Anda di halaman 1dari 8

Bentuk dan

Model
Pendidikan
Muhammadiya
h

Nama
kelompok:
1.Puji Lestari
(F12015502
5)
2.Ridyasari
Kamela Devi
(F12015502

Menurut K.H. Ahmad Dahlan, upaya


strategis untuk menyelamatkan umat Islam
dari pola berpikir yang statis menuju pada
pemikiran yang dinamis adalah melalui
pendidikan. Memang, Muhammadiyah sejak
tahun 1912 telah menggarap dunia
pendidikan, namun perumusan mengenai
tujuan pendidikan yang spesifik baru
disusun pada 1936. Pada mulanya tujuan
pendidikan ini tampak dari ucapan K.H.
Ahmad Dahlan: (Jadilah manusia yang
maju, jangan pernah lelah dalam bekerja
untuk Muhammadiyah)

Bahkan hal tersebut sangat bertentangan


dengan Islam, sebab dapat mendorong
timbulnya kepercayaan syirik dan merusak
aqidah Islam. Inti gerakan pemurnian ajaran
Islam seperti pendahulunya, Ibnu Taimiyah dan
Muhammad bin Abdul Wahab cukup bergema.
K.H. Ahmad Dahlan dan pengikutnya teguh
pendirian dalam upaya menegakkan ajaran
Islam yang murni sesuai al-Quran dan Hadis,
mengagungkan ijtihad intelektual bila sumbersumber hukum yang lebih tinggi tidak bisa
digunakan, termasuk juga menghilangkan taklid
dalam praktik fiqih dan menegakkan amal
maruf nahi munkar.

Pemikiran Pendidikan Islam KH. Ahmad Dahlan


Dahlan merasa tidak puas dengan system
dan praktik pendidikan yang ada di Indonesia
saat itu, dibuktikan dengan pandangannya
mengenai tujuan pendidikan adalah untuk
menciptakan manusia yang baik budi, luas
pandangan, dan bersedia berjuang untuk
kemajuan masyarakat. Karena itu Dahlan
merentaskan beberapa pandangannya
mengenai pendidikan dalam bentuk pendidikan
model Muhammadiyah khususnya, antara lain:

1. Pendidikan Integralistik
K.H Ahmad Dahlan (1868-1923) adalah tipe man
of action sehingga sudah pada tempatnya apabila
mewariskan cukup banyak amal usaha bukan
tulisan. Oleh sebab itu untuk menelusuri bagaimana
orientasi filosofis pendidikan Beliau mesti lebih
banyak merujuk pada bagaimana beliau
membangun sistem pendidikan. Namun naskah
pidato terakhir beliau menarik untuk dicermati
karena menunjukkan secara eksplisit konsen Beliau
terhadap pencerahan akal suci melalui filsafat dan
logika. Sedikitnya ada tiga kalimat kunci yang
menggambarkan tingginya minat Beliau dalam
pencerahan akal, yaitu:
1. Pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan
tentang kesatuan hidup yang dapat dicapai

Dalam konteks pencarian pendidikan


integralistik yang mampu memproduksi
ulama-intelek-profesional, gagasan Abdul
Mukti Ali menarik disimak. Menurutnya,
sistem pendidikan dan pengajaran agama
Islam di Indonesia ini yang paling baik
adalah sistem pendidikan yang mengikuti
sistem pondok pesantren karena di
dalamnya diresapi dengan suasana
keagamaan, sedangkan sistem pengajaran
mengikuti sistem madrasah/sekolah.
Madrasah/sekolah dalam pondok pesantren
adalah bentuk sistem pengajaran dan

2. Pendidikan Agama
1. Mengadopsi Substansi dan Metodologi
Pendidikan Modern Belanda dalam
Madrasah-madrasah
Sebagai catatan, tujuan umum lembaga
pendidikan di atas baru disadari sesudah 24
tahun Muhammadiyah berdiri, tapi Amir
Hamzah menyimpulkan bahwa tujuan umum
pendidikan Muhammadiyah menurut K.H.
Ahmad Dahlan adalah:
2. Baik budi, alim dalam agama
3. Luas pandangan, alim dalam ilmu-ilmu
dunia (umum)
4. Bersedia berjuang untuk kemajuan

2. Memberi Muatan Pengajaran Islam pada


Sekolah-sekolah Umum Modern Belanda
Sekolah Muhammadiyah
mempertahankan dimensi Islam yang kuat,
tetapi dilakukan dengan cara yang berbeda
dengan sekolah-sekolah Islam yang lebih
awal dengan gaya pesantrennya yang
kental. Dengan contoh metode dan system
pendidikan baru yang diberikannya. K.H.
Ahmad Dahlan juga ingin memodernisasi
sekolah keagamaan tradisional.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan
Islam, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan
sekolah Muallimin dan Muallimat,