Anda di halaman 1dari 16

Penatalaksaan Ulkus

Kornea

B10
ANITA ANGGRAENI SOKKO 102011064
IRINE DAMAYANTI 102011347
AWALLIANTONI 102011411
KHARIZA AGATHA GABRIELA MATITAPUTTY
102012302
ANGGELA TIANA 102013143
NUR AFIQAH BINTI ABDUL RAHMAN
102013509
NUR SRI SYAZANA BINTI RAHIM 102013521
ADIYTA WAHTU PRAMUDITA 102014251

Kasus Skenario 8

Laki laki 24 tahun datang dengan keluhan


mata buram sejak 4 hari lalu

Keterangan : pasien buruh bangUnan, nyeri


selama 5 hari, tanpa mual muntah, kotoran
mata kekuningan mata kanan, dirasakan
karena pantulan paku ke mata 5 hari yang
lalu, konsumsi obat anti sakit dan salep
mata

Pemeriksaan Fisik
Visus 1/tak terhingga proyeksi cahaya baik
TIO normal
Edema dan spasme palpebra
Cornea keruh dengan robekan arah jam 3
sepanjang 5 cm iris terjepit di luka
Iris tertarik arah luka, pupil irregular
Lensa sedikit keruh
Infiltrate kornea keabuan

Ciri ciri injeksi silier

terlihat merah keunguan dibanding dengan injeksi


konjungtiva.
pembuluh darah tidak tampak.
tidak bisa digerakkan jika konjungtiva digerakkan.
dimulai dari bagian tengah mata dan memudar ke daerah
pinggur mata.
tidak akan memberiukan perubahan jika diberi andrenalin
1 : 1000
lakrimasi ( banyak air mata )\
adanya fotofobia
sakit tekan di daerah kornea yang terletak di tengah mata.
pupil mengecil dan melebar hanya pada glukoma.

Anatomi

Patofisiologi ulkus kornea


1.Fase Infiltrasi Progresif
Karakteristik dari tingkat ini aialah infiltrasi sel sel PMN dan atau limfosit ke dalam
epitel dari sirkulasi perifer. Selanjutnya dapat terjadi nekrosis dari jaringan yang terlibat
bergantung virulensi agen dan pertahanan tubuh host.
2. Fase Ulserasi Aktif
Ulserasi aktif merupakan hasil dari nekrois dan pengelupasan epitel, membran Bowman,
dan stroma yang terlibat. Selama fase ulserasi aktif terjadi hiperemia yang
mengakibatkan akumulasi eksudat purulen di kornea. Jika organisme penyebab
virulensinya tinggi atau pertahanan tubuh host lemah akan terjadi penetrasi yang lebih
dalam selama fase ulserasi aktif.
3. Fase Regresi
Regresi ditimbulkan oleh sistem pertahanan natural (antibodi humoral dan pertahanan
seluler) dan terapi yang memperbesar respon host normal. Garis batas yang merupakan
kumpulan leukosit mulai timbul di sekitar ulkus, lekosit ini menetralisir bahkan
memfagosit organisme debris seluler. Proses ini disertai vaskularisasi superfisial yang
yang meningkatkan respon imun humoral dan seluler. Ulkus mulai menyembuh dan
epitel mulai tumbuh dari tepi ulkus.
4. Fase Sikatrisasi
Pada fase ini penyembuhan berlanjut dengn epitelisasi progresif yang membentuk
sebuah penutup permanen.

Pemeriksaan Penunjang
Keratometri (pengukurankornea)
Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi.
Goresan ulkus untuk analisa atau kultur
(pulasan gram, giemsa atau KOH)

Diagnosis Banding

Epidemiologi
Insidensi ulkus kornea tahun 1993 adalah 5,3
per 100.000 penduduk di Indonesia,
sedangkan predisposisi terjadinya ulkus
kornea antara lain terjadi karena trauma,
pemakaian lensa kontak terutama yang
dipakai hingga keesokan harinya, dan
kadang-kadang tidak diketahui
penyebabnya

Penatalaksanaan

Tidak boleh dibebat, karena akan menaikkan suhu


sehingga akan berfungsi sebagai incubator
Sekret yang terbentuk dibersihkan 4 kali satu hari
Diperhatikan kemungkinan terjadinya glaucoma
sekunder
Debridement sangat membantu penyembuhan
Diberi antibiotik yang sesuai dengan kausa. Biasanya
diberi local kecuali dalam keadaan berat.
Prinsip terapi ulkus kornea adalah sebagai berikut:
Benda asing dan bahan yang merangsang harus
lekas dihilangkan. Erosi kornea yang sekecil apapun
harus diperhatikan dan diobati sebaik-baiknya.

Penatalaksanaan

Terapi inisial (sebelum didapatkan hasil kultur


dan tes sensitivitas) hendaknya diberikan
antibiotik spektrum luas. Dianjurkan tetes
mata gentamycin (14 mg/ml) atau tobramycin
(14mg/ml) bersama dengan cephazoline
(50mg/ml), setiap setengah hingga satu jam
untuk beberapa hari pertama kemudian
dikurangi menjadi per dua jam . Setelah
respon yang diinginkan tercapai, tetes mata
dapat diganti dengan Ciprofloxacin (0.3%),
Ofloxacin (0.3%), atau Gatifloxacin (0.3%).

Komplikasi

Ulkus kornea dapat berkomplikasi dengan terjadinya


perforasi kornea walaupun jarang. Hal ini dikarenakan
lapisan kornea semakin tipis dibanding dengan normal
sehingga dapat mencetuskan terjadinya peningkatan
tekanan intraokuler. Jaringan parut kornea dapat
berkembang yang pada akhirnya menyebabkan
penurunan parsial maupun kompleks juga dapat
terjadi, glaukoma dan katarak. Terjadinya
neovaskularisasi dan endoftalmitis11, penipisan
kornea yang akan menjadi perforasi, uveitis, sinekia
anterior, sinekia posterior, glaucoma dan katarak juga
bisa menjadi salah satu komplikasi dari penyakit ini.

Prognosis

Prognosis dari ulkus kornea tergantung dari


cepat lambannya pasien mendapat
pengobatan, jenis mikroorganisme
penyebab, dan adanya penyulit maupun
komplikasi. Ulkus kornea biasanya
mengalami perbaikan tiap hari dan sembuh
dengan terapi yang sesuai. Jika
penyembuhan tidak terjadi atau ulkus
bertambah berat, disgnosis dan terapi
alternatif harus dipertimbangkan.

Pencegahan

1. Menggunakan pelindung mata apabila bekerja di tempat


yang terekspos partikel kecil yang dapat masuk ke mata.
2. Menggunakan air mata buatan untuk mata kering atau
jika kelopak mata tidak dapat menutup sempurna.
3. Berhati hati jika menggunakan lensa kontak :
a. Selalu mencuci tangan sebelum memegang lensa kontak
b. Melepas lensa kontak setiap malam dan membersihkan
lensa kontak dengan hati hati dengan pembersih khusus
c. Jangan pernah tidur dengan menggunakan lensa kontak
d. Menyimpan lensa kontak di tempat khusus dengan
direndam larutan desinfektan semalaman
e. Segera melepas lensa kontak jika mata teriritasi dan tidak
memakainya hinggga kondisi mata membaik
f. Membersihkan tempat penyimpanan lensa kontak secara
reguler.

Kesimpulan

Prognosis ulkus kornea dubia et bonam bila


penatalaksanaan yang diberikan cepat
dengan menghindari bebat pada mata dan
menggunakan antibiotik spektrum luas
sebelum menerima hasil laboratorium.