rehabilitasi karena paksaan,
ditipu, pelanggaran hukum
Tidak merasa perlu berubah tidak ada
yang salah

Fase Kontemplasi
Individu mulai mengakui adanya kesulitan
akibat zat
Mulai mempertimbangkan berbagai
kemungkinan untuk berubah masih
ragu, bimbang, ambivalen
Terkadang mempunyai keinginan untuk
berhenti tapi tidak berbuat apa pun
belum waktunya berubah
Mulai menimbang untung rugi masih
merasa banyak untungnya

Fase Preparasi
Tampak sungguh-sungguh ingin berubah
namun belum siap
Belum mau berubah kalau belum merasa
mantap
Banyak bertanya tentang upaya
penyembuhan ketergantungan NAPZA
Last minute shopping pergi ke dokter
Mulai memahami ada masalah mau
berubah

Fase Aksi
Individu secara aktif mengambil
langkah untuk berubah tetapi belum
stabil
Berhasil menunjukkan perilaku ingin
berubah mau ikut terapi
Mulai aktif mencari akitivitas
alternatif di luar masalah adiksi
ikut kursus, olahraga

Fase Rumatan
(Maintenance)
Telah mencapai sasaran abstinensia
bekerja keras untuk
mempertahankan
Mulai menghindar memakai zat
apapun dan berhasil mengendalikan
relaps
Bila slip (tergelincir) tidak panik
karena telah memiliki skil untuk
mengatasi diri
Bersedia secara aktif untuk

Jenis-Jenis Konseling

Motivational Interviewing
Motivational Interviewing: adalah
suatu gaya konseling direktif yang
berpusat pada pasien guna
mengubah tingkah lakunya dengan
membantu pasien menggali dan
mencari penyelesaian terhadap
problem ambivalensi yang
dialaminya (Rollnick & Miller, 1995)
Merupakan salah satu teknik untuk
konseling adiksi

Sumber: NIDA

Tanda Ideal dari Proses


Pemulihan
Abstinensia
Menjauhkan diri dari teman, tempat,
benda dan hal lain yang dapat
menimbulkan keinginan
menggunakan kembali zat
Berhenti mempersalahkan diri sendiri
Belajar mengendalikan perasaan
Belajar mengubah pola pikir adiktif
Sumber:
Belajar
mengenali permasalahan diri
Al Bachri Husain, Buku Ajar Psikiatri FKUI, 2010
sendiri

Terima kasih telah


mendengarkan